Melukis Bola Matamu

Melukis Bola Matamu
KUNCI HATI


__ADS_3

SIANG ini adalah hari pertama Naya dan Cakra latihan untuk persiapan pensi. Mereka memilih berlatih di rumah Naya. Dengan pertimbangan, rumah Naya selalu sepi saat siang hari. Papa Naya di kantor dan mamanya juga bekerja sebagai dosen yang mengharuskannya pulang hingga petang. Di rumah hanya ada Bi Rahmi, asisten rumah tangga keluarga mereka. Keadaan Naya yang merupakan anak satu-satunya, menyebabkan dia sering merasa kesepian di rumah dan lebih memilih untuk pulang dari sekolah hingga sore tiba. Jika tidak melukis di ruangan seni rupa, maka dia akan menghabiskan waktu dengan Cakra. Orang yang selalu ada untuknya.


“Jadi, lu mainin intro-nya dulu gitu, ya?” tanya Naya memastikan.


“Yups. Nah, terus nanti lu keluar, agak drama dikit dululah. Akting sedih atau apa gitu. Baru, deh lu mulai ngelukis.”


“Gue ngelukis apaan, ya?”


“Ngelukis gue, dong.”


“Males banget.”


“Ini gue, kan, nyanyiinnya lagu romantis. Masak iya lu ngegambar kartun?”


“Yah, tapi nggak ngelukis lu juga keles,” jawab Naya merajuk.


“Aduh. Kita itu tampil di depan para siswa-siswi umur belasan tahun. Apalagi yang menarik selain cinta? Gue yakin, ntar kita bakalan terpilih sebagai penampil duet terbaik. Nggak ada pasti yang nyatuin akustik dengan seni lukis.”


“Yakin lu?”


“Seratus persen, Nay. Percaya sama gue. Ditambah lagi, gue, kan, ganteng. Pasti semua bakalan terpukau, deh.”


“Narsis banget lu? Kayak gini ganteng, gimana jeleknya?” Naya memajukan bibir bawahnya mencibir.


“Kita buktikan aja nanti. Cakra Wicaksana itu selalu memberikan bukti, bukan janji.”


“Iklan pencerah wajah, dong, lu,” ejek Naya. Dalam hatinya kembali teringat saat-saat Cakra memeluknya. Dia sadar selama ini cowok misterius ini tidak pernah mengiming-iminginya janji apa pun. Tetapi Naya tetap merasa diperhatikan dan dicintai. Sungguh dia bisa merasa kasih sayang tulus itu. Mungkin memang Cakra itu tipe cowok yang lebih suka menunjukkan dengan perbuatan bukan perkataan. Sialnya, itu semua justru membuatnya merasa nyaman. Nyaman berada di samping Cakra. Nyaman menjadi cewek yang dianggap penting. Bahkan, nyaman saat tubuhnya terbenam dalam pelukan Cakra yang hangat.


“Hahaha. Daripada iklan pembalut wanita? Nggak laku ntar.”


“Jangan pembalut, tapi popok dewasa. Muka lu, kan, tua. Pasti laku keras itu.”


“Dasar, Cewek remeng!” umpat Cakra kemudian mengacak-acak rambut Naya gemas.


“Apaan, sih? Rusak rambut gue. Jelek,” sahut Naya menjauh. “Yaudah mainin intro-nya sekarang, deh. Gue pengin denger. Gue nggak mau permainan gitar lu malah bikin sia-sia lukisan gue yang indah tak terbantahkan.” Naya mengalihkan suasana yang nyaris membuatnya baper lagi.


“Weits. Kalau masalah itu lu tenang aja. Gue ahli dalam bidangnya. Begitu petikan pertama, semua orang pasti akan terpukau dan lupa ngelihat lukisan lu.”


“Ya, jelas aja nggak dilihat orang waktu petikan pertama, lah gue belum ngelukis. Weee.” Naya menjulurkan lidahnya.


“Iya juga, sih, ya? Ah, pokoknya lu lihat aja ntar. Gue praktekin. Pasti dalam beberapa menit lu langsung terlena dengan permainan gitar gue.”


