Mawar Biru

Mawar Biru
Terluka


__ADS_3

Terluka


Kamu adalah yang pertama mengenalkanku pada rasa bernama sakit hati.


---


Pekat malam menyelimuti bumi, membawa suasana sunyi. Hanya segelintir orang yang tersisa di Universitas Atmaja. Tidak banyak yang mengambil kelas malam. Sebagian ruangan sudah gelap, menyisakan lampu temaram di beberapa sudut koridor. Namun, gedung olahraga di sayap kanan bangunan kampus masih menyala terang. Gedebag-gedebug suara bola yang terpantul lantai menggema di area luas yang hanya berisi dua orang itu. Adu basket one on one yang sudah berlangsung lebih dari 20 menit itu membuat kedua pemain bermandikan keringat. Salah satu pemainnya tampak kewalahan menghadapi lawan yang masih gencar mendribel bola dan memasukkan si kulit bundar ke ring.


“Hh ... Haduh ... Nyehrah gueh Rheyh.” Bagus mengangkat kedua tangan ke udara. Mengaku kalah dan melipir ke pinggir lapangan. Menjatuhkan badan di sana dengan napas putus-putus.


Sementara Rey masih khusyuk memainkan si orange. Kendati kaus hitamnya sudah kuyup dan menempel ketat di badan. Rahang pemuda itu mengeras dengan sorot mata setajam pedang. Keringat mengucur membasahi setiap bagian wajah. Mengalir di sepanjang garis rahang, untuk kemudian beberapa tetes jatuh melalui dagu lancipnya. Beberapa turun ke leher dan menambah basah pakaian.


“Kenapa lo?” Bagas yang baru masuk menghampiri kembarannya yang masih telentang di lantai dengan mata terpejam. Kantong putih bertulis nama salah satu mini market tergenggam di tangan.


Bagus membuka mata, tangannya terulur pada plastik yang dibawa Bagas. Sebotol air mineral diterima. Pemuda itu bangkit, duduk dan meminum isinya dengan rakus. Seperti musafir yang seharian tidak mendapat air. Bagas duduk di sampingnya.


“Gila!” umpat Bagus setelah menandaskan hampir seluruh isi minuman itu. “Gue kaya main sama banteng, di seruduk mulu.”


Bagas tertawa, cukup paham dengan apa yang telah terjadi pada saudara yang lahir dua menit lebih lama darinya itu. Matanya mengikuti pergerakan Rey yang masih terlampau semangat mendribel bola dan melempar ke dalam ring dengan kekuatan penuh. Menangkapnya lagi, lalu melakukan hal yang sama. Seolah dia tidak peduli dengan jantungnya yang mungkin sebentar lagi meledak karena terlalu bekerja keras memompa darah, pun lelaki itu mengabaikan jika bisa saja dia terserang dehidrasi akut karena terlalu banyak mengeluarkan cairan.


Bagas berdecak, “Tu bocah mau mati apa?” gerutunya, lantas memanggil lantang nama Rey, menyuruhnya berhenti.


Namun, bukan Rey Atmaja namanya jika dengan mudah diperintah. Di antara mereka bertiga, Rey yang paling keras kepala. Tidak ada yang bisa mencegahnya berbuat sesuatu kecuali ayahnya atau Selly, sayangnya opsi terakhir mungkin hanya akan menjadi kenangan.


“Bandel banget, sih!” Bagas berdiri, menghampiri Rey. Menghadang pemuda yang masih memainkan bola sambil sedikit membungkukkan badan itu.


“Udah cukup, Rey!” ujar Bagas.


Hanya kerlingan mata yang Rey berikan, sebelum mengambil langkah di sisi Bagas, dan kembali melakukan tembakan ke ring.


“Fine, kalau lo gak mau berhenti, gue yang akan menghentikan lo.”

__ADS_1


Menit selanjutnya, Bagas membayangi Rey, berusaha merebut bola. Melipir dan berkelit Rey lakukan demi menghindari temannya itu. Setelah bola masuk ring, Bagas lah yang lebih dulu menangkapnya, mendekap erat, serupa bayi yang butuh dirawat.


“Apaan sih, Gas, siniin gak?” perintah Rey galak, wajahnya merah padam. Selain akibat aktivitas fisik, juga karena kemarahan yang memenuhi jiwa.


