Mawar Biru

Mawar Biru
Nightmare


__ADS_3

Nightmare


Mimpi buruk adalah ketika kamu mengetahui bahwa kamu tidak diinginkan lahir ke dunia?


*


“*Anak haram ....”


“Anak haram!”


“Anak haram!”


Gerombolan anak kecil mengitari seorang bocah perempuan berseragam merah putih, menyorakinya dengan sebutan anak haram dengan mengelilingi sambil menepukkan kedua telapak tangan mereka. Serupa yel-yel kemenangan, sekumpulan bocah itu melantangkan suara dengan riang.


Sementara si bocah perempuan menunduk dalam. Surai hitam sebatas punggungnya, menjuntai ke bawah, menyembunyikan wajah si gadis yang memerah. Tangan kurus itu mencengkeram erat ujung tali tas punggungnya, mencari penguat.


Pernah dia mencoba menabrakkan tubuh ke blokade yang membentuk lingkaran itu, tapi yang ada dia justru terpelanting ke belakang. Tidak mampu menahan dorongan maha kuat dari sekumpulan bocah berbagai usia yang rata-rata lebih besar. Lalu mereka akan tertawa, ketika si gadis kecil terluka sikunya.


Belajar dari pengalaman, dia memilih diam. Membiarkan mereka puas lalu pergi sendiri. Atau jika sedang beruntung, akan ada pahlawan yang menyelamatkannya, mengusir mereka pergi.


“Hei, apa yang kalian lakukan?” hardik bocah laki-laki berseragam sama. Mendobrak benteng berbentuk lingkaran itu dengan satu dorongan, lantas merangsek masuk, menutupi tubuh si gadis kecil dengan badannya. Menjadikan diri tameng.


“Pergi kalian! Jangan ganggu dia!” Dia menggerak-gerakkan kedua tangan serupa kibasan, mengusir mereka.


“Kamu ngapain sih Ky, nolongin dia mulu?” ucap Dino, bocah lelaki berbadan subur.


“Kalian yang ngapain gangguin Selly mulu?” ucap Kiky tegas, tak gentar meski hanya seorang diri.


“Kamu masih mau berteman sama anak haram?” tanya Dino dibarengi tawa ejekan dari yang lain.


Kiky menoleh pada gadis kecil di belakangnya. “Selly bukan anak haram.”

__ADS_1


“Kata ibu aku dia gak punya bapak berarti dia anak haram.”


Awalnya, hidup si gadis kecil damai. Bersekolah layaknya anak-anak yang lain, meski dia tidak pernah diantar ayah. Meski selalu ibu yang mengambilkan rapor. Tapi dia bahagia, berangkat dengan senyum ceria, bermain dengan tawa membahana. Terutama karena dia punya satu teman setia. Kiky Wiratama.


Tapi sejak kelas 5, entah dari mana mulanya, entah siapa yang dulu memulai, cap anak haram seolah menempeli. Mengikuti setiap gerak dan langkah kaki.


“Ibu, anak haram itu apa?” pertanyaannya pada wanita yang selalu membersamai sejak dia kecil. Mereka hidup berdua, di rumah sederhana, tanpa hadirnya sosok laki-laki bertubuh kekar. Pun tidak jua ada sanak famili yang mengunjungi. Mereka semua sudah tiada, kata ibunya saat Selly menanyakan perihal ayah dan sanak keluarga.


Wanita itu terkejut mendengar pertanyaan putrinya, lantas dia membawa sang anak duduk di sofa ruang tamu merangkap ruang menonton TV.


“Kamu tahu sebutan itu dari mana, Nak? Siapa yang bilang begitu?”


“Teman-teman Selly, hampir semua mengolok Selly dengan sebutan itu.” Gadis itu menjawab dengan suara serak, teringat perlakuan teman-temannya.


Dita menelan ludah kelat, dia tahu suatu saat Selly akan mendengar ini. Tapi dia tidak menyangka, jika hari itu akan tiba secepat ini. 10 tahun, masih terlalu awam untuk putrinya tahu. Masih terlampau dini menjabarkan peliknya hidup yang pernah dilalui.


“Bu.” Tangan mungil Selly menyentuh pipi Dita yang basah. “Kok Ibu nangis?” Tanpa sadar, wanita itu meneteskan air mata.


