Mawar Biru

Mawar Biru
Proposal Perjodohan


__ADS_3

Aku selalu berusaha membuka mata, tapi apa daya jika hati memaksanya menutup kembali.


-Rey Atmaja-


*


Hari yang buruk bagi Rey Atmaja. Setelah seharian konsentrasinya pecah karena sebuah cincin, malam ini dia harus menemui perempuan yang telah Randy rancangkan untuknya. Tepatnya perempuan keenam tahun ini.


Rey mengetukkan jemarinya di roda kemudi, sedikit malas menghadiri acara kali ini yang sudah bisa dia pastikan hasilnya. Lelaki itu masih berada di dalam mobil, di sebuah pelataran masjid, sholat Maghrib baru saja selesai ditunaikan. Ada satu doa yang selalu Rey aturkan delapan tahun terakhir ini, semoga Allah mendatangkan perempuan yang mampu membuatnya berkata ya, tanpa alasan apa pun.


Meski hingga detik ini, belum ada tanda doa itu terkabul. Rey sendiri bingung, setiap perempuan yang Randy sodorkan selalu mempunyai cela yang tidak Rey sukai. Seperti Mailina, gadis keturunan Minang dengan mata bulat dan kulit bersih itu misalnya. Berhijab, anggun, dan cerdas. Dokter spesialis anak yang tidak perlu diragukan kelembutannya.


Di pertemuan kedua mereka, Rey tertegun ketika melihat tawa gadis itu. Jenis tawa yang membuat netranya menyipit serupa lengkung bulan sabit. Seperti tersedot pusaran air, bayangan gadis lain yang justru berada di depannya. Gadis dengan ekspresi tawa nyaris serupa. Sejak saat itu, Rey tahu dia tidak akan menerima Mailina seutuhnya, karena dibayangi sosok masa lalu.


Rey menyugar rambut, lantas menyandarkan kepala di bangku kemudi. Haruskah dia mengecewakan lagi ayahnya? Haruskah dia terus membuat sahabatnya khawatir karena terpenjara khayalan semu?


Getaran dari ponsel di sampingnya membuat Rey meraih benda pipih itu. Satu notifikasi chat dari Bagus.


(Lo gak berniat mangkir kan?)


Mengecek penunjuk waktu, 5 menit lagi janji temu itu dijadwalkan. Rey memandang restoran di seberang jalan, lantas menyalakan mesin mobilnya.


*


“Apa-apaan ini?” Netra Rey membola ketika sampai di lantai dua tempat makan itu.


“Buat jaga-jaga,” jawab Bagas, sambil menyilangkan tangan di dada.


Rey mengerutkan pangkal hidung. “Ide lo bedua?” tunjuknya pada Bagas dan kembarannya, karena Alarik yang juga ada di sana tidak mungkin punya pemikiran sekonyol ini.


Bagus menaikkan sudut bibir, sembari menaik turunkan alis. “Lo kan, suka aneh-aneh syarat calon bininya, makanya kita udah siapin sarana dan prasarananya.”


Rey mendengkus, dipandanginya area lantai atas restoran yang berubah total karena ulah dua temannya itu. Di sisi kanan, tepat di samping dinding kaca sebuah meja bulat dengan dua kursi tertata apik. Dihiasi bunga mawar putih dan lilin di tengahnya. Tiba-tiba Rey merasa mual, ini seperti makan malam romantis sepasang kekasih, sementara mereka bahkan belum pernah bertemu sebelumnya.


Yang paling menarik, tapi juga konyol adalah peralatan di sebelah kiri. Terdiri dari lima buah meja dengan benda berbeda di atasnya. Meja paling ujung ada sebuah mushaf Al-Quran, lalu sebelahnya peralatan memotong sayur, lengkap dengan sayurannya, Rey ingat dulu pernah menolak Aulia yang tidak bisa memegang pisau dapur. Meja ke tiga ada seperangkat alat masak, jadi setelah memotong sayur kandidat calon istrinya kali ini akan memasak? Kenapa Rey merasa menjadi juri sebuah acara kuliner sekarang?


Di meja berikutnya ada bak cuci, yang membuat Rey mengerutkan kening. “Apa ini?”


“Kali aja setelah masak lo mengharuskan istri lo bisa cuci piring, nah kita udah sediain, nih.”


Bibir Rey berkedut mendengar jawaban Bagus. Apa Rey sudah demikian keterlaluan? Dia tidak seribet itu sebetulnya.

__ADS_1


“Lalu treadmil ini?” Rey menunjuk benda di sebelahnya.


“Lo lupa pernah nolak Murni?” Bagus yang menjawab. “Dengan ini lo bisa ukur kecepatan larinya, dan ini ....” Dia menunjuk karpet merah yang tergelar memanjang, serupa sarana berjalan para model. “Lo juga bisa mastiin tu cewek jalannya gak diitung, atau kalo lo mau nyoba bawa lari bareng juga bisa.”


Rey menyemburkan tawa, sudah tidak tahan lagi menahannya, sementara ketiga laki-laki lain melihatnya dengan pandangan bertanya.


“Lo kira gue pelatih olahraga, apa-apan sih, kalian,” protes Rey setelah tawanya mereda.


“Kali aja lo nyari bini sekalian atlet olahraga,” celetuk Bagas. “Selama ini syarat lo aneh btw.”


Rey mengembuskan napas. “Fine.” Lantas melihat sekeliling, di mana belum didapati tanda-tanda seorang perempuan. “Emangnya kalian yakin, ni cewek seperfect itu? Dia ini aja udah telat?” ucap Rey sembari menilik penunjuk waktu di pergelangan tangan.


“Kata Bokap lo, ni cewek yang bakalan bikin lo bertekuk lutut,” jawab Alarik mantap.


