
Pengakuan
Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku menginginkanmu, bahwa ada aku yang selalu mengharapkanmu berpaling dan menoleh padaku.
-Kiky Wiratama-
---
Apakah sekarang jalanan depan rumah Selly telah berubah menjadi tempat pajangan mobil? Gadis itu menaikkan alis tinggi, ketika dilihatnya dua buah mobil yang tidak bisa dikatakan murah memenuhi jalan depan rumahnya.
Para pengendara mobil keluar, membawa aura tersendiri. Rey dan Kiky berdiri berhadapan, dengan gaya serupa; memasukkan tangan ke saku celana.
“Ngapain lo di sini?” todong Rey.
“Jemput Selly,” jawab Kiky enteng, seolah kemarin tidak ada hal pelik yang mereka bahas.
Rey mendengus. “Jangan mimpi, Selly bareng gue.”
“Oh ya?” Kiky menaikkan sudut bibir, tersenyum miring. “Lihat saja nanti,” pungkasnya jumawa, bertepatan dengan langkah Selly yang semakin mendekat.
“Pagi, semuanya,” sapa Selly kikuk.
“Pagi Sel.” Rey tersenyum manis madu. “Ayo berangkat.”
Menggaruk tengkuk, Selly meringis. “Sorry Rey, aku udah janji sama Kiky buat berangkat bareng.”
Rey terhenyak, matanya nyalang menatap Kiky yang memamerkan deret giginya, seolah mengejek siapa yang kalah di sini.
“Duluan Rey,” ucap Kiky sebelum masuk mobil. Tak lupa memberikan klakson sebagai tanda pamit, membuat Rey harus menahan diri untuk tidak menendang mobil itu.
***
“Lho, Ky!” Selly berseru ketika dia menyadari jalan yang seharusnya mereka lalui untuk sampai ke kampus terlewat. “Kamu salah jalan ya?” Kepalanya melongok ke kanan dan kiri, memperhatikan jalanan besar yang mulai dirambati berbagai jenis kendaraan.
“Sekali ini aja ya?” Kiky menampilkan tampang termelasnya, memohon pada Selly agar mereka bolos hari ini.
“Ish!” Selly menyilangkan tangan di dada. “Emang mau ke mana sih? Tumben amat kamu ngajakin berbuat kriminal.”
Tawa Kiky menggema di dalam mobil, bahunya bahkan terguncang hebat. “Kamu belum tahu sekriminal apa aku.”
“Kamu ngomong apa sih Ky, jangan sambil ketawa gitu. Lagian apanya yang lucu?” Menggelengkan kepala, Selly merasa sahabatnya itu ada masalah dengan otaknya.
“Kamu pasti seneng kok aku ajakin ke sana,” ucap Kiky setelah tawanya reda.
“Emang mau ke mana?”
__ADS_1
***
Teriakan Selly menggema di udara satu jam setelahnya. Bersahutan dengan beberapa pengunjung taman bermain siang itu. Gadis berkuncir kuda itu menaiki wahana roller coaster bersama Kiky di sampingnya, adu suara paling lantang. Efek samping dari beban pikiran yang menyelinap. Kadang berteriak kencang mampu membuat perasaan lega. Meski hal itu bukan berarti masalah selesai.
Selly tertawa riang, jantungnya terasa copot ketika kereta itu menukik tajam ke bawah dalam kecepatan tidak teraba, lalu kembali naik, bahkan berguling, membuat tubuhnya terbalik. Memaksa jantung memompa lebih cepat.
Kiky merekam tiap detik momen itu. Menyimpan dalam laci khusus di sudut otaknya bagaimana wajah itu menarik sudut-sudut bibirnya, bagaimana tawa merekah, serta cara Selly menggulung rambutnya ke atas, hingga menyisakan anak-anak rambut yang menjuntai di sepanjang garis kepala. Kiky akan mengabadikan semua itu, membungkusnya dengan bingkisan khusus bertajuk kenangan terindah. Karena mungkin setelah ini tidak akan ada lagi kesempatan untuk menikmati senyum manis itu.
