Mawar Biru

Mawar Biru
Menolak Menyerah


__ADS_3

Setelah membuatku tercebur begitu dalam, sekarang kamu memintaku untuk berhenti? Kamu lupa, aku juga pemeran utama di sini.


---


Rey kecil sangat menyukai serial kartun berjudul Jimmy Newtron. Bocah laki-laki dengan ukuran kepala lebih besar. Konon itu karena otaknya yang terlampau jenius. Seperti ilmuwan yang mampu membuat berbagai macam penemuan baru nan mutakhir.


Itulah sebabnya Rey menyukai laboratorium dan segala jenis percobaan di dalamnya. Otaknya sangat tanggap dengan rumus-rumus kimia dan teori atom. Dia terobsesi membuat terobosan baru, seperti membuat alat pembaca pikiran gadis di depan ini misalnya.


“Aku menolak.” Rey melepas genggaman tangan mungil di telapak tangannya yang besar.


Memalingkan wajah, Rey enggan tersentuh dan akhirnya mengalah. Karena wajah banjir air mata dengan hidung dan mata memerah itu menggoda Rey untuk menangkupnya, lantas membawa dalam dekapan. Lalu bagai tertiup mantra sihir, Rey akan berkata, “Baik, Tuan.”


Tidak. Rey tidak akan membiarkan semua ini mengambang begitu saja. Dia sudah terlanjur tercebur, setengah basah. Untuk apa dia naik ke permukaan jika tidak ada apa pun yang didapat. Malah bisa jadi rasa penasaran akan menderanya hingga akhir hayat. Biarlah dia tenggelam sekalian, sekali pun mati adalah risiko yang harus dia ambil, setidaknya dia mati dalam keadaan tenang.


Selly membulatkan mata, terkejut dengan penolakan Rey. Demi Tuhan, dia tidak ingin Rey lebih sakit lagi. Berbohong pada pemuda itu sangat sulit untuknya.


Menghapus jejak air mata di pipi dengan kedua tangan, Selly menilik penunjuk waktu di mobil, 17:14 terpampang di jam digital itu. Ibunya pasti sudah menunggu.


“Rey, plis!" ucap Selly dengan suara bindeng, “jangan bikin jadi makin rumit. Mengertilah aku, hm?”


Nah, kan? Rey nyaris mengibarkan bendera putih demi mendengar nada memelas dari perempuan paling berpengaruh terhadap kerja jantungnya itu. Maka cara ampuh adalah menghindar, bersikap kepala batu, dan menulikan telinga.


Pemuda itu, membuka pintu di sampingnya, lantas turun. Membiarkan Selly meneriaki namanya dan mengejar masuk ke dalam rumah sakit.


“Rey, tunggu!”


“Rey!”


Mempercepat langkah, kaki jenjang Rey menapaki lantai lorong rumah sakit. Tidak perlu bertanya atau takut salah jalan, karena otaknya masih dengan tajam mengingat jalan menuju ruang Jasmine-052.

__ADS_1


Seperti dejavu, Selly pernah merasakan perasaan ini. Jengkel sekaligus greget. Ingin menimpuk dan menggigit pemuda bernama Rey Atmaja. Lelaki itu entah kenapa berubah menjadi anak bandel lagi. Keras kepala. Dia tidak menggubris teriakan Selly yang sempat membuat beberapa orang melirik risih ke arahnya. Sebagian melotot, seolah memperingatkan Selly bahwa tempat yang dia pijak saat ini adalah tempat orang butuh ketenangan. Bukan pasar atau terminal, tempat orang bebas mengeluarkan suara lantang.


Alih-alih Selly menggigit bibir bawahnya sendiri. Mencegah alat bicara itu mengeluarkan gaungan lagi. Mempercepat langkah, nyaris berlari adalah cara yang ditempuh demi bisa menyusul si kaki panjang di depannya itu.


Tapi dia harus menyerah detik ketika tangan lelaki itu memegang daun pintu dan mengucap salam.


“Assalamualaikum.” Wajah Rey menyembul menyusul badan tegapnya setelah mendapat salam balasan.


Bermuka tebal, Rey menghampiri Dita yang terlihat sedikit kaget. Menyalami wanita paruh baya itu dengan menyentuhkan punggung tangan ke dahi.


“Apa kabar Tante Dita?” sapa Rey ramah.


