
Elang berdiri di depan gerbang rumah mewah bercat putih dipadukan dengan warna krem di bagian depannya. Bangunan tingkat dua dengan gaya minimalis namun tetap terkesan megah itu memiliki halaman yang tidak terlalu luas. Di bagian samping kanannya terdapat ruang kosong yang dipergunakan sebagai garasi. Berjejer dua buah mobil. Sebuah mobil sport merah dan satu lagi tak terlihat karena ditutupi tenda kelabu dari plastik.
“Bagusnya!” puji Dika menggeleng-gelengkan kepala kagum.
“Nggak usah norak kamu,” ejek Elang meskipun dia juga merasakan kekaguman yang sama. Dia tidak menyangka, Fahrani yang bergaya sederhana dan friendly ternyata anak orang berada.
“Ternyata bebeb aku anak orang kaya, toh. Nggak salah pilih, dong, aku.”
“Bebeb? Ngaku-ngaku kamu. Nggak malu? Lagian matre amat, sih. Milih cewek, kok, karena anak orang kaya. Seharusnya kamu yang kaya, jadi cewek-cewek nggak bakalan minggat dari kamu.” Elang menoyor kepala Dika hingga cowok itu susah payah menyeimbangkan badannya lagi.
“Fahrani! Fahrani!” panggil Dika dengan keras. Mulutnya masuk melalui celah-celah gerbang. Maksudnya agar bisa terdengar sampai ke dalam rumah.
“Kampungan, kamu. Rumah kayak gini itu zamannya pakai bel. Memangnya di kampung kita?”
“Bilang, dong, dari tadi. Nggak capek aku. Lagian kenapa coba nggak pencet dari tadi aja?” tanya Dika heran bercampur kesal. Dia berharap semoga Fahrani tidak mendengar panggilannya.
“Aku masih ragu, Dik. Apa kita pulang lagi aja, ya? Nggak enak aku.”
“Eh, aku memang nggak pintar, tapi aku juga nggak sebodoh sampean itu. Udah sampai ke sini malah mau pulang lagi. Kurang kerjaan aja, nih?” protes Dika gereget hingga wajahnya lebih mirip Hulk daripada manusia.
“Yaudah, deh. Kita coba aja, ya.”
“jangan lupa baca Bismillah, Lang. Siapa tau rumahnya banyak penunggunya.”
“Sembarangan kamu. Jangan asal ngomong. Nanti yang punya rumah dengar gimana?”
“Ya, nggak mungkin dengar, orang belum ada yang keluar. Lagian halamannya luas gini, Lang.”
“Nah, itu tau. Jadi tadi kenapa kamu berlagak manggil? Memang mereka bisa dengar?”
“Udah, pencet, deh, cepat!”
“Kamu yang pencet, deh,” pinta Elang setelah telunjuknya berjarak satu inci lagi dari bel, tapi ditariknya kembali.
“Kok saya? Kan, sampean yang ada perlu.”
“Kan, kamu yang suka sama dia,” balas Elang kesal.
Dika menarik tangan Elang dan mengarahkan telunjuknya memencet bel hingga tiga kali.
“Sembarangan kamu ini,” Elang menarik paksa tangannya. “Aduh, kalau orangnya keluar harus gimana, ya?”
“Ternyata sampean itu jago kandang, ya. Kelihatannya saja sangar. Begitu dihadapkan dengan situasi seperti ini langsung mengkeret.”
“Siapa bilang? Lihat saja. Aku berani ... ” Elang menghentikan kalimatnya ketika melihat seorang wanita kira-kira umur di atas tiga puluh lima tahun itu keluar dari dari dalam rumah. Tubuhnya agak gemuk, mengenakan kebaya polos tanpa brokat dengan rambut disanggul rapi. Wajahnya putih bersih dan penuh kelembutan. Terlihat berdiri anggun dengan pandangan mata penuh keheranan.
__ADS_1
“Selamat siang, Bu,” sapa Elang sedikit menunduk.
“Ya. Selamat siang. Adik-adik ini siapa, ya?” tanya wanita itu kemudian berjalan mendekati gerbang.
“Kami ini temannya Fahrani, Bu. Kemarin udah janjian mau kemari.”
“Janjian?” Dahi licin wanita itu berkerut. Kedua alis yang dilukis dengan pensil alis itu nyaris bersatu.
“Iya, Bu. Saya kemarin janji mau pinjamkan novel-novel saya ke Fahrani. Katanya dia suka baca novel. Maaf, Ibu ini ibu kandungnya Fahrani, ya?” Elang menyesal mengeluarkan kata-kata itu. Dia takut dikira lancang. Tapi, mau bagaimana lagi? Kelepasan. Lagipula wajah ibu ini tidak ada mirip-miripnya dengan Fahrani. Jawa sekali. Padahal cewek itu kan oriental.
