Mawar Biru

Mawar Biru
Kejutan Tak terduga


__ADS_3

Melihatmu bersamanya membuatku mengerti satu hal, aku cemburu.


---


Lo gak penasaran dalang di balik penyebaran foto itu?


“Woi, ngelamun aja?!”


Selly terkesiap, jantungnya berdetak hebat. Mengurut dada berulang dia lakukan demi meredam rasa terkejut.


Antara tersenyum jahil di sebelahnya. “Tuh jus jeruknya udah ditungguin, ngelamun aja.”


Seakan baru tersadar akan sesuatu Selly buru-buru mematikan blender di depannya. Terlalu terbawa arus alam bawah sadar membuatnya lupa jika saat ini dia tengah bekerja.


Tadi pagi dia berpapasan dengan kembar Bagas dan Bagus. Lalu begitu saja mereka menghentikan langkah Selly dan membisikkan pertanyaan yang jujur saja tidak pernah dia pikirkan sebelumnya. Terlalu disibukkan dengan keadaan di kampus dan hal lain membuat Selly nyaris mengesampingkan kemungkinan itu. Dan sekarang, bayangan-bayangan jahat justru menghantui. Apa mungkin ada yang menjebaknya? Tapi siapa? Selly bahkan tidak punya musuh.


Dengan cekatan gadis itu menuang jus ke dalam gelas tinggi dan memberi potongan jeruk sebagai garnis di bibir gelas. Menaruh di baki bundar, lantas membawanya dengan satu tangan melewati lorong meja dan berhenti di pojok.


“Terima kasih,” ucap wanita dengan surai bergelombang, saat Selly meletakkan minuman pesanannya.


Ketika berbalik Selly menubruk tubuh seseorang. “Aduh! Maaf, ma—Rey?”


Selly tidak salah lihat, pemuda yang mengenakan kaus putih dilapisi kemeja yang tidak dikancing itu memang Rey Atmaja. Belum habis keterkejutan Selly ketika lelaki itu hanya mengangkat sebelah alis sebagai respon, kemudian melewatinya dan duduk di depan perempuan pemesan jus jeruk tadi.


Selly tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran sekaligus rasa kagetnya. Gadis itu terbengong, melihat Rey dan perempuan berparas ayu itu saling melempar salam.


“Green tea latte,” kata Rey, yang membuat Selly mengerjap beberapa kali sebelum sadar kalau lelaki itu memesan minuman padanya. Selly hampir lupa, dia pelayan di sini.


Siapa perempuan itu?


***


“Gadis sepolos itu gak mungkin kaya gitu Rey.”


“Tapi fotonya asli Len.”


Magdalena Lolita, perempuan berkulit putih dengan surai bergelombang itu adalah sepupu Rey. Seorang psikiater yang sudah mempunyai klinik sendiri. Rey meminta tolong pada Lena untuk menemui Selly, lebih tepatnya menilai gadis itu.


“Emang lo juga ada foto tentang kegiatan mereka di dalam kamar itu?” todong Lena yang mendapat gelengan lemah Rey.


Hati kecil Rey menyanggah kebenaran foto itu, tapi logikanya memaksa berpikir waras. Foto asli dengan pengakuan Selly apalagi yang perlu dicari. Kecuali tentang keterlibatan Kiky tentunya.


Obrolan mereka terjeda saat Selly membawa pesanan Rey, dan meletakkannya di hadapan lelaki itu. Susah payah Selly menahan diri agar bersikap seperti biasa, selayaknya pelayan yang menyediakan kebutuhan pelanggan. Tapi hati Selly tidak bisa berbohong, ketika cubitan rasa panas seperti terbakar menghampiri. Jantung Selly mengungkapkan dalam dentuman tak biasa. Pun jemari Selly yang sedikit gemetar.


“Mbak,” teguran Lena pada Selly nyaris membuatnya terlonjak dan membuang nampan di tangan. Pertanyaan perempuan itu selanjutnya mampu membuat jantung Selly berhenti sepersekian detik. “Kita cocok gak?”


Ucapan Lena seperti palu yang dihantamkan ke kepala Selly, membuat kaget, pusing dan sakit. Gadis yang memakai seragam biru dengan bordir nama kafe itu gelagapan. “Itu ... Anu ....” Dia melirik Lena, perempuan secantik itu sangat pantas dipilih, sepintas tidak ada kekurangan fisik yang Selly lihat. Setiap inci bagian tubuhnya meneriakkan kata glowing, amazing, dan sederet kata kekaguman lainnya. Lantas melalui sela bulu mata dia melihat lelaki itu, bukan salah Rey tentu saja. Tidak ada yang menjamin pemuda itu akan tetap bertahan kan? Kalau dirunut, justru dirinya lah yang patut jadi terdakwa. Selly yang telah menceburkan diri ke sumur keburukan. Menjadikan diri sebagai gadis nakal yang tertangkap kamera bermain dengan lelaki beristri. Dia sendiri yang mencegah kebenaran muncul. Lalu pantaskah dia bilang tidak suka?


