Melukis Bola Matamu

Melukis Bola Matamu
SHORT NAYA AND THIN CAKRA


__ADS_3

Pentas seni yang diselenggarakan dalam rangka perpisahan anak kelas tiga ini berlangsung meriah. Banyak penampilan memukau yang disajikan oleh perwakilan masing-masing kelas. Lagi-lagi Cakra benar. Tidak ada satu penampilan pun yang menggabungkan musik akustik dengan kebolehan melukis.


Sekarang giliran Naya dan Cakra menunjukkan penampilan terbaik mereka. Cakra terlihat tampan dengan kemeja hitam kotak-kotak hitam kecil dipadu dengan celana panjang jeans biru. Sementara Naya mengenakan mini dress hitam tanpa lengan. Namun, tetap memakai cardigan putih sesiku.


Seperti yang sudah mereka musyawarahkan sebelumnya. Cakra tampil lebih dulu dengan siap sedia duduk di sebuah kursi sambil memegang gitar. Di depannya telah diletakkan standing mic untuk memudahkannya bernyanyi.


Intro lagu mulai dimainkan. Semua peserta pensi diam. Mereka tak menyangka, seorang Cakra memiliki suara yang begitu indah. Ditambah lagi dengan kelihaiannya memetik senar gitar, hingga menghasilkan dentingan yang menghanyutkan.


Para penonton menahan napas. Tidak ingin kehilangan momen langka ini barang sedetik pun. Tiba di reffrain lagu, Naya muncul dari belakang panggung menyambung nyanyian Cakra. Lengkap dengan wireless yang terpasang langsung ke arah mulutnya. Kali ini giliran para cowok yang terpukau. Yang mereka tahu selama ini Naya hanya ahli dalam hal memegang kuas. Ternyata di balik sosok mungil itu, tersimpan suara yang begitu merdu. Beberapa siswa banyak yang menghela napas panjang. Mereka menyesal, kenapa baru kali ini mereka menyadari jika Naya adalah sosok nyaris sempurna untuk dijadikan kekasih.


Kemudian Cakra kembali melanjutkan nyanyian Naya. Sembari cowok beralis tebal itu bernyanyi, gadis berambut sebahu itu kemudian membuka tirai putih yang menutupi sebuah kotak persegi panjang dengan perlahan.


Dengan menunjukkan kesedihan mendalam, Naya mengelus permukaan kanvas itu dengan sedih. Diambilnya cat minyak aneka warna yang telah dituang ke dalam wadah ceper yang memiliki banyak lubang kecil.


Naya mencelupkan kuas ke dalam cat minyak berwarna hitam dan mulai melukis. Penonton hanya bisa melihat bagian samping dari lukisan dan tidak bisa tahu apa sebenarnya yang Naya lukis. Namun, mereka dapat merasakan betapa gadis itu ingin mengungkapkan sesuatu melalui goresan tangannya.


Dan kuakui hanyalah dirimu


Yang bisa mengubah segala


Sudut pandang gila


Yang kurasakan


Tentang cinta yang selama ini menutup pintu hatiku

__ADS_1


Yang kini telah kaubuka


Naya kembali menyanyikan bagian reff lagu sambil terus melukis. Dengan pelan tapi pasti, goresan demi goresan tercipta. Membentuk sesosok wajah yang akhir-akhir ini sering menyambangi mimpinya.


Tepat saat lagu berhenti, saat itu juga Naya menyelesaikan lukisannya. Dengan cepat Naya menghadapkan lukisannya ke arah penonton, sebelum Cakra sempat melihat hasilnya. Semua bertepuk tangan riuh. Beberapa bersuit-suit menggoda mereka.


Di antara gemuruh tepuk tangan yang membahana, Cakra melihat ada yang berbeda dengan para penonton. Mereka tersenyum penuh arti dan saling berbisik dengan teman sebelah. Dia lalu melirik ke arah lukisan yang belum sempat dilihatnya tadi. Matanya terbelalak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Memang dia sendiri yang meminta untuk melukis wajah dirinya, tetapi dia tidak menyangka Naya akan setuju. Karena selama latihan, Naya selalu menolak untuk memberitahu. Di samping itu, yang membuatnya ingin melonjak adalah bingkai berbentuk hati yang dilukis dengan cat minyak berwarna merah muda mengelilingi wajahnya. Tidak hanya itu, di bagian bawah lukisan, tertulis beberapa kalimat yang membuat jantungnya nyaris terhenti. I hate to say that I love you. But, I hope you never give up to love me. I will give my heart if you let me.