“Ya. Saya ibunya. Tapi, Fahraninya belum pulang. Sebentar lagi mungkin. Ayo, silakan masuk,” tawar wanita itu kemudian menggeser gerbangnya agar terbuka.
Elang dan Dika masuk setelah mendapat anggukan kepala tanda setuju dari wanita itu. Keduanya lalu memilih mengisi dua kursi anyaman rotan yang kosong di teras rumah.
“Loh, kok malah duduk di situ?” Ibu Fahrani menatap dua anak muda aneh ini heran. Kelakuannya tidak sebanding dengan penampilan. Terlihatnya saja nakal dan tidak tahu sopan santun. Ternyata malah polos bin lugu. Yang satu berblangkon, satunya lagi seperti tidak mandi satu tahun.
“Nggak apa-apa, Bu. Kami di sini saja. Adem,” jawab Dika. Ini pertama kalinya dia berani bicara, karena sepertinya ibu ini orangnya tidak suka marah. Paling tidak, jauh berbedalah dengan Miss Rahayu.
“Ayo, tunggu di dalam saja. Di luar panas. Pasti kalian haus, toh? Biar saya bikinkan minum.”
“Yaudah deh, Bu,” jawab Elang sok segan. Padahal dalam hatinya senang bukan kepalang. Tenggorokannya sudah minta dibasahi sejak tadi.
“Panggil Bude saja. Biar nggak canggung. Bude Ningsih. Ayo, masuk! Jangan malu-malu,”
Kedua sahabat itu segera berdiri dan mengikuti Bude Ningsih masuk. Lagi-lagi mata mereka dibuat kagum dengan interior rumah mewah ini. Sofa dan meja serba putih yang ditata rapi. Sebuah vas kaca bening berbentuk angsa berisi bunga plastik merah ditaruh di atas meja. Siapa pun yang memandangnya akan langsung segar kembali.
“Baik, Bude.”
Elang duduk di sofa panjang dekat jendela, diikuti Dika yang memilih duduk di sampingnya. Diambilnya bantal kecil berwarna putih, dan meletakkannya di atas paha.
“Kayak cewek kamu ini,” protes Elang heran. “Lagian kenapa harus duduk di sini, sih? Sanaan dikit, kek. Masih kosong gitu.” Elang mendorong tubuh Dika menyingkir.
“Sampean ini, kok, ya. Nggak ngerti temannya lagi canggung ketemu calon mertua. Mbok, ya, maklum saja.”
“Sebaik-baiknya Ibu itu, ogah juga punya menantu kayak kamu.”
“Sembarangan, Sampean. Bilang aja iri.”
Elang menyiku pinggang Dika ketika Bude Ningsih kembali datang dengan nampan berisi dua gelas sirup berwarna hijau dan sepiring penuh kentang goreng. “Ayo, silakan diminum. Seadanya saja, ya. Maklum, asisten rumah tangga kami sedang cuti beberapa hari. Pulang kampung katanya, jadi Bude harus kerjain sendiri. Nggak sempat bikin yang lain.”
“Oh, nggak apa-apa, Bude. Ini juga udah lebih dari cukup, kok. Maaf, ya, Bude. Kami udah merepotkan,” jawab Elang basa-basi. Matanya melirik gelas sirup yang berembun. Es batu segi empat kecil yang mengapung, seakan melambaikan tangan pada Elang meminta segera ditenggak.
“Oh, nggak, kok. Nggak merepotkan. Saya senang Fahrani punya teman. Dia itu orangnya tertutup. Susah untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya. Ayo, dienakkan saja. Bude tinggal ke dalam dulu, ya. Sebentar lagi Rani pulang.”
“Iya, Bude, Makasih banyak,” ucap Dika dengan senyum termanis yang dia punya.
__ADS_1
Setelah Bude Ningsih masuk, mereka langsung mengambil segelas sirup masing-masing. Haus ini sudah menyerang sedari tadi. Untung saja ibunya Fahrani ini orangnya pengertian. Kalau tidak, bisa mati kehausan mereka.
“Assalamu’alaikum.” Sebuah suara lembut menyentuh telinga mereka yang sudah kembali kesadarannya.
