Mawar Biru

Mawar Biru
Teka-Teki 1


__ADS_3

Apa yang tidak aku ketahui dari kamu?


---


Senyum terbaik dipersembahkan Kiky untuk Selly yang baru keluar dari kelas. Kakinya melimbai ringan menghampiri si gadis yang hari ini memakai blouse warna pink pucat. Menambah kesan manis di wajah Selly yang separuh rambutnya diikat di belakang.


“Makan yuk,” ajak lelaki berkaca mata itu setelah berada cukup dekat dengan Selly.


“Kantin?” Alis Selly menukik, ingatan tak menyenangkan menyergapnya kala membayangkan salah satu tempat makan di kampus ini. Dua hari lalu ketika dia memutuskan makan siang di kantin, hampir seluruh penghuni mencibir. Mengolok baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebutan pelakor dan sejenisnya bergaung hampir di sepanjang kegiatan makannya.


“Di Numani aja gimana?” tawar Kiky.


Anggukan diberikan Selly, dia juga lapar. Tadi pagi perutnya hanya terisi secangkir teh manis.


Mereka berjalan bersisian di sepanjang koridor. Kiky menunduk, memandangi kedua belah tangan mereka yang nyaris bersentuhan. Jemarinya bergerak gelisah. Keinginan untuk menautkan tangan mereka begitu besar. Namun, gerakan Selly yang tiba-tiba berpindah ke tali tasnya membuat Kiky memasukkan tangannya ke saku celana.


Mereka menuju Rumah Makan Numani yang hanya membutuhkan waktu 10 menit berkendara dengan mobil.


Satu ekor gurame bakar ukuran jumbo menjadi menu makan siang. Kiky mengambil daging ikan itu dengan garpu dalam ukuran besar untuk dipindahkan ke piring Selly.


“Thank’s Ky,” ucap Selly dan mulai makan.


Kiky selalu suka cara Selly memasukkan makanan ke dalam mulut, mengunyahnya tanpa suara dan menelan setelah dirasa cukup halus. Gadis itu bukanlah tipe perempuan yang dengan hati-hati makan, seolah apa pun yang masuk ke mulut harus sesuai porsi. Jika kebanyakan perempuan lain akan menekan jumlah makanan yang masuk perut, menyisakan setengah porsi di piring, lain hal dengan Selly. Dia selalu menghabiskan makanannya. Cara makannya membuat orang yang melihat ikut tergiur.


Ah, tidak hanya soal itu. Kiky selalu suka apa pun yang dilakukan sahabat sejak kecilnya itu.


“Semalam tidur di rumah sakit?” tanya Kiky di tengah santapan mereka.


Selly mengangguk, menyendok sambal untuk yang ke tiga kalinya. Bibir gadis itu memerah, sesekali bergetar karena menahan pedas. Titik-titik air keluar dari dahinya. Kiky meraih tisu, lantas menyeka keringat Selly, gadis itu mendongak, untuk sesaat pandangan mereka terkunci.


“Sorry, aku keringetan ya?” ucap Selly, menjauhkan kepala dan menyeka dahinya dengan tangan sendiri.


“It’s oke, lanjutin gih!” Kiky tersenyum, sedikit menyesali perbuatannya yang membuat Selly menjeda aktivitas mengisi perut itu.


Mereka keluar dari rumah makan setelah perdebatan alot tentang siapa yang harus membayar. Kiky memaksa membayar semua pesanan mereka, sementara Selly bersikeras ingin membayar makannya sendiri. Akhirnya Kiky mengalah. Selalu seperti itu, menjadi lemah terhadap dia yang disayang.


“Hari ini libur kan?” Kiky menanyakan jadwal kerja Selly di kafe. Pandangannya fokus ke depan, pada jalanan yang tidak pernah sepi dari berbagai kendaraan.


“Mau langsung ke rumah sakit?” tanya Kiky lagi setelah mendapat anggukan dari Selly.


“Mm ... Pulang dulu, mau ambil baju sama buku, tugas banyak banget.”


“Mau aku bantuin?”


“Hello, kita beda jurusan keules.” Selly mengibaskan tangan ke samping.


Kiky tertawa, keinginan untuk selalu membantu gadis itu membuatnya lupa bahwa mereka mengambil jurusan berbeda.


