
Ruangan Kerja Claire
Claire masih di depan laptopnya. Ia sedang mengetik bahan rapat buat besok. Claire mengambil gagang telepon dan memencet tombol angka 54 untuk menyambungkan ke telepon ruangan bagian keuangan.
“Halo, Sani. Kamu bisa ke ruangan saya?” tanya Claire dari balik telepon.
“Oke. Saya tunggu ya,” ujar Claire lalu meletakkan gagang telepon.
Di sisi lain Adam yang menunggu di kantin kaget melihat seorang perempuan paruh baya tengah duduk di depannya. Perempuan itu sudah berkali-kali memanggil nama Adam yang sedang terlena dengan lamunan indah masa lalunya bersama Claire.
“Astaga!” teriak Adam kaget.
“Mas Adam, dari tadi madam panggil-panggil, tapi senyum-senyum sendiri. Lagi lamunin apa sih?” tanya Susi yang menopang tangan kanannya dengan dagu kepada Adam.
“Madam nih buat kaget aja. Saya lagi teringat dulu waktu kasih kejutan sama Claire di sini,” kata Adam.
“Oh itu. Udah berapa tahun yang lalu itu ya mas?” tanya Susi.
“Dua tahun yang lalu madam. Waktu Claire ulang tahun ke-28,” kata Adam.
“Wah, udah bisa tuh di lamar mas. Berarti udah 30 dong umur mbak Claire. Tunggu apalagi sih?” bilang Susi.
“Iya madam. Rencana saya mau melamar dia tahun ini. Nanti setelah dia pulang dari Medan, saya akan lamar dia,” ujar Adam.
“Wah bagus itu mas. Kalau bisa cepat ngapain dilama-lamain. Tapi ngapain mbak Claire ke Medan?” tanya Susi.
“Ada proyek besar madam,” ujar Adam.
“Oh begitu. Jadi pulang dari Medan baru dilamar. Kapan ke Medannya?” tanya Susi.
“Lusa. Ini saya ke kantor buat temeni dia siap-siap. Ada yang mau dibeli untuk persiapan dia pergi. Katanya dia mau pulang cepat hari ini. Sebentar lagi dia bakal nyusul ke sini,” kata Adam.
“Mas Adam enggak kerja nih?” tanya Susi.
“Saya lagi off. Kerjaan saya tuh 3 minggu kerja, seminggu off. Bisa sih ambil off seminggu sekali. Cuma kalau saya mendingan begini aja. Jadi enggak bolak balik,” kata Adam.
“Loh mas Adam kerjanya dimana sih?” Tanya Susi.
“Saya kerja di RIG pengeboran minyak dan gas. Kebetulan saya di bagian minyak. Jadi kerjanya pindah-pindah. Kadang di darat, kadang di laut. Makanya saya lebih senang ambil off seminggu dalam sebulan biar enggak bolak
balik,” Jelas Adam.
“Kalau sekarang lagi di mana kerjanya?” tanya Susi ingin tahu.
“Sekarang lagi di Kepulauan Natuna, di atas laut,” ujar Adam tersenyum.
“Oh gitu. Loh saya kok malah ngajak ngobrol ya. Padahal tadi saya mau tanya mas Adam mau minum apa?” tanya Susi yang sadar dengan tujuan awal ia mendatangi meja Adam.
“Enggak apa-apa madam. Kita kan jarang ketemu. Hitung-hitung madam temani saya sampai Claire datang ke sini,” kata Adam tersenyum.
“Mas Adam dan mbak Claire ini memang pasangan serasi. Yang satu ganteng, yang satu cantik. Baik hati, tidak sombong, ramah, dan enggak sok jaim. Saya doakan kalian berdua hubungannya langgeng sampai kakek nenek,” sampai Susi pada Adam.
“Terima kasih doanya ya madam. Dan semoga kami sehidup semati. Karena saya enggak bisa bayangin hidup tanpa Claire,” ujar Adam.
“Ah kalau madam enggak mau ngomongin tentang mati-mati ah. Ngeri! Jadi mas Adam mau minum apa?” ujar Susi dan bertanya pada Adam.
“Es jeruk aja madam,” kata Adam.
“Ya udah biar madam buatkan spesial untuk mas Adam. Ditunggu ya,” ujar madam lalu berlalu menuju dapur kantin.
Susi mengambil 5 buah jeruk dari dalam kulkas. Ia cuci bersih jeruk-jeruk itu lalu memotongnya jadi dua bagian. Tiba-tiba Sari menegurnya dari belakang.
“Ma!” ucap Sari.
“Loh! Di kamar aja gih!" kata Susi sambil memeras jeruk.
“Bosan ma. Lagian Sari udah enggak apa-apa kok,” kata Sari.
“Mama lagi buat es jeruk ya. Sari mau dong ma,” pinta Sari manja.
