Mawar Biru

Mawar Biru
Serigala Berbulu Kambing


__ADS_3

Seseorang yang kita anggap baik, bisa jadi menyimpan racun di belakang tubuhnya.


---


Sedan hitam metalik keluar dari tempat parkir Universitas Atmaja di saat raja siang bertakhta di singgasana tertinggi, memanggang jalanan hitam. Kepulan asap bercampur debu mengiringi kepergian mobil yang bermanuver dengan kecepatan di atas rata-rata. Pengendaranya seperti tidak peduli dengan klakson berbumbu makian dari pengguna jalan lain.


Satu jam sedan hitam itu membelah jalanan besar, menuju ke selatan kota. Bau khas laut mulai tercium terbawa angin yang semakin kencang. Pun suara deburan ombak samar terdengar. Mobil berbelok, melewati jalanan sempit berpasir, lantas berhenti di tepi pantai. Dua buah kapal nelayan sederhana bersandar di tepi, sedikit bergoyang tiap kali gelombang datang.


Seorang pria bertopi keluar dari salah satu kapal, sebatang rokok terjepit di sela bibirnya yang menghitam. Pria dengan jaket kulit dan celana jeans robek di dengkul itu menghampiri mobil. Lantas pria itu masuk ke dalam setelah membuang puntung rokoknya.


“Berapa kali gue bilang, jangan nelfon ke nomor gue yang itu!” omel Kiky setelah Bendi duduk di sampingnya. Lelaki itu sudah mewanti-wanti Bendi agar hanya menghubungi nomor khusus yang dia berikan. Tapi pria kurus itu membangkang.


Jantungnya nyaris copot saat mendengar suara Bendi melalui perangkat seluler ketika jam makan siang beberapa saat lalu. Terlebih saat itu dia sedang bersama Selly, tanpa pikir panjang lelaki itu pamit.


“Ngapain lo?” bisik Kiky tertahan setelah keluar dari kantin.


“Maaf Bos, saya kecopetan,” jawab Bendi.


“So?” Demi apa, harinya sudah buruk sejak kemarin ditambah beberapa saat lalu dia disuguhi pemandangan yang memuakkan. Lalu sekarang Bendi membawa masalah baru, membuat mood-nya kian jatuh ke dasar.


“Saya masih di kota Bos.”


“Shit!” Kiky tidak sungkan mengeluarkan makian itu. Berjalan gusar menuju tempat parkir kampus. “Di mana lo?”


Dan di sinilah Kiky sekarang bersana pria yang meneleponnya beberapa saat lalu.


“Maaf Bos, darurat soalnya.” Bendi menunduk dalam, kemarin dia sudah coba menelepon nomor itu tapi tidak kunjung mendapat jawaban.


Mendengus, Kiky lantas membuka laci, mengeluarkan amplop coklat yang menggembung.


“20 juta.” Kiky melempar amplop itu ke pangkuan Bendi. “Gila ya! lo mau meras gue?”


“Kemarin saya kecopetan Bos, jadi butuh modal lagi buat kabur.”


“Alesan!” Kiky melirik pantai di depannya yang tampak sepi. Pantai kecil yang tidak terjamah tangan-tangan usil, terbukti dari jernihnya air yang memantulkan warna langit.


“Udah lo pastiin gak ada yang ngikutin lo, kan?”


“Iya Bos, mereka gak tahu kok aku kabur ke sini.” Manik mata Bendi melirik sekilas ke arah kapal nelayan di tepi pantai itu.

__ADS_1


“Bagus, kabur sana lo sejauh mungkin,” balas Kiky, kepalanya mengedik. “Jangan sampai Rey nemuin lo.”


“Memangnya kenapa kalau gue nemuin dia.”


Kiky melebarkan mata, terkejut dengan suara Rey yang menggema di dalam mobil. Melihat Bendi yang gemetaran, dia tahu ada yang salah di sini.


“Lo jebak gue!” desis Kiky, tangannya terangkat siap melayangkan bogeman ke wajah kusut Bendi.


“Lo mau nambah daftar kejahatan lo?”