“Pede banget, sih, lu?”

__ADS_1


“Kalau nggak pede kita nggak bakalan bisa mentas. Demam panggung. Udah, deh. Daripada lu penasaran, mending dengerin aja ntar. Tapi sebelumnya, gue tagih janji lu kemarin.” Cakra mengarahkan dagunya ke Naya menantang.


“Janji apaan?” tanya Naya mengerutkan kening. “Kayaknya gue nggak pernah janjiin apa-apa ke lu.”


“Nah, itu dia. Berlagak lupa. Lu, kan, janji mau kasih tau ide lu waktu kita mulai latihan. Atau jangan–jangan lu belom nyiapin ide, ya?”


“Udah, dong. Nggak gue banget kalau belom.”


“Mana?”


“Jadi gini, Cak. Sebenarnya, nggak sembarang orang yang bakalan gue perlihatkan kebolehan gue ini.”


“Sok banget lu. Emang lu punya bakat?”


“Punya.”


“Apa?”


“Ngelukis.”


“Kalau itu gue udah tau. Yang lain, dong. Palingan bakat lu jalan cepet doang,” ejek Cakra.


“Makanya lu dengerin gue dulu, Cungkring. Main potong aja. Emang gue kue ulang tahun?”


“Oke, oke. Lanjutkan presentasenya, Bu. Nanti tinggal saya nilai kelayakannya,” ujar Cakra mengulurkan telapak tangan kanannya mempersilakan.


“Ha? Aduh mending jangan, deh, Nay. Lu bakalan mengusir seluruh peserta pensi ntar. Kagak tahan mereka denger suara lu.”


“Nyebelin banget, sih, lu.” Naya menjewer telinga kiri Cakra geram.


“Aduh, aduh. Lu kira kuping gue karet gelang? Pake ditarik-tarik seenaknya.” Cakra mengelus-elus telinganya yang memerah. Ternyata jeweran Naya keras juga.


“Makanya lu berhenti jadi cowok nyebelin. Emang suara gue sesumbang itu? Sampe semua pada kabur? Yang ada semua bakalan terpesona dan terhanyut dengan merdunya suara gue,” jawab Naya membela diri. “Jangan protes! Giliran gue yang narsis sekarang.” Naya mengacungkan telunjuknya tepat ke depan wajah Cakra ketika melihat cowok itu ingin membuka mulutnya menyanggah.


“Siapa yang mau protes? Emang lu? Tukang protes! Gue cuma heran aja, gimana cara lu nanti bisa nyanyi sambil ngelukis? Fokus lu terganggu, dong.”


“Ya, itu gunanya kita latihan, ‘kan? Anak-anak udah pada tau keahlian gue dalam ngelukis, gue pingin nunjukin sesuatu yang beda di pensi nanti. Kali aja ada anak kelas tiga yang naksir gue nanti.”


“Ganjen lu! Mana ada yang mau sama cewek tukang jewer kayak lu.”


“Yeee. Kok lu yang sewot, sih? Namanya juga usaha,” pancing Naya. Dia tersenyum tipis ketika melihat raut muka Cakra mulai berubah kecut.


“Siapa yang sewot? Gue cuma nggak mau, ntar penampilan kita jadi terganggu hanya karena lu susah ngebagi fokus antara ngelukis degan menyanyi.”

__ADS_1


“Yang bilang gue nyanyi dengan ngelukis dalam waktu bersamaan itu siapa? Ya kita bikin, dong, konsepnya dengan apik. Gimana caranya, satu lagu yang kita nyanyikan bisa diingat oleh penonton.”


“Mmmh. Boleh juga, sih, kalau gitu. Biar lebih romantis gitu. Kali aja berlanjut ke kehidupan nyata.” Cakra menggerakkan alisnya naik turun berulang kali.


“Nggak usah mimpi di siang bolong, deh,” sambar Naya cepat. Lagi-lagi dia menolak untuk baper lebih lanjut.


