Mawar Biru

Mawar Biru
Berharap Lebih


__ADS_3

Berharap Lebih


Suatu hari kau akan mengerti ada banyak harapan yang terselip setiap kita menghabiskan waktu berdua.


---


Selly terjaga dari tidur malam dengan peluh bercucuran, membasahi kepala dan leher. Napasnya terengah, seolah baru saja menempuh maraton ratusan meter. Mimpi itu, menyambanginya lagi. Mimpi buruk yang telah lama terpuruk bersama waktu. Mengusik ketenangan batin Selly. Mencabik luka yang belum mengering sempurna.


Suara-suara itu bahkan serupa lolongan tepat di depan telinga. Membuat indra pendengarnya berdenging, sakit. Seolah kejadian itu baru terjadi beberapa menit lalu, diusir, dicaci, dan dikucilkan. Hingga dia harus bersembunyi layaknya buronan. Sempat trauma akan sebuah hubungan sosial.


Bangkit, lalu duduk bersandar pada kepala ranjang, gadis itu menilik tempat di sebelahnya. Ibunya pasti tidur di ruang tamu lagi. Sejak mereka pindah ke kontrakan tiga petak ini tiga tahun yang lalu, Dita memilih tidur di ruang depan, jarang sekali menemani Selly, kecuali diminta.


“Ibu lebih suka di depan Nak, lebih gampang untuk bangun malam,” alasan yang diberikan Dita.


Sunyi melingkupi, detak jarum jam dinding menggema di kamar bercat putih gading itu. Selly menutup kuping karena iramanya yang konstan serupa pukulan di kepala.


Frustasi, Selly turun dari ranjang berukuran queen itu, nyaris terjerembab, karena tersandung selimut yang melilit kaki. Meraih penanda waktu berbentuk bulat dengan gambar mini mouse di dalam background-nya, lantas melepas batu baterai dengan tangan gemetar.


Tertatih kembali ke kasur, lalu berbaring meringkuk, menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh. Selly mencoba memejamkan mata, meski satu detik setelahnya kembali terbuka karena bayangan yang begitu nyata menyapa.


***


“Kamu kesiangan, Nak?” sapa Dita ketika melihat Selly keluar dari kamar terlambat dari biasanya.


“Iya, Bu.” Lesu, Selly menyambangi Dita di dapur.


Biasanya, Selly yang melakukan rutinitas itu, membuat sarapan untuk mereka. Menyiapkan secangkir teh hangat untuk Dita.


“Kamu kenapa, sakit?” Dita menyentuh kening Selly dengan punggung tangan, khawatir dengan putrinya yang tampak pucat.


Menggeleng, Selly menangkup telapak tangan Dita, lantas mengecupnya. “Cuma kurang tidur, Bu.”


“Kenapa? Banyak tugas, ya?” Dita memberi pijatan lembut di pundak anaknya menggunakan tangan yang bebas. Teringat semalam Selly pulang dengan keadaan kuyu.


Selly melengkungkan bibir, sentuhan ibunya serupa magic yang memberi ketenangan dan kekuatan baru. “Selly gak papa kok, Bu.”


“Kamu kuliah hari ini?”


Selly mengangguk sebagai jawaban. “Masuk siang, Bu.”


“Ada janji sama seseorang?”


Pertanyaan Dita membuat kening Selly berkerut. “Tidak ada.”


“Sebentar.” Dita berjalan ke ruang tamu, mendekati jendela di samping pintu. “Itu bukannya mobil Rey teman kamu ya, Sel?”


Mengerutkan kening, Selly mendekati Dita, ikut mengintip dari balik jendela. Mobil sedan hitam dengan plat nomor yang Selly hafal terparkir di seberang jalan.


“Ngapain Rey di situ?” gumam Selly, lebih terdengar bertanya pada diri sendiri.


“Kemarin dia ke sini nyariin kamu.” Dita duduk di sofa, lantas menceritakan perihal kedatangan Rey yang mencari keberadaan Selly. “Dan Ibu lihat dari sebelum subuh mobil itu sudah ada di sana,” pungkas wanita itu.


