Mawar Biru

Mawar Biru
Bab 1. Berbeda


__ADS_3

“Apa yang lebih menyakitkan selain melihat dia yang dulu amat memujamu, kini menatapmu pun enggan.”


---


Selly sudah memprediksi bahwa hari ini ketika dia menginjakkan kaki di kampus, orang-orang akan memberi perlakuan ‘istimewa’. Dia sudah menyiapkan mental dan hati, merapal mantra bahwa dia akan baik-baik saja. Semua hanya soal waktu.


Dia sengaja datang mepet waktu. Ketika kakinya menjejak lantai kelas di gedung B itu, suasana yang tadinya riuh, mendadak sunyi. Semua mata tertuju padanya, seolah menelanjangi Selly dari ujung kepala sampai kaki.


Kecuali seorang pemuda berkemeja biru tua di dekat jendela. Rey sontak membuang muka, tidak membiarkan kontak mata terjadi, seolah memandang Selly sama artinya dengan menyakiti mata secara langsung.


Memilih duduk di bangku paling depan ternyata bukanlah hal bagus, bisik-bisik mulai terdengar. Empat mahasiswi di samping misalnya, lirih bersuara dengan mata terang-terangan memindai Selly.


Siulan terdengar dari bangku pojok belakang. Pemuda bersurai berantakan berjalan menyaku satu tangan ke depan. “Kok mendadak jadi hot gini ya.” Irwan, mahasiswa paling senior itu mengibas tangan ke depan leher serupa kipas.


“Hot kenapa Bang?” sahut Ferdi.


“Kaya ada artis lewat.” Gemuruh tawa terdengar menanggapi kelakar Irwan. “Mau tau gak siapa artisnya?”


“Siapa tuh?”


“Kepo dong?”


Irwan berhenti di depan bangku Selly, menjalankan jemari di sepanjang garis meja, lantas menggebrak hingga sang empunya berjengit.


“Seneng, ya, jadi artis?” bisik pemuda itu membungkuk tepat di samping telinga Selly. Gadis itu menunduk, menautkan jemari di atas paha.


“Kak Irwan,” panggil Jesica di bangku ketiga. “Jadi, dia artisnya? Artis apaan, tuh?” Ruangan itu seketika bergemuruh, berisi tawa dan cemooh.


Irwan terbahak, pria itu lantas mengalihkan tatapan pada Rey yang sedari tadi fokus melihat ke luar jendela. “Rey, lo udah nyobain?”


Gemuruh sorakan terdengar dua kali lebih nyaring dari sebelumnya. Beberapa cowok bahkan memukul-mukul meja menambah hiruk suasana.


Gebrakan meja kembali terdengar dari bangku di samping jendela. “Diem gak lo pada!” perintah Rey, jarinya menunjuk satu-satu penghuni kelas itu.


Jika ada aturan yang harus dipatuhi oleh mereka yang berada di kampus ini, maka salah satunya adalah Jangan pernah melawan anak pemilik kampus, kecuali sudah tidak ingin berada di sana. Satu bentakan dari Rey, sudah cukup membuat mereka terdiam. Tidak ada yang bersuara sampai Bu Daniah, dosen biokimia memasuki ruangan.


***


Langkah kaki Selly terhenti ketika seseorang menghalangi, tapi ketika dia mencoba menyamping, orang itu melakukan hal yang sama, membuat ujung sepatu mereka kembali bertabrakan. Selly berdecak sebal, lantas menengadah, bertemu pandang dengan pemuda yang tersenyum jahil.


“Kiky, jahil banget, si!”


Pemuda berkaca mata itu terpingkal mendengar makian Selly. “Kamu, sih, lagi nyari duit apa gimana? Jalan sambil nunduk gitu.”

__ADS_1


Selly memukul lengan atas pemuda itu. “Kamu ngapain di sini?” Kiky Wiratama adalah mahasiswa fakultas bahasa yang kelasnya berada di gedung D.


“Mau minta tolong,” jawab Kiky sambil menunjukkan telapak tangan kirinya yang tergores dan berdarah.


Selly terpekik, “Kamu kenapa? Kok bisa gini?” Hati-hati dia menyentuh tangan dengan luka gores lumayan dalam itu.


“Tadi gak sengaja kegores pecahan kaca.”


“Kamu mau jadi Limbad?”


Tawa Kiky kembali pecah. “Lukaku gak penting. Sekarang mending kamu ceritain kenapa murung gitu?” Lelaki itu menatap Selly lekat.


Gadis itu tertegun sejenak, menimbang dalam hati haruskah menceritakannya pada Kiky atau tidak. Menghela napas, Selly mengeluarkan ponsel dari saku celana, mengutak-atik sebentar lalu mengangsurkan pada Kiky.


*Semalam, selepas kepergian Rey, Selly mengaktifkan jaringan internet di ponselnya. Mengecek aplikasi telegram yang telah dipenuhi ribuan chat, berasal dari grup khusus mahasiswa fakultas kimia. Grup khusus yang biasa mereka gunakan untuk berbagi informasi penting seputar kegiatan kampus sampai hal yang tidak penting seperti sekedar bergosip dan saling meledek. Untuk malam ini Selly menjadi topik utama berisiknya grup chat.


Selly mengabaikan chat-chat itu, jempolnya menggulir layar ke bawah, mencari sumber berita. Dan di ujung tanggal hari itu dia menemukan sebuah tautan dengan pengantar berhuruf kapital dan tebal.