Mengumpat, Kiky urung melayangkan bogem mentah ke wajah Bendi, dia lantas menggeledah badan Bendi. Menemukan ponsel di saku dalam jaket pria itu yang menampilkan sebuah panggilan.


“Di mana Lo?” bentak Kiky mendekatkan bibirnya ke ujung benda pipih itu.


“Di dekat lo. Kenapa, lo kangen sama gue?” tanya Rey sarat akan nada mencemooh.


“Jangan main-main! Kalau lo berani, sini one by one, gak usah kucing-kucingan!” Sudah kepalang tanggung. Rey pasti sudah mengetahui semuanya, tidak ada gunanya dia berkelit atau pura-pura tidak tahu. Jadi cara paling gentle adalah melawan lelaki yang entah berada di mana itu.


Kiky menatap tajam Bendi, berharap matanya memiliki kekuatan gaib yang bisa melumpuhkan pria tidak tahu diri itu.


Decak ejekan terdengar. “Gue gak nyangka Kiky yang manis, ternyata punya jiwa iblis yang bersemayam.”


Kiky merapatkan bibir, rahangnya mengeras, menyembulkan tonjolan tulang. Dia menerjang Bendi. “Di mana dia?” Menarik kerahnya tidak manusiawi, memaksanya berbicara.


Kiky mengeluarkan rentetan kata paling tidak manusiawi, memaki tepat di depan wajah. Lantas mendorong tubuh itu hingga membentur pintu mobil.


Kiky kembali ke kursinya dengan napas memburu, menyugar rambut, dia mendekatkan ponsel ke sisi kepala. “Apa mau lo Rey?”


Menyandarkan kepala di jok mobil, lelaki itu memejamkan mata. Merasakan denyut hebat di kepala. Hanya tinggal menunggu waktu, Selly akan mengetahui segalanya.


“Gue mau lo ngaku ke Selly, kalau lo yang udah nyuruh orang buat ngambil foto dan nyebarin berita hoax itu.”


Kiky membuka mata, benar, kan, Rey bahkan lebih ‘pintar’ daripada yang dia kira. Rivalnya itu dengan sengaja menyuruh Kiky mengumpankan diri, membuka aibnya sendiri di hadapan Selly. Bukankah itu jauh lebih memalukan?


“Kalau gue gak mau?” Kiky keluar dari mobil. Angin laut yang berembus menyapa tubuh. Netranya awas memindai setiap sudut pantai. Pada beberapa pohon kelapa yang bergoyang seirama angin, pada kumpulan batu karang di sudut tebing pembatas pantai, dan juga pada dua kapal nelayan di depannya.


Terdengar helaan napas Rey sebelum dia kembali bersuara, “Well, gue cuma tinggal ngasih rekaman lo sama Bendi.” Tawa Rey mengudara saat mendengar Kiky mengumpat. “So lo pilih mana?” tanya Rey penuh ejekan.


Tidak ada bedanya penawaran dari Rey. Lelaki itu memang sengaja menjebak Kiky. Bersedia mengakui kesalahannya secara langsung maupun paksa. Kepala Kiky berdenyut makin hebat, pilihan yang sulit. Keduanya sama saja merugikan dirinya, membuatnya harus mengambil risiko mendapat kebencian dari Selly. Lelaki itu merutuki diri sendiri, harusnya dia cukup pintar membaca situasi ketika tiba-tiba Bendi menelepon meminta bertemu. Kecopetan? Bendi bahkan lebih layak menjadi pencopet dari pada korbannya.

__ADS_1


Mengetatkan rahang, Kiky menajamkan telinga, menangkap sesuatu yang tak asing di ujung telepon. Netra Kiky menyipit, sepertinya dia tahu di mana Rey berada.


“Gue tahu lo di sekitar sini.” Kiky berjalan menghampiri perahu kayu di depannya dengan langkah pelan dan penuh perhitungan.


“Lo mau jadi detektif? Oke, coba aja temuin gue!” tantang Rey dengan nada meremehkan.