“Aku temenin ke rumah sakit, ya?” Lelaki itu menoleh sebentar ke arah gadis yang duduk di sampingnya.


“Ih, gak usah.” Selly menggeleng berulang. “Kan, kamu mesti ke kafe.”


“Gak papa, itu bisa—”


“Ky,” Selly memotong kalimatnya, “udah terlalu banyak yang kamu lakuin buat aku, buat kami. Please, jangan bikin aku nganggep kalau kamu malaikat beneran,” jelas Selly panjang lebar.


Kadang kebaikan yang Kiky berikan untuknya melebihi batas wajar. Selly tidak lupa bagaimana Kiky selalu membelanya dulu ketika dia dibully teman-teman SD. Selly juga merekam dengan jelas Kiky yang menawarkan pekerjaan padanya di saat Selly tengah bingung mencari kerja karena masih duduk di bangku SMA. Pun Selly tidak akan pernah melupakan bantuan Kiky mencarikan universitas terbaik yang membuka beasiswa full.


Lagi-lagi Kiky tertawa. Bersama Selly selalu sebahagia ini. Betapa dia rindu akan kebersamaan mereka yang sempat merenggang.


“Tapi, aku antar, ya?” pinta lelaki itu.


“Aku yakin walaupun aku menolak kamu akan tetap memaksa.”


Kiky melebarkan senyum, lantas kembali fokus pada jalanan dengan perasaan berbunga.


***


Selly mengerutkan kening ketika melihat Kiky ikut turun dari mobil di pelataran rumah sakit. Seingatnya tadi dia sudah menolak tawaran lelaki itu untuk menemaninya.


“Loh, kok turun, Ky?”


Kiky memutari bagian depan mobil, mendekati Selly. Berdiri canggung dengan sebelah tangan menyentuh tengkuk. Hal yang justru membuat kerutan di dahi Selly kian kentara.

__ADS_1


“Kenapa, Ky?”


Menelan ludah, Kiky berdehem lantas memasukkan tangannya ke saku celana. “Itu ... aku ... anu,” Kiky berdecak, demi apa dia jadi seperti anak TK yang akan mengaku bahwa dia pipis di celana. Kenapa berbicara saja menjadi sesulit ini. Mereka tumbuh bersama bahkan dari saat mereka belum puber, belum menjamah arti suka antar lawan jenis. Sudah jutaan kosa kata yang terlontar. Tapi kini, dia serupa bocah yang baru pertama masuk sekolah dan mengenalkan diri di depan kelas.


“Apa sih, Ky?” Selly merasa lucu dengan tingkah sahabatnya itu. Tidak biasanya Kiky bersikap secanggung ini.


Lelaki itu memandang Selly lekat. “Ijinkan aku menggantikan Rey.”


***


“Ijinkan aku menggantikan Rey.”


Sesaat Selly terdiam, masih mencoba mencerna maksud perkataan Kiky. Menggantikan sama artinya mengambil tempat orang lain. Menggantikan Rey berarti menjadikan posisi Rey beralih ke Kiky. Netra bening Selly melebar.


“Maksud kamu, Ky?” Selly tidak ingin berspekulasi.


Kiky berdehem. “Aku ....” Mata berbingkai lensa minus itu menjarah netra Selly. “Sayang sama kamu.”


Selly mengerjap, detik berikutnya kikikan keluar dari bibir berpoles pelembab rasa strawberry itu, “Ih, kirain apaan Ky.” Sebelah tangannya memukul pelan lengan atas pemuda di depannya yang justru terkejut akan reaksi Selly, “Aku juga sayang.”


Apa Kiky salah dengar? Bolehkah dia bergembira sekarang? Namun apa yang dia dengar selanjutnya melunturkan senyum yang baru sedetik lalu terkembang.


“Antar teman memang harus saling sayang kan?”


Cekikikan Selly masih bergema di kuping ketika dengan bodoh Kiky turut mengangguk, seolah mengiyakan. Padahal sejatinya hatinya kembali terpotek, patah lagi. Tapi tak apa, dia masih sabar, dan akan terus sabar sampai waktu itu tiba. Waktu di mana rasanya berbalas. Rasa yang bukan sekedar sayang sesama teman, atau saudara. Tapi rasa tulus dari seorang laki-laki terhadap perempuan.