“Ya udah ambil jeruknya sana!” perintah Susi pada anak semata wayangnya itu.
Sari membuka kulkas dan mengambil beberapa buah jeruk lalu mencucinya. Diletakkanya jeruk-jeruk itu ke aas talenan dan memotongnya menjadi dua bagian.
“Ini ya ma. Sari pengen minum es jeruk yang diperas sama mam,” ucap Sari tersenyum.
“Kamu itu bisa aja ya. Ambilin gelas tuh!” perintah Susi lagi yang sudah selesai memeras jeruk.
__ADS_1
Sari mengambil gelas dari rak dan meletakkannya di meja. Susi menuangkan air perasan jeruk itu ke dalam gelas dan meletakkan beberapa buah es batu.
“Ini kamu anterin ke mas yang itu ya,” kata Susi.
“Loh itu kan pacarnya mbak Claire ya,” kata Sari.
“Iya, mas Adam namanya,” kata Susi yang mulai memeras jeruk untuk Sari.
“Dia lagi nungguin mbak Claire ya ma?” tanya Sari ingin tahu.
“Ia, dia mau jemput mbak Claire. Katanya mau belanja buat persiapan mbak Claire ke Medan,” terang Susi.
“Ke Medan?” ujar Sari.
“Iya. Lusa mbak Claire mau ke Medan. Ada proyek besar katanya. Jadi hari ini mbak Claire pulang cepat buat siap-siap. Udah sana anterin minumannya,” kata Susi.
“Iya ma,” kata Sari dan beranjak ke meja Adam.
Ruangan Claire
“Oke jadi udah paham ya San apa aja yang harus dipersiapkan buat rapat besok?” tanya Claire pada Sani sambil mematikan laptop dan memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
“Oke udah mbak. Besok jam berapa rapatnya?” ujar Sani meangangguk.
"Jam 9 pagi San. Pak Toni yang jadwalkan rapatnya. Beberapa menit lalu dia kirim pesan ke saya," kata Claire.
"Oke mbak," kata Sani.
“Saya pulang dulu ya. Soalnya mau belanja buat keperluan di Medan nanti dan sekalian mau menyiapkan bahan rapat buat besok,” ujar Claire.
“Oke mbak. Kalau gitu saya permisi. Sampai ketemu besok mbak,” ujar Sani dan beranjak berdiri.
“Iya. Sampai ketemu besok ya Sani,” ujar Claire tersneyum.
Sani keluar dari ruangan Claire. Kemudian disusul Claire yang menuju kantin menyusul Adam.
Kantin
Sari sampai di meja Adam.
“Oh makasih ya. Kamu anaknya madam Susi kan. Siapa namanya? Sory saya lupa karena udah lama enggak ke sini,” Kata Adam coba mengingat.
“Iya pak. Nama saya Sari,” jawab Sari.
“Oh iya Sari. Apa kabar?” sapa Adam.
“Saya baik pak,” ujar Sari mencoba tersenyum.
“Syukurlah,” kata Adam tersenyum.
“Saya permisi dulu,” ujar Sari.
“Eh tunggu! Saya bayar langsung aja. Berapa?” sergah Adam.
“Rp20ribu pak,” kata Sari.
“Oke. Sebentar ya,” kata Adam sambil mengambil dompetnya dari kantong celana belakangnya.
Entah mengapa Sari merasa badannya mulai merinding. Mulutnya seakan memaksa untuk bicara kepada Adam tentang firasatnya terhadap Claire. Ia mencoba menahan namun begitu sulit rasanya. Ia terus melihat ke arah Adam yang tengah membuka dompetnya.
“Jangan!!” teriak Sari pelan namun tegas. Matanya melihat ke bawah.
“Jangan?” kata Adam kaget.
“Jangan!” ucap Sari lagi. Kali ini ia menatap wajah Adam dalam.
“Jangan apanya ya? Jangan bayar maksudnya?” tanya Adam yang sudah memegang selembar uang Rp20ribu di tangannya.
“Pak, jangan biarkan ibu Claire pergi ke Medan. Tahan dia pak atau sesuatu yang mengerikan akan terjadi padanya,” ujar Sari yang tak sadar dengan apa yang diucapkanya.
“Kenapa kamu bisa bilang begitu?” tanya Adam heran.
“Saya juga enggak tahu kenapa saya bisa ngomong begini. Tapi saya mohon pak larang ibu Claire ke Medan. Ibu Claire orang baik pak,” ujar Sari.
Madam Susi keluar dari dapur dan membawa segelas es jeruk yang diminta Sari. Ia mengira Sari sudah berada di sana. Tapi ternyata Sari masih di meja Adam. Ia melihat gelagat Sari yang tidak wajar.
“Sari! Sini,” panggil Susi.
