
"Kamu seperti mawar biru, terlalu banyak menyimpan misteri."
---
“Apa maksud semua ini?” Rey melemparkan setumpuk foto ke hadapan Selly, membuat lembaran-lembaran itu berserakan di lantai.
Pemuda itu Rey Atmaja, mengetuk pintu kontrakan dengan kasar. Selly yang saat itu sedang mengerjakan tugas dari dosennya mengerutkan kening. Menilik ponsel di samping buku, angka 20.25 terpampang di layar. Siapa yang datang malam-malam begini?
Belum sempat Selly menyapa kedatangan pemuda tinggi itu, saat tiba-tiba dia memberondong masuk dan mengeluarkan kalimat yang tidak dimengerti Selly. Lebih-lebih ketika lembaran foto itu berhambur di depan kaki dan menampakkan sesuatu yang membuat jantungnya bertalu bak genderang perang.
__ADS_1
Selly menunduk mengambil beberapa foto yang terjangkau tangan. Jemari kurus Selly gemetar ketika matanya tertumbuk pada objek foto itu. Seorang pria paruh baya yang diambil secara candid seperti tengah berbicara dengan seorang perempuan dengan rambut sepunggung. Dengan jemari yang semakin gemetar, dia membalik foto selanjutnya, dan seketika itu jantung Selly serasa jatuh menyentuh dasar perut. Perempuan bersurai hitam sepunggung itu adalah dirinya. Beberapa foto selanjutnya menampilkan kedua objek yang berjalan beriringan, menunggu di depan lift, dan yang terakhir mereka terlihat memasuki sebuah kamar hotel.
Mengangkat wajah, Selly menemukan rahang Rey yang tampak mengeras, kelereng hitamnya semakin menyorot tajam seolah siap menusuk kedalaman netra Selly. Susah payah Selly menelan ludah yang seakan terganjal batu besar.
“R-Rey....” Suara yang keluar dari mulutnya serupa cicit burung yang sekarat. “Ini, kamu dapet dari mana?”
“Gak penting gue dapet itu dari mana!” bentakan Rey membuat gadis itu berjengit, dan mundur satu langkah.
“Apa pun yang ada di pikiran kamu saat ini, aku cuma bisa bilang, ini gak kayak yang kamu bayangin. Aku dan pria ini—” Selly menunjuk foto di tangan. “Kami gak ngapa-ngapain.”
__ADS_1
“Lalu apa yang kalian lakuin bedua doang di kamar hotel?” Suara Rey masih setinggi tadi. Sorot matanya masih setajam itu.
“Itu ... kami ....” Selly menggigit bibir bawah, dia kehilangan kata. Tidak tahu apa yang harus disampaikan pada lelaki yang dikasihinya itu. “Aku gak bisa jelasin,” ujarnya parau.
“Dan kamu bilang gak nglakuin apa pun?” bentak Rey, dia maju selangkah. Menatap gadis di depannya dengan sorot kecewa, luka, pun amarah. Harga dirinya tercabik hingga ke dasar. Hatinya menjerit sakit karena foto-foto itu. Pun segenap rasa yang pernah dia curahkan sedemikian rupa seakan terinjak mati oleh Selly, tanpa permisi. “Siapa pria itu?”
Untuk beberapa saat mereka saling beradu tatap. Seolah mencari kejujuran lewat kedalaman netra.
Selly menunduk, harusnya dia tahu semua ini akan terbongkar. Harusnya dulu dia mengikuti logika ketika otak memerintahkan untuk menjauh; menyudahi kedekatannya dengan Rey. Tapi dia terlalu mabuk akan sensasi menyenangkan yang ditimbulkan oleh pemuda berbadan tinggi itu. Dia terlampau terlena akan perasaan berharga, perasaan bahwa dia akan selalu dipuja. Dan kini ketika Rey mulai mengendus jati dirinya dia tahu bahwa sebentar lagi dunianya akan berubah jadi neraka.
__ADS_1