Mawar Biru

Mawar Biru
Syarat


__ADS_3

Bangunan dua tingkat bergaya modern itu terlihat mewah dan megah. Halaman depan lebih dari cukup untuk menampung tiga mini bus sekaligus, belum termasuk car port di sebelah kanan bangunan. Taman dengan beraneka ragam bunga terawat berada di sisi kiri, dipermanis dengan air mancur di tengahnya. Bagian belakang, jernihnya kolam renang mengundang siapa pun untuk menceburkan diri ke dalam. Pun menjadi tempat bersantai bagi para penghuninya.


Berpindah ke bangunan induk, tempat di mana puluhan ruang terbentuk. Seperti kamar-kamar dengan fasilitas hotel bintang tujuh, ruang tamu yang lebih pantas di sebut aula dan ruang makan dengan meja panjang dan belasan kursi mengitari.


Tapi siapa sangka rumah sebesar itu, hanya ditinggali dua orang saja. Tepatnya dua orang pemilik rumah alias majikan, sementara enam orang lain hanya asisten rumah tangga.


Seorang lelaki paruh baya dengan rambut klimis tersisir rapi ke belakang duduk di kursi ruang makan, khusyuk membaca surat kabar. Sesekali tangannya berpindah pada cangkir kopi di depan, menyeruput sedikit isinya sebelum melanjutkan membaca. Mengabaikan berbagai menu sarapan di atas meja.


“Pagi, Pah.”


Barulah setelah sapaan terdengar, lelaki itu melipat koran, menoleh pada anak semata wayangnya, “Pagi, Rey.”


Rey duduk di ujung dekat kursi ayahnya yang berada di depan kepala meja. Membalik piring, Rey mengambil dua potong sandwich isi tuna dan sayur. Wajahnya terlihat cerah mengalahkan mentari di luar sana. Senyum terkembang menghiasi bibir.


“Kamu terlihat bersemangat Rey hari ini?” tanya Randy. Beberapa hari belakangan Rey lebih sering diam, bukan karena pikiran kosong, tapi seperti menyimpan banyak beban.


Rey menarik sudut bibir, nyatanya euforia kebahagiaannya kemarin masih terasa hingga detik ini. Sekuat itu pengaruh Selly padanya. Pantaslah tempo hari dia uring-uringan. “Mau nimba ilmu kan harus semangat, Pah,” dalihnya.


Randy mengangguk seraya mencebikkan bibir bawah, lantas meletakkan tangan di atas meja setelah lebih dulu menggeser cangkir. “Kamu juga terlihat sibuk Rey akhir-akhir ini?”


Rey meletakkan kembali pisau dan garpu ke atas piring, beralih memperhatikan orang tua satu-satunya, Randy Atmaja. Kalau ditanya, siapa idola Rey? Maka dia akan mantap menjawab, idolanya adalah lelaki yang duduk di sebelahnya ini. Lelaki yang menurut Rey mempunyai aura istimewa, semacam jiwa pemimpin yang membuat siapa pun tunduk dan hormat, bahkan jika pria itu hanya memakai kaus rumahan sekali pun. Rey selalu suka cara Randy berjalan, membuat setiap mata mengalihkan pandang, dan mengangguk hormat. Rey kagum bagaimana cara lelaki itu mengeluarkan setiap patah kata, seolah sebelumnya telah diperhitungkan baik-buruknya.


Mungkin itulah sebabnya Randy Atmaja sukses menjalankan perusahaan sabun miliknya menjadi yang terbesar di negara ini. Lelaki yang masih terlihat gagah meski rambutnya tak lagi hitam sempurna itu juga menjadi sosok lebih dari seorang bapak bagi Rey. Jika banyak anak pengusaha yang mungkin terlantar karena bapak mereka yang sibuk mengurus bisnis, maka Rey sama sekali tidak pernah kekurangan kasih sayang dan perhatian sejak dia ditinggal sang ibu 15 tahun lalu. Bagi Rey, Randy Atmaja adalah raja yang wajib dihormati dan dipatuhi keinginannya.

__ADS_1


“Lumayan, Pah. Kenapa?”


“Sibuk kuliah atau sibuk yang lain? Sampai harus bolos?” Randy membawa cangkirnya ke depan mulut, menghidu aroma khas kopi itu sebentar sebelum menyesap perlahan.


Harusnya Rey tidak perlu kaget ketika Randy tahu dia bolos kuliah tempo hari. Bahkan berapa kali Rey ke kamar mandi dalam sehari pun dia rasa Randy tahu. Mata bapaknya ini ada banyak, termasuk di kampus.


“Kemarin ada urusan Pah,” aku Rey, memotong sandwich lalu memasukkan ke dalam mulut.


Randy mengamati putranya, rasanya baru kemarin bocah lelaki itu minta gendong di punggung, tapi lihatlah tinggi anak itu bahkan sudah melebihinya. Wajah Rey adalah perpaduan yang sempurna antara dia dan Maya, mendiang istrinya. Bolehkah Randy bangga memiliki anak yang selain rupawan juga pandai?


Bagi Randy, Rey adalah anugerah terindah, meski hanya mempunyai orang tua tunggal, Rey bersikap sangat baik. Dia bukan anak muda yang suka menghamburkan duit orang tua untuk kesenangan sesaat. Putranya lebih suka menghabiskan waktu mengotak-atik mesin, membuat eksperimen atau main playstation dengan dua sahabatnya. Adalah kewajiban Randy memantau setiap gerak putranya, termasuk hal-hal yang mengganggu kelancaran pendidikan anak itu.