“Lo mau mati?” Bagas memindah bola di samping tubuh, menjepit dengan lengan dan pinggang, “Istirahat dulu! Seenggaknya kalau pun lo milih nglanjutin lagi, kita gak perlu ngrasa bersalah karena udah ngingetin.”


Rey mendengus kasar, lantas membalikkan badan dan berjalan mendekati Bagus yang mengacungkan jempol untuk kembarannya. Duduk berselonjor, Rey mengambil satu botol air lantas meneguknya separuh.


“Lo kenapa sih, Bro?” tanya Bagus, yang hanya dijawab kerlingan oleh Rey.


Pemuda itu lantas menoleh pada Bagas meminta penjelasan. Rey yang saat ini telah mereka hadapi seperti bom waktu yang siap meledak. Setiap gerak lelaki itu seperti detikkan mundur yang menjadi pertanda bahwa tidak perlu waktu lama dia akan menghancurkan segalanya. Wajahnya bahkan terlalu ngeri untuk sekedar di tatap.


“Harga diri,” jawaban dari Bagas membuat keningnya berkerut, “Lo tahu yang ada di foto bareng Selly?” lanjut Bagas.


Bagus mengangguk, di kepalanya terpampang foto Selly dan lelaki yang entah siapa itu.


“Mereka pasangan.” Lidah Bagas hampir tergigit karena mengatakan hal itu. Diliriknya Rey yang bergeming di tempat, seolah raganya saja yang ada di sini.


“Yang lagi ngelawak siapa, bego!” Bagas menoyor sisi kepala Bagus.


“Ya tapi, kenapa? Why? Sumpah, Rey kurang apa coba?” Tampang Bagus saat ini seolah sedang prihatin sekaligus meremehkan. Seorang Rey Atmaja kalah dengan pria berumur, yang benar saja.


“Bro sumpah selama ini lo ngapain aja sampai Selly milih yang bangkotan?” Lirikan tajam dari Rey sukses membungkam mulut Bagus dan membuatnya tak berkutik.


Rey mengguyur kepala dengan sisa air di dalam botol. Bangkit berdiri, pemuda itu menyandang ransel dan berlenggang pergi. Tak menghiraukan racauan permintaan maaf dari Bagus.


“Sorry Rey.”


“Yah, Rey, lo marah?”


“Rey lo beneran ngambek?”

__ADS_1


“Lo, sih?” maki Bagas pada Bagus. Dipandanginya punggung Rey yang menghilang di balik pintu.


Cinta kadang semenyakitkan itu.


Tidak hanya kaum hawa yang bisa terluka dan merana karena virus merah jambu itu. Nyatanya para makhluk berjakun pun masih punya perasaan. Mereka juga punya hati ngomong-ngomong.


***


Rey tidak pernah menyangka jika rasa sakit akan sesesak ini. Dadanya bagai ditimpa puluhan ton beban. Rasanya dia ingin teriak kencang sampai urat lehernya terputus. Hasrat untuk meninju apa pun yang ada di depan terasa mencekik. Berulang kali dia mengepalkan tangan erat hingga buku-buku jari memutih dan urat-urat di tangannya tercetak jelas.


Sumpah, ini pengalaman pertamanya jatuh cinta pada seorang perempuan. Hampir seluruh hatinya dia berikan pada gadis itu. Memujanya serupa ratu. Menempatkannya di singgasana tertinggi. Rasanya baru kemarin mereka berbagi senyum malu-malu. Serupa remaja belasan tahun yang bahkan bergandengan tangan saja sudah membuat dadanya mengembang.


Namun, apa yang telah gadis itu lakukan?


Secepat membuatnya jatuh cinta, secepat itu pula Selly menikamnya.


“Kami punya hubungan khusus.”


Rey terbahak di dalam kamarnya yang hanya diterangi sinar bulan dari jendela. Tawa yang sarat akan kesedihan. Pemuda itu duduk menekuk lutut, beralas lantai. Giginya bergemeletuk, kata-kata Selly serupa mantra ajaib yang terngiang berulang di kepala. Berbagai pertanyaan bercokol, mendesak keluar serupa bendungan di musim banjir.


“Sejak kapan?” lirih pemuda itu.


Apakah dia diselingkuhi atau justru dia yang menjadi pelarian sementara?


Ajang coba-coba?


“Menjijikkan!”


“Brengsek!”


Maki Rey, yang hanya ditanggapi sepi.

__ADS_1


__ADS_2