
Sepi adalah ketika tidak kutemukan kamu di mana pun.
Sunyi adalah saat hanya ada aku tanpa dirimu.
Lalu, haruskah aku teriakkan pada dunia jika aku telah kehilangan kamu?
---
Rey bohong jika dia biasa saja. Rey berdusta jika tidak ada yang berubah darinya. Kendati dia berbagi tawa dengan Bagas dan Bagus, faktanya ada lubang tak kasat mata di hatinya. Lubang yang tak hanya mencipta perih, tapi juga kekosongan mendalam.
“Baru pulang Rey?” sapa Randy ketika anaknya melewati ruang santai. Lelaki itu tengah menekuri tablet berisi laporan keuangan.
“Iya, Pah.” Rey lantas menghampiri ayahnya yang duduk di single sofa. “Papa belum tidur?”
“Bagaimana Papa akan tidur, jika anak Papa belum pulang?” Pernyataan yang diutarakan Randy dengan tenang itu serupa sindiran halus untuk Rey. Jarum jam hampir mendekati pukul 23.00, wajar saja jika Randy khawatir. Apalagi seminggu terakhir ini anaknya lebih sering pulang larut.
“Maaf Pa, tadi ngumpul dulu di basecamp.”
Randy memandangi wajah putranya, sebagai orang tua tunggal dia menyadari ada yang sedang dialami anaknya. Patah hati istilah anak zaman sekarang, dalam proses move on.
Randy berdiri, berhadapan dengan tubuh tinggi anaknya. “Kamu tahu Nak, perpisahan itu suatu keniscayaan. Pada akhirnya semua orang akan berpisah, entah karena jarak atau kematian.”
Apa Rey pernah bilang kalau Randy bisa tahu segalanya, termasuk yang berhubungan dengan dirinya kini. Dan rasanya tidak perlu bertanya untuk sederet kalimat nasihat itu ditujukan untuk apa dan siapa.
__ADS_1
“Apa Papa sudah tahu sebelumnya?”
Randy memasukkan satu tangan ke saku celana. “Seorang ayah akan selalu memperhatikan setiap gerak anaknya Rey, termasuk pergaulannya.”
“Jadi, itu kenapa Papa mengajukan syarat?” Syarat yang diajukan Randy tidak bisa hanya disebut kebetulan belaka, bukan?
Randy mengangguk. “Papa mencoba melakukan yang terbaik. Lagi pula seusiamu ini hati masih gampang berpaling.”
“Papa tidak akan pernah tahu dalamnya perasaan seseorang, Pah.”
“Tapi Papa lebih berpengalaman dari kamu Rey. Dan sebagai seorang anak kamu tahu, kan, harus berbakti pada siapa?” Randy menepuk pundak anaknya.
Sejenak mereka saling tatap, Rey menghela napas. “Tentu saja, Pa.”
Lantas ayah dan anak itu saling melempar senyum.
***
Ketika rindu kian kuat menghantam, ketika keinginan untuk bertemu dahsyat menerjang, kadang raga hanya mampu mengikuti. Rey memutar setir mobil, berlawanan dengan arah kampus. Menyusuri jalan yang sangat dia hafal.
Mobil berhenti di pekarangan rumah yang tampak sepi. Rey tidak bisa mengontrol debaran jantungnya yang menggila ketika menginjakkan kaki di sana. Melangkah pelan menuju teras rumah. Beberapa menit lelaki itu hanya berdiri memandangi pintu, berjibaku dengan hati, haruskah dia mengetuk atau tidak.
Tangannya baru saja terulur hendak mengetuk ketika pintu terbuka dari dalam, jantung Rey mencelos ketika melihat orang yang berdiri di depannya.
__ADS_1
“Kiky!” Dia tidak salah lihat, lelaki dengan kaus abu-abu dan celana longgar selutut itu memang Kiky Wiratama. Terlihat berantakan dengan rambut acak-acakan dan bakal janggut yang tidak dicukur.
“Ngapain lo?” todong Kiky.
“Lo yang ngapain di sini?” Mendadak pikiran Rey dipenuhi hal-hal tak wajar, pemuda itu menerobos masuk tanpa diminta. Memeriksa keadaan rumah yang tampak sepi. Rey menelengkan kepala. Tidak ada tanda-tanda kehadiran makhluk lain di sana.
“Lo nyari apa?” Suara Kiky membuatnya menoleh.
“Di mana Selly dan ibunya?”
Kiky mendengkus. “Katanya sayang tapi gak tahu ke mana Selly.”
“Gue gak butuh tebak-tebakan ya sekarang,” decak Rey, “Lo nyembunyiin mereka?” tuduhnya.
Kiky terkikik. “Kalau bisa udah gue lakuin dari dulu Rey.” Tatapan pemuda itu menerawang.
“Itu berarti....” Rey tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
“Mereka pergi.” Kiky yang justru memperjelas. “Tanpa pamit. Tanpa jejak.”
Keduanya diam, meresapi rasa kehilangan yang ditimbulkan oleh orang yang sama. Rey pikir, walaupun mereka tidak lagi bersama setidaknya dia bisa melihat gadis itu dari jauh, menyalurkan rindu meski hanya lewat tatap. Rey pikir setidaknya mereka bisa berteman, meski Rey sanksi akan bersikap layaknya teman pada Selly. Rey pikir dia tidak harus benar-benar kehilangan gadis itu seperti ini.
Mengusap wajah, Rey berjalan gontai menuju pintu. Kakinya seperti melayang, tak menapak lantai. Terlebih hatinya yang seperti hilang sebagian.
__ADS_1
“Rey!” Langkahnya terhenti di ambang pintu, ketika Kiky menyebut namanya. “Kalau ada yang bisa aku ubah di dunia ini, maka itu adalah mencegah Selly bertemu denganmu.”
Rey tidak menoleh, pun tidak membalas. Pemuda itu kembali membawa kakinya keluar dari rumah. Kalau ada yang bisa Rey ubah, maka itu adalah tidak menyetujui syarat dari ayahnya.