“Kamu seneng Sel?” tanya Kiky. Mereka tengah duduk di kios pedagang minuman. Menanti es kelapa muda sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang setelah menaiki berbagai wahana permainan.
Selly mengangguk berulang. “Seneng banget.”
Mamang penjual minuman mengantar pesanan mereka. Dua buah kelapa muda yang masih segar. Menerima pesanan, Kiky mengajak Selly untuk duduk di bawah pohon kelapa di sudut taman.
Sekian menit pertama, tidak ada yang bersuara. Mereka khusyuk menikmati kesegaran dari air kelapa dan buaian sepoi angin. Kiky melirik jam di pergelangan tangan, waktunya telah tiba. Debaran tak beraturan di rongga dada menjadi pertanda ketakutannya. Takut mengungkap kebenaran, pun takut melihat reaksi gadis di sebelahnya itu.
Menghela napas panjang, Kiky memanggil Selly tanpa menolehkan kepala. “Selly Anandita.”
Selly mengerutkan kening, sedikit merasa aneh saat sahabatnya itu menyebut nama lengkapnya. “Apa Kiky Wiratama?”
Kiky tidak mampu menyembunyikan lengkung senyumnya, bisakah dia berharap waktu berhenti di sini saja? Biarkan Selly mode ceria ini tetap di sampingnya. Tidak apa jika dia hanya dianggap sebatas teman selamanya, asalkan mereka terus bersama.
“Aku mau buat pengakuan.” Netra Kiky masih memancang ke depan.
“Pengakuan apa? Pengakuan dosa?” Selly terkikik, geli sendiri oleh kata-katanya.
“Aku menyukaimu.”
Sejenak Selly tertegun, lantas gadis itu tersenyum jahil.
“Suka lebih dari sahabat.” Namun, senyumnya hilang bersamaan dengan suara Kiky yang kembali menyapa telinga.
“Kamu ngomong apa sih Ky, gak lucu tahu.” Selly meninju pelan lengan atas Kiky, cengiran yang berusaha dia pulaskan di bibir tidak bisa menyembunyikan kecanggungan.
“Aku menyukaimu layaknya seorang lelaki kepada wanita.” Kiky sungguh-sungguh dalam mengeja setiap suku katanya. “Aku bahkan mencemburui setiap kebersamaanmu dengan Rey Atmaja.”
“Ky, kamu ....” Selly kehilangan kata. Sungguh dia tidak pernah membayangkan situasi secanggung ini dengan lelaki berkaca mata ini.
Kiky memutar tubuh, menghadap sempurna pada Selly. “Apa masih bisa disebut menyukai layaknya sahabat, ketika aku marah saat kamu berbagi tawa dengan dia? Apa masih bisa disebut wajar, jika rasanya apa pun akan aku lakukan demi bisa berdekatan dengan kamu, Selly?” Netra Kiky menajam.
Selly menunduk dalam, kedua tangannya bertaut di atas kaki yang bersilang.
“Aku bahkan nekat berbuat curang demi bisa mendapatkan kembali perhatianmu Sel.”
Perkataan Kiky membuatnya mendengak. “Maksud kamu?”
__ADS_1
Netra mereka beradu, untuk sekian detik Kiky menancapkan pandang padanya. Tidak adakah sedikit saja aku di sana? Lelaki itu menarik napas, lalu tangan kanannya merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel lima inci ber-casing biru metalik. Mengutak-atik sebentar, lalu mengangsurkannya pada Selly.
Kerutan menghiasi alis tipis Selly ketika menerima benda itu. Detik selanjutnya lengkungan berambut halus itu meninggi. Netranya menangkap foto-foto itu, penyebab kerusuhan beberapa hari lalu. Ironisnya semua lengkap, dari saat gadis itu turun dari taksi di depan sebuah hotel, lalu bertemu dengan lelaki itu, hingga keduanya sampai di depan kamar.
“Ini, apa maksud—”
“Awalnya aku hanya ingin memastikan keselamatan kamu Sel.”