“Ini udah menjelang sore kali, Nay. Nggak bolong lagi siangnya,” sergah Cakra membela diri. Lebih tepatnya tetap berusaha memancing respons Naya. Betapa susahnya untuk menyerah jika berhadapan dengan cewek multitalenta ini.


“Bisa banget lu, ya. Udah mainin intro-nya sekarang.”


“Oke, Cantik. Tapi lu harus menghayati, ya. Biar kena ke hati gue,” ucap Cakra mengambil gitar yang tergeletak di sampingnya tanpa melihat lagi wajah Naya yang memerah.


Cakra mulai memetik gitar cokelatnya. Benar saja, apa yang dia katakan tadi. Belum ada semenit, Naya sudah berhasil dilayangkan ke alam perasaan. Begitu menghayatinya, cowok pecinta musik akustik itu tidak menyadari jika Naya sedari tadi memperhatikan wajahnya. Matanya menyiratkan kekaguman luar biasa. Bukan saja karena petikan gitarnya yang bersenting indah, tetapi oleh kebaikan dan kejujurannya memaknai perasaan selama ini. Hatinya semakin hanyut tatkala suara merdu itu mulai menunjukkan diri.


Kali ini Naya sudah kalah lagi. Semua keraguannya selama ini telah terpatahkan seiring tiap dentingan yang berkolaborasi harmonis dengan suara lembut Cakra.


Dan kuakui hanyalah dirimu


Yang bisa mengubah segala


Sudut pandang gila


Yang kurasakan


Tentang cinta yang selama ini menutup pintu hatiku


Yang kini telah kaubuka


Tanpa sadar Naya ikut menyanyikan lagu “Kunci Hati” milik Afgan itu dengan tak kalah menghayatinya. Cakra menghentikan nyanyiannya dan terpana memandangi wajah Naya yang terus bernyanyi seakan memang benar dirasakannya.


Cakra memilih lagu ini bukan tanpa alasan. Dia sengaja menetapkan lagu ini tidak lain untuk mengungkapkan seluruh rasa yang membuncah dan nyaris menggelegak keluar. Hanya sakit yang dia rasakan jika rasa yang terlampau kuat itu dia tahan sendiri. Dia ingin membuktikan, apakah Naya memiliki perasaan yang sama dengannya atau tidak. Gadis angkuh itu memiliki gengsi yang lumayan tinggi, apa lagi yang berhubungan dengan perasaan. Sampai kapan pun tidak akan mengakui isi hatinya.


Naya memejamkan matanya, meski lagu mereka telah selesai. Lama dia meresapi semuanya. Tidak peduli bahwa cowok di depannya memandangi sambil tersenyum tulus. Tidak untuk menertawakan kelakuannya, tetapi merasa puas karena sepertinya dia tidak salah memilih lagu. Hati cewek beralis tidak teratur itu mulai sedikit tersentuh.


“Eh maaf, Cak. Gue terbawa perasaan,” ujar Naya ketika tersadar bahwa dia telah asyik dengan dunia penghayatannya sendiri.


“Nggak apa-apa, Nay.” Cakra tersenyum tulus. “Gue yakin lu pasti suka sama lagunya. Makanya gue pilih lagu ini.”


Naya mengangguk kemudian menunduk. Dia tidak ingin Cakra mengetahui jika lagu itu justru semakin memperparah rasa gelisahnya. Sungguh cowok itu tidak boleh tahu, jika Cakra-lah yang telah memiliki kunci hatinya.


“Lu bener, Nay. Suara lu bagus.”


Naya mengangkat kepalanya tidak yakin. Baru kali ini Cakra memujinya. Meski dia tahu betul, cowok yang sekilas mirip Duta Sheila on 7 itu sangat menyayanginya. Namun, memuji seseorang bukanlah tipenya. Dia lebih suka menggoda dengan ejekan ringan daripada memuji.

__ADS_1


“Makasih. Suara lu juga bagus,” balas Naya tersipu.


Cakra tersenyum puas. Meskipun mereka menjadi canggung satu sama lain. Dia yakin, ini tidak akan berlangsung lama. Naya masih butuh waktu untuk membiasakan diri menerima situasi bebeda ini.


__ADS_2