Mawar Biru

Mawar Biru
Memilih Menyerah


__ADS_3

Aku ingin kembali ke masa itu, di saat hanya perlu menangis ketika mengompol, di saat hanya harus mengeluarkan air mata ketika menginginkan sesuatu.


-Selly Anandita-


---


Gemericik suara air yang mengalir melalui keran mendominasi ruang dapur rumah kontrakan Selly. Gadis itu mencuci peralatan makan malam mereka dengan telaten. Menumpuknya di rak samping bak cuci piring, lantas mengeringkan tangan dengan lap yang tergantung di pintu kulkas.


Selly berjalan menghampiri ibunya yang masih duduk di karpet ruang tamu. “Ibu gak capek seharian ngejahit?”


Dita tersenyum. “Nanggung, Sayang, sebentar lagi, ya.”


Tidak ada tanggapan dari Selly, gadis itu hanya menatap selembar baju setengah jadi di pangkuan ibunya dengan pandangan kosong. Membuat Dita mengalihkan perhatiannya.


“Kenapa, Nak? Ada masalah?”


Selly berkedip, lalu beralih menatap Dita. “Ibu ... masih nyaman tinggal di sini?”


Dita terhenyak, satu pertanyaan itu adalah tanda, sebuah isyarat bahwa mereka mungkin harus pindah. Kembali mencari tempat tinggal baru dan memulai lagi hidup baru. Mereka sudah sangat hafal, tidak perlu penjelasan panjang lebar. Karena hidup nomaden sudah menjadi kebiasaan.


“Kapan, Nak? Ibu akan mempersiapkan segalanya.” Serak dalam suara Dita sudah cukup menggambarkan keadaan hati, menyalurkan hal yang sama pada Selly. Pelupuk mata gadis itu mengembun, mulai memerah di sekitar pupilnya.


Tangan Dita terulur, menyentuh sebelah pipi Selly. Lalu keduanya saling menubruk, berbagi bahasa hati lewat sebuah pelukan. Selly terisak di pundak ibunya. Air mata membanjir, mengaliri pipi hingga dagu, dan jatuh membasahi baju ibunya.


“Maafin Selly, Bu,” ujarnya disela tangis.


Dita menggeleng. “Bukan salah kamu Nak, bukan.”


“Harusnya Selly dengerin kata Ibu.” Susah payah gadis itu mengeluarkan suara, berlomba dengan isak. “Harusnya, Sel-ly gak usah jatu-h cin-ta.”


“Sshh ....” Dita mengurai pelukan, menatap lekat putrinya yang bersimbah air mata. “Jatuh cinta itu gak salah, Nak, yang perlu dibenahi adalah bagaimana kita menyikapinya.”

__ADS_1


“Tapi Selly salah, Bu.” Selly menekan dada dengan kepalan tangan, merasakan sesak yang kian dalam. “Gak seharusnya Selly menyukai Rey, gak seharusnya Selly berhubungan dengan dia.”


Selly ingat, dulu ketika beranjak remaja, Dita kerap berpesan agar jangan mudah mengiyakan ajakan laki-laki, agar dia menjaga jarak dari makhluk berjakun itu.


“Ibu tidak mau, kamu mengulangi kesalahan Ibu. Cukup Ibu saja yang bodoh dan berlumur dosa.”


Tapi apa yang telah Selly lakukan, terbuai dengan sosok Rey Atmaja. Terbawa euforia kesenangan sesaat, hanya untuk tenggelam lebih dalam. Selly mengutuk diri sendiri, yang sempat sangat egois, menginginkan lelaki itu hanya untuknya. Dia lupa, Rey juga punya orang tua, yang tentu saja menginginkan yang terbaik untuknya. Seperti Dita yang berharap ada lelaki tulus yang mencintai anaknya.


Dita menghela napas panjang, tangannya terulur mengusap pipi Selly. Urusan hati memang serumit itu. Bisa jadi apa yang hati harapkan terkadang tidak sesuai dengan logika.


“Jangan kecewa, kalau memang jodoh, akan ada jalan untuk kalian.” Dita menarik tubuh putrinya ke dalam pelukan, mendaratkan kecupan di puncak kepala gadis itu sembari merapal doa kepada Sang Maha Cinta. Izinkan putrinya bahagia, tanpa harus tersandung masa lalunya.


Cukup lama mereka berpelukan, dengan isak yang tidak bisa ditahan. Berharap setelah ini lega akan menyapa, mengusir sesak di dada.


***


Pagi ini Selly dikejutkan dengan kehadiran Bagas. Dia hampir saja terkecoh, bingung menebak lelaki itu Bagas atau kembarannya Bagus, jika tidak memperhatikan bagian atas bibirnya. Bagus mempunyai tahi lalat di bawah hidung, sedangkan Bagas tidak ada.


