Mawar Biru

Mawar Biru
Obsesi Kiky


__ADS_3

Karena aku menginginkannya hanya untukku.


---


Para penikmat asmara pasti sering mendengar jargon cinta tak harus memiliki. Bagi Kiky Wiratama itu sekedar omong kosong dari mereka yang memilih menyerah. Enggan berusaha demi bisa memiliki sang pujaan hati.


Sepanjang 21 tahun eksistensinya di dunia ini, hanya ada satu gadis yang berhasil mengetuk pintu hati pemuda itu. Awalnya Kiky pikir rasa nyaman itu sekedar perasaan wajar yang timbul antar teman sepermainan. Tapi perasaan macam apa yang membuatnya begitu marah ketika Selly diusili Dino, bocah gendut di dalam kelas mereka. Atau perasaan macam apa yang membuatnya merana bertahun-tahun karena sempat berpisah dengan Selly semenjak lulus SD? Dan haruskah dia mempertanyakan lagi arti degup jantungnya yang menggila ketika dia melihat gadis itu di SMA tempatnya menimba ilmu?


Kiky sebahagia itu, ketika mereka kembali bertemu. Berteman layaknya tidak pernah ada jarak dan waktu yang pernah memisahkan. Kembali merajut memori yang bukan sekedar kenangan anak ingusan.


“Aku tadi melihatmu dengan Egi, kalian terlihat akrab.” Itu adalah ungkapan lain dari kata ‘aku cemburu’ ketika Kiky melihat Selly jalan beriringan dengan Egi Prasetya ketua kelas IPA 2.


“Biasa aja Ky, kaya teman sekelas yang lain,” jawab gadis berseragam putih abu-abu itu.


“Tapi Egi kelihatan tertarik sama kamu.” Ini adalah bentuk pencegahan selanjutnya. Egi si cowok rapi itu jelas terlihat menyukai Selly lewat bahasa tubuhnya yang tidak biasa. Kiky tidak mau dia kecolongan, keduluan start, lalu Selly akan menjadi milik orang lain.


“Oya?” Selly mengerutkan kening, mengingat seperti apa interaksinya dengan Egi. “Aku sih ngrasanya biasa aja Ky.” Gadis itu mengedikkan bahu.


“Bagaimana kalau suatu saat dia menyatakan perasaannya?” Tidak, Kiky belum mau berhenti mengejar jawaban dari Selly, dia harus tahu lelaki macam apa yang disukai gadis itu.


Selly melipat tangan di dada. “Lalu kalau misal aku terima apa itu akan menjamin aku dan dia akan berakhir bahagia?” Menatap Kiky intens, gadis itu melanjutkan ucapannya, “Kamu jelas tahu kaya apa kondisi aku Ky, dan aku gak mau buang waktu hanya untuk akhir yang udah bisa ditebak.”


“Bagaimana kalau ada yang benar-benar tulus?”


Selly tertawa miris. “Satu banding sepuluh juta penduduk Indonesia.”


“Bagaimana jika satu dari sepuluh juta itu ada di dekat kamu, selalu memperhatikan kamu?”


“Really?” Selly melebarkan mata berlebihan. “Aku jadi ngrasa kaya cinderella dicariin pangerannya nih.” Dan lagi Selly tertawa.


Gadis itu tidak pernah benar-benar serius dengan perasaan cinta yang acap kali digemborkan oleh remaja seusia mereka. Selly acuh dengan segala bentuk perhatian laki-laki, karena seperti katanya tadi seseorang yang akan menerima dia apa adanya bisa dibilang langka.


“Bagaimana kalau aku bilang, akulah lelaki itu?” Kiky serius, mengucapkan kalimat itu dengan pandangan lurus menembus retina Selly dan jangan lupakan sensasi serupa detik bom waktu yang menggema dalam dada.


Selly berkedip, mengerutkan kening, lalu detik selanjutnya dia kembali terpingkal lebih hebat dari sebelumnya. “Kamu nglawak Ky,” katanya menepuk pundak Kiky.


“Gak usah sok serius gitu lah, aku jadi takut.” Perkataan Selly selanjutnya membuat Kiky turut tertawa dan mengamini lawakannya.


Hal itulah yang membuat Kiky belum mau ambil risiko, membuat gadis itu risih hanya karena perasaan sentimentilnya adalah salah satu hal yang dia hindari. Lagi pula Kiky masih bisa bernapas lega dan berbesar hati karena belum ada satu lelaki pun yang bisa sedekat dirinya dengan Selly. Dia hanya perlu menunggu waktu sebentar lagi, saat Selly sudah benar-benar siap.


