
Ujian akhir semester telah usai. Sayangnya Cakra tidak mampu untuk mengikuti ujian tersebut. Takdir tidak mampu untuk dielak. Ada rasa menyesal pula di sudut hatinya karena di waktu yang sudah lewat dia selalu mengabaikan penyakitnya dan juga menutupi dari semua orang. Jangankan Naya kekasihnya, keluarganya sendiri pun tidak tahu yang selama ini dis sakit.
Cakra duduk di atas ranjang rumah sakit. Kawan-kawan satu kelasnya sedang datang berkunjung.
“Ini, kami bawakan gitar. Gue yakin saat ini lu ingin memainkannya, Bro.” Ryan tersenyum manis melihat kawannya yang masih saja ceria. “Lu cukup petikkan saja dawainya, kami yang akan menyanyi untuk lu, Bro.”
Anggukkan dari kawan-kawan yang lain membuat Cakra meraih gitar yang diberikan oleh Ryan. Ia mencoba memetik gitar dengan raut wajah yang tidak dapat diterka. Ada bahagia di sana. ada pula kesedihan. Bayangan gadis pujaannya tergambar jelas.
“Kalian mau nyanyi apa?”
“Hmm, Sahabat Kecil punyaknya Ipang?”
“Boleh juga, Yan.” Kawan-kawan yang lain menyetejui. “Gimana, Cak?”
Ujung jari telunjuk Cakra disatukan dengan ujung jempolnya menandakan kata setuju. Dan, dia kembali memainkan gitarnya.
Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi
Tak pernah terlewatkan
Dan tetap menganguminya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa dibeli
Ryan dan beberapa kawannya memulai bernyanyi. Matanya tidak lepas memandangi Cakra yang sedang menghayati setiap petikan dari jemarinya.
Bersamamu kuhabiskan waktu
__ADS_1
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semuanya begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya
Melawan keterbatasan
Walau sedikit kemungkinan
Tak akan menyerah untuk hadapi
Hingga sedih tak mau datang lagi
Tetesan hangat membasahi pipi Cakra. Namun, sebisa mungkin dia tetap tersenyum di depan semuanya. Ryan mencoba tidak menangis di depan Cakra walau sebenarnya hatinya remuk redam.
Bersamamu kuhabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semuanya begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya
Tetaplah seperti ini
Bu Susi ikut menangis. Cakra tidak pernah menampakan kesedihannya pada orang lain. Tak jarang dia bersikap konyol agar orang-orang di sekelilingnya bahagia.
***
Pembedahan tidak jadi dilakukan mengingat kondisi Cakra semakin melemah. Memaksakan oprasi untuk saat ini justru sangat berisiko.
Saat ini Cakra cuma bisa terbaring di rumah sakit. Sudah hampir sebulan berlalu. Libur kenaikan kelas pun sudah mulai dari minggu kemarin. Cowok itu yakin saat ini Naya sedang menunggunnya. Namun, dia tidak mampu berbuat apa-apa. Cakra sempat meminta tolong ibunya untuk menghubungi Pak Yudha, ayah Naya. Sekarang beliau sudah berada di rumah sakit tempat Cakra dirawat. Ada rasa tidak percaya pada diri Pak Yudha saat melihat cowok yang sangat dicintai putrinya.
“Kenapa Nak Cakra menyembunyikan penyakit ini? Kenapa cuma dirasakan sendiri saja? Setidaknya kasih tahu kalau ada yang dirasakan sakit. Apa gunanya keluarga kalau tidak saling berbagi, Nak.”
__ADS_1
“Cakra tidak ingin ... “ Cakra menelan ludah dengan susah payah, kemudian melanjutkan, “ ... menyusahkan orang-orang yang ada di sekeliling Cakra, Om.”
“Tapi tidak sampai seperti ini juga, kan, Cakra?”
Cakra hanya diam memandang ibu dan ayahnya bergantian. “Ada yang mau Cakra omongin sama Ibu, Ayah, dan Om Yudha.”
***
Yogyakarta, Januari 2018
“Ma, Cakra bukannya sekarang lagi libur ya? Kok, nggak kemari jenguk Naya?” tanya Naya dari atas kursi rodanya.
“Sibuk mungkin. Palingan juga besok sudah kemari.”
“Ma, coba telponin Cakra dong. Naya pingin denger suaranya.”
“Ini sudah malam, Nak. Besok saja kita telponnya, ya. Mendingan sekarang Naya tidur, Mama antar ke kamar ya, Nak.”
“Ya.” Naya mengangguk pelan. Namun, hatinya resah. Sesampai di kamar, Naya kembali memikirkan kekasihnya. Sudah hampir sebulan lebih mereka tidak bertemu. Gue nggak tahu lu lagi apa di sana, tapi gue yakin kalau lu pasti ngerasain gelisah yang sama kayak gue. Kenapa lu tega banget, Cak? Uh, Naya kamu mikirin apa, sih.
***
“Ada-ada aja, sih, nih tugas,” keluh Dika kesal. “Biasanya Miss Rahayu yang doyan ngasih tugas bikin mumet. Eh, kenapa Pak Rudi juga ikut-kutan?”
“Salah kita sendiri juga, sih, Dik. Nilai kita jelek banget. Terpaksa, deh,” sahut Elang mengambil lem UHU tak juh darinya.
“Ya nggak buat replika rumah kayu jugaa, Lang. Susah tau,”
“Ya namanya juga pelajaran prakarya. Masak iya suruh buat nasi goreng?” Dika mengarahkan lubang lem ke arah wajahnya heran. “Kok nggak bisa keluar, ya, lemnya?
“Kurang besar lu ngelubanginnya, Lang,” jawab Dika tanpa menghentikan aaktivitasnya mengecat tripleks untuk dinding replika.
“Udah, kok,” jawab Dika sambil memencet lemnya agar keluar. Tiba-tiba lem keras itu muncrat dan mengenai matanya. “Aaaaaa!”
“Sampean kenapa, Lang?”
__ADS_1
“Mataku, Dik! Mataku, Dik!”