Mawar Biru

Mawar Biru
Dua Ksatria


__ADS_3

Kejora berkedip


Membias cahaya kelip


Dua ksatria berkuda


Unjuk gada terkuasa


---


Selly terenyak dari kekhusyukan santap siang. Seseorang meletakkan nampan makan dengan sedikit kasar, menimbulkan bunyi yang mengganggu telinga. Mendongak, dilihatnya Kiky menarik kursi di seberang meja dengan muka tertekuk.


“Kiky, kamu kenapa?” sapa Selly dengan alis berkerut.


“Aku marah sama kamu.” Selly justru hampir tertawa mendapati teman baik, yang tidak pernah marah kepadanya itu bermuka masam. Seperti tidak cocok untuk wajah manis Kiky yang hampir selalu tersenyum.


“Marah kenapa?” Tapi gadis itu tetap menanyakan penyebabnya, mungkin sahabat yang sudah seperti saudara ini minta diperhatikan. Meskipun selama ini lebih banyak Kiky yang perhatian padanya.


Kiky melirik orang di sebelah Selly, Dewi yang sejatinya penghuni pertama meja di dekat jendela itu, menyadari arti tatapan Kiky. Pengusiran secara halus, seolah berkata, “Bisa gak lo minggat dulu!” Menyingkir adalah pilihan gadis berkaca mata bulat tebal itu.


“Kenapa kemarin kamu gak bilang kalau ibu akan pulang dari rumah sakit?” protes Kiky setelah Dewi pergi.


Selly meringis, tersenyum rikuh. Terlalu sibuk dengan Rey, membuat dia lupa mengabari pemuda di depannya itu. “Sorry Ky.” Menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada, Selly tulus meminta maaf.


“Lagian,” imbuhnya, “kemarin kan kamu ada kegiatan di kafe.” Selly tidak mengada-ada, kemarin memang jadwal Kiky bertemu dengan klien yang akan mem-booking kafe.


“Itu bukan alasan untuk gak ngasih tahu aku.” Kiky melipat tangan, rasa panas menjalari dada hingga ke ubun-ubun.


Kemarin selepas maghrib, dia bertandang ke rumah sakit. Membawa sebakul apel dan jeruk sebagai buah tangan. Seulas senyum sejuta watt telah dia persiapkan demi menemui Selly dan ibunya. Tapi, kamar Jasmine-052 itu rapi. Dua orang petugas baru saja mengganti seprai dan membersihkan lantai. Degupan jantungnya memompa cepat, rasa khawatir menyelinap. Bayangan bahwa Dita mungkin saja dipindah ke ruang ICU menyergap tanpa sapa.


Tapi jawaban yang dia dengar setelahnya adalah, “Ibu Dita baru saja pulang.”


Kiky bahagia, tentu saja. Apa yang paling diharapkan dari orang yang sakit selain kesembuhannya? Mencoba menghubungi Selly yang justru tersambung ke mailbox, membuat Kiky bergegas ke rumah gadis itu. Memacu mobil setengah mengebut, demi bisa turut berbagi bahagia.


Lagi-lagi, kejutan tak terduga yang Kiky lihat di depan rumah itu. Rey Atmaja keluar dari dalam diiringi Selly Anandita. Tampak akrab, entah mengobrolkan apa. Gadis itu mengantar Rey hingga ke depan pagar, bahkan membiarkan Rey pergi lebih dulu dengan dia yang tak melepas arah pandang hingga mobil tak lagi terlihat.

__ADS_1


Demi Tuhan hasrat Kiky untuk turun begitu besar. Dia ingin mencecar gadis itu dengan ribuan pertanyaan. Tapi kewarasannya masih di atas garis batas. Dia tidak ingin membuat keributan malam-malam.


“Aku pikir kamu sibuk banget Ky, makanya gak mau ngerepotin.”


“Tapi kamu gak sungkan ngerepotin Rey?”


Selly tersedak, buru-buru menenggak air mineralnya di atas meja. Netranya memerah dan sempat berair.


“Kamu tahu?” tanya Selly setelah batuknya reda.


“Sel, aku kan udah bilang, aku pengen jadi pengganti dia, kamu ngerti gak sih,” ucap Kiky dalam satu tarikan napas.


“Kemarin itu aku gak sengaja ketemu Rey.”


“Gue kenapa?” Rey berdiri di samping meja mereka dengan nampan di tangan, membuat Selly dan Kiky terkejut, objek pembicaraan mereka tiba-tiba muncul.


Pemuda itu menarik kursi di samping Selly, meletakkan makanannya di meja dan menaruh ransel di samping kaki kursi sebelum duduk. “Kalian ngomongin gue ya? Pantesan kuping gue panas.”