Pada akhirnya Selly mengangguk. “Iya kalian serasi.”

__ADS_1


Jawaban yang tidak sinkron dengan hati. Lidah Selly nyaris tergigit karena kalimat itu. Sensasi panas membakar memenuhi dada, sekaligus nyeri karena pukulan tak kasat mata. Selly sudah mempersiapkan hati untuk dibenci oleh pemuda itu. Tapi dia tidak pernah menyediakan tameng untuk menutupi rasa cemburu. Perasaan aneh yang membuatnya marah saat melihat Rey asyik bercengkrama dengan perempuan cantik itu.


“Lah, bengong lagi ni bocah?” Antara kembali menepuk pundak Selly, membawanya kembali memijak bumi.


***


“Gila lo!” maki Rey tertahan setelah Selly pergi.


Rey hampir memaki Lena ketika dia melontarkan pertanyaan maha konyol yang tidak pernah Rey prediksi. Perjanjian mereka hanya datang, berpura memesan lantas membantunya menilai Selly, yang kata Lena, “Lo kaya pangeran mau nyeleksi calon permaisuri aja Rey, pakai dinilai.”


Tapi demi Tuhan, mereka bahkan sepupu, bagaimana mungkin Lena menanyakan hal gila itu.


Lena terbahak, siapa sangka perempuan yang terlihat anggun itu jika tertawa membuat heboh dunia. Beberapa pengunjung di dekat mereka melihat terang-terangan, bagaimana Lena tertawa sambil memegangi perut.


“Dia cemburu Rey,” ucap Lena setelah mendapat lemparan tisu dari Rey. “Lo gak lihat tadi gimana ekspresinya?” Mencondongkan tubuh, lalu tawanya kembali berderai.


Rey menyeruput minumannya melalui ujung sedotan. Bibirnya tertarik, membentuk lengkungan. Jadi kamu cemburu Selly Anandita?


***


Selly bernapas lega saat jam kerjanya telah usai. Ini adalah hari terburuk dalam bekerja selain hari ketika mengetahui bahwa ibunya mengidap tumor. Dua kali dia melakukan kesalahan pembuatan pesanan untuk pengunjung kafe. Hal yang sangat cukup untuk mendapat semprotan atasannya andai dia bukan teman sang pemilik kafe. Iya, kadang bekerja dengan teman itu membawa keuntungan tersendiri. Dengan senang hati dia absen pulang.


Langkah Selly melambat di tempat parkir kafe. Apa dia berhalusinasi? Apa ketidak terimaannya akan hubungan baru Rey dengan gadis lain membuat retina Selly memproyeksikan tubuh Rey Atmaja ada di depan sana, bersandar pada badan mobil. Mengedipkan mata berulang, gadis berkuncir kuda itu memastikan bahwa sosok itu nyata. Bukan khayalan yang tercipta karena asa yang terluka.


“Lelet banget jalannya, buruan!” Perkataan Rey selanjutnya yang membuat Selly tersadar jika ini bukan imajinasi semata. Melongo, Selly menengok kanan-kiri. Tidak mau menjadi si besar kepala yang menganggap bahwa kalimat perintah itu untuknya.


“Malah berhenti? lo denger gak sih gue ngomong?” Rey mengacak rambut.


“Bukan, tu kerikil di samping lo.”


Bicara soal membuat seseorang gagal memesona, Selly ahlinya. Hanya Rey dan Tuhan yang tahu bagaimana dia bertarung dengan ego, menekan akal sehat, dan bertindak gila dengan menebalkan muka, berdiri di tempat parkir itu. Bergaya kelewat cool, seolah selama ini mereka baik-baik saja dengan menunggu Selly pulang.


Tapi apa yang Selly lakukan? Gadis itu membuat semakin jatuh harga dirinya, mengikis sikap sok cuek yang coba dia bangun. Mengusap tengkuk, Rey berbalik memutari bagian depan mobil dan masuk ke dalam, duduk di bangku kemudi.


***


Haruskah Selly berbahagia hari ini?


Setelah sekian hari Rey menganggapnya serupa virus yang harus dijauhi, lelaki itu kini berada di sampingnya. Duduk di samping kemudi dengan pandangan lurus ke depan. Selly mencuri pandang lewat sela bulu mata. Rey masih setampan itu, dengan rahang tegas dan hidung berlekuk di pangkalnya.


Jika ada yang bertanya apa yang Selly rasakan, gadis itu akan menjawab dengan lugas bahwa dia nervous. Seperti ujian lisan ketika akan masuk universitas pertama kali, hatinya kebat-kebit disertai perut melilit. Dan rasa untuk buang air kecil tiba-tiba menyembul.


