Mawar Biru

Mawar Biru
Teka-Teki 2


__ADS_3

Jadi, apalagi yang mau kamu sembunyikan dari aku, Selly Anandita?


---


Rasa panas seperti terbakar memenuhi dada Rey. Dia marah tapi juga tidak habis pikir dengan apa yang dia lihat dan dengar dari dua orang di depannya ini.


Sepuluh menit yang lalu, dia memasuki salah satu ruangan di dalam basecamp. Mendapati Bagas dan Alarik, salah satu tim IT kampus duduk di depan meja panjang dengan tiga buah layar ultrawide di atasnya. Tempat biasa mereka bermain game.


“Ada temuan baru,” ucap Alarik, tanpa sapa dan salam.


“Maksud Lo?” Sebut saja Rey tidak punya sopan-santun terhadap pria yang lebih tua 5 tahun darinya itu. Dia sudah terbiasa, terlalu biasa. Menganggap lelaki yang hampir seumur hidupnya mengabdikan diri untuk keluarga Atmaja itu sebagai teman. Teman yang kelewat akrab dengan jaringan nir kabel tentunya.


“Kemarin sebelum ngelepasin Bendi, gue sempet naruh penyadap di ponselnya,” ucap Alarik yang duduk di depan salah satu layar yang menampilkan rekaman pesan Whatsapp.


Bendi adalah pemilik warnet di dekat kampus yang tempo hari diinterogasi oleh mereka karena foto yang dia sebarkan melalui blog itu. Hal yang menurut Rey terlalu bodoh karena Alarik dengan mudah menemukannya. Alhasil wajah Bendi bengkak dan membiru di beberapa titik karena tangan Rey tentu saja.


“Terus?” Rey menautkan alis.


Bagas berdecak, temannya itu boleh saja punya IQ selangit. Tapi kadang kepintarannya tertutup entah oleh apa. “Rey plis ya, otak lo yang katanya pinter itu dipakai! Gue jadi curiga, jangan-jangan hasil IPK kamu itu cuma fatamorgana.”


“Sembarangan lo ngomong, udah sih langsung aja, gue lagi mumet.” Bayangan Selly dan ibunya yang berada di rumah sakit menari-nari di kepala Rey. Berbagai spekulasi bermunculan tanpa diminta.


“Gue gak percaya aja sih, pas Bendi bilang, dia lagi iseng ngikutin Selly waktu itu. Gue ngrasa ada seseorang yang mungkin ada di belakangnya,” terang Alarik. Rey menyimak penjelasan itu dengan seksama.


“Gue gak disuruh siapa-siapa. Gue cuma iseng.”


Penjelasan Bendi malam itu ketika Rey dan Alarik menyambangi tempat tinggalnya memang sedikit aneh. Rey baru menyadarinya sekarang, waktu itu dia bahkan tidak menanyakan dia bekerja untuk siapa, tapi Bendi langsung mengatakannya sendiri.


“Jadi lo nemuin sesuatu?” Mata Rey memicing. Nama Irwan dan Jesica sempat mengusik pikirannya. Bagaimana pun dua orang itu yang paling heboh ketika skandal foto muncul.


“Nyaris tidak ada notifikasi khusus di ponsel Bendi, sampai semalam gue nemuin ini.” Alarik menunjuk layar datar itu, menggerakkan kursor pada sebuah screenshot bukti transfer dana. “Jumlah yang terlampau besar untuk sekedar gaji penjaga warnet atau gaji karyawan sekalipun.”


Rey menjulurkan kepala, Alarik benar dua puluh lima juta terlalu fantastis, kecuali ada proyek besar yang Bendi lakukan dan ketika matanya memindai nama si pengirim alisnya berkerut dalam. “Galuh Prameswari?”

__ADS_1


Perkataan Bagas selanjutnya mampu membuat syaraf-syaraf di gendang telinga Rey berdenging, seolah baru saja menangkap gelombang ultrasonik. Seseorang yang menurut Rey sangat tidak mungkin melakukannya.


“Itu nama nyokapnya Kiky,” jelas Bagas, “dan Alarik sudah memastikannya.” Alarik mengangguk ketika Rey menatapnya meminta kepastian.


“Maksud kalian, ini ulah nyokapnya?” Rey menyuarakan keresahannya.


Alarik menyilangkan tangan di dada. “Ada dua kemungkinan Rey, bisa ibunya, dan bisa juga....” Lelaki itu menjeda kalimatnya, seolah memberi kesempatan Rey untuk menyiapkan telinga. “Anak laki-lakinya.”


“Gak mungkin!” Serta merta Rey menyangkal kemungkinan terakhir itu. Kiky Wiratama, yang benar saja?


Bagas mengangkat bahu. “Gue juga sama ragunya kaya lo. Makanya kita mesti cari tahu dulu.”