Kiky melengos, melarikan tatapannya ke luar jendela. Membiarkan nasi gorengnya dingin, tak tersentuh. Hasrat untuk mencekik Rey amat besar, membuatnya mengepalkan tangan erat di bawah meja.


“Ck,” decakan lolos dari mulut Kiky. “Harus banget ya ngerecokin makanan orang gitu?” omelnya setelah Rey kembali mengambil campuran sayur dan sambal kacang itu.


“Emang kenapa?” balas Rey, “punya Selly ini yang gue recokin, bukan punya lo.” Pemuda itu kembali melakukan hal yang sama.


“Lo—“


“Udah,” tegur Selly saat Kiky akan kembali melancarkan serangan balasan, “jangan ribut, please!”


Beberapa mahasiswa yang berada di sekitar mereka tampak beringas, ingin tahu apa yang terjadi. Sumber gosip terbaru esok hari.


Selly menggeser piring, mendekatkan ke hadapan Rey. “Kamu Rey, kenapa tadi gak pesen gado-gado aja sih?” Membiarkan lelaki itu mengakuisisi makanannya.


“Kamu gak bilang sih kalau makan ini.” Rey menunjuk piring, tangannya cekatan mencampur sayur dan bumbu sebelum menyuapkan ke mulut dalam jumlah besar.


“Apa hubungannya?”

__ADS_1


“Soalnya apa pun yang kamu makan pasti aku pengen.” Rey menaik-turunkan alis, pipi sebelah kanan menggembung karena makanan yang belum tertelan.


“Receh banget!” sindir Kiky. Lelaki itu bermaksud menawarkan nasi gorengnya pada Selly tapi getaran panjang di saku celana membuat fokusnya teralih.


“Halo?” Detik berikutnya netra Kiky melebar. Hanya sepersekian detik keterkejutan itu, karena dia segera bangkit dan pamit pada Selly.


Rey yang masih asyik makan, melirik sekilas, memperhatikan kepergian Kiky yang bahkan belum menyentuh makan siangnya.


Sudah berapa lama Selly tidak duduk berdua dengan Rey? Gadis itu merasa sudah lama sekali. Kapan terakhir kali pemuda itu menjarah makan siangnya? Berdalih bahwa apa pun yang dimakan Selly menggoda mulutnya untuk ikut mencicipi.


Selly berjengit ketika wajah Rey begitu dekat, membuatnya otomatis memundurkan kepala. “Apaan sih, Rey?”


“Aku sudah selesai,” ucap Rey kembali ke posisi duduknya.


“Oh, ya udah ayo!” Selly berdiri, menyandang tas selempangnya di bahu kiri.


“Jadi kamu nungguin aku?” Rey tidak bisa menyembunyikan senyum gemasnya ketika melihat Selly yang berulang kali menggaruk leher dan membenarkan posisi tasnya yang tidak ke mana-mana itu. Salah tingkah.


“Apa salahnya, kelas kita sama,” bela Selly dengan pipi semerah tomat. Mencoba menyelamatkan harga diri yang sempat terjun bebas.


Benar kata para penikmat asmara, hidup lebih indah ketika bersama, Rey merasakan itu. Hanya berjalan berdampingan tanpa kontak fisik saja sudah membuat hatinya bungah. Terkembang bak balon udara yang ditiup, sampai terasa mau meledak, saking bahagianya. Pemuda itu bahkan masa bodoh dengan beberapa mahasiswa yang melempar lirikan penuh tanya. Bagi Rey apa yang saat ini ada di sampingnya adalah yang harus dia pedulikan. Bukan pendapat orang lain.


Rey merogoh ke dalam ransel ketika langkah mereka semakin dekat dengan kelas kimia, mengeluarkan buku tebal yang masih bersampul plastik. Lantas mengangsurkannya pada Selly.


“Apa ini?” Buku bersampul putih biru bertajuk Rindu karya Tere Liye itu diamati dengan seksama oleh Selly.


“Kemarin ibu kamu bilang pengen baca buku itu.” Rey menunjuk buku dengan dagu.


Selly tertegun. Ibunya memang suka membaca novel. Tapi dia sendiri tidak pernah menanyakan novel apa yang ingin beliau baca.


“Thank’s Rey,” ucapnya terharu.


Tersenyum, Rey lantas mengacak pelan puncak kepala gadis itu. “Ya udah masuk gih!”


“Lho, kamu gak masuk?” Seingat Selly mereka punya jadwal kelas sama hari ini.

__ADS_1


Rey hanya mengedikkan bahu, lalu melambaikan tangan sebelum memutar badan dan pergi.


__ADS_2