
Jakarta Asri Building, pukul 08.30 WIB.
Claire turun dari mobil sedan warna abu-abu milik Adam di halaman parkir kantor.
“Nanti siang aku jemput,” ucap Adam dari dalam mobil.
“Iya Dam. Kamu hati-hati ya,” ujar Claire dari luar mobil.
“Daaaaaa,” ujar Adam melambaikan tangannya kepada Claire sambil menginjak pedal gas mobilnya.
“Daaaaa,” sahut Claire yang juga melambaikan tangannya.
Sejenak Claire diam di tempat sambil memandang laju mobil Adam menghilang dari pandangannya. Kemudian ia pun masuk ke dalam kantor. Saat memasuki pintu gedung, ia berpapasan dengan Siska.
“Pagi mbak,” sapa Claire tersenyum.
“Pagi Claire,” sahut Siska dengan senyum yang diirit.
Keduanya berjalan menuju lift. Di sana ada 5 orang yang sedang menunggu pintu lift terbuka.
“Besok kamu ke Medan Claire?” tanya Siska sekadar basa-basi.
“Iya mbak,” ujar Claire tersenyum.
Pintu lift pun terbuka. Semua orang yang sedari tadi menunggu masuk ke dalam. Claire memencet tombol angka 3.
“Kamu sudah siap menyelesaikan tugas ini?” tanya Siska tanpa melihat ke arah Claire.
“Pasti mbak!” ujar Claire melihat ke arah Siska.
“Kamu yakin tugas ini akan kamu selesaikan dengan baik?” tanya Siska dengan nada sinis.
Claire diam sesaat.
“Ya, tentu mbak,” ujar Claire sedikit heran.
“Menjadi baik kadang dianggap merugikan orang lain. Belum baik terkadang menguntungkan orang lain. Kamu di posisi mana Claire?” tanya Siska memandang Claire dengan senyuman.
“Maksudnya mbak?” tanya Claire yang belum bisa mencerna maksud perkataan Siska.
Namun, Siska hanya tersenyum sinis tanpa memberi jawaban apa pun. Dalam hitungan 4 detik, pintu lift terbuka. Siska dengan cepat keluar dari lift yang diikuti Claire.
“Apa maksud mbak Siska tadi?” tanya Claire pelan pada dirinya sendiri.
Siska masuk ke ruangannya. Ia meletakkan tas ke atas meja, lalu duduk di meja kerjanya. Ia tertawa kecil saat mengingat raut wajah Claire yang kebingungan dengan ucapannya tadi di lift.
“Claire, Claire. Kamu pikir semakin tinggi pohon, angin yang bertiup semakin pelan. Kinerja kamu yang semakin baik akan membuat aku semakin di bawah. Aku bisa kehilangan banyak uang jika membiarkan kamu menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Kamu harus hati-hati Claire,” ujar Siska yang bicara pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba pintu ruangan Siska diketuk.
“Masuk!” teriak Siska pelan.
“Permisi mbak,” ujar Tiara, kepala marketing Public Consulting Tarumanegara.
“Gimana Tiara?” kata Siska.
“Sudah beres semuanya mbak. Orang yang di Medan sudah oke,” ujar Tiara.
“Good, berarti enggak ada masalah lagi ya?” tanya Siska.
“Enggak ada mbak. Tapi tadi Sani sempat tanya sama saya siapa kilen yang mau di follow up sama mbak Siska di
Medan,” kata Tiara.
“Sani?” tanya Siska.
“Iya mbak. Dia tanya untuk melengkapi laporan keuangan karena kepergian mbak Siska menggunakan uang kantor,” ujar Tiara.
“Jadi dia udah tahu saya mau ke Medan juga?” tanya Siska tersenyum sinis.
“Sepertinya begitu mbak. Lagian cepat atau lambat dia pasti tahu karena bagian keuangan terkoneksi dengan bagian marketing,” ujar Tiara.
“Iya, itu pasti. Saya kan cuma mau menimbulkan rasa penasaran dan mengganggu pikiran Claire,” kata Siska.
“Kemarin di kantin Sani dan Claire juga sempat menyinggung soal kepergian Claire ke Medan. Tapi saya langsung menghindar, sesuai perintah dari mbak Siska,” ujar Tiara tersenyum.
“Bagus! Mereka sudah curiga semuanya. Mereka pasti berpikir keras tentang alasan kenapa Claire tidak boleh tahu saya pergi ke Medan. Itu pasti akan mengganggu pikiran Claire selama di sana,” ujar Siska pada Tiara.