Selly mengerutkan kening, tidak paham dengan pertanyaan ibunya, lagi pula dia sendiri belum mendapat jawaban. “Selly gak suka diolok-olok, Bu,” jawabnya lesu.


Hati Dita serasa teriris mendengar penuturan Selly. Dia tahu perasaan itu, dia paham menjadi orang yang dikucilkan. Hanya saja usia Selly masih terlalu belia.


Sekarang bagaimana dia harus menjelaskan pada putrinya? Menceritakan dosa besarnya, jelas tidak mungkin. Mengaku bahwa dulu dia khilaf, memberikan mahkota paling berharga bagi seorang wanita untuk laki-laki yang bahkan belum sah menjamah tubuhnya. Bagaimana Selly akan paham?


Dipandanginya iris sang buah hati, kelereng coklat itu serupa kumparan benang yang membawanya mengingat seseorang. Memaksa Dita menjelajah ruang dan waktu. Memenjarakan wanita berkulit putih pucat itu pada satu wajah dengan netra serupa.


Seseorang yang ikut andil membentuk Selly. Pun orang yang harusnya ada di saat Selly lahir ke dunia. Tapi, Dita terlalu pengecut, membiarkan lelaki itu berlenggang pergi mengejar cita, tanpa tahu ada cinta yang telah tersemai. Cinta yang bernyawa. Dita memilih menjadi wanita sok super, berperan sebagai ibu sekaligus ayah. Bungkam pada interogasi keluarga, hingga ditendang dari istana seharusnya.


“Siapa ayah dari anak yang kamu kandung?”


“Siapa Dita? Siapa?”

__ADS_1


Ucapan itu kembali terngiang di kepala. Ucapan seseorang yang sangat Dita hormati, tapi harus terluka demikian dalam karena perbuatan anaknya.


Isak tangis lolos dari bibir Dita yang bergetar menahan raungan. Dadanya sesak, bak terimpit batu besar. Atas nama cinta pada ayah biologis Selly, dia mengabaikan cinta yang dibutuhkan putrinya.


“Bu ....” Bibir Selly bergetar, tak kuasa menahan hasrat untuk ikut menangis.


“Maafin Ibu, Nak ... maafin Ibu.”


Faktanya Dita tidak bisa menjaga Selly seutuhnya. Dia mungkin bisa menggantikan posisi si pencari nafkah, memenuhi kebutuhan putrinya, termasuk menyekolahkan. Tapi Dita alpa menjadi sosok pelindung yang sebenarnya. Naluri lembut keibuannya tidak bisa menyamai naluri mengayomi dari seorang ayah. Bagaimana pun dia adalah wanita, tidak akan pernah sama dengan pria.


Baru saja tangan Dita hendak menjangkau tubuh mungil gadis di sampingnya, ketika ketukan nyaris terdengar serupa dobrakan menggetarkan pintu rumah. Riuh suara orang bersahut, meminta Dita keluar, sebagian menumpahkan sumpah serapah.


Tersaruk Dita membuka pintu dengan Selly berada di balik punggungnya. Makin jelas kicauan belasan kepala di depan mata, meraung, bersahut, serupa sekawanan lebah yang siap menyengat.


“Keluarkan dia dari kampung ini!”


“Jangan jadikan wilayah kami tempat mesum!”


“Usir dia!”


“Usir!”


Seperti dejavu, wanita itu kembali mengalaminya. Pengusiran serupa pernah dirasakannya bertahun lalu. Ketika perutnya mulai membuncit, ketika orang-orang mempertanyakan lelaki yang harus bertanggung jawab pada kehamilannya.


“Kamu tidak sudi punya anak yang mencoreng nama keluarga seperti kamu.”


“Mulai detik ini, tidak ada lagi nama Dita Maharani dalam keluarga ini!”


“Pergi kamu dari rumah kami!”


Terseok ibu dan anak itu pergi, meninggalkan hunian tempat tinggal dengan tidak terhormat. Mencari tempat lain yang sama sekali tidak ada jejak masa lalu. Menutup lembaran lama dan memulai menulis cerita baru.

__ADS_1


Sejak saat itu, Selly tidak pernah menyinggung perihal sebutan yang enggan didengar lagi itu. Waktu dan kedewasaan yang membuatnya paham tentang jati diri. Waktu juga yang membuat gadis itu mengerti seperti apa posisinya di masyarakat*.


__ADS_2