
Ruangan Toni pukul 15.00 WIB.
“Gimana Claire? Sudah siap?” tanya Toni pada Claire.
“Siap pak. Saya udah coba mempelajari secara garis besar, mulai aspek bangunannya, penelusuran jejak di internet, mungkin ada komentar-komentar yang bisa saya jadikan bahan analisa. Tapi ini masih dasar ya pak, jadi belum bisa dijadikan kesimpulan final,” terang Claire yang duduk di depan meja kerja Toni.
“Lalu apa kesimpulannya?” tanya toni lagi.
“Pertama, dilihat dari segi bangunan, Hotel Banyu Langit sangat menarik, baik dari interior dan eksteriornya. Menurut saya, keren. Jadi enggak ada masalah di bangunannya. Desain kamarnya bagus, fasilitasnya lengkap
seperti hotel bintang lima, seragam pegawainya rapi. Bahkan Adam pernah menginap di sana tahun lalu selama beberapa hari dan dia bilang sangat nyaman. Makanannya enak, pelayananya bagus, jadi enggak ada yang bisa dijelekkan dari hotel ini,” jelas Claire.
“Tapi pertanyaannya mengapa hotel ini sepi pengunjung? Kalau fasilitas oke, pelayanan oke, bangunannya bagus, apalagi yang dicari?” kata Toni sambil mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuknya.
“Benar pak. Tapi apakah klien kita mengatakan kapan hotelnya mulai sepi dan isu pencucian uang ini mulai berhembus?” tanya Claire.
“Tidak, dia tidak merinci itu semua. Bahkan proses deal dengan dia hanya berlangsung tak lebih dari 45 menit. Awalnya dia menghubungi kantor dan mencari saya. Katanya dia direkomendasikan oleh temannya. Kemudian Saya bertemu dengan dia di cafe, dia mulai bercerita, lalu bertanya mengenai pelayanan jasa perusahaan ini, dia tanya teknisnya seperti apa, kemudian dia bilang oke. Bahkan dia enggak menawar harga,” jelas Toni.
“Sepertinya ini adalah proses deal dengan klien yang paling cepat sepanjang berdirinya perusahaan ini ya pak,” ujar Claire merasa takjub.
“Yes, you right. Tercepat sepanjang sejarah. Bahkan kita tidak perlu follow up karena sudah deal di pertemuan pertama,”jelas Toni.
Mendengar kata follow up, Claire teringat pada Siska yang katanya mau follow up klien di Medan.
“Apa aku tanya langsung aja ya sama pak Toni tentang mbak Siska?” gumam Claire dalam hati.
“Tapi enggak, kalau aku tanya pak Toni pasti bilang ke mbak Siska. Dan ujung-ujungnya malah Puspa yang kena masalah nanti. Baiknya aku hati-hati bertanya dengan pak Toni,” gumam Claire lagi di dalam hatinya.
“Claire. Hello Claire,” ujar Toni berkali-kali membangunkan Claire dari lamunannya.
“Iya pak. Maaf,” sampai Claire pada Toni.
“Besok kita rapat ya untuk kasus ini. Kamu siapkan materinya seperti biasa. Jadwal rapat nanti saya akan share ke kamu,” bilang Toni sambil meminum air putih di gelasnya.
“Baik pak. By the way kita ada klien lain di Medan pak?” tanya Claire.
Toni tersedak.
“uhuk, uhuk, uhuk. Maaf,” Toni terbatuk-batuk akibat tersedak air minum.
“Kenapa kamu tanya itu?” tanya Toni.
“Saya cuma tanya aja pak. Karena Ini adalah pertama kalinya kita mendapat klien dari Medan. Dan semoga ada klien lain dari sana nanti,” kata Claire.
“Iya. Tapi kamu fokus aja dengan kasus Banyu Langit. Masalah cari klien itu urusan marketing” kata Toni.
“Baik pak,” kata Claire.
Tiba-tiba pintu diketuk.
“Masuk!” suruh Toni dari baik pintu.
“Permisi pak, ada pegawai kantin yang mau bertemu bapak. Karena menagih uang makan siang,” ujar Karin, resepsionis kantor.
“Oh iya, suruh masuk!” kata Toni.
“Ayo masuk mbak,” ujar Karin pada Ratna.
__ADS_1
“Terima kasih,” ujar Ratna.
“Permisi pak Toni, mbak Claire,” ujar Ratna sopan. Di genggamannya ada selembar kertas tagihan.
“Oke, berapa tagihannya?” tanya Toni pada Ratna sambil mengambil dompet dari dalam tas selempang kulit dengan merk ternama.
“Ini totalnya Rp1,3 juta pak. Untuk bukti pesanannya ada di kertas ini ya pak, saya letakkan ke atas meja,” ujar Ratna.
“Oke. Satu, dua, tiga, empat... Rp1,3 juta. Kamu hitung dulu ya,” ujar Toni sambil menyerahkan beberapa lembar uang Rp100ribu kepada Ratna.
“Baik pak saya hitung dulu,” kata Ratna.
“Sudah pas pak, terima kasih,” ujar Ratna tersenyum.
“Dan ini Rp20rb untuk kamu,” beri Toni pada Ratna.
“Wah makasih ya pak,” ujar Ratna dan mengambil uang pemberian Toni.