Untuk saat ini dia akan membiarkannya, menikmati setiap detik kebersamaan mereka sebagai sahabat, teman, atau apa pun menurut pandangan Selly. Dia hanya perlu menunggu, seperti yang telah dia lakukan bertahun belakangan. Menjadi si pecundang, yang hanya bisa mengagumi dalam diam.


***


Kewarasan Rey mungkin perlu diperiksakan. Barangkali sebagian otaknya bermasalah, sehingga dia bertindak labil.


Kemarin dengan pongah dia membentak Selly, mengatai gadis itu tepat di depan wajah. Bahkan bersandiwara tentang nama baik kampus. Tapi kini, lihatlah dia kembali ke sisi jalan rumah itu. Kontrakan tiga petak bercat putih.


Dia kalah pada rasa bersalah, dia menyerah pada rindu yang singgah. Menginjak harga diri hingga titik terendah. Seorang Rey Atmaja dipermainkan oleh seorang gadis, yang benar saja. Berpuluh kali pun Rey coba menepis, membuang jauh rasa itu, faktanya kini dia ada di sini. Menanti si gadis yang semoga saja keluar dari rumahnya walau hanya satu kali kedipan mata.


Tadi pagi Rey bolos. Berdalih malas melihat wajahnya. Menjelang siang, dia mulai blingsatan. Sesuatu merongrong dada memaksanya menemukan gadis itu. Alhasil dia mendatangi kafe tempat si gadis bekerja, hanya untuk menemukan bahwa orang yang dia cari libur.


Rey membuka salah satu laci di dashboard mobil, sebuah benda berkilau terpampang. Cincin dengan hiasan huruf S dan R di atasnya. Digenggamnya cincin itu. Iya, Rey semunafik itu. Kemarin setelah membuang benda itu secara brutal, dia langsung menyuruh petugas kebersihan kampus untuk mencari. Tanpa batas waktu. Asalkan ketemu.


Sepuluh menit menunggu, sebuah mobil yang sangat dikenali siapa pemiliknya berhenti di depan rumah itu. Selly keluar, lantas dengan tergesa masuk rumah. Rey menelengkan kepala, menyadari bahwa si empunya mobil tidak beranjak dari tempatnya.


Mereka ada janji?


Rasa panas terbakar menjalari dada. Tidak cukupkah Selly menorehkan luka? Apa ini, kenapa kini gadis itu tampak sangat akrab dengan Kiky?


Tapi di luar itu semua, ada hal yang lebih mengusik Rey. Satu kenyataan bahwa Kiky masih sangat enjoy dengan Selly membuat pertanyaan besar muncul di kepala. Apa Kiky tidak merasa risih? Pemuda berkaca mata itu jelas menaruh rasa lebih dari seorang sahabat kepada Selly. Seharusnya seperti halnya Rey, Kiky akan minimal sakit hati atau cemburu. Tapi lelaki itu seolah tak menganggap fakta itu, dia bahkan dengan suka hati turun dari mobil, membantu Selly kembali masuk ke dalam kendaraannya.


Rey mengikuti mobil Kiky dalam jarak wajar. Tidak sampai setengah jam mereka berhenti di pelataran sebuah rumah sakit. Sesuatu yang membuat Rey cukup terkejut. Dia harus menekan kuat keinginannya untuk turun dan bertanya pada mereka siapa yang sakit.


Mengetukkan jari telunjuk di setir mobil, mata Rey tidak berhenti membuntuti setiap gerak dua makhluk berbeda jenis itu. Termasuk bagaimana Kiky terlihat bertingkah aneh di depan Selly.


Rasa penasaran Rey kian menggunung setelah melihat Kiky yang justru pergi meninggalkan Selly. Rey segera memarkirkan mobil di carport rumah sakit setelah mobil Kiky berjalan berbelok. Pemuda itu lantas bergegas masuk.


Berbekal insting, lelaki dengan jumper hitam itu memilih lorong kanan dari pintu masuk. Melangkah sedikit tergesa sambil sesekali menengok kanan-kiri. Pada lorong yang lebih sempit, atau pada ruang rawat inap pasien.


Di belokan yang entah ke berapa Rey buru-buru bersembunyi di balik dinding. Hati-hati mengintip dengan sebelah mata, gadis yang dia cari tengah bercengkrama dengan seorang perawat.


