
ELANG berdiri dengan malas. Ini adalah aktivitas paling membosankan baginya. Berdiri selama hampir satu jam dengan pandangan lurus ke depan dan badan ditegakkan. Belum lagi jika kedapatan pembina upacara yang hobi pidato berkepanjangan. Padahal dari sekian tahun menjalani upacara, tidak ada satu pun pidato pembina yang dia ingat. Selain lelah dan kesal, tidak ada yang dia dapatkan dari upacara bendera.
Pernah suatu hari dia melakukan aksi yang membuatnya harus menambah aktivitas berdirinya hingga dua jam lebih. Semua itu bermula akibat kemalasannya untuk upacara dan menemukan ide konyol yang dia pikir bisa meloloskannya. Bak seorang aktor profesional, Elang menjatuhkan badannya sendiri ke tanah, berpura-pura pingsan. Refleks teman-temannya menghambur ke arahnya. Beberapa murid laki-laki menggotong tubuh yang tidak terlalu tinggi namun berisi itu ke UKS diikuti oleh seorang guru piket.
Usaha Elang untuk mengelabui guru dan teman-temannya pun terbongkar ketika sudah berada di ruang UKS. Saat badannya dibaringkan ke tempat tidur dan beberapa petugas UKS mengipasinya dan menyiumkan minyak angin ke hidungnya. Saat itulah bersin tidak diundang menghancurkan semua aktingnya yang nyaris mencapai puncaknya. Serta merta guru piket yang masih melihat keadaannya di situ menjewer telinga siswa nakal itu sambil menyeretnya keluar dan dipaksa berdiri tepat semeter di depan tiang bendera dengan sikap hormat.
“Lang, nggak pura-pura pingsan lagi, Sampean?” bisik Mahardika yang berdiri di depannya.
Elang menoyor kepala sahabatnya yang menoleh ke belakang itu agar kembali menghadap ke depan. Memang saat ini mereka berbaris di pertengahan. Baik guru yang berbaris di depan, mau pun berjaga di belakang tidak dapat melihat dengan jelas. “Dasar! Masih waras aku.” Tau aja, nih, anak apa yang kupikirkan.
Bahu Dika terguncang menahan tawa dan terhenti ketika tiba-tiba sebuah cubitan maha nyelekit singgah ke pinggang mereka berdua. Guru piket