“Oh ya Sari gimana keadaannya? Udah enakan?” tanya Claire pada Ratna.
“Emangnya Sari kenapa?” tanya Toni sambil melihat ke arah Caire dan Ratna.
“Tadi waktu kita makan siang di kantin tiba-tiba Sari kesakitan di bagian dadanya. Kayak keasakitan banget gitu loh,” jelas Claire.
“Oh ya. Terus gimana dia sekarang?” tanya Toni.
“Sudah mendingan. Tapi dia enggak dikasih bantuin dulu. Madam suruh dia istirahat di kamar,” kata Ratna.
“Oh syukurlah. Salam buat Sari ya,” ujar Claire ramah.
“Baik pak. Kalau gitu saya permisi dulu,” ujar Ratna lalu keluar ruangan.
“Pak saya juga permisi ya. Hari ini saya izin pulang cepat ya pak. Soalnya mau siap-siap buat kepergian saya ke Medan, lusa. Juga mau persiapkan materi buat besok. Oh ya makasih ya pak buat traktirannya tadi siang,”
kata Claire.
“Oke Claire. Good luck,” kata Toni.
“Permisi pak,” ujar Claire tersenyum dan beranjak dari sana.
Saat membuka pintu tiba-tiba ada Karin yang hendak membuka pintu.
“Ups, Karin. Mau masuk?” tanya Karin kaget.
“Eh, enggak mbak. Saya mau panggil mbak tadi. Soalnya ada mas Adam di depan,” kata Karin.
“Adam?” tanya Claire memastikan.
“Iya, mas Adam, pacar mbak Claire,” bilang Karin meyakinkan Claire.
“Ngapain dia ke sini? Ya udah yuk,” ujar Claire sedikit bingung.
Claire dan Karin berjalan ke ruang tunggu. Diihatnya ada Adam sedang duduk anteng di sofa bewarna merah berkain baldu itu. Pandangannya luas menatap seisi kantor. Caire tersenyum dan hendak masuk ke dalam ruangan
yang berdinding kaca itu.
“Terima kasih ya Karin,” ujar Karin pada Karin.
__ADS_1
“Iya mbak,” ujar Karin dan kembali ke tempat duduknya.
“Hello my prince,” sapa Claire pada Adam.
“Hei, my love,” kata Adam.
Keduanya saling mencium pipi kiri dan kanan kemudian duduk.
“Kok enggak bilang mau ke sini? Untung aja aku belum pulang,” kata Claire.
“Masih jam setengah empat sore kok udah mau pulang aja?” tanya Adam heran.
“Aku izin pulang cepat buat siap-siap. Lusa kan aku udah berangkat ke Medan. Sekalian juga mau menyiapan bahan materi rapat besok,” jelas Claire.
“Kamu kan tahu aku masih off. Kenapa enggak ngabarin aku buat bantuin kamu siap-siap,” kata Adam dan menggenggam tangan Claire erat.
“Sebenarnya mau ditemani kamu tapi takutnya kamu sibuk. Jadi aku pikir lusa aja aku baru ngerepotin kamu,” ucap Claire sambil memandang mata Adam.
“Claire, aku akan selalu ada buat kamu. Sesibuk apa pun aku. Jadi kamu bilang ke aku apa pun itu. Sekali pun untuk hal-hal kecil kayak gini,” pinta Adam sambil memegang pipi kanan Claire.
“Lagian aku paling cuma beli baju doang kok,” kata Claire.
“Sekali pun kamu kamu cuma beli keripik atau alat make up kamu yang buat garisin mata itu, apa namanya?" kata Adam yang tak tahu nama alat make up yang kerap digunakan Claire.
“Eye liner,” terang Claire sambil tersenyum.
“Ya, eye liner. Sekali pun itu, kamu bilang sama aku. Pasti aku temani kemana pun. Aku akan usahakan apa pun itu untuk kamu,” kata Adam.
“Kamu tuh paling jago buat aku terharu Dam. Makasih ya. Aku enggak tahu gimana jadinya aku tanpa kamu,” kata Claire dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu dan aku satu. Kesedihan kamu, kebahagiaan kamu, itu juga milik aku. Begitu pun sebaliknya,” jelas Adam.
Claire mengangguk dan memeluk Adam erat.
“Udah ini di kantor. Lupa ya,” ujar Adam sambil melepas pelukan Claire.
“Oh iya. Ya udah kamu tunggu di sini atau ikut ke ruangan aku?” tanya Claire.
“Sini aja,” kata Adam.
“Oke. Aku beres-beres dulu. 15 menit ya,” kata Claire.
“Lama. Enggak jadi deh nunggu di sini. Aku ke kantin aja ya,” kata Adam dan beranjak berdiri.
“Oke nanti aku nyusul kamu ke sana ya. Karena masih ada file yang harus diberesi sedikit,” kata Claire.
“Iya sayang,” kata Adam.
“Ya udah aku ke ruangan dulu ya,” kata Claire.
Adam menggangguk dan menuju lift. Sementara Claire berjalan ke ruangannya.
“Karin,” sapa Claire sambil melambaikan tangannya ke Karin dan terus berjalan.
“Iya mbak,” balas Karin tersenyum.
***bersambung***
__ADS_1