“Urusan?”—menaikkan sebelah alis—“Seperti?” Randy tahu bahkan di setiap langkah yang Rey ambil, dia akan tahu. Dia ingin melihat sejauh mana kejujuran putranya.


Meneguk jus jeruk, Rey mengelap mulutnya dengan tisu. “Urusan anak muda,” jawabnya dengan daun telinga memerah. Rey tidak tahu jika membahas urusan perasaan akan membuatnya grogi begini, sehingga dia harus menyamarkan lewat bahasa lain.


Ketika Rey masih SMA, Randy sempat khawatir, karena anaknya tidak pernah menunjukkan gelagat jatuh hati. Seperti melamun sendiri, tersenyum di depan cermin, atau pergi di malam minggu. Rey memang sering keluar rumah, tapi selalu dua sahabat kembarnya yang menemani, atau Alarik. Dia tidak pernah terlihat dengan gadis sepantarnya selain keluarga. Randy sempat berpikir jika tidak adanya sosok wanita selama ini membuat Rey tidak peka dengan perasaan sentimentil itu.


Namun, beberapa waktu belakangan pemikiran itu sirna. Rey mulai menunjukkan gejala itu, cengengesan di depan ponsel, berangkat kelewat pagi untuk kuliah, dan sederet aktivitas baru lainnya.


“Rey, Papah tidak melarang kamu jatuh cinta.”


Rey menegakkan punggung ketika mendengar penuturan Randy. Benar, kan? Bapaknya pasti tahu apa pun yang dia lakukan.

__ADS_1


“Tapi seumuranmu ini,” Randy kembali melanjutkan, “yah, masih terlalu labil,” katanya sembari mengedikkan bahu. Rey masih muda, baru semester 4. Masih panjang jalan yang harus dia tempuh. Dan Randy tidak mau Rey kehilangan fokus terhadap pendidikannya.


“Maksud Papa, Rey cuma main-main?” Mengerutkan alis, Rey kurang setuju dengan pendapat ayahnya. Walaupun masih terlalu awal menyimpulkan, tapi tidak pernah terbayang dalam angannya untuk jatuh cinta kepada selain Selly Anandita. Menyukai satu perempuan saja sudah membuatnya kalang kabut, bagaimana mungkin membangun cinta yang lain?


“Papa tidak bilang begitu, hanya saja akan sangat disayangkan jika kamu buang-buang waktu untuk seseorang yang mungkin belum tentu jodohmu.”


“Tapi, Rey cukup yakin Pa.”


Randy menghela napas, merasa kepalanya sedikit berdenyut. Seperti dirinya, Rey juga orang yang teguh pada pendirian. Jika sudah menyukai sesuatu, tidak gampang membuatnya berpaling.


Kalau sudah begini, mau tidak mau dia harus memasang strategi. Anaknya ini masih awam soal perempuan, termasuk tentang jati diri yang mungkin disembunyikan. Randy tidak bisa begitu saja membiarkan Rey berhubungan dengan sembarang perempuan. Pendamping Rey haruslah jelas asal usulnya. Istri Rey kelak haruslah berpendidikan dan berbudi baik.


Sayangnya, gadis yang saat ini tengah digandrungi oleh Rey, hingga membuatnya bolos jam kuliah, tidak pulang ke rumah, serta frustasi parah hanya karena masalah, tidak memenuhi semua kriteria itu. Gadis itu mungkin pintar, karena menjadi salah satu mahasiswi yang mendapat beasiswa prestasi. Gadis itu bisa jadi baik, karena Rey tidak mungkin jatuh hati pada perempuan serampangan. Tapi ada satu kekurangan fatal padanya.


“Begini saja,” ucap Randy, menatap putranya lekat, ini serius. “Papa izinkan kamu menjalin hubungan dengan seseorang, dengan syarat ...,” Randy menjeda kalimatnya, memberi kesempatan Rey untuk mempersiapkan diri mendengar syaratnya. “Perempuan itu harus jelas asal-usulnya, Papa tidak mempermasalahkan status ekonomi karena kita sudah punya semua itu, tapi Papa mau perempuan yang akan menjadi pendampingmu adalah anak yang jelas ayah dan ibunya.”


Bibir Rey berkedut, menahan tawa. “Papa, kirain apaan? Ya kali Rey menyukai robot yang gak jelas siapa bapaknya.”


“Kamu belum tahu sekejam apa dunia luar, Rey,” perkataan Randy selanjutnya membuat Rey tertegun. “Ada banyak bayi lahir yang tidak diakui, bahkan dibuang oleh orang tuanya.”


Sejenak Rey terdiam, yang dia ingat, Selly pernah bilang kalau bapaknya sudah meninggal, meski dia pun belum tahu di mana makamnya. “Kenapa Papa mengajukan syarat seperti itu?”


“Karena, Papa tidak mau hidup kamu terganggu nantinya, ada banyak buntut masalah dari seorang anak yang tidak jelas orang tuanya.”

__ADS_1


Randy bangkit, mengambil jas yang tersampir di sandaran kursi, lalu mendekati Rey. “Papa hanya menginginkan yang terbaik untuk kamu Rey.” Menepuk pundak Rey, lelaki itu lantas melimbai pergi.


Rey masih terdiam di tempatnya duduk setelah kepergian Randy. Merasakan sesuatu tak nyaman merambati hati, semacam firasat tapi entah atas dasar apa. Rey mendesah, lantas menggeleng. Dia baru saja memperbaiki hubungan dengan Selly, setidaknya biarkan dia bernapas lega sejenak. Selly tidak mungkin membohongi untuk yang satu itu, kan?


__ADS_2