“Ba-ik,” jawab Dita terbata, “Kamu siapa ya?” wanita itu menelengkan kepala, mengobrak-abrik memori yang merekam wajah rupawan si pemuda.


“Saya—“


Gadis itu melakukan ritual cium tangan dan pipi kepada ibunya, lantas berpaling pada Rey yang memamerkan senyum manis madu.


“Dia Rey, Bu.” Selly dengan enggan menyebutkan nama Rey pada ibunya. Tidak mungkin dia mengusir lelaki itu sekarang.


“Rey?” Dita mengulang nama yang seperti tak asing di telinganya, mengorek dalam serpihan memori yang berceceran, detik berikutnya netra coklat tua itu berbinar. “Yang waktu itu nganterin Selly pulang ya?” Telunjuk kurusnya mengarah ke wajah Rey yang juga berbinar karena Dita mengingatnya, walau pertemuan pertama mereka hanya sekilas pandang.


“Iya betul, Tante.” Netra Rey berlari memindai penampilan Dita yang tidak lagi memakai seragam pasien juga tas coklat besar yang tergeletak di atas sofa panjang.


“Tante udah mau pulang, Nak Rey,” ucap Dita dibumbui senyum sejuta watt di wajahnya yang masih pucat.


Seperti mendapat ide, binar di mata Rey kian terang. Lelaki itu lantas mengatakan hal yang membuat Selly kian meradang. “Iya, Tante, kebetulan tadi Selly meminta saya untuk ikut menjemput, Tante.”


Selly melebarkan mata, sandiwara macam apa yang tengah Rey mainkan saat ini? Dia hanya bisa menggerutu dalam hati sambil tak lepas melayangkan tatapan setajam pedang kepada pemuda itu.

__ADS_1


“O, ya, jadi ngrepotin ini,” ucap Dita, lantas merangkul Selly dan mengatakan bahwa tak seharusnya dia merepotkan orang lain.


“Gak kok, Tante,” sanggah Rey sebelum Selly bersuara. “Saya malah senang bisa bantuin.”


Senyum secerah mentari di awal pagi itu terkulum di bibir keduanya. Sementara Selly lunglai di tempat, senyum kecut yang bisa dia paksakan.


“Nak Rey,” ucapan Dita membuat kedua orang di depannya memfokuskan perhatian. “Terima kasih ya.”


“Iya Tante, jangan sungkan.”


“Terima kasih sudah ikut menyumbang untuk biaya operasi Ibu.”


Kabar yang disampaikan Dita membuat Rey mengerutkan alis, lantas pemuda itu melirik Selly. Gadis itu berdehem. “Iya Rey makasih ya, harusnya gak perlu repot ke sini juga.” Menampilkan senyum terbaik, sekaligus sebagai isyarat supaya Rey ikut andil dalam sandiwara yang Selly buat.


Tersenyum lebar, Rey menepuk pundak Selly. “Anytime, Sel.”


***


Setelah menebus obat dan menyelesaikan administrasi terakhir, Selly kembali ke kamar rawat. Menyaksikan orang-orang terkasihnya tengah bercengkrama hangat. Seolah mereka sudah kenal lama. Seperti teman akrab yang berbagi cerita setelah seharian beraktivitas.


Menghembuskan napas, Selly mengaku kalah. Dia akan membiarkan kali ini. Melihat tawa ibu yang ikhlas keluar dari rongga mulutnya membuat Selly sadar betapa selama ini mereka terlalu kesepian. Menjalani hari hanya berdua, enggan bersosialisasi karena trauma yang sempat tercipta. Barangkali Dita butuh hiburan, bukan sekedar sendu ketika mereka berdekatan.


Mungkin Rey memang semenyenangkan itu, membuat orang nyaman di sisinya adalah keahlian pemuda yang bahkan juga bisa sangat menjengkelkan. Selly mendengus, kenapa pemuda itu terlalu istimewa di matanya.


Getaran ponsel di dalam tas selempang, membuat fokus Selly teralih. Satu pesan masuk dari kontak tanpa nama tapi sudah dia hafal siapa pengirimnya.


Operasi beres. Biaya beres. Case closed.


Pesan yang membawa Selly kembali ke bumi tempat dia seharusnya berpijak. Menampar akan satu kenyataan yang sempat terlupakan.

__ADS_1


__ADS_2