Melukis Bola Matamu

Melukis Bola Matamu
Puisi Elang


__ADS_3

Yogyakarta, September 2019


Ribuan senja telah melukis kisah kita


Pada langit jingga tanpa rona


Hampa


Aku tak tahu


Berapa lama lagi waktu akan mengundang temu


Hanya sajak rindu berbingkai sendu

__ADS_1


Kutuliskan dengan asa yang basah


Rindu yang tumpah


Serta hati yang nyaris patah


Mendekatlah, Wanitaku


Bilik Rindu, 2019


Setiap malam, hanya senyum manis itu yang mengusik tidur lelaki berambut ikal ini. Ada semacam perih jika dia mengingat setiap kenangan manis mereka. Bagaimana si gadis kepang dua itu sering diam-diam meletakkan kodok di dalam tas sekolahnya. Cekikikannya yang khas saat melihat wajah pucat Elang masih tergambar jelas dalam ingatan. Membuat cowok berkulit putih itu sering tersenyum sendiri tatkala mengenangnya.


Sosok Elang kecil adalah anak yang nakal dan pemalas, telah luluh oleh seorang anak perempuan bertubuh pendek dengan rok sekolah yang nyaris melewati lutut. Padahal teman-teman yang lain lebih banyak menghindarinya. Terutama anak perempuan. Jika tidak ingin dibuat menangis, lebih baik tidak berdekatan dengannya. Namun, tidak dengan gadis kecil itu. Prilaku cerianya yang centil, justru menghadirkan warna baru untuk Elang. Mereka tumbuh dengan keunikan masing-masing yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. Bahkan, hanya gadis kecil itu yang mengetahui satu-satunya kelemahan Elang, yaitu kodok.

__ADS_1


Mata sipit itu melirik jam dinding berlatar belakang motif papan catur itu sekilas. Dua puluh menit lagi pukul sepuluh malam. Bergegas dia menyambar jaket merah tua kesayangannya dan melangkah cepat ke luar kamar.


Ruang tamu kosong. Sepertinya Romo dan Biyung sedang berada di ruangan sebelah. Terdengar suara mereka bercakap-cakap dari sini. Ini adalah kesempatan baginya untuk keluar rumah tanpa terlihat. Bukan Elang bermaksud untuk sembunyi dari orang tuanya, namun mereka selalu menyalahkan kebiasaan anak lelaki mereka yang tidak ada gunanya. Untuk apa masih mengharapkan seorang gadis yang tidak tahu akan kembali atau tidak. Melalaikan pelajaran hanya karena membuat ratusan puisi dan surat cinta kepada seseorang yang tidak tampak batang hidungnya adalah tindakan bodoh yang nyata.


Dengan hati-hati Elang membuka pintu. Berusaha tidak menimbulkan bunyi sedikit pun. Embusan napas lega terdengar pasca pintu kayu berwarna cokelat muda itu terbuka tanpa suara berderik. Dia hanya membuka sedikit dan menyampingkan badannya agar muat keluar pintu.


Elang berlari secepat kilat setelah menutup pintu kembali. Tujuannya hanya satu. Villa keluarga Gumilar. Tidak ada tempat yang paling sering diawasinya selain tempat itu. Selama bertahun-tahun dia sering mencuri lihat bangunan luas itu tanpa jenuh sedikit pun. Walau yang dilihatnya setiap hari adalah Pakde Ismanto dan istrinya, penjaga villa.


Seperti biasa, Elang meletakkan surat dan puisinya tepat di bagian bawah jendela kamar gadis yang sangat dirindukannya. Jendelanya akan berbatasan langsung dengan bagian samping villa. Mereka dulu sering mengobrol dari situ jika malam tiba. Orangtuanya tidak mengizinkan anak perempuan itu keluar saat hari sudah gelap.


Udara malam yang dingin semakin menggigilkan badan. Tapi Elang masih bertahan di tempat kenangannya. Tawa melengking seperti kuntilanak nonton ketoprak itu terus terngiang.


Terdengar suara klik dari arah pintu depan. Sepertinya Pakde Ismanto sudah waktunya melakukan rutinitas malamnya sebelum beranjak tidur. Berkeliling villa. Elang pun bergegas menyelinap pulang tanpa terlihat. Tentu dia tidak ingin ketahuan berada di situ. Walau pun penjaga villa itu orang yang baik, tetap saja dia tidak ingin menanggung risiko dilaporkan ke orangtuanya.

__ADS_1


Beberapa kali sempat terpikir di hati Elang untuk menanyakan perihal surat-surat yang selalu dia letakkan di bawah jendela kepada Pakde Ismanto. Tapi dia tidak berani. Antara takut dilaporkan dan takut menerima kenyataan jika ternyata Pakde justru telah membuangnya ke tong sampah. Atau malah surat surat tersebut tidak pernah dikutip dan terbang dilayang angin entah ke mana. Remaja yang tengah dimabuk rindu ini pun pasrah pada takdirnya. Selalu ada harapan. Dia percaya, penantiannya selama ini tidak akan sia-sia.


__ADS_2