“Eh, Rani udah pulang,” sapa Dika segera menaruh kembali kentang goreng yang hampir dimasukkan ke dalam mulutnya itu dengan senyuman genitnya yang men-jijay-kan.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Elang juga tersenyum. Namun, dia tidak perlu berusaha tampil manis di depan Rani. Tanpa melakukan apa pun, cewek itu sudah kepincut duluan di pertemuan pertama. Ditambah lagi mereka memiliki idola yang sama.
“Wah, kalian datang hari ini? Kok, nggak kabarin aku?” tanya Fahrani. Wajahnya yang tadi kusut, sekarang berubah ceria. Mata sipitnya berbinar. Tawa lepas itu membuatnya sangat cantik. Gigi putih yang teratur semakin memperindah senyumnya.
“Namanya juga surprise. Masak bilang-bilang, sih?,” jawab Dika sebelum Elang berhasil menjawab.
Elang menoleh sambil menggeleng-geleng pelan. Dalam hati dia menyesal, kenapa anak aneh satu ini diizinkannya ikut. Diam-diam dia bertekad untuk sembunyi-sembunyi saja pada kunjungan ke rumah Rani selanjutnya.
“Kalian udah makan?”
“Udah, kok. Sebelum kemari tadi, kami udah makan siang dulu di kantin sekolah. Lagian Ibu kamu udah nyiapin ini, kok. Baik sekali, seperti anaknya,” jawab Elang bersungguh-sungguh. Dia tidak sadar, perkataan sederhananya itu sudah menyentuh hati terdalam gadis berkulit putih itu. “Kamu kalau mau makan. Makan dulu aja. Kami masih punya banyak waktu, kok.”
“Aku juga udah makan tadi. Tenang aja. Yaudah aku ganti baju dulu, ya.” Fahrani beranjak dari tempat duduknya dan segera berlari masuk ke kamarnya tanpa menunggu jawaban dari teman-teman barunya itu.
“Gadis yang bersemangat,” gumam Dika menggeleng takjub. “Pasti kehadiran saya sudah dinantikannya sejak kemarin, makanya ketika saya datang, dia sangat senang dan bersemangat.”
“Kamu kalau PD itu jangan ketinggian. Kalau di luar ekspektasi, jatuhnya sakit.”
“Bilang aja sampean iri.”
“Terserah, deh. Capek ngomong sama kamu.”
“Hai. Maaf lama,” Fahrani sudah ada di depan mereka lagi dengan kaus oblong hijau dan celana jeans biru di atas lutut. Di kedua tangannya sudah ada beberapa novel koleksinya.
Dika melongo melihatnya. Sepertinya Fahrani memang dilahirkan cantik memakai baju apa pun.
“Nggak lama, kok. Oh, ya. Ini kolesi novelku.” Elang segera membuka retsleting tasnya dan mulai mengeluarkan seluruh koleksi novel yang dia bawa. Rata-rata Teenlit. Ada milik Luna Torashyngu, Dian Nuranindya, Lexie Xu, dan lain-lain. “Sebenarnya masih ada lagi di rumah. Tapi kalau aku bawa ke sini, nggak ada alasan untuk main ke rumah kamu lagi, dong.”
Fahrani tersenyum malu dan menunduk. “Kamu bisa aja. Boleh, kok, kamu main ke sini kapan aja. Nggak harus bawa novel juga.”
“Beneran?” tanya Dika bersemangat.
Fahrani diam saja. Seandainya saja Dika tidak ada di situ, pasti dia sudah bisa lebih leluasa mengobrolkan apa saja dengan Elang tanpa ada yang mengganggu dan sering memotong pembicaraan tidak jelas.
“Ayo, kamu pilih saja mau yang mana. Jatahnya dua buku sekali barter, ya. Gimana?” usul Elang.
“Boleh. Kamu sukanya Teenlit yang genre thriller, ya?” tanya Rani meneliti satu per satu novel milik Elang. Walaupun cowok ini terlihat berantakan namun novel-novelnya tidak ada yang rusak sama sekali. Walau tidak disampul plastik seperti miliknya, tetapi tidak ada bekas koyakan. Hanya sedikit noda menguning yang tidak terlalu kentara. Mungkin karena memang buku lama.
“Iya.”
__ADS_1
“Kebetulan banget, nih. Punyaku juga banyak yang thriller,”
Mereka berdua kemudian saling mengobrol tentang dunia novel, yang tidak dimengerti Dika sama sekali. Alhasil dia hanya bisa mendengarkan, sembari sesekali nyeletuk asal. Meski lebih sering diabaikan dari pada didengarkan. Sementara Rani selalu memasukkan celah obrolaan aagaar Elang tak lekas pulang. Desiran lembut di dadanya menyadarkan gadis berleher jenjang itu bahwa dia mulai jatuh cinta kepada Elang.