Mawar Biru

Mawar Biru
Ayah


__ADS_3

Pernah ada harap untuk dia yang harusnya kupanggil ayah.


-Selly Anandita-


---


Flashback.


Dita mengidap tumor rahim dan harus di operasi.


Informasi itu, terputar di dalam kepala Selly, terngiang-ngiang di telinga serupa kaset rusak yang dipaksa masuk ke dalam DVD.


Ibunya sakit.


Ibu harus dioperasi.


Ibu butuh biaya.


Yang ada di pikiran Selly adalah bagaimana mendapat uang secepatnya.


Lalu sebuah nama tercetus begitu saja. Nama seseorang yang harusnya juga bertanggung jawab pada kondisi Dita, bahkan juga dirinya. Prasetya Wisnudarma, artis senior merangkap anggota legislatif.


Berbekal selembar foto dan sebuah alamat email, Selly merancang aksi nekatnya. Sebutlah dia jahat, mengambil jalan pintas demi mendapat uang. Mengancam akan menyebar foto mesra Prasetya dan Dita ke publik, jika lelaki itu tidak membalas emailnya. Tapi sekali-kali lelaki seperti Prasetya Wisnudarma juga perlu diberi pelajaran. Agar dia tahu rasa takut. Supaya lelaki yang terlihat sangat terhormat dan terpelajar itu sedikit menoleh pada masa lalu.


Tak butuh waktu lama, email yang Selly kirimkan segera berbalas. Meminta mereka bertemu dan menegosiasikan harga. Tanpa pikir panjang, Selly menyanggupi bertemu di salah satu hotel kelas bawah di pinggiran kota.


Seorang ajudan bernama Topan ditugasi untuk menjemput Selly di loby hotel, lalu membawanya memasuki kamar yang telah dibooking.

__ADS_1


“Di mana, Pak Prasetya?” tanya Selly ketika tidak ada siapa pun di dalam kamar itu.


“Sebentar lagi Beliau datang,” jawab Topan, sambil melihat arlojinya.


Sejujurnya Selly tegang, jantungnya berdegup kencang. Dia akan bertemu bapaknya, seseorang yang sangat mungkin mempunyai kemiripan dengan Selly. Bolehkah dia menyebut rindu? Tapi di sisi lain, rasa untuk menonjok lelaki itu juga sangat besar.


Tak berselang lama, pintu terbuka, menampilkan sosok lelaki bertopi dan memakai penutup wajah. Selly mendengkus, jadi begini penyamaran para artis agar tidak ketahuan?


Netra mereka beradu untuk beberapa saat, lantas lelaki itu melepas masker. Selly menahan napas, ketika melihat wajah itu, dia bisa melihat bibirnya di sana. Adakah Prasetya juga menyadari?


Mereka duduk di kursi, terpisah oleh meja rendah di tengah-tengah. “Saya pikir, saya akan berjumpa dengan lelaki bertato atau wanita seumuran saya yang butuh modal untuk memenuhi gaya hidupnya,” prolog Prasetya, “tidak tahunya, kamu masih sangat muda.” Lelaki itu menaikkan ujung bibir, tersenyum meremehkan.


“Kalau begitu prediksi Anda salah,” jawab Selly mencoba bersikap setenang mungkin.


“Mana fotonya?”


“Dari mana kamu mendapatkan foto itu? Apa hubunganmu dengan Dita?”


Aku anaknya, anak kalian.


Jawaban Selly tertelan bersama saliva. “Saya saudara ...,” menjeda kalimat, Selly menatap lelaki itu. “Jauhnya.”


“Dita yang menyuruhmu melakukan ini?” todong Prasetya, penuh selidik.


“Bukan.” Menggeleng, Selly lantas menimbang dalam hati, mencoba beradu nasib dengan diri sendiri, menebak seberapa patut lelaki itu disebut ayah. “Saat ini beliau tengah sakit, butuh biaya besar untuk operasi.”