Namun, waktu yang ditunggu-tunggu Kiky justru diambil seseorang bernama Rey Atmaja. Awal kemunculan Rey ketika mereka memasuki perguruan tinggi yang sama sudah begitu menyita perhatian Selly Anandita. Rey tidak seperti kebanyakan lelaki lain, dia punya semacam magic yang bisa membuat Selly memberi perhatian lebih. Binar di bening mata Selly dapat Kiky lihat dengan jelas saat gadis itu bersama anak pemilik kampus.


Rey Atmaja mampu membuat gadis pujaan hatinya melanggar garis batas yang dia bangun sendiri. Selly menjadi semakin dekat dengan Rey. Dan Kiky Wiratama pelan namun pasti tersisihkan. Tidak ada lagi waktu jalan berdua. Bahkan untuk sekedar ngobrol saja Rey akan membuntuti.

__ADS_1


“So, kalian sudah resmi jadian?” Pertanyaan Kiky ketika dia melihat sebuah cincin tak biasa melingkari jari manis gadis itu. Dari inisialnya saja Kiky sudah bisa menebak siapa pemberi benda itu. Terlebih menangkap ekspresi Selly yang spontan merona disertai senyum malu-malu.


“Kamu menyukai Rey?” tanya Kiky lagi, disertai dentum menyakitkan di dalam rongga dada.


Lagi, Selly mengangguk dengan senyum itu.


“Apakah ....” Kiky menghela napas berat, dadanya terkoyak mencipta luka tak kasat mata, “dia benar-benar tulus? Apakah Rey orangnya?”


Netra Selly melebar sepersekian detik, seolah menyadari sesuatu. “Aku ... Gak tahu Ky,” jawabnya ragu.


“Kamu bilang hal kaya gini cuma buang-buang waktu.” Nada suara Kiky naik. “Lalu sekarang apa yang kamu lakukan dengan Rey?”


“Aku gak ngerti Ky.” Gadis itu menggeleng berulang. “Aku gak tahu,” ucap Selly lirih namun dalam. “Semuanya mengalir gitu aja, aku ... Aku nyaman sama dia.”


“O ya?” ucap Kiky sinis, “apa rasa nyamanmu itu aja cukup? Apa itu bisa menjamin Rey akan menerimamu setelah tahu bahwa kamu—.”


“Cukup Ky,” Selly memotong ucapan Kiky memandangnya dengan mata mengembun. “Aku tahu siapa diri aku. Aku sadar.” Dia menunjuk dadanya sendiri dengan gerakan dramatis. “Apa gak boleh sekali ini saja aku ingin mencecap bahagia? Apa gak boleh Ky kalau sejenak aku mengesampingkan itu?” Air matanya berderai sepanjang pipi, membuat Kiky yang menyaksikan kian terisis hati, lantas mengutuki kebodohan diri.


Kiky mencoba bersabar, dia akan membiarkan Rey merebut Selly sebentar saja. Iya, hanya sebentar karena dia membenci itu. Dia tidak suka ketika waktunya bersama Selly berkurang. Dia merasa harinya semakin buruk ketika melihat Selly tertawa bersama orang lain. Kiky marah ketika Selly menjadi milik orang lain.


Tidak ada yang boleh dekat dengan Selly selain dirinya. Tidak ada yang boleh mengklaim Selly. Bahkan seorang Rey Atmaja sekalipun. Selly Anandita hanya untuk dirinya. Selly Anandita hanya boleh dimiliki oleh Kiky Wiratama.


Kendati untuk menyingkirkan Rey tidak muda. Rey tidak seperti Dino yang bisa dia ancam ketika pulang sekolah. Rey bukanlah Egi yang bisa Kiky hajar jika masih mencoba mendekati Selly. Rey Atmaja perlu penanganan khusus.


“Aku bisa bantu kamu.” Kiky sungguh-sungguh mengucapkannya. Melihat wajah Selly bersimbah air mata, dia pun turut merasakan apa yang dialami gadis itu. Ibunya mengidap tumor rahim level 3, harus dioperasi. Anak siapa yang tidak akan sedih melihat orang tuanya meregang sakit.


Selly menggeleng. “Gak Ky, udah terlalu banyak kamu bantuin kami.”