Seolah teringat sesuatu, Selly menepuk kepala, lalu tergopoh kembali ke kamar. Sedikit linglung mencari keberadaan tas selempang berbahan kain yang biasa dia pakai. Hingga ekor matanya menangkap onggokan hitam di bawah kolong tempat tidur. Membuka resleting tas, Selly mengeluarkan semua isinya, dan benda yang dicari pun terlihat. Gadis itu menggigit bibir ketika menemukan puluhan chat dan panggilan tidak terjawab dari nomor yang sama. Penunjuk daya di layar ponselnya bahkan sudah berwarna merah, bisa dipastikan sebentar lagi ponselnya akan mati.

__ADS_1


Getaran panjang dari benda pipih itu membuat Selly terlonjak. Baru saja jempolnya akan menggeser ikon penerima panggilan, ketika getarannya hilang bersamaan dengan layar berubah gelap. Panik dia menuju meja belajar, mencari charger di laci. Tapi belum sempat menyambungkan dengan sumber daya listrik, gadis itu berjalan cepat keluar ruangan.


“Lho Sel mau ke man—”


“Ibu aku minta maaf.” Selly menangkupkan tangan di depan dada. Tapi kemudian tangan itu terulur menyentuh tubuhnya sendiri, memperhatikan penampilannya yang hanya memakai kaus oblong dan celana training. Dia kembali ke kamar, mengabaikan raut bingung Dita. Mengambil cardigan warna coklat di gantungan belakang pintu, Selly mengenakannya sambil berjalan. Meminta maaf sekali lagi pada Dita sebelum melimbai keluar rumah.


***


Jika ada hal yang membuat Rey begitu takut, maka itu adalah kehilangan kabar dari Selly Anandita. Kemarin setelah melihat gadis itu pergi dengan Kiky, Rey tidak bisa menemukan Selly di mana pun. Gadis itu tidak masuk kelas, tidak ada di perpustakaan, pun tidak dia temukan di setiap sudut kampus.


Usaha untuk menghubungi nomor teleponnya pun berakhir dalam kotak pesan. Membuat berbagai pikiran jahat menari-nari di kepala. Rey bahkan mendatangi rumah Selly, berdalih ingin meminjam buku karena tidak ingin membuat Dita khawatir. Namun, jawaban yang Rey dengar semakin membuat pikirannya awut-awutan.


“Selly belum pulang, Nak Rey, mungkin langsung ke kafe.”


Yang Dita tidak tahu adalah Rey sudah mendatangi kafe tempat Selly bekerja sebelum melajukan mobil dengan grasah-grusuh ke kediaman Dita.


Frustasi, Rey mengendarai mobilnya ke sembarang tempat. Mengikuti naluri, dia sempatkan mampir ke sudut-sudut kota. Mungkin saja Kiky berniat menyembunyikan Selly di bangunan tua tidak terpakai atau menyeberangkan gadis itu ke pulau kecil tak berpenghuni.


“Kenapa gak minta bantuan Alarik?”


Rey mengumpat dalam hati, ketika menyadari kebodohannya. Terlalu fokus pada apa yang akan Kiky lakukan pada Selly membuat otaknya bertransformasi ke pentium satu, lola. Kalau bukan karena saran dari Bagas, sudah dipastikan dia dehidrasi akut karena menyambangi setiap tempat yang dirasa ada Selly di dalamnya, mengabaikan asupan cairan untuk tubuh.


“Dia masih di kota ini,” terang Alarik, jemarinya menggerakkan kursor dalam layar laptop di atas meja, memperbesar area pada titik merah yang berkedip-kedip. “Dia di rumah.”


“What?”


Dan gelak tawa menyembur dari mulut Bagas dan Bagus. “Lo dikerjain kali Sob,” ejek Bagus disela tawanya.