“Maksud kamu?” Jantung Selly berdetak lebih cepat, dirambati berbagai spekulasi menakutkan.
“Aku menyuruh Bendi mengikutimu.” Kiky menundukkan kepala.
Selly tidak lupa, Bendi adalah orang yang kata Bagas telah mengunggah foto-foto itu. Yang kata Bagas, orang itu melakukannya karena iseng. Yang kata Bagas telah dihajar habis-habisan oleh Rey. Dan apa kata Kiky tadi? Selly menatap sahabatnya itu, kebetulan macam apa ini?
“Maksud kamu, dia, Bendi tidak sengaja mengunggah foto itu?” tanya Selly ragu, dia hanya mencoba mencipta praduga tidak bersalah pada Kiky. Lagi pula bukankah hal itu terlalu jahat untuk dilakukan olehnya?
Kiky mengangkat kepala, lantas menggeleng pelan. “Aku yang menyuruh Bendi menguploadnya Sel,” ucapnya kaku.
Seperti sambaran petir di panas terik, Selly tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. “Ini gak lucu, Ky.”
“Semua itu khil—”
“Kamu tahu yang kamu lakuin itu sejahat apa, Ky!” Nada suara Selly naik, dibarengi deru napas yang semakin kentara, terekspos lewat gerakan dada yang naik-turun intens. Juga badan yang mulai bergetar. Kenyataan apa yang baru saja dia dapat? Bahkan otak Selly enggan merekamnya.
“Aku tahu, Sel.” Kiky mengusap kasar wajahnya dengan tangan. “Tapi semua itu karena kamu berubah, gak ada lagi waktu sama aku.”
“Apa?” Menelan ludah kelat, Selly menyalangkan manik matanya pada Kiky. “Aku gak nyangka.” Berulang kali menggelengkan kepala, demi apa sahabatnya itu tega memfitnahnya. Dan apa katanya tadi? Sayang? Selly mendengus.
“Aku kehilangan kamu yang selalu ada buat aku. Kamu terlalu fokus sama Rey dan dunia mereka Sel,” ucap Kiky dengan suara melemah, “aku merindukanmu, hingga rasanya menyesakkan dada.” Lelaki itu meremas kaus di bagian dada, lantas menepuknya berulang.
“Tapi bukan gini caranya!”
“Lalu apa?!” Suara mereka saling bersahut, terbawa angin hingga membuat beberapa pejalan kaki terusik. “Kamu bahkan tidak pernah serius meresponku?” Pundak Kiky naik-turun seiring deru napas yang kian berat. “Kamu selalu menganggap rasa sayangku hanya sebatas sahabat, kamu selalu membercandai setiap aku bilang rindu.”
Netra Selly melebar, tersentak dengan ucapan Kiky. Selama ini Kiky juga tidak pernah mengkonfirmasi. “Rasa sayang macam apa yang membuat orang yang disayangi dikucilkan Ky?”
“Aku salah, aku akui itu. Tapi setidaknya kamu jadi berpaling padaku. Kita jadi lebih sering bersama.”
Selly tertawa miris, satu tetes air mata luruh menuruni pipi tirusnya. “Itu bukan sayang Ky.” Selly bangkit, menenteng tasnya lalu melimbai meninggalkan Kiky.
“Maaf harus mengatakan ini Sel.” Langkah Selly terhenti oleh ucapan Kiky, “Apakah Rey akan tetap memilihmu jika dia tahu jati dirimu yang sebenarnya?”
Melipat bibir ke dalam, Selly kembali berjalan, menjauhi Kiky Wiratama. Menjauhi seseorang yang lagi-lagi menorehkan luka. Menambah daftar ketidakpercayaannya akan ketulusan. Menyakiti hati Selly lebih parah dari siapa pun.
Kiky Wiratama, sahabat sejak kecil. Orang yang dia anggap lebih dipercayai dari siapa pun. Orang yang Selly anggap paling tulus. Orang yang Selly yakini mampu menguatkannya ketika dunia mungkin memusuhi.
__ADS_1
Sudah sejahat itukah dunia padanya?