“Dan kalau rencana saya berhasil, kamu akan mendapatkan bagian kamu seperti yang saya janjikan. Kamu tahu kan kalau saya enggak pernah ingkar janji,” kata Siska.
“Baik mbak. Saya akan membantu sebisa saya. Selama untuk kebaikan perusahaan ini, pasti saya usahakan,” kata Tiara.
“Pasti. Semua untuk kebaikan perusahaan ini. Makasih Tiara. Ada lagi yang mau kamu sampaikan?” tanya Siska.
“Oh ya hari ini jam 9 ada rapat kasus yang ditangani Claire,” lapor Tiara.
Sika melihat jam di tangan kirinya.
“Sebentar lagi ya. Oke saya hadir,” kata Siska.
“Kalau mbak hadir, Claire pasti akan semakin bingung karena selama ini mbak tidak pernah hadir di setiap rapat kasus yang akan ditangani Claire,” kata Tiara.
“Iya, itu dulu. Sekarang saya harus tahu semua tentang Claire,” kata Tiara.
Tiara hanya mengangguk mendengar apa yang dikatakan Siska.
__ADS_1
“Kalau gitu saya permisi dulu ya mbak,” kata Tiara.
“Iya” kata Siska.
Tiara keluar dari ruangan. Siska pun bersiap-siap untuk menghadiri rapat bersama Claire.
Ruangan Rapat.
Amel, pegawai bagian marketing sedang mempersiapkan keperluan rapat. Seperti menyetel proyektor dan mengecek beberapa data dalam laptop. Claire masuk ke dalam ruangan rapat.
“Halo Amel, pagi,” sapa Claire.
“Pagi mbak Claire. Oh ya data dari mbak sudah siap?” tanya Amel.
“Udah dong. Ini,” kata Claire sambil menyerahkan flashdisk kepada Amel.
Amel mengambil flashdisk dari Claire dan membuka datanya di laptop.
“Yang mana nih mbak datanya?” tanya Amel kepada Claire lewat pantulan proyektor.
“Itu yang folder Medan. Itu kamu copy Mel,” tunjuk Claire dari tempat ia duduk.
“Oke mbak,” ujar Amel.
Amel memindahkan data tersebut ke laptopnya. Kemudian tak lama Sani masukke ruangan.
“Pagi semuanya,” sapa Sani.
“Halo San, pagi,” sahut Claire.
“Pagi mas Sani,” sahut Amel.
Sani mendekati Claire. Ia berbisik kepada Claire.
“Mbak tadi saya udah tanya sama mbak Tiara soal klien mbak Siska di Medan,” kata Sani berbisik.
“Terus?” tanya Claire penasaran.
“Nama perusahaannya, Oishi Salvador. Itu restoran mbak,” kata Sani pelan.
“Gitu ya. Nama restorannya asing buat saya. Mungkin itu restoran lokal di sana ya,” kata Claire.
“Iya mbak,” kata Sani.
“Tiga hari saya di sana, mbak Siska ke Medan kan?” tanya Claire berusaha memastikan ke Sani.
“Iya mbak,” jawab Sani.
“Tepat di hari itu, aku akan mampir ke restoran itu buat cari tahu alasan mbak Siska apa sebenarnya,” kata Claire.
“Saya juga penasaran sih mbak karena kayaknya enggak ada alasan untuk mbak Siska merahasiakan ini dari mbak Claire. Mungkin kalau bukti pembelian tiket pesawat mbak Claire dan mbak Siska enggak tertukar, saya juga pasti
“Iya dan kita enggak perlu penasaran kayak gini kan,” kata Claire.
“Benar banget mbak,. Tapi mbak saya cuma menyarankan agar mbak Claire lebih fokus sama kasus yang mbak tangani. Kalau nanti di sana mbak belum menemukan alasan mbak Siska apa, mbak Claire bisa tanya langsung sama orangnya. Jadi waktu dan pikiran mbak enggak terbuang sia-sia,” saran Sani.
“Iya Sani. Saya pasti berusaha fokus,” kata Claire.
“Dan mbak tahu enggak ternyata kasus yang mbak tangani ini nilainya Rp2,5 miliar loh,” kata Sani setengah berbisik.
“Wow, masa sih? Aku baru tahu loh. Besar banget nilainya,” kata Claire.
“Iya saya baru tahu tadi pagi setelah dapat laporan dari bagian marketing. Bahkan kalau kasus ini berhasil dengan sempurna, katanya klien mau kasih bonus lagi,” ujar Sani masih dengan suara pelan.
Claire hanya menggangguk-anggukan kepalanya saat mendengar apa yang disampaikan Sani. Melamun ia sejenak.