Rey menggeleng, jelas-jelas dia tidak menemukan gadis itu tadi sore di rumah. Tidak mungkin kan Dita berbohong? Lagi pula kalau Selly ada di rumah, untuk apa gadis itu menghindarinya? Atau Kiky mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya?


“Heh, mau ke mana lo?” suara Bagas menghentikan gerak kaki Rey. “Nyamperin Selly?” tebaknya setelah tidak ada jawaban dari lelaki itu.


Rey hanya mengedikkan bahu, memangnya apa lagi yang harus dia lakukan?


Decakan keluar dari bibir Bagas. “Lo gila, mau digerebek warga bertamu tengah malam gini?”


Melirik jam dinding, Rey menghembuskan napas, Bagas benar, sudah hampir pukul 00.00.


Alhasil, Rey kembali menjatuhkan tubuhnya di sofa, mengabaikan ajakan teman-temannya untuk pulang. Dia akan tidur di sini, lalu pagi-pagi sekali dia berencana mendatangi Selly. Gadis itu harus bertanggung jawab untuk semua resah yang tercipta. Dia tidak boleh mengabaikan Rey begitu saja.


Sebelum adzan subuh berkumandang, mobil Rey sudah terparkir di sisi jalan rumah Selly. Matanya awas memindai setiap sudut rumah, dan ketika apa yang dia tunggu menampakkan diri, Rey tidak mampu menahan diri untuk tidak berlari menemui gadis itu.


Beberapa detik, dua insan berbeda gender itu hanya saling berbagi sapa lewat tatapan mata. Memindai kabar masing-masing lewat bahasa tubuh.


“Kamu mau gantiin hansip, jagain rumah aku?” Adalah Selly yang pertama kali memecah hening.


Kedua telapak tangan Rey mengepal erat, berusaha menahan hasrat untuk menyentuh gadis di depannya. Memangnya siapa yang membuat dia jadi hansip dadakan?


“Ke mana kamu kemarin? Kenapa tidak bisa dihubungi? Apa yang kamu lakukan dengan—”


“Mau sarapan nasi uduk?”


“—Ki—Apa?” Rey mendadak kehilangan kata, semua tanya yang terlontar dari bibirnya sedetik yang lalu seperti menguap, tak butuh jawab. Tertegun mendengar ajakan Selly yang bagi Rey terdengar seperti keajaiban. Seorang Selly Anandita menawarinya pergi bersama.

__ADS_1


Selly tersenyum melihat tampang linglung Rey, menyelipkan rambut ke belakang telinga, gadis itu berjalan lebih dulu.


“Ayo!” Selly menoleh pada Rey yang masih terdiam di tempat.


Gelagapan, Rey segera menyusul Selly. Menyejajarkan langkah kaki mereka menyusuri trotoar jalan. Mimpi apa dia semalam? Sepagi ini sudah mendapat momen spesial? Tunggu, bukankah dia tidak bisa memejamkan mata? Meski tangan sudah digunakan untuk menutupnya, faktanya dia masih bisa mengikuti detik jam dinding yang berputar. Atau gadis di sebelahnya ini sedang ingin menukar semua kekhawatirannya kemarin?


Melalui sudut mata, Rey menilik penampilan Selly. Dia yakin, gadis itu bahkan belum sempat mandi, mungkin baru bangun tidur. Tapi nyatanya dada Rey bahkan membuncah bahagia, seolah ada bidadari di sampingnya. Kedua tangan Selly dimasukkan ke dalam saku cardigan polos warna hitam yang dikenakan untuk menutupi kaus dan celana trainingnya. Sesekali tangannya berpindah ke sisi telinga, menyampirkan anak rambut yang nakal terbang terbawa udara pagi.


Rasanya tangan Rey gatal, ingin menyelipkan rambut legam si gadis yang lagi-lagi menerobos telinga, membuat wajah tanpa make up itu tertutup. Membuat Rey kehilangan pemandangannya. Melipat bibir ke dalam, Rey menggerakkan tangannya, mengarahkan ke samping kepala Selly. Sedikit lagi, tangan pemuda itu menyentuh rambut, saat tiba-tiba Selly menoleh dan berkata bahwa mereka sudah sampai.