“Trus mau dapet dari mana uang 35juta dalam waktu sehari?” Tiga puluh lima juta bagi segelintir orang mungkin bukan jumlah besar. Bisa jadi itu adalah isi dompet sehari-hari. Tapi bagi orang seperti Selly, Kiky tahu itu nominal yang fantastis.


“Aku akan cari cara.” Netra Selly menerawang.


“Cara seperti apa?”


“Yang jelas bukan jual diri.”


“Apa Rey sudah tahu?” selidik Kiky. Uang segitu jelas hanya serupa recehan bagi seorang Rey.


Selly menggeleng lemah. “Aku gak mau bikin dia khawatir.”


Sebelah alis Kiky terangkat. “Kenapa?”


“Aku gak mau dia jadi berlebihan, kamu tahu kan gimana Rey?”

__ADS_1


Cukup tahu tentang bagaimana dia membuatmu buta, Selly. Ucapan Kiky tertelan bersama saliva.


Awalnya, Kiky hanya ingin memastikan keselamatan gadis itu dengan menyuruh Bendi membuntuti tanpa sepengetahuan Selly. Memotret tiap gerak gadis itu, termasuk orang yang dia temui. Jaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Sesederhana itu, awalnya.


Tapi ketika dia mendapati Selly terlihat tanpa beban berbagi tawa dengan Rey, bahkan dia sama sekali tidak menyinggung masalah ibunya, sisi primitif Kiky Wiratama muncul ke permukaan tanpa diminta. Rasa panas menggerogoti rongga dada merambat ke ubun-ubun, membuat nuraninya karam tak bersisa. Memenangkan ego yang membawanya pada satu cara kotor. Menyebar berita hoax tentang Selly melalui website, mengirimnya ke salah satu anak kimia seangkatan Selly. Lalu, seperti api yang membakar jerami, skandal itu menyebar dengan cepat. Yang paling penting adalah sasaran utamanya, Rey Atmaja. Pemuda itu murka.


Seperti terjangkit virus, semua orang mendadak menjauhi Selly. Memandang gadis itu dengan sebelah mata. Kiky prihatin tentu saja, tapi sisi bahagianya lebih besar dari apa pun. Karena mulai saat itu, dia kembali mendapatkan tempatnya. Dia menjadi satu-satunya orang di sebelah Selly Anandita.


Namun, dia terlampau terbuai akan bahagia. Dia lupa bahagia selalu datang beriringan dengan sendu, pembawa kesedihan dan air mata. Faktanya, Rey memang bukan anak kemarin sore yang gampang dibodohi.


“Gue mau lo ngaku ke Selly, kalau lo yang udah nyuruh orang buat ngambil foto dan nyebarin berita hoax itu.”


Kiky menghela napas panjang, tubuhnya bersandar lunglai pada dinding. Duduk menekuk satu kaki, memandang langit malam yang terlampau pekat tanpa kerlip gemintang. Hampa. Angin malam mengusik kulit, membawa hawa dingin yang merengkuh tulang di balkon kamarnya itu.


Meraih ponsel yang tergeletak di samping tubuh beralas lantai, lelaki itu mendial nomor seseorang. Dering ketiga panggilan diangkat, menerbangkan suara lembut perempuan ke telinganya.


Untuk sesaat Kiky hanya diam, membiarkan Selly berulang kali memanggil namanya. Tidak bisakah seperti ini saja Selly? Hanya namaku yang kau sebut.


“Kiky, halo,Ky, kamu gak papa? Haloo,” celoteh Selly kali ketiga.


Aku sakit Sel. Kiky memegangi dadanya, merasakan denyut menyakitkan.


“Selly Anandita,” ucap Kiky pada akhirnya, membuat orang di seberang sana mengembuskan napas lega.


“Ya ampun, Ky, aku panggilin dari tadi, kirain kenapa-napa.”


“Kalau aku kenapa-napa apa itu ngaruh buat kamu?” perkataan Kiky berupa gumaman, yang tak tertangkap telinga Selly.


“Apa, Ky?”


“Lagi apa?”


“Abis nemenin Ibu ngobrol sebelum tidur tadi.”


“Hari ini, kamu ketemu Rey?”


Jeda sejenak sebelum Selly menjawab jika mereka hanya bertemu saat makan siang di kantin kampus. Sama seperti dirinya, yang tiba-tiba pergi.


“Kamu kenapa sih, Ky?” Agaknya Selly menangkap sesuatu yang tidak biasa dari Kiky.


“Besok, temenin aku, ya?”

__ADS_1


__ADS_2