“Rp2,5 miliar, Rp500 juta. Apa seharusnya aku bisa mendapatkan lebih dari itu ya?” gumam Claire dalam hatinya.
Lamunannya pun buyar saat Amel hendak mengembalikan flashdisk milik Claire.
“Mbak Claire, ini flasdisknya,” ujar Amel sambil menyerahakan flashdisk kepada Claire.
“Oh iya. Thanks Mel,” ujar Claire.
Tak lama Tiara masuk ke dalam. Ia berbicara pelan dengan Amel untuk memastikan persiapan rapat apakah sudah beres. Toni pun masuk ke dalam ruangan rapat yang diikuti Siska dari belakang. Claire dan Sani sedkit kaget melihat kehadiran Siska.
“Selamat pagi semuanya. Bagimana, sudah bisa kita mulai?” sapa Toni pada semua peserta rapat lalu duduk di kursinya.
“Siap pak Toni. Semua sudah beres,” ujar Tiara mewakili yang lainnnya.
“Oh ya, ini masih jam 9 pagi. Saya rasa belum terlambat untuk kita sarapan ya. Saya pesankan cemilan untuk kita semua,” tawar Toni pada peserta Rapat.
“Tiara tolong kamu panggil Jack ya,” pinta Toni.
“Baik pak,” ujar Tiara lalu keluar ruangan memanggil Jack.
Jack rupanya sedang berjalan ke ruangan rapat untuk membawakan beberapa cangkir teh manis hangat. Ia dan Tiara bertemu di depan pintu ruangan rapat.
“Eh mbak Tiara,” sapat Jack dari depan pintu.
“Saya baru mau cari kamu. Dipanggil pak Toni tuh di dalam,” kata Tiara.
“Loh, ada apa mbak? Saya telat ya anter tehnya? Bukannya rapatnya jam 9 ya. Ini kan masih 5 menit lagi, Berarti saya belum telat dong anter minumannya,” kata Jack panjang.
“Ya ampun Jack! Kamu masuk dulu ke dalam. Lagian pak Toni mau suruh kamu buat pesan makanan ke kantin,” kata Tiara.
__ADS_1
“Oh gitu. Ya sudah ayo masuk mbak,” kata Jack cengengesan.
“Yuk,” ajak Tiara sambil membuka pintu.
“Permisi, saya mau anter teh manis hangatnya biar rapatnya makin semangat, hehehe,”ujar Jack dengan ramah sambil meletakkan satu persatu cangkir berisi teh manis hangat ke atas meja.
“Spesial untuk pak Toni, kopi,” ujar Jack tersenyum lebar.
“Kamu juga spesial karena selalu mengerti saya,” ujar Toni yang langsung meminum kopi tersebut.
“Terima kasih pak,” ujar Jack yang lanjut membagikan teh tersebut.
“Makasih ya Jack,” kata Claire yang menyambut cangkir yang diletakkan Jack ke hadapannya.
“Sama-sama mbak,” ujar Jack.
“Thank you Jack,” ujar Sani lalu meminum teh pemberian Jack.
“You are welcome mas Sani,” kata Jack.
“Ini buat mbak Siska yang gulanya sedikit,” ujar Jack pada Sis.
“Terima kasih,” ujar Siska.
“Ini buat mbak Tiara dan mbak Amel,” kata Jack.
“Makasih Jack,” ujar Tiara.
“Tadi mbak Tiara bilang pak Toni manggil saya buat pesan makanan di kantin. Mau dipesani apa nih pak?” kata Jack.
“Iya. Kamu tolong pesankan kita semua sandwich ya. Ini duitnya, kembaliannya buat kamu,” kata Toni sambil menyerahkan uang Rp200ribu kepada Jack.
“Siap pak segera laksanakan!” ujar Jack mengambil uang itu lalu keluar ruangan.
“Oh ya, sekalian pesan buat kamu juga. Pasti kamu belum sarapan kan?” kata Toni
“Hehehehe, bapak tahu aja. Permisi semuanya,” ujar Jack dan pergi ke kantin,
“Oke. Kita langsung mulai aja rapatnya. Sebelum mulai ada yang mau disampaikan?” tanya Toni.
Claire yang sedari tadi menahan rasa penasaran tenang kehadiran Siska mengangkat tangannya.
“Ya claire?” tanya Toni.
“Sebenarnya ini bukan hal yang penting tapi ini hanya sebuah pemandangan yang tidak biasa. Jadi pertanyaan saya mungkin sepele tapi saya ingin tahu,” ujar Claire.
“Oke,” kata Toni singkat.