Setelah perawat berseragam hijau itu pergi, Selly memasuki ruangan di samping kanan. Rey berjalan pelan, lantas berhenti di balik pintu dengan kaca kecil di salah satu sisi pintunya itu. Netra Rey melebar ketika melihat siapa yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit. Walau pun baru bertemu sekali, tapi dia tidak akan mungkin lupa pada seraut wajah yang hampir serupa dengan gadis yang dari tadi dikuntitnya itu.


Apa lagi yang kamu sembunyikan dari aku, Sel?


Sedianya Rey akan masuk ke dalam ruang bertulis Jasmine-054 di muka pintunya itu, tapi getaran dari saku celana membuatnya urung. Nama Bagas terpampang di layar benda persegi panjang itu.


“Kenapa, Gas?” ucap Rey setelah menggeser tanda penerima panggilan dan menempelkannya ke telinga. Lelaki itu berjalan ke taman rumah sakit yang berjarak 5 meter dari ruangan tempat Selly masuk.


“Gue tunggu di basecamp, urgent.” Sambungan terputus begitu saja.


“Kampret!” maki Rey pada ponselnya sendiri.


Pemuda tinggi itu menyugar rambut ke belakang, membuat surai legamnya sedikit teracak. Memandang sebentar ke arah pintu coklat terang, dia mengembuskan napas panjang, lalu tungkainya melimbai menjauh.


***

__ADS_1


“Assalamualaikum, Bu.” Selly menutup pintu dengan hati-hati, lantas menghampiri tempat tidur di dekat jendela itu. Aroma khas rumah sakit memenuhi paru-paru. Bau yang sudah akrab di hidung Selly belakangan ini.


“Wa’alaikumussalam, Nak,” jawab seorang wanita paruh baya dengan suara lemah.


Selly menyalami ibunya, menempelkan punggung tangan yang mulai dihiasi keriput ke dahi dan mencium pipinya.


“Gimana keadaan Ibu hari ini?” pertanyaan yang selalu Selly ajukan tiap kali bertandang ke bangsal ibunya. Gadis itu menarik kursi lebih dekat ke arah ranjang sebelum mendudukinya. Tangannya menggamit telapak orang yang paling dicintai itu, mengelus lembut. Merasakan tekstur kulit yang tak lagi kencang serta benjolan tulang-tulangnya yang kian kentara.


“Ibu semakin baik, Nak.” Dita tersenyum pada putri semata wayangnya itu. Ribuan syukur dia haturkan karena telah dikaruniai anak sebaik Selly Anandita. Gadis yang tidak hanya berbakti tapi juga tegar menghadapi kerasnya kehidupan.


“Ibu pengen pulang, Nak,” Dita mengungkapkan isi hati. Merasa tubuhnya sudah tidak lagi membutuhkan cairan bening yang dialirkan ke tubuhnya itu sebagai penambah energi. Dia juga enggan merepotkan Selly lebih banyak lagi. Kantung hitam di bawah mata anaknya sudah cukup menggambarkan betapa Selly kurang istirahat. Tidur beralas sofa sempit di ruangan ini pasti membuatnya tidak memiliki kualitas tidur yang baik. Terlebih gadis itu harus pulang subuh jika ada jadwal kuliah pagi.


Mendadak Dita merasa sesak, dari kecil bukannya kebahagiaan yang dia berikan kepada buah hatinya, tapi justru kesengsaraan. Andai dia bisa mengulang waktu, dia akan menjadi perempuan yang baik. Yang menjaga apa yang telah diberikan Tuhan dengan penuh tanggung jawab dan hati-hati.


Sayang, semua itu hanya khayalan yang tidak mungkin terwujud. Barangkali Tuhan marah padanya, sehingga menanamkan tumor di ovariumnya. Atau mungkin ini akibat dari segala keburukannya di masa muda. Acuh pada apa pun yang masuk perut, termasuk tidak peduli dengan gaya hidup yang serba bebas.


Dia ikhlas. Sungguh. Dia rela menanggung sakit sepanjang sisa hidup jika itu bisa menghapus dosa-dosanya. Dia akan menerima dengan lapang dada, jika begitu cara Tuhan memaafkannya.