“Rey kenapa?” Perasaan Selly berubah tidak enak, apa terjadi sesuatu pada lelaki itu?


Bagas mengutak-atik ponsel, lantas mengangsurkan pada Selly. Foto orang yang sedang mereka bicarakan terpampang di layar, Rey tengah berkutat dengan konsol PS-nya, terlihat sangat berkonsentrasi.


“Ini...?” Selly mengerutkan kening, tidak mengerti dengan maksud Bagas.


Lelaki itu menoleh, bersandar pada pilar rumah. “Rey tidak pernah seperti ini sebelumnya.” Netra lelaki itu menerawang. “Semalaman dia tidak tidur, tidak makan, bahkan tidak minum.” deru napas Bagas berubah sedikit lebih cepat. “Dia bahkan seolah tuli, mengabaikan kami. Dia hanya fokus pada layar, terus mengulang permainan tiap kali kalah.”


Menarik napas panjang, Bagas menetralkan emosinya, menatap Selly yang menunduk dalam. “Gue gak tahu apa yang terjadi sama kalian, tapi tolong...,” Bagas menjeda kalimatnya, menunggu Selly berpaling padanya. “Jangan permainkan Rey untuk jatuh cintanya yang pertama.”


Cairan bening luruh melewati pipi Selly yang kian tirus, seberapa sering dia membuang air mata akhir-akhir ini? Jika pipinya adalah tanah berpasir, pasti sudah membentuk jalan berlekuk.


“Gak pernah sekalipun.” Selly menyeka kelopak mata, “Terbersit keinginan untuk mempermainkan Rey, atau menyakitinya.”

__ADS_1


“Faktanya, lo ngelakuin itu Sel!” Bagi Bagas, Rey bukan hanya seorang teman, tapi saudara yang harus dijaga dan dilindungi. Sejak ibunya meninggal, keluarga mereka mempersilakan Rey untuk menganggap ibu Bagas dan Bagus sebagai orang tuanya juga. Dia tahu sekuat apa Rey, dia paham setegar apa sahabat sejak kecilnya itu. Kini ketika lelaki itu berubah bak zombi, Bagas tidak bisa hanya tinggal diam.


Selly mengangguk paham, dia tahu dia salah. Membersihkan sisa air mata, dia kembali berujar, “Akan aku selesaikan.”


***


Rey tidak masuk, lelaki itu bahkan tidak terlihat di mana pun. Selly tidak menemukannya di kelas, di kantin, pun di gedung olahraga. Satu kesimpulan membawanya ke basecamp Rey CS.


Dibantu oleh Bagas, Selly memasuki ruangan Rey berada. Lelaki itu masih berjibaku di depan layar 19 inci, kadang duduk bersandar, sebentar kemudian menegak dengan tangan yang menekan gemas konsol PS.


Bagas menunjuk dengan dagu, menyuruh Selly mendekat, sementara dia keluar, menutup pintu. Membiarkan Selly dan Rey berdua dalam ruang bernuansa putih itu.


Selly melangkah pelan mendekati Rey. Menarik kursi, dia duduk tak jauh darinya. “Rey,” panggilnya.


Sejenak Rey menghentikan gerak tangan tanpa menoleh, hanya beberapa detik, lelaki itu kembali menjalankan permainannya.


Selly berpaling pada layar, sebuah game perang atau semacamnya yang dapat dia simpulkan. “Kamu mau dengar cerita aku, Rey?” Tidak ada jawaban, tapi Selly tetap melanjutkan. Matanya menerawang pada layar dengan dua lakon yang sedang berkelahi itu.


“Lelaki yang ada di foto bersamaku, kami memang punya hubungan khusus.” Rey menekan benda di tangan lebih kuat, kendati dia tidak juga berpaling.


“Lelaki itu adalah, ajudan dari ayahku.” Selly menoleh, hanya untuk mendapati rahang Rey yang mengeras. “Maaf sudah berbohong.”


Rey menoleh, beradu pandang dengan netra Selly. “Jadi untuk apa kamu menutupinya? Sengaja mempermainkanku?” Nada suaranya meninggi dengan sorot mata membara.


“Gak pernah Rey, bahkan dalam bayangan.”


“Lalu apa?” hardik Rey. “Kamu pikir aku yoyo yang bisa kamu tarik ulur begitu saja?”


“Karena ayahku tidak mengakuiku sebagai anak, karena namanya tidak pernah ada dalam akta kelahiranku!” jawab Selly tak kalah keras dalam satu tarikan napas. “Dia bahkan tidak tahu jika aku anaknya, Rey,” ucap Selly lirih, sarat penderitaan.


__ADS_1


__ADS_2