“Biasanya kalau ada rapat untuk kasus yang saya tangani, mbak Siska enggak pernah hadir. Begitu juga sebaliknya, saya juga tidak pernah hadir dalam rapat kasus yang mbak Siska tangani. Dan pagi ini mbak Siska hadir di sini. Sesuatu yang tidak biasa,” ujar Claire tersenyum.
“Oh itu,” kata Toni yang terputus karena dipotong oleh Siska.
“Apakah kamu merasa terganggu Claire?” tanya Siska pada Claire dengan senyuman.
“Oh enggak mbak. Saya justru merasa senang mbak hadir di sini. Saya berharap mbak Siska bisa memberi masukan untuk saya,” kata Claire.
“Oke. Kalau gitu enggak ada masalah dong,” ujar Siska.
“Iya, enggak ada masalah,” kata Claire pada seniornya itu.
“Begini. Saya yang meminta Siska untuk hadir di sini karena dia sebelumnya pernah menangani kasus perhotelan di Jakarta. Saya berharap Siska bisa memberi masukan, sama seperti yang kamu harapkan Claire,” jelas Toni.
“Baik pak,” ujar Claire tersenyum.
“Saya mengerti maksud kamu Claire. Memang tidak biasanya seperti ini. Tidak ada yang salah dengan rasa ingin tahu kamu. Saya yang lupa memberi tahu kamu tentang kondisi rapat hari ini yang berbeda dari biasanya,” kata Toni.
Claire mengangguk sambil tersenyum.
“Oke kalau begitu kita mulai rapatnya sekarang ya,” ajak Toni.
Tiara mengambil alih rapat.
“Baik, selamat pagi semuanya. Hari ini kita akan rapat mengenai kasus di Kota Medan. Berikut adalah Face of Client Company,” kata Tiara yang membuka file lewat proyektor dengan alat pointer di tangannnya.
“Bisa dilihat nama klien kita adalah Hotel Banyu Langit. Beralamat di Jalan Sisingamaraja, nomor 105, Kota Medan. Ini merupakan jalan protokol dan berdekatan dengan beberapa lokasi wisata di sana. Jadi hotel ini juga berada di
satu kawasan dengan hotel-hotel lainnya. Beroperasi sejak tahun 2010, artinya sudah 9 tahun hotel bergaya arsitektur budaya Jawa, Batak, dan Bali ini berdiri. Namun, 3 tahun belakangan hotel ini didera isu money laundry. Pemilik belum merinci apakah memang isu itu benar atau tidak,” beber Tiara.
“Terlepas dari benar atau tidaknya isu itu, tugas kita adalah membersihkan nama hotel Banyu Langit secara diam-diam. Artinya masyarakat tidak perlu tahu bahwa Hotel Banyu Langit menggunakan jasa perusahaan kita untuk
memperbaiki citra hotel itu,” kata Toni memotong pembicaraan Tiara.
“Baik pak. Saya lanjut kembali. Isu money laundry ada karena hotel itu sepi pengunjung sejak 5 tahun terakhir. Untuk itu, perusahaan menugaskan Public Consultant junior kita, Claire Morven untuk menganalisis permasalahan klien. Claire terpilih atas rekomendasi pak Ridwan yang ingin memberikan kesempatan kepada Claire untuk menyelesaikan kasus dengan level yang lebih berat dari kasus yang pernah ditangani Claire sebelumnya,” lanjut Tiara panjang.
“Ternyata pak Ridwan yang merekomendasikan aku,” gumam Claire dalam hati.
Claire tidak menyangka bahwa pemilik saham tunggal perusahaan itu adalah orang yang merekomendasikannya. Padahal ia dan Ridwan sangat jarang bertemu dan berkomunikasi. Claire tidak menyangka bahwa Ridwan ternyata sangat memperhatikan pegawai di perusahaannya. Hanya satu hal yang Claire ketahui tentang Ridwan selama ini, yaitu palyboy. Pria berwajah tampan dan bergaya metropolis itu selalu dikelilingi cewek-cewek cantik dan hobi plesiran ke luar negeri. Dalam setahun, Ridwan hanya hadir saat rapat tahunan digelar. Selebihnya, urusan perusahaan ia serahkan kepada Toni. Ridwan sendiri memiliki beberapa usaha lain yang ia rahasiakan dari seluruh
pegawainya.
“Sekian penjelasan dari saya,” ujar Tiara.
“Baik, terima kasih Tiara. Giliran kamu Claire,” kata Toni mempersilakan Claire untuk presentasi.
“Baik pak,” kata Claire sambil berdiri dan maju ke depan.
__ADS_1
Belum lagi Claire mengucapkan sepatah kata, tiba-tiba pintu ruangan diketuk seseorang.
***bersambung***