Rey menaikkan alis. “Well, kita lihat aja nanti.”


“Rey ....” Bagas menepuk bahunya. “Lo gak berniat jadi bujang lapuk, kan?”


“Sialan lo!” Rey menyikut perut Bagas, lantas berlenggang ke meja di samping kaca itu. Duduk di sana sembari melihat ke luar. Ke arah langit yang telah berubah pekat, dan deretan kendaraan di bawahnya yang berkelip saling menyalip.


“Assalamualaikum.”


“Rey Atmaja?” tanya wanita itu.


“Anda Na-bila?” tanya Rey ragu. Wanita yang ada di depannya benar-benar di luar ekspektasi.


Nabila mengangguk, lantas duduk di depan Rey. Sementara lelaki itu melarikan netranya ke sudut ruangan, di mana tiga temannya duduk dengan alis menukik seolah berkata, ‘sumpah lo gak salah orang?’. Bagas, Bagus dan Alarik menjawab dengan gerakkan kompak, mengangkat bahu santai.


Rey memperhatikan wanita di depannya, apa Randy sudah tidak punya stok gadis lain? Orang di depannya ini, Rey ragu jika dia masih gadis, garis-garis keibuan tercetak di wajah dengan kaca mata berlensa bulat tergantung di pangkal hidung. Nabila ini memang berhijab, juga terlihat alim tapi tetap saja tidakkah dia lebih pantas disebut tante?


Nabila berdehem, membuat Rey segera menghentikan aksi menilai wajah wanita itu.


“Jadi sejak kapan kamu kenal dengan papa saya?” Rey memulai pembicaraan.


“Belum lama sih, baru satu bulan terakhir.”


“Apa?!” Netra Rey membola, sangat yakin sekarang kalau Randy Atmaja berniat mengerjainya.


“Satu bulan,” jawab Nabila lagi. Lalu seorang pelayan membawakan pesanan. Dua piring steak dan dua gelas jus jeruk dan dua gelas air mineral.


“Jadi apa alasan kamu menerima tawaran Papa?” Sejujurnya Rey merasa kurang sopan saat ini. Harusnya dia menyebut Nabila dengan sapaan tante atau sejenisnya.

__ADS_1


“Karena saya merasa wajib membantu.” Nabila mendorong kaca mata yang sedikit melorot dengan ujung jari.


“Wajib?” Rey seperti bocah otak lemah yang terus mengulang perkataan lawan bicaranya. Dia lantas meneguk air putihnya dengan gusar, setelah mendapat anggukan dari Nabila.


“Jadi, apa kelebihan kamu sehingga Papa memilihmu?” Katakan saja Rey kurang ajar, dia memang sudah tidak bisa menahan rasa jengkelnya.


“Mungkin maksud kamu calon istri kamu?” Nabila adalah tipe perempuan lembut dan penyabar, yang tetap meladeni lawan bicaranya dengan sopan, meski raut orang di depannya jelas minta ditabok.


“Ya, what ever-lah.” Rey mengedikkan bahu, percaya diri sekali wanita ini.


“Dia baik, pekerja keras, bertanggung jawab, dan penyayang,” ujar Nabila dengan mata menerawang.


“Teman-temanku menyiapkan itu,” tunjuk Rey pada sederet benda di sebelah mereka, “sebagai syarat.”


Nabila tersenyum nyaris tertawa. “Bukan masalah buat dia?”


“Dia? Kenapa kamu terus menyebut dia?” ucap Rey tak mengerti.


“Tentu saja calon istri kamu Rey,” jawab Nabila mantap. “Tunggu, kamu tidak mengira kalau aku yang akan jadi istri kamu, kan?”


Ekspresi Rey yang seperti mengatakan iya, membuat Nabila tertawa. Wanita itu menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Rey, aku bahkan sudah punya anak,” jelas Nabila di sela tawa.


Bolehkah Rey mengumpat saat ini? Teman-temannya jelas sudah tahu tapi mereka membiarkan Rey terjebak dalam spekulasinya sendiri. Awas saja dia akan membuat perhitungan dengan mereka.


***


Rey mengentakkan kaki menuruni tangga, semakin penasaran dengan perempuan yang akan dia temui.


“Dia ada di bawah, Rey,” kata Nabila ketika Rey menanyakan gadis yang harusnya bertemu dengannya beberapa saat lalu.


Di satu sisi Rey merasa lega karena gadis yang akan dia temui bukan tante-tante berumur. Rey nyaris membayangkan berhubungan dengan janda beranak tadi. Tapi di sisi lain, dia kembali merasa dipermainkan. Setelah mempertemukannya dengan Nabila yang ternyata adalah walinya, perempuan yang entah siapa ini menyuruh Rey menemui di restoran bagian luar.


Rey membuka pintu samping, lantas mengedarkan pandangannya pada sederet pondok bambu yang sebagian berisi pasangan atau keluarga. Lelaki itu berjalan ke ujung, di pondok yang terpisah, menghadap taman restoran.


Sejenak Rey berhenti, meraba dada yang mendadak berdegup aneh ketika jarak mereka makin dekat. Perempuan itu berdiri membelakangi Rey, dengan kedua tangan berpegang pada birai pembatas. Tampak khusyuk menikmati sajian pemandangan taman bunga di depannya.


Pelan Rey mendekat, menebak seperti apa rupa perempuan dengan gamis toska dan hijab dengan warna lebih tua itu. Cara perempuan itu berdiri terasa tidak asing bagi Rey, mungkin itulah yang menyebabkan jantungnya berubah abnormal.


Tepat saat Rey berada di undakan tangga, perempuan itu menoleh, lantas membalik badan, dan detik itu pula jantung Rey merosot ke dasar perut.


“Selly Anandita ....”

__ADS_1


__ADS_2