Tapi Dita terlampau sombong, faktanya ketika dia sakit, tidak hanya dia seorang yang menderita, ada seorang gadis yang juga sengsara karenanya. Anaknya sendiri, Selly Anandita. Gadis baik yang telaten merawatnya. Dan rela mempertaruhkan harga diri demi biaya operasi ibunya.


“Emang udah boleh sama dokternya?”


“Tapi Ibu sudah sehat, Nduk,” Dita bersikeras. “Lihat Ibu sudah bisa duduk dengan tegak.” Wanita paruh baya itu mendudukkan tubuhnya, menghalau dengan paksa rasa nyeri yang merambati daerah perut.


Hal yang justru membuat Selly panik dan tergesa membaringkan kembali ibunya.


“Iya, Bu, ntar Selly tanya dulu sama dokter,” pungkas Selly demi memenangkan hati sang ibu.


“Kalau lebih lama lagi pasti biayanya juga makin gede, Sel.” Dita membenarkan posisi berbaringnya, lantas menolehkan kepala kepada Selly.


Selly menggaruk pelipis yang tidak gatal. “Iya Bu, tenang aja. Udah pokoknya Ibu gak usah mikirin soal biaya, ya?” Gadis itu, menyentuh lengan ibunya, berharap ketenangan diperoleh Dita.


Dita mengembuskan napas, memandang langit-langit rumah sakit yang satu minggu ini menjadi temannya berkeluh kesah. “Beruntung, teman-temanmu baik ya, Sel.”


Ketika mengetahui bahwa dia harus dioperasi, Dita sudah pasrah menanggung segala sakit, karena dia dan Selly tidak mempunyai uang sebesar itu. Tapi Selly bersikeras akan mencari pinjaman dana demi bisa menolong ibunya.


“Selly udah dapet uangnya, Bu,” ujar Selly semringah waktu itu.


“Kamu dapat dari mana uang sebanyak itu, Nak?”


“Selly, dibantuin temen-temen kampus, Bu,” jawab Selly sembari mengurut pelipis.


Ribuan syukur Dita panjatkan untuk kebaikan teman-teman Selly. Pun kepada Yang Maha Kuasa karena operasinya berhasil.


Selly meringis, serangan rasa bersalah memenuhi dada, “Iya Bu, teman-teman Selly kan orang kaya,” timpalnya disertai senyum.


“Kapan-kapan Ibu mau bikin keripik tempe ya buat temen-temen kamu?” Netra Dita berbinar, seolah itu adalah hal yang membahagiakan.


Selly mengangguk berulang, lantas mengusap ujung matanya yang berair dengan jempol.


“Atau ajak main ke rumah aja gimana?” Dita masih berlayar dalam bayangan menyenangkannya.


Selly tertawa. “Atuh kontrakannya gak muat, Bu.”


“O, iya, juga, kontrakan kita kan kecil, ya?” Ibu dan anak itu kompak tertawa.


Seperti menyadari sesuatu, Dita memandang ke belakang kursi Selly, pada pintu masuk ruangan itu. “Kamu ke sini sama siapa, Sel?”


“Tadi dianterin Kiky sampai depan, Bu.”


“Lho, gak ikut masuk?”


Selly menggeleng, dia bahkan melihat mobil Kiky keluar dari pelataran rumah sakit sebelum dia berjalan ke dalam.


“Tapi Ibu kayak lihat seseorang barusan.” Dita sekilas melihat bayangan seseorang di depan pintu ketika Selly masuk.


Mengerutkan kening, Selly lantas berdiri dan berjalan ke arah pintu. Kiky tidak mungkin putar balik, kan?


Seperti dugaannya ketika kepalanya melongok keluar, tidak ada siapa pun di sana. Kecuali semilir angin yang berembus dari taman, angin yang entah kenapa membawa aroma khas. Wangi yang beberapa waktu lalu sering menggelitik indra penciumannya, menjadi serupa candu bagi Selly. Detakan di dalam rongga dada mendadak berubah. Sedikit tergesa dia berjalan ke taman. Percampuran antara takut dan bahagia memenuhi dada.


Namun, ketika kakinya menginjak rumput taman, hanya ada dua orang terlihat bercengkrama di kursi. Selain itu tidak ada siap pun kecuali aster warna kuning dan ungu di tengah taman yang bergerak tertiup angin.


Selly tertawa sambil menggelengkan kepala. Merasa konyol. Apa dia se-halu itu?

__ADS_1


__ADS_2