
Jakarta, September 2019
NAYA meliukkan kuasnya dengan lincah. Ruangan khusus anak-anak ekskul seni rupa telah kosong. Namun, gadis berkulit putih itu tetap asyik dengan kegiatannya. Begitulah setiap harinya. Tidak ada satu pun yang lebih menarik selain melukis dan melukis.
Hening semakin menenggelamkan Naya ke dalam dunia kanvas miliknya. Teman-temannya banyak yang bilang bahwa Naya seperti kesurupan jika sudah berhadapan dengan lukisan. Tapi, ini jauh dari kesan menjerit-jerit atau lompat ke sana ke mari dengan mata melotot. Bukan. Yang terjadi justru kebalikannya. Sehari-harinya, gadis riang yang dikenal ramah dan tidak bisa diam ini bisa berubah seratus delapan puluh derajat jika berhadapan dengan kuas, cat minyak, dan kanvas.
Sesekali bibir merah mudanya tersenyum tipis memandangi hasil tarian jemarinya. Topik lukisannya kali ini adalah ‘Mimpi’. Sesuatu yang membuat dunia selalu miliki alasan untuk dihuni. Ini adalah mimpi tentang siapa yang akan menemaninya di masa depan. Seseorang yang nyata dan hidup dalam imajinasinya.
Sosok pria di lukisan itu sangat jauh dari kesan pangeran tampan di negeri dongeng. Yang terlihat adalah seorang pria berambut ikal tidak teratur dengan kepala setengah menunduk. Wajahnya menyiratkan kesedihan yang ditutupi.
Naya sendiri tidak mengerti, mengapa dia begitu mendambakan pria seperti ini dalam hidupnya. Tidak terencana sama sekali. Jemarinya bergerak begitu saja melukiskan seraut wajah itu. Ada perasaan kagum yang membuncah mengamati buah karyanya sendiri. Bukan karena kenarsisan tingkat tinggi akan keahliannya menggoreskan kuas. Namun, tanpa sadar dia menggambarkan seorang pria yang belum pernah ditemui di kehidupan nyata, tetapi lama mendekam dalam angannya. Entahlah. Sulit dimengerti, tetapi Naya bahagia.
“Masih di sini, Nay? Kenapa belum pulang?” Sebuah suara berat namun lembut menarik Naya begitu saja dari khayalannya.
Naya menoleh sebentar, kemudian kembali menatap lukisannya. “Gue baru selesai ngelukis cowok cakep. Jadi betah, deh, di sini. Lu sendiri kenapa belom pulang? Nungguin gue?” tanya gadis riang itu asal.
“Kok lu tau?”
“Lu, sih, nggak tau. Gue, kan, keturunan ke sebelas dari Ki Joko Bodo.”
“Emang menurut lu Ki Joko Bodo setua itu?” Lelaki beralis tebal itu membungkuk memperhatikan lukisan Naya. Dahinya berkerut. “Itu lukisan wajah siapa?”
“Mau tau aja lu,” sahut Naya sambil membereskan perlengkapannya dan menggulung kanvas itu segera.
“Emang nggak boleh? Pacar lu, ya?”
“Cakra! Lu nggak usah memaksa gue untuk mempertegas kejomloan gue sama lu, ya. Kepo banget, sih.”
“Ketus banget, sih,” sahut Cakra menyiku lengan Naya. “Siapa, sih, Nay? Penasaran gue. Kenapa gue yang ganteng gini nggak pernah dapat kesempatan jadi model lukisan lu?”
“Idiiih. Ngapain juga gue ngelukis lu? Yang ada ntar tiap yang ngelihat lukisan wajah lu bakalan kesurupan.” Naya menyandangkan tas hijau tentara bergambar deretan tiga bola ke bahunya dengan asal. Dengan cepat dia membereskan semua peralatan melukisnya dan langsung pergi begitu saja tanpa menghiraukan Cakra yang masih memandang penasaran lukisan Naya.
“Eh, eh, eh. Nggak sopan banget lu, ya. Gue ke sini nungguin lu. Eh, dianya malah ninggalin. Sial banget gue,” rutuk Cakra sambil berlari mengejar Naya.
“Makanya lu cepetan. Lelet banget, sih, jadi cowok.” Naya malah semakin mempercepat langkahnya. Sebenarnya dia sengaja. Entah kenapa membuat Cakra mengejarnya adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Bukan jahat, sih. Tapi, cowok itu terlalu misterius. Bahkan dia juga tidak pernah berhasil mengetahui di planet mana Cakra tinggal. Jadi, membuat cowok bergigi kelinci itu mengejarnya adalah cara untuk membalas dendam atas ketidaktahuannya.
“Lu yang jalannya kayak iklan sepeda motor. Si gesit irit,” sungut Cakra terengah-engah. Meski dia sudah berhasil menjajari langkah Naya, bukan berarti usahanya berhenti sampai di situ. Tetap saja dia harus berusaha keras untuk mengimbangi langkah cewek berambut gelombang itu agar tidak tertinggal lagi.