***


Di atap gedung kantor ayah Naya, Cakra menggenggam jemari Naya erat. Dalam hatinya masih sulit percaya jika gadis yang selama ini dikejarnya akhirnya memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Dalam hati dia berjanji untuk tidak akan menyakiti perasaan cewek yang sangat dicintainya itu.


Naya menyandar ke pundak kanan Cakra dengan mata terpejam. Dia ingin meresapi setiap momen berharga dengan lelaki yang berhasil meruntuhkan keangkuhannya selama ini. Ada yang berbeda memang. Biasanya waktu berdua mereka tidak akan lepas dari tawa terbahak-bahak dan aksi saling ejek. Kali ini mereka sepakat untuk tidak melakukan itu. Hanya untuk hari ini.


“Nay, apa yang membuat lu begitu terbuka dengan perasaan lu ke gue? Bahkan gue sendiri terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaan gue di hadapan semua orang.”


Cakra mengecup kening Naya lembut. Ada kebahagiaan tak terhingga banyaknya memenuhi rongga paru-paru. Harapan yang selama ini dia bangun sendiri, kini tidak akan roboh lagi. Dia hanya berharap agar Tuhan tidak akan memisahkan mereka apa pun yang terjadi. Dia juga berdoa agar Tuhan mencabut nyawanya lebih cepat dari Naya. Semua karena dia tidak sanggup untuk menghadapi kenyataan jika sewaktu-waktu harus kehilangan Naya.


“Lu bener, Nay. Memang cinta yang nguatin kita,” jawab Cakra sembari tangan kiri meraba perut bagian kirinya.


“Ya. Gue mohon lu jangan berubah, ya. Gue nggak tahu harus gimana kalau kehilangan lu. Yang gue tahu, lu sumber kekuatan terbesar yang dihadiahkan Tuhan buat gue.”


“Gue nggak akan ninggalin lu. Kalau pun Tuhan ngambil nyawa gue lebih dulu dari pada lu. Gue nggak akan pergi dari kenangan dan hati lu. Supaya lu bisa tetap kuat dan tangguh.”


“Lu ini apaan, sih? Nggak usah bahas mati, deh. Di saat seperti ini ngomongin mati. Ngerusak suasana aja.” Naya menarik hidung mancung Cakra gemas.

__ADS_1


Cowok berpipi tirus itu hanya tertawa. “Kan, emang setiap manusia pasti mengalaminya, Sayang.


“Iya. Tapi nggak usah dibahas sekarang juga.”


“Oke, oke. Gitu aja ngambek.”


“Gue nggak ngambek. Justru gue bahagia banget hari ini.”


“Nay,”


“Hmm?”


“Kita tau bahwa kita saling menyayangi. Tapi lu nggak mau kita lebih dari ini?”


“Maksud lu?” Naya mengangkat kepalanya agar dapat leluasa memandang wajah lawan bicaranya.


“Maksud gue. Lu mau nggak, jadi pelengkap hidup gue saat ini, besok, dan selamanya?” Cakra menggenggam punggung tangan Naya erat. Ada perasaan lega ketika dia berhasil mengatakan ini. Yang dia tahu, Naya itu seseorang yang mencintai kebebasan. Komitmen akan sangat mengganggunya.


Lama Naya terdiam. Cakra benar. Sebuah komitmen harus mereka jalani untuk menjelaskan status mereka. Meski dia tahu, suatu saat pasti akan ada masa di mana mereka saling melukai. Namun, gadis enam belas tahun ini juga sadar, cinta butuh dibuktikan. Masalah akan selalu hadir kapan pun dan di mana pun selagi insan bernyawa. Tinggal bagaimana manusia menyelesaikan masalah yang datang silih berganti. Naya juga menginginkan, Cakralah orang yang selalu bersamanya menghadapi setiap tantangan hidup. “Ya. Gue mau.”


Cakra langsung menarik tubuh Naya ke dalam pelukannya.


Kali ini Naya tidak akan pura-pura marah lagi. Apa pun yang terjadi ke depannya dia ingin pelukan ini yang akan menenangkannya di masa-masa sulit.


“I love you, My Short Naya.”

__ADS_1


“I love you too, My Thin Cakra.”


Keduanya tertawa bahagia dan saling mempererat pelukan masing-masing.


__ADS_2