“Oh.” Rey menarik tangan, berganti menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Tidak bisakah mereka makan di tempat yang lebih jauh? Kenapa penjual nasi uduknya harus sedekat ini dari rumah Selly?


Rey menjalankan netranya menyusuri warung tenda itu. Pada gerobak nasi uduk dan sepasang penjualnya yang tampak sibuk, pada sederet bangku yang dipenuhi pembeli yang tampak begitu menikmati nasi dengan lauk dan rasa khas itu. Mereka bahkan harus duduk satu bangku dengan pengunjung lain. Rey merasa risih karena lelaki yang duduk di sebelah Selly.


“Kamu biasa sarapan di sini?” Mendatangi Selly kurang dari pukul tujuh pagi, bukan kebiasaan Rey.


“Gak juga.” Selly menggelengkan kepala. “Lebih sering masak, kalau pun ke sini, paling dibungkus.”


Menggigit pipi bagian dalam, Rey mencoba menahan rekah bibirnya. Bolehkah dia merasa senang? Merasa istimewa karena menjadi partner sarapan Selly. Iya, Rey tahu ini receh. Makan di warung tenda, dengan pengunjung berjubel dan hanya tertutup terpal seadanya bukanlah sesuatu yang romantis. Tapi dia bahkan rela mengganti satu harinya di hotel mewah dengan momen ini.


***


Berada di samping Rey selalu nyaman. Itulah yang dirasakan Selly. Untuk beberapa saat dia lupa dengan mimpi buruknya, dia tidak ingat dengan apa yang terjadi 24 jam yang lalu.


Jika Selly boleh bermimpi, dia ingin saat-saat seperti ini terjadi setiap hari. Melihat bagaimana wajah tampan itu menularkan senyum. Menikmati setiap perubahan mimik wajah Rey ketika makan pedas, juga suaranya yang menggelitik kuping Selly untuk selalu mendengarkan.


Bisakah Selly berharap banyak pada lelaki itu? Bolehkah Selly menggantungkan mimpi setinggi bintang bahwa Rey akan menerima dia apa adanya?


Mereka berhenti di halaman depan rumah Selly, berhadapan dengan canggung. Keduanya seolah belum ingin menyudahi pertemuan itu.


“Aku ... masuk dulu ya?”Selly bersuara setelah sekian detik.


“Oh.” Mengangguk, Rey mempersilakan Selly masuk. “Oke.”


“Sampai jumpa,” ucap Selly sebelum berbalik dan melangkah.


“Selly!” Baru dua langkah, Rey memanggilnya, membuat gadis itu berbalik.


“Ya?”


“Mm ... terima kasih.”


Tersipu, Selly mengamini ucapan Rey dengan senyum malu. Lantas kembali memutar tubuh.


“Selly!” Lagi, Rey menghentikan gerak kaki Selly, membuat gadis itu menoleh, bertanya dengan menaikkan alis.


“Mm ... sampai jumpa.” Rey melambaikan tangan ke udara, dengan senyum bahagia menghiasi bibirnya.


Selly terkikik, lantas turut melambaikan tangan sebelum berbalik. Menaiki dua anak tangga menuju teras rumah.


“Selly!”


Memejamkan mata, Selly menghela napas sebelum memutar tubuh. “Apalagi Rey?” ucapnya dengan sedikit penekanan, apa mereka akan bermain memanggil dan terpanggil terus?

__ADS_1


Rey melebarkan senyum, lalu berjalan mendekati gadis yang mengerutkan bibirnya itu. Lucu. Wajar saja Rey seperti mempermainkannya dari tadi. Membawa tangannya ke udara, sedikit ragu Rey menyentuhkan jemarinya ke ujung kepala Selly, lalu menepuk pelan, sedikit mengacak.


“Sampai jumpa,” pungkas Rey, sebelum berbalik dan melimbai pergi.


__ADS_2