“Enak aja lu.” Naya mengeluarkan secarik kertas dari sakunya dan menyodorkan pada Cakra.
“Apaan, nih?” Cakra meneliti kertas itu heran.
“Kertas,” jawab Naya asal.
“Istrinya tikus di rumah gue juga tau ini kertas, Nay. Kertas apaan?”
__ADS_1
“Baca aja.”
Cakra terpaksa berhenti untuk bisa membaca isi kertas itu dengan seksama. Wajahnya berubah semringah. Namun, segera berkerut kembali dan membungkuk lelah menyadari Naya telah jauh di depannya. “Tuh anak, ya. Nggak bisa nunggu sebentar aja apa? Empet gue.”
Alis tebalnya naik, ketika membaca surat berisi pendaftaran nama mereka berdua dalam duet pensi dua minggu lagi. “Ini kesempatan bagus untuk menunjukkan betapa hebatnya gue ke Naya. Gue nggak mau bikin dia nyesel udah milih gue jadi temen duetnya. Enaknya bikin kayak gimana, ya?”
Cakra terlonjak kaget oleh suara intro “Cari Jodoh” yang menggema di sepanjang koridor. “Ngagetin aja lu,” umpatnya pada ponsel yang menjerit dari saku celananya. Seulas senyum kemenangan memnghiasi wajahnya. “Pasti dia mau minta maaf udah ninggalin gue. Nggak apa-apa, kok, Nay. Gue ngerti.”
Cowok hitam manis itu berdehem sebelum mengangkat teleponnya. Berharap suaranya akan berubah jadi semerdu Sammy Simorangkir, apa daya yang keluar justru suara hati seorang kekasih. “Halo.”
“Lu itu emang lelet banget, ya. Sini cepetan. Gue tunggu di gerbang sekolah!” teriak Naya membuat Cakra hampir saja menjatuhkan ponselnya.
“Gila, nih, cewek. Suaranya kenceng banget. Kaleng kerupuk ketimpuk batu aja nggak sekeras ini,” Cakra mengelus-elus telinganya kemudian bergegas menyusul Naya. “Mimpi apa gue semalam, ya? Dia bakalan nungguin. Walaupun gendang telinga gue masih berdenging manja. Nggak apa-apa, deh.”
***
“Lu ada ide untuk pensi kita?” tanya Naya sebelum meneguk softdrink di genggamannya.
“Belum ada, sih. Nanti malam gue pikirin, deh,” jawab Cakra dengan mulut penuh dengan roti isi kacang hijau.
“Percuma, deh, gue sogok lu pake roti. Nggak bisa mikir juga.” Naya memencet hidung Cakra hingga pria itu terbatuk-batuk.
“Lu itu nggak rela banget lihat gue menikmati roti pemberian lu, ya. Segala hidung pake dipencet. Nggak bisa napas gue.” Cakra menyiku lengan kiri Naya setelah terbebas dari serangan batuknya.
“Ide nggak segampang itu bisa muncul dengan tiba-tiba hanya karena sepotong roti. Dalam memunculkan ide itu, butuh suasana tenang, sendu, penuh penghayatan ... ”
“Udah udah. Ngeles aja lu. Pokoknya besok pagi gue tunggu ide dari lu, ya. Sebenarnya gue udah mikirin konsep awalnya, sih. Tapi gue pengin denger ide dari lu dulu. Ntar tinggal kita satuin,” jawab Naya merampas secuil roti yang tersisa dari tangan Cakra kemudian memakannya.
“Lah, yang terakhir itu, Nay. Udah gue sayang-sayang,” protes Cakra memandangi bibir merah muda Naya yang sibuk mengunyah.
“Salah sendiri. Kenapa punya muka bikin laper?”
“Nasi padang, dong, gue.”
Sepasang muda-mudi yang senantiasa berantem itu akhirnya terdiam sendiri. Lelah dengan tingkah masing-masing. Diam-diam Cakra bersyukur. Seorang Abinaya Buntari mengajaknya ke mari bukanlah hal yang biasa terjadi. Suasana sore hari yang berangin di atap gedung perkantoran ini menentramkan hati Cakra yang awalnya bergemuruh. Namun, keindahan langit menjelang senja belumlah seberapa dibanding eloknya sosok di samping kanannya yang terpukau memandang langit dengan senyuman madunya. Sesekali dia menggelengkan kepala mencoba mengibaskan rambut yang bermain-main nakal di wajahnya.
“Lu kenapa ngelihatin gue? Gue cantik, ya?” tembak Naya langsung. Sebenarnya dia sudah tahu akan perasaan Cakra padanya. Namun, menggoda pria itu adalah kesenangan kedua selain ingin dikejar.
“Iya. Lu cantik banget, Nay. Begitu cantiknya sampai gue lupa bilang kalau lu harusnya cukur kumis,” jawab Cakra sok tenang, padahal jantungnya sudah seperti tabuhan genderang perang saudara tak seibu.