Selly menarik napas lalu mengeluarkannya, berulang dia lakukan dengan selembut mungkin. Seolah satu tarikan napas berlebih akan membuatnya mati di tempat karena tertangkap basah. Ini bukan pertama kalinya dia duduk satu mobil dengan Rey, tapi sensasi yang ditimbulkan sekental itu. Haruskah Selly mengatakan sesuatu agar kecanggungan sedikit mereda? Agar gadis itu tidak berubah menjadi batu karena terlalu kaku.


“Makasih Rey,” cicit Selly ketika mobil berhenti di perempatan karena lampu merah.


“Untuk?” Rey tidak mau repot menoleh, atau hanya sekedar melirik.


“Untuk ....” Selly berdehem, “tumpangannya hari ini.” Takut-takut dia melirik lelaki di sampingnya, lantas buru-buru berpaling ketika tangan Rey bergerak memindah persneling sebelum kembali menginjak gas ketika traffic light berganti warna.

__ADS_1


“Siapa bilang gue ngasih tumpangan.”


“Lho, tapi ini?”


“Ini gak gratis.”


“Maksudnya, aku harus bayar?”


Rey harus menahan tangannya untuk mengacak rambut Selly, atau mencubit gemas pipinya. Baru beberapa menit mereka bersama, tapi rasa senang serupa bocah kecil yang mendapat mainan baru memenuhi dada.


“Gue mau nuntut penjelasan!” Tapi Rey harus mempertahankan mode cool-nya.


Mata Selly membeliak, penjelasan apa lagi yang Rey ingini. Ketika lelaki itu bahkan tidak melewati jalan menuju rumahnya, Selly mulai takut. Dia takut jika kali ini tidak mampu berbohong lagi. Dia takut jika dia harus jujur. Dia takut menyaksikan reaksi Rey setelahnya.


Rasa terkejut Selly tidak cukup sampai di situ. Rey membelokkan mobil ke rumah sakit tempat ibunya dirawat, dan itu membuatnya semakin gelagapan.


“Rey kamu sakit?” tanya Selly demi menutupi kekagetan.


Rey mengembuskan napas, lantas melepas sabuk pengaman di pinggang sebelum menghadapkan badan sepenuhnya ke arah Selly. Untuk sesaat netra mereka bertumbukan. Masing-masing mencari jawab lewat jendela hati itu.


“Serius masih mau ngibul?” tanya Rey.


Selly memutus pertautan netra mereka, melarikan pandangan ke luar jendela. “Aku gak ngerti Rey maksud kamu.”


Lelaki itu mendengus lantas dengan paksa membuat gadis itu kembali menatapnya, memegangi kedua sisi pundak Selly. “Dita Arum pasien pasca operasi di kamar Jasmine-052, apa perlu gue tunjukin letak ruang rawatnya?” ucap Rey disertai penekan di akhir kalimat.


Netra Selly membola, bagaimana Rey tahu tentang ibunya? Apa pemuda itu sudah menyelidiki sesuatu? Sejauh apa Rey tahu? Berbagai pertanyaan bercokol di kepala.


“Ka-mu,” Selly menelan ludah kelu, “tahu tentang ibu?”


Memijit kening, Rey lantas mengubah posisi duduk, menyandarkan kepala pada kursi mobil. “Apa yang kamu lakukan untuk membayar biaya rumah sakit?” ucapnya lirih.


“Apa?”


“Apa ini ada hubungannya dengan pria itu?” Mengajukan pertanyaan lain, Rey kembali menghadap Selly. Lidahnya kaku saat mengucapkan pertanyaan itu.


Cairan bening luruh dari pelupuk mata Selly. “Menurut kamu, apa yang aku lakukan Rey?” Gadis itu tidak bisa mencegah air mata yang menderas, mengaliri pipi dan jatuh melewati ujung dagu.


Rey memejamkan mata. “Demi Tuhan Selly, gak usah lagi main tebak-tebakan!” Dada pemuda itu naik turun kentara. “Aku bukan peramal, aku lelah menebak.” Iris hitam Rey berkaca. “Aku lelah jauh dari kamu,” pungkasnya lirih sarat kerinduan dan luka.


Selly ingin menangis meraung. Selly ingin berteriak kencang. Selly ingin mengatakan hal yang sama pada Rey. Bahwa dia juga lelah berpura-pura, bahwa dia sakit terus berbohong, bahwa dia tak sanggup jika lebih lama lagi sendiri tanpa Rey.


Tapi ....


Dia tidak bisa.


Menghapus air mata dengan punggung tangan, Selly membawa tangan Rey ke atas pangkuan. Menepuk punggung tangan yang selalu menyetrumkan kejut aneh tiap kali mereka bersentuhan.


“Cukup Rey!” Gadis itu menggelengkan kepala. “Sudahi semua rasa penasaranmu, karena ...,” ucapannya terjeda karena isakan yang lolos dari bibir, cairan bening kembali mengaliri pipinya, jatuh berantakan di tangan mereka yang bertaut. “Kenyataan yang akan kamu terima jauuh lebih menyakitkan."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2