Kiky berhitung dalam hati, bersiap memasang kuda-kuda ketika tangannya menggapai tirai penutup geladak kapal. Namun, energinya terbuang sia-sia. Jantung yang menggedor dari tadi pun perlahan kembali normal, ketika tidak ada apa pun yang dia dapati.


Rey kembali terbahak, Kiky bisa membayangkan lelaki itu tertawa sambil menahan perutnya dengan tangan. Lagi-lagi hanya mengumpat dengan bahasa paling kasar yang bisa Kiky lakukan.


“Kiky... Kiky... Ternyata lo bego kalau lagi galau gini,” ejek Rey diakhiri tawa.


“Diem lo, cemen!” Kiky menaruh tangannya yang bebas di pinggang.


“Hei,” ucap Rey setelah tawanya reda. “Lo harusnya bersyukur, karena kalau lo berada dalam jangkauan gue, gue khawatir lo pulang tinggal nama.”


“Gak ada yang tahu sebelum mencoba, Rey.” Iya, Kiky menantang lelaki itu, kendati dia masih bisa merasakan dahsyatnya pukulan Rey tempo hari.


“Gue masih berbaik hati gak memperkarakan ini ke polisi.” Nada suara Rey berubah serius dan penuh penekanan. “Lo, gue kasih waktu 1x24 jam buat ngomong sendiri sama Selly, dan jangan coba-coba bermain curang!” Rey mengakhiri sambungan.


***


“Ha ha ha ....”


Berapa kali Rey tertawa sejak 30 menit yang lalu? Tepatnya setelah dia berhasil mengerjai pria berkaca mata di bawah sana. Tawa Rey semakin kencang ketika Kiky baru menyadari telah kehilangan seseorang yang pantas untuknya melampiaskan amukan atau kata-kata super pedas misalnya. Bendi kabur. Rey, tentu saja melihatnya. Kiky berteriak frustasi dan menendang ban mobil.


“Dasar gila!” Bagas mengolok Rey yang terlihat begitu terhibur, kendati bibirnya pun tak berhenti berkedut dari tadi.


“Sumpah ya!” Rey mengusap ujung matanya dengan ibu jari. “Tu cowok lucu banget kalau lagi panik.”


Alarik mengangguk, matanya masih terpancang pada layar laptop di depannya.


“Gue curiga dia punya kepribadian ganda,” timpal Bagas, mulutnya tak berhenti mengunyah permen karet.


Satu hari lalu mereka berhasil menangkap Bendi, memaksanya mengaku tentang Kiky. Lalu menyusun rencana menjebak dalang penyebaran hoax itu. Pantai sepi ini adalah tempat yang mereka pilih. Menyuruh Bendi menelepon Kiky dan meminta uang lagi karena kecopetan. Tentu saja Kiky mengiyakan, karena uang tersebut akan digunakan untuk kabur dari kota ini, menghindari Rey.


Mereka memasang kamera pengintai di sudut atap kapal. Menangkap setiap gerak Kiky lewat layar laptop.


Sebenarnya Kiky nyaris menemukan mereka andai dia jeli. Ketika melihat tebing, lelaki itu melewatkan bukit bersemak di atasnya. Kalau dia teliti harusnya dia bisa menangkap warna pakaian mereka yang kontras dengan lingkungan sekitar. Sayang, mahasiswa bahasa itu terlalu panik untuk sekedar lebih teliti.

__ADS_1


“So, lo mau gimana Rey?” Bagus bertanya di sela kegiatan mereka membereskan perlengkapan, bersiap turun.


Mengangkat bahu, Rey berkata bahwa dia akan memberi kesempatan pada Kiky seperti yang dikatakannya di sambungan telepon. Lagi pula Rey juga penasaran apa motif Kiky melakukan semua itu. Kalau hanya untuk sekedar Rey membenci Selly, rasanya itu terlalu ekstrim. Menggunakan website sebagai alat penyebar jelas bertujuan agar semua orang mengetahuinya kan? Lalu apa Kiky bermaksud membuat Selly dikucilkan? Cinta macam apa yang membuat orang yang dicintai sengsara?


__ADS_2