Melukis Bola Matamu

Melukis Bola Matamu
RINDU


__ADS_3

Elang berjalan cepat. Niatnya sedari tadi pagi terhalang Fahrani. Dia tidak bisa menampik jika tawa lepas Fahrani akhir-akhir ini memang mengganggu pikirannya. Namun, masih ada ganjalan antara hatinya dengan Naya. Dia tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Cowok cuek itu kini sudah berlari menuju villa Naya.


Jendela kaca dengan cat kosen cokelat muda terbuka lebar. Seorang gadis dewasa dengan pakaian serba putih membantu Naya yang sedang terapi berjalan. Elang hanya bisa memandang dari jauh.


Kenapa selalu waktunya tidak tepat. Aku harus menyapanya. Huh, Aya kapan kita bisa seperti dulu lagi


“Lebih baik kamu pulang, Elang. Bapak yakin, Biyung dan Rama pasti sedang menunggu di rumah. Ini sudah sore, Nak.” Pakdhe Ismanto mengagetkan Elang.


Elang hanya mengangguk dan berlalu sembari sesekali berpaling ke belakang. Pakdhe Ismanto yang melihatnya merasa kasihan pada cowok itu. Elang menurut dan berlalu pergi dengan enggan.


Sesampai di rumah, Biyung sudah menunggu di halaman. Duduk di bawah pohon rindang sambil melipat kain jemuran.


“Dari mana saja kamu, Le? Senja begini baru pulang. Ramamu dari tadi tanyain terus.”


“Tadi nganterin Fahrani pulang, soalnya dia tadi ke sekolah Elang.”

__ADS_1


“Bukan ke villa?”


“Ke situ juga, tapi cuma sebentar.”


“Ndak tahulah Biyung mau ngomong apa lagi sama kamu, Le. Walau dilarang pun kamu pasti akan ke situ juga. Ya sudah, masuk sana!”


Elang masuk rumah dengan perasaan bercampur aduk. Pikiran yang bercabang-cabang pun membuat tubuhnya lelah. Bagaimana dia harus menghadapi Dika besok? Bagaimana caranya agar Fahrani tidak terlalu berharap padanya? Entah sampai kapan dia harus diam. Semua itu melemahkan hatinya.


Cowok berambut ikal itu baru saja selesai mandi dan makan. Sebuah buku serta pulpen berkawat hitam sekarang menemaninya. Ia menuliskan beberapa kata yang tidak beraturan.


***


Banyak anggapan tentang rindu. Dari yang manis hingga pahit. Sebagian orang akan senang bila merasakan rindu dan selalu ada penawarnya bila dapat bertatap muka. Sebagian orang akan menganggap rindu itu sebagai bencana dalam hatinya. Menyesakkan dada hanya karena memikirkan orang yang ada di hati. Apalagi, orang tersebut tidak mampu untuk ditemui


Naya kini sedang merindu begitu dalam. Padahal, baru sepekan dia tidak bertemu Cakra, tetapi rasa rindu itu bak air hujan yang terus tumpah ke bumi dan meluap menjadi air bah.

__ADS_1


“Rasanya gue pengin tinggal di Jakarta lagi. Dengan begitu, bisa selalu bisa melihatmu, Cak.” Naya tidak sadar perkataannya didengar oleh sang Mama.


“Mau balik ke Jakarta? Baru juga seminggu, udah kangen kayak gitu anak Mama.”


Naya tersenyum mendengar suara mamanya. “Mama ngagetin aja,” ucapnya. “Bosan jugalah, Ma. Coba kalau ada Cakra di sini, pastinya seru.


“Cakra kan, mau ujian naik kelas. Dan, dia nggak mungkin selalu ke sini pulang-pergi begitu. Kan, butuh biaya juga, Nay.”


“Iya, Ma. Naya tahu. Tapi Naya rindu sama Cakra.” Naya mengatkan rambut ke telinganya.


“Nanti libur sekolah pasti dia ke sini lagi.”


“Naya rindu pingin nyanyi bareng Cakra lagi, Ma. Pingin ngelukis Cakra lagi. Terus kangen juga lihat Cakra yang suka makan bakso dan nggak pernah ketinggalan lima sendok sambalnya. Kayak cewek, kan, Ma?”


Bu Dian hanya tersenyum. Naya mencoba untuk ceria walau kesedihan di hatinya mssih menguasai. Sikap Cakra yang aneh masih menghadirkan tanda tanya besar di kepala Naya. Ah, kamu tidak hanya membuatku rindu, Cak.

__ADS_1


__ADS_2