__ADS_1
Sari tersadar dan melihat ke arah ibunya. Sementara Claire keluar dari dalam lift dan menuju kantin.
“Permisi pak,” ujar Sari dan membalikkan tubuhnya.
“Ini uangnya Sari!” kata Adam sambil melambaikan uang kepada Sari.
Sari membalikkan tubuhnya bermaksud mengambil uang tersebut. Saat akan membalikkan tubuh, ia melihat Claire dari jauh sedang tersenyum kepadanya.. Tapi Sari tak membalas senyuma itu.
“Terima kasih pak,” ujar Sari singkat sambil mengambil uang dari tangan Adam dan berlari kecil menuju dapur kantin.
Adam masih bingung dan mencoba mencerna apa yang dikatakan Sari tadi. Kini pikiran dan hatinya jadi tak tenang. Sementara Claire sudah berada tepat di belakangnya.
“Hei!” sapa Claire pada kekasihnya itu, lalu duduk di depan Adam.
“Claire,” ucap Adam dengan raut wajah bingung.
"Tadi Sari habis dari sini kan. Kok dia aneh gitu ya lihat aku. Biasanya ramah banget," kata Claire heran.
"Iya tadi Sari nganterin minuman ke sini," kata Adam.
"Apa mungkin karena masih sakit ya jadi belum bisa ceria kayak biasa. Tadi dia kesakitan gitu loh Dam sambil pegang dadanya. Sampai-sampai gelas yang berisi es jeruk buat aku jatuh ke lantai. Terus dia kayak ketakutam ngelihat aku," kata Claire.
"Dia ada bilang apa?" tanya Adam.
"Enggak ada, cuma panggil nama aku, mbak Claire, gitu doang. Tapi kayak dia kasihan sama aku nada suaranya," kata Claire.
"Oh ya?" ucap Adam dengan raut wajah khawatir memandang Claire.
“Kenapa? Kok wajah kamu enggak enak gini?” tanya Claire.
“Kamu baik-baik aja kan Claire?” tanya Adam serius.
“Baik. Sangat baik bahkan. Emang kenapa? Eh ada es jeruk, aku minta ya, haus,” ujar Claire dan langsung mengambil segelas es jeruk di hadapannya lalu meminumnya.
“Claire gimana kalau kamu batalain aja buat menangani proyek yang di Medan?” pinta Adam.
Mendengar itu, Claire tersedak.
“Uhuk, uhuk, uhuk, apa? Batalin? Enggak mungkin lah! Emang kenapa?” tanya Claire heran.
“Entahlah. Tiba-tiba pikiran dan perasaan aku enggak enak,” ujar Adam.
“Enggak enak gimana? Tadi waktu di lobi kamu baik-baik aja. Enggak ada nyuruh aku buat batalin proyek ini? Justru kamu yang harusnya aku tanya. Are you okay?” kata Claire.
Adam melihat ke arah Sari yang juga melihatnya dengan tatapan sedih. Tahu ia dilihat oleh Adam, Sari masuk ke dalam.
“Kamu lihat apa?” tanya Claire heran yang juga ikut melihat ke arah dapur kantin.
“Madam Susi? Kamu lapar? Mau makan dulu?” tanya Claire pada Adam.
Adam mengalihkan pandangannya kepada Claire.
“Kita makan di luar aja ya. Kamu udah siap? Udah beres semuanya?” tanya Adam sambil memegang tangan Claire.
“Udah kok. Makanya aku ke sini,” ujar Claire membalas pegangan tangan Adam.
“Minum dulu ah. Haus,” ujar Adam dan mengambil gelas berisi es jeruk di depannya dan menghabiskannya.
“Haus banget nih,” canda Claire.
“Iya. Habisnya dari tadi aku diajak ngobrol sama madam Susi. Udah yuk!” ajak Adam dan langsung beranjak dari tempat duduk dan menarik lengan Claire.
“Jadi dari tadi ngobrol sama madam Susi?” tanya Claire yang juga ikutan beranjak.
“Iya. Dia tanyai kerjaan aku, tanyai kamu, dan lain-lain,” kata Adam sambil menggandeng tangan Calire.
“Dia ramah ya,” ujar Claire tersenyum yang diikuti anggukan Adam.
“Mana kunci mobil kamu?” tanya Adam sambil menjulurkan tangannya.
“Oh iya, kamu enggak bawa mobil?” kata Claire.
“Ya enggak lah. Mau kencan masa dua-duanya bawa mobil. Tadi aku pake ojek online yang motor. Biar cepat sampai ke sini,” ujar Adam.
Claire tertawa kecil dan memberikan kunci mobilnya pada Adam. Keduanya sampai di depan lift. Adam menekan tombol lift. Tak lama pintu lift terbuka. Keduanya masuk ke dalam.
***bersambung***
__ADS_1