
“KENAPA lu?” Naya yang sejak dari rumah sudah merencanakan pembalasan dendam, urung melancarkan aksinya. Padahal sedari tadi dia sudah berdiri di depan kelas menunggu kedatangan Cakra.
“Nggak penting,” jawab Cakra berjalan terbungkuk sambil memegangi pinggangnya.
“Lu, kok, mendadak tua? Encok lu kambuh?” tanya Naya asal meski wajahnya menunjukkan rasa khawatir.
“Enak aja lu. Masih bisa lu, ya, ngeledek gue di saat seperti ini.”
“Ya, makanya lu jelasin kenapa?”
“Salah tidur gue,” jawab Cakra akhirnya.
“Hahaha. Tidur aja bisa salah. Nggak belajar cara tidur yang baik dan benar, sih, lu.” Naya memperhatikan pinggang sahabatnya itu dengan seksama seakan sebuah benda langka yang baru pertama kali dilihatnya.
“Dasar lu! Bantuin,kek!” Cowok berbibir tebal itu mengulurkan tangannya.
Plak! Bukanya mengindahkan, Naya malah menampar Cakra dengan keras.
“Kok lu nampar gue, sih?” tanya Cakra terkejut, refleks dia berdiri tegak. Rasa nyeri di pinggangnya mendadak hilang.
“Rasain! Lu mau coba-coba bohongin gue kayak kemarin? Berlagak minta ditolongin tapi nyuri kesempatan?” semprot Naya dengan leher mendongak.
__ADS_1
Cakra menunduk. Tidak berani menatap mata gadis pujaannya itu.
“Nggak lagi-lagi, ya. Awas aja lu!” Naya merengut. Namun, itu justru membuatnya semakin cantik. “Tadinya gue udah mau ngasih pelajaran ke cowok mesum kayak lu. Tapi, berhubung lu udah dapet pelajaran duluan dengan sendirinya, gue berbaik hati untuk nggak nambahin, deh.”
“Enak aja lu bilang gue cowok mesum,” protes Cakra tidak terima. Wajahnya merah padam. Bukan karena marah, tapi malu. Malu untuk mengakui alasan dia menarik Naya sore itu. Dia juga tidak tahu keberanian dari mana yang berhasil merasukinya. Tidak ada niatan sedikit pun untuk membuat Naya merasa tidak enak. Kejadian itu terjadi begitu saja, tanpa mampu dia cegah.
“Lu nggak terima? Apa menurut lu dengan pengakuan sayang lu ke gue itu bisa jadi tiket buat lu meluk-meluk gue seenaknya? Kecewa gue sama lu.” Naya semakin meninggikan suaranya. Hatinya terlalu malu untuk mengakui jika kejadian kemarin sangat sukar untuk dilupakannya. Egonya mengatakan tidak ingin mengiyakan seluruh perjuangan Cakra telah sampai di ujung keberhasilan meluluhlantakkan perasaannya. Semua ini begitu sulit dia terima dengan lapang dada. Menyerah pada perasaan bukanlah cirinya.
“Nay, gue minta maaf atas kelancangan gue kemarin. Gue sama sekali nggak bermaksud buat ngerendahin lu atau cari kesempatan. Itu semua gue lakukan karena dorongan perasaan gue yang begitu kuat ke lu. Ada bagian dari hati gue yang ingin menunjukkan rasa sayang gue ke lu. Jujur, gue nggak ada niatan sama sekali untuk berlaku macam-macam. Percaya sama gue, Nay.” Cakra memegang bahu Naya hingga tubuh gadis itu menghadap langsung kepadanya.
Naya terdiam menatap mata Cakra. Rasa marahnya tadi perlahan memudar. Yang tertinggal hanya degup yang semakin mengencang. Entah Cakra sadar atau tidak, sepertinya memang lelaki itu sudah menempati posisi penting dalam hatinya. “Lu udah dapat ide buat pensi kita, kan?” tanya Naya mengalihkan pembicaraan. Matanya mengerjap berulang kali, kemudian berpaling ke samping kanan, menghindari tatapan Cakra.
Cakra mengembuskan napas pasrah. Mungkin Naya butuh waktu. Setidaknya emosi Naya sudah kembali normal. “Udah,” jawab Cakra singkat sembari mengangguk. Dia lalu melepaskan bahu Naya pasca geliat tubuh mungil itu.
“Ah, manja banget, sih, lu,” ejek Naya kemudian mendudukkan Cakra di sampingnya.
“Gimana konsepnya?” tanya gadis itu bersemangat.
Cakra malah merasa itu hanyalah semangat yang sengaja dibuat-buat Naya untuk mengalihkan pembicaraan mereka tadi. Mana mungkin dia bisa lupa begitu aja? Dasar cewek gengsian!
“Lu percayakan sama gue? Pasti keren, deh, kita nanti. Bentar, ya.” Cakra membuka tas abu-abu dengan bagian depan hitam itu tergesa-gesa. Setelah beberapa menit mengubek-ubek isi tasnya, kertas yang lebih mirip bekas bungkus ikan asin itu ketemu juga. Dengan bangga dia menunjukkannya pada Naya.
__ADS_1
“Apaan, nih?” Naya memandang kertas kumal itu dengan heran bercampur geli. “Lu mau presentasiin konsep, atau mau nyuruh gue daur ulang kertas bekas?”
“Baca dulu kenapa, sih? Banyak protes banget lu.”
Dengan enggan Naya menerima kertasnya dan meneliti tulisan abstrak itu. Keningnya berkerut. “Bisa nggak lu bacain buat gue?” Gadis berhidung pesek itu menyodorkan kembali kertas yang secara kasat mata, kucelnya mirip dengan yang punya.
“Nggak. Memang cuma gue yang perlu baca. Lu mana bisa main gitar. Nggak perlu dibacain kunci gitar segala,” jawab Cakra merampas kertas itu dari pegangan Naya.
“Jadi ngapain lu kasih ke gue?” serang Naya sewot. “Minta dibasmi lu, ya? Lagian itu deretan kunci gitar? Gue kira bangkai nyamuk yang lu air kerasin.”
“Imajinasi lu tinggi banget. Dasar gadis pengkhayal!” ejek Cakra tepat di wajah Naya. Rasa kesalnya masih ada. Sebenarnya tidak seharusnya juga dia bersikap seperti itu. Toh, cinta juga tidak bisa dipaksakan. Kalau pun mencari yang salah, pelukan tiba-tiba dia kemarin sore lebih harus membuat Naya marah dibanding dirinya.
“Terserah lu, deh.” Naya menggeleng lelah. “Sekarang lu kasih tau aja konsepnya gimana.”
“Oke.” Cakra berdehem kecil. Seperti seorang pebisnis yang ingin mempresentasikan ide cemerlang. “Jadi, gue pikir daripada lu nyanyi, mending lu ngelukis aja di pentas. Kan, kita sama-sama tau, ya. Suara lu itu pas-pasan banget. Nada tinggi dikit aja udah kecekik, tuh. Kayak kucing keinjek ekornya.“
“Oke. Oke. Nggak usah dipertegas. Lanjut ke inti,” potong Naya kesal. Kalau saja dia tidak memikirkan pinggang Cakra masih nyeri, ingin dijitaknya saja anak itu.
“Ya lu ngelukis, gue ngiringin lu pake gitar sambil nyanyi.”
Naya manggut-manggut. “Boleh juga, sih, ide lu. Gue setuju.”
__ADS_1
“Nah, ide lu gimana?”
Naya tersenyum penuh arti. “Gue kasih tau besok waktu kita latihan.”