“Dan Rey,” Alarik menambahkan, “tanah dan bangunan yang Bendi tempati juga atas nama keluarga itu.”


Informasi dari Alarik semakin membuat kepala Rey berdenyut. “Berarti kita mesti interogasi Bendi lagi, kan?”


“Masalahnya dia menghilang sejak malam itu Rey,” ujar Alarik.


Itu bukan pertanyaan, tapi perintah yang harus dipatuhi oleh Alarik.


***


Apakah dunia ini sudah sesandiwara itu? Tidak adakah seseorang yang benar-benar tulus? Kenapa semua seolah memakai topeng?


Berbagai pertanyaan menari-nari dalam tempurung kepala Rey, seolah mengejeknya yang lagi-lagi terlena oleh rupa tanpa dosa. Berpura baik dan perhatian tapi sebenarnya menyimpan belati di belakang punggung.


Lelaki itu menumpukan kedua lengannya di birai balkon bangunan teratas kampus. Netra kelamnya terpancang pada dua manusia yang tengah asyik berbagi suara. Orang yang Rey labeli sebagai pemeran sandiwara terhebat abad ini. Haruskah Rey memberi mereka piala penghargaan?


Rey tertawa, mungkin dua orang yang sedang duduk di bangku taman itu sedang bermain tebak-tebakan, siapa yang membohongi siapa. Netra Rey memicing kala jemari Kiky singgah di puncak kepala Selly. Tidakkah perempuan itu sadar siapa lelaki sok baik di sebelahnya?


Mendadak rasa panas menjalari dada Rey, genggaman di kaleng minuman ringan yang beberapa saat lalu di beli mengetat, hingga sebagian cairannya terdesak keluar dan membasahi tangan.


Rey mengembuskan napas gusar, akhir-akhir ini dia akrab sekali dengan rasa ini. Perasaan yang membuat psikisnya seperti digerogoti penyakit. Membuat letih dan tak berdaya.

__ADS_1


Haruskah dia berhenti saja? Tutup mata dengan semua fakta yang didapat, dan menutup lembaran kelam ini. Lantas memulainya dengan yang baru? Membiarkan mereka bersandiwara sampai puas, lalu di episode terakhir, Rey akan bertanya siapa juaranya.


Namun keinginannya cukuplah menjadi wacana tanpa realisasi karena detik berikutnya ketika ponselnya berdenting, Rey tidak mampu menahan kaki untuk tidak mendatangi perempuan itu.


***


Langkah panjang Rey tergerak mantap menuruni tangga, sempat beberapa kali tubuhnya menabrak orang yang menghalangi jalan. Teriknya matahari siang itu juga tak dipedulikan ketika dia menyusuri halaman kampus maha luas itu.


Tadi pagi dia menyuruh orang untuk mencari tahu kondisi pasien di kamar Jasmine-054. Lalu informasi lengkapnya dia dapat 3 menit lalu melalui notifikasi ponsel.


Dita Arum, 44 tahun pasien pasca operasi tumor rahim.


Dan itu sudah cukup membuatnya menarik kesimpulan untuk apa Selly berada di hotel bersama pria berumur.


Sialan!


Maki Rey dalam hati. Dia cukup tahu seberapa mahal biaya operasi, dan dia juga yakin Selly dan ibunya tidak mempunyai uang sebanyak itu. Tapi, demi apa pun harusnya bukan cara kotor seperti itu yang Selly pilih. Rey masih sanggup membantu kalau gadis itu lupa. Apa Selly terlalu gengsi? Rey lebih dari marah saat ini.


Namun, langkah kakinya kembali terhenti oleh getaran panjang ponsel, Rey merogoh saku celana, mengeluarkan benda pipih itu lantas menempelkannya ke telinga.


“Gue udah nemuin Bendi, Rey.”


Satu kalimat pembuka dari Alarik membuat cuping telinga Rey berdiri tegak, bersiap menerima segala informasi. “So?”


“Kemungkinan kedua.” Netra Rey membola saat mendengar ucapan Alarik di seberang sana. “Kiky Wiratama pelakunya.”


Suara Alarik menggema di kuping Rey, sementara lelaki yang masih berdiri di tengah halaman itu menyalangkan pandangan ke arah orang yang sedang mereka bicarakan. Sebelah tangannya yang berada di samping tubuh mengepal erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Bersiap menghantamkannya pada pemuda berkaca mata itu.


“Lo jangan gegabah Rey!” Seperti tahu apa yang akan dilakukan anak bosnya, Alarik mencegah Rey terlebih dahulu. Lantas dia berujar bahwa mereka harus membuat strategi. “Dengan itu kita juga bisa kasih bukti ke Selly. Sekali dayung dua pulau terlampaui.”


Menaikkan satu alis, Rey menimbang ide Alarik. Lantas mengamini, kendati saat ini hasrat untuk meninju Kiky terlampau tinggi.


__ADS_1


__ADS_2