“Rese lo.” Naya menjambak rambut tebal cowok itu dengan geram.
Bukannya kesakitan, Cakra malah pasrah bersandar di bahu Naya mengikuti jambakan gadis itu.
“Kesempatan lu, ya?” Naya segera bangkit, sehingga cowok yang setiap hari selalu bersamanya itu jatuh menyamping.
__ADS_1
“Hahaha,” Naya tertawa renyah. “Rasain lu. Nyuri kesempatan aja.”
“Tega banget lu, Nay. Sakit, nih, bahu gue,” sahut Cakra meringis.
“Lu, sih, pake acara nyinggung kumis gue. Masak iya gue cukur?”
“Lah, elu yang aneh. Cewek, kok, kumisan. Kasihan cowok yang nggak kebagian kumis.”
“Iis Dahlia aja kumisan, makin cantik. Gue juga, dong. Manisnya pol!” Naya menyatukan ibu jari dan telunjuknya membentuk lingkaran.
“Terserah lu, deh, ya. Sekarang yang penting bantuin gue berdiri.” Cakra mengulurkan tangan kanannya mengharap pertolongan. Lebih ke arah manja, sih. Secara tinggal bangun saja, apa susahnya?
Naya yang merasa bersalah akhirnya menurut. Tapi namanya juga lelaki. Begitu Naya menyambut tangan kurus itu, Cakra menarik tangan Naya kuat dan sigap menangkap tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
Tidak seperti sebelumnya. Kali ini Naya hanya diam. Ada secercah kehangatan yang menjalari hatinya. Getaran aneh yang entah apa namanya mulai mengusik rongga dada. Hingga beberapa menit berlalu, mereka masih bertahan dengan posisinya.
“Gue sayang sama lu, Nay.” Lirih bisikan Cakra menembus telinga gadis enam belas tahun itu hingga ditangkap oleh sekeping wadah seluruh rasa bernama hati.
Naya hanya diam tak bersuara. Untuk pertama kalinya dia tidak ingin dikejar lagi oleh Cakra. Rasanya berada dalam pelukan lelaki itu kini lebih diinginkannya dari pada membiarkan cowok penyabar itu terus berada di belakang.
Unconditional ... Unconditionally
Suara Katy Perry itu menarik paksa mereka berdua dari dunia yang nyaris menenggelamkan rasa masing-masing. Naya buru-buru berdiri dan merogoh ponselnya dari saku baju. “Ya, Papa.”
“Ayo turun. Papa udah pulang. Langsung ke mobil Papa di parkiran, ya.”
“Iya, Pa. Naya turun sekarang.”
Cakra memandang Naya penuh harapan baru. Rasanya impiannya selama ini semakin mendekati ruang nyata.
“Pulang, yuk,” ajak Naya gugup. “Jangan minta gue nolongin lu lagi, ya. Bangun sendiri, gih.” Gadis yang mendadak salah tingkah itu berbalik dan setengah berlari meninggalkan Cakra yang masih memandanginya sambil menggelengkan kepala dan tersenyum.
***
Di kamar yang didominasi oleh warna kuning terang itu, Naya tengah merutuki dirinya sendiri. “Kenapa juga tadi gue diam aja di pelukan Cakra, ya? Tu anak punya ilmu hipnotis kali, ya?”
Gadis berkulit putih itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan gemas, hingga rambut tebalnya kusut nyaris menutupi wajah. “Nggak. Gue nggak boleh jadi lembek sama dia. Susah payah gue nyiptain image cewek jual mahal. Masak dipeluk gratisan, sih? Awas aja lu besok di sekolah, ya, Cungkring.” Naya menabrakkan tinjunya ke talapak tangan kiri seakan ada wajah Cakra terjepit di antaranya.
***
Cakra sibuk menyetel kunci gitarnya agar harmoni dengan suaranya seraknya yang unik. Secarik kertas berisi deretan kunci gitar di hadapannya perlahan bergerak membentuk sebayang wajah oval yang tersenyum ceria. Niat hati ingin mengkonsep penampilan duet mereka, yang ada malah wajah gadis manis itu terus mengganggu konsentrasi.
“Lu sendiri, kan, Nay, yang maksa gue buat nyari ide untuk duet kita. Lah, malah lu-nya sendiri yang ngerecokin. Hadeh. Gue harus fokus. Masa depan gue dengan Naya ada di tangan gue malam ini. Naya bakalan batal tampil kalau gue nggak selesaikan malam ini. Tu anak, kan, moody-an”
Dengan gaya bak seorang pengusaha besar, Cakra memegang dagunya dengan pena terselip di jemari. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Memikirkan ide atau malah Naya? Yang jelas kebengongan itu berlanjut hingga larut dan dia pun tertidur dengan posisi masih terduduk, tapi tubuhnya malah ambruk ke kasur. Alhasil, malam ini dia bermimpi menjadi seorang pemain sirkus.
__ADS_1