GOSIP TERHEBOH!! BURUAN KLIK LINK-NYA, ANAK KIMIA TERNYATA ADA YANG JADI PEL*KOR.


Dengan jemari gemetar Selly mengetuk ponsel pada alamat sebuah blog itu. Tapi hanya laman kosong yang ditemukan, berisi pemberitahuan bahwa halaman yang diminta tidak lagi tersedia.


081123xxx: Ini beneran S A anak kimia?


087565xxx: Don’t judge a book by it’s cover, tampangnya aja alim.


081123xxx: Btw mana nih orangnya?


0896303xxx: Ah sial, udah gak kebuka!


Beberapa chat yang sempat Selly baca, hanya berselang dua menit link itu sudah tidak bisa dibuka*.


“Kamu sudah tahu pelakunya?” tanya Kiky.


Selly menggeleng. “Sepertinya Rey tahu, tapi semalam dia murka banget. Aku belum sempat nanya.”


“Kamu gak ngasih tahu Rey yang sebenarnya?” tanya Kiky.


Selly masih fokus membersihkan luka pemuda itu. Menetesi obat, lantas membalutnya dengan kain kasa dan plester yang telah di sediakan di dalam UKS.


“Aku gak mau nambah rumit keadaan.” Selly juga menceritakan pada Kiky tentang kemarahan Rey semalam.


“Tapi semua ini perlu dilurusin Sel! Kamu gak bisa membiarkan kesalahpahaman terus terjadi.”

__ADS_1


Selly membuang kapas bekas darah ke tong sampah khusus, mengembalikan obat-obatan ke lemari penyimpanan, lantas mencuci tangan di wastafel. “Kamu tahu betul alasanku, Ky.”


Kiky berdiri, menghampiri Selly yang sedang mengeringkan tangan. “Aku peduli sama kamu Sel.” Dia menyentuh pundak gadis itu.


Tersenyum, Selly meraih tangan besar sahabatnya, menepuk pelan. “Kamu tahu, kan, aku kuat?”


“Wah, wah, wah!” Sebuah suara menginterupsi disertai tepukan tangan. “Ada pertunjukkan apa di sini?” Jesica mendekat bersama dua gadis lain yang membuntut.


Kiky memandang tidak suka ke arah tiga gadis berpakaian terlalu minim itu.


“Hei, Sel, kalau mau cari mangsa lihat sikon, dong?” celetuk Andrea, cewek berambut ombre di samping kanan Jesica. “Masa UKS lo jadiin tempat mesum.”


“Heh, jaga mulut lo, ya!” Kiky mengacungkan jari ke arah Andrea.


“Kenapa?” Kali ini Rebeca yang menyahut, “Lo dikasih apa sama cewek itu?”


“Lo—” Telunjuk Kiky terangkat, mengarah ke depan wajah Rebeca.


“Ky, udah, udah!” Selly mencegah Kiky yang sudah bersiap melayangkan serangan balasan. “Mending kita balik aja yuk!”


Kiky mengembuskan napas kasar, lantas menggandeng tangan Selly melewati Jesica dan dua temannya.


“Bersiap aja, palingan bentar lagi juga ditendang dari kampus ini.” Suara Jesica mengiringi kepergian mereka.


“Kamu kenapa, sih, Sel, biarin mereka gitu?” Kiky menggerutu sepanjang koridor.


Selly memaksa berhenti, melepas pegangan lelaki itu. “Kalau diladenin gak akan ada habisnya, Ky.”


“Tapi itu sama artinya kamu memberi kesempatan pada mereka untuk melecehkan kamu lagi dan lagi.” Lelaki itu meletakkan dua tangannya di pinggang. Wajahnya terlipat, kesal karena gadis-gadis itu, pun karena Selly yang tak mau melawan.


Selly membuka mulut, bermaksud menyanggah tuduhan sahabatnya itu. Tapi ucapannya tertahan di tenggorokan saat netranya menangkap sosok pemuda di ujung koridor, bersama dua teman yang selalu mendampingi. Dia berjalan cuek, mengabaikan tatapan memuja dari dedek-dedek gemes di sekitarnya.


Awalnya, Rey tidak menyadari keberadaan Selly, sampai dua pemuda kembar di belakangnya yang memberitahu lewat gestur tubuh. Hanya sepersekian detik netra sepekat malam itu melirik Selly, untuk kemudian membuang muka dan menganggap gadis itu hanya makhluk asing seperti mahasiswi lainnya.


“Kamu gak papa?” Sudah berapa kali Kiky menanyakan hal yang sama padanya? Seolah Selly adalah korban bencana yang harus selalu ditinjau kondisinya.


Selly mengerjap, mengusir perih yang sempat singgah di pelupuk mata. Senyum diberikan sebagai jawaban bahwa dia tidak apa-apa. Mungkin.


“Yah, seenggaknya aku jadi bisa deketan sama kamu tanpa ada yang ngelarang, iya, kan?”


Pernyataan Kiky disambut tawa oleh Selly. Benar juga. Belakangan ketika Selly dan Rey dekat, pergaulannya sedikit diawasi. Lelaki kaku itu terang-terangan memberikan tanda ‘forbiden’ bagi lelaki lain yang terlalu dekat dengan Selly. Bahkan dengan Kiky sekalipun, orang yang notabene lebih dulu mengenal Selly ketimbang Rey yang baru kenal dua tahun terakhir.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2