Apa yang Selly dapati selanjutnya meruntuhkan harapan, Prasetya justru tertawa. “Kenapa kamu memeras saya kalau dia sakit? Di mana keluarganya? Ke mana suaminya?”

__ADS_1


Rahang Selly mengeras, ingin sekali dia berkata, ‘tanyakan pada dirimu sendiri’, sambil menunjuk hidung lelaki itu. Tapi perkataan ibunya mendadak terngiang di kepala.


“Bapakmu tidak tahu apa-apa, ibu yang sengaja menghindar. Ibu yang membiarkannya pergi.”


“Dia sudah tidak punya keluarga,” jawab Selly, kerongkongannya mendadak kering mengingat bahwa dia bahkan tidak pernah tahu seperti apa rupa nenek dan kakeknya.


Prasetya memijit pangkal hidung, menyandarkan kepala pada sandaran kursi. Lalu dia menatap Selly. “Berapa yang kamu inginkan?”


Berdehem, Selly membenarkan posisi duduknya. “Seluruh biaya rumah sakit, sampai Beliau sembuh.”


Prasetya menganggukkan kepala, lalu menoleh pada Topan yang dibalas anggukan. Dengan cekatan Topan mengeluarkan selembar kertas kosong dari tas kerja, menulis beberapa kalimat sebelum menyerahkannya pada Prasetya.


Lelaki itu meletakkan kertas ke atas meja, setelah membaca isinya. Membubuhkan tanda tangan di salah satu sudut di bawah tulisan, lalu menggeser ke hadapan Selly yang menaikkan alis. “Surat perjanjian,” terang Prasetya, “saya akan menjamin biaya pengobatan sampai Dita keluar dari rumah sakit, setelah itu kamu tidak boleh menghubungi saya lagi! Urusan kita selesai.”


Selly menyetujuinya, tidak masalah Prasetya tidak mengenalinya, yang penting ibunya sembuh. Setelah menandatangani kertas itu, Selly berpamitan, lantas berjalan ke arah pintu.


“Selly Anandita,” tertegun Selly di ambang pintu. Suara itu mempengaruhi kerja jantungnya, panggilan dari orang yang hanya bisa dia andaikan sebelumnya. Entah berapa ratus kali Selly berangan dipanggil oleh seorang lelaki berbadan kuat dengan sebutan ‘putriku’ dengan senyum secerah mentari, lantas memanggul Selly di pundak. Berjalan mengelilingi taman, bersenda gurau hingga lemas karena terlalu banyak tertawa.


Tidak, tidak. Tidak perlu semuluk itu, bahkan jika pun ayahnya adalah lelaki pekerja keras super sibuk, Selly akan sangat cukup hanya sekedar dikecup kening ketika dia terlelap. Iya, Selly semendamba itu, bagi dia panggilan dari seorang ayah dan sentuhannya serupa nyidam wanita hamil. Sangat ingin dan harus dituruti. Hanya saja, Selly tidak bisa mendapatkan dengan mudah, dia harus terima menelan ludah berkali-kali sambil mengurut dada. Sabar.


“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”


Pertanyaan Prasetya selanjutnya nyaris membuat Selly berbalik, menubruk lelaki itu sambil menunjuk wajah sendiri. ‘Tentu saja, Anda tidak lihat bibir ini, lengkung alis ini? Siapa lagi yang akan semirip itu dengan Anda?’


Tapi akal sehat mencegahnya, dia tidak mau menambah runyam keadaan. Dia tidak ingin membuat Dita yang mungkin saja akan jantungan jika melihat semua ini.


Gadis itu memutar kepala sembilan puluh derajat, tanpa membalik badan. “Tidak. Kita tidak pernah bertemu.” Memutar knop pintu, Selly bergegas meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Biarlah segalanya tetap menjadi rahasia. Dia akan menganggap ayahnya telah mati, seperti apa yang telah Dita tanamkan dalam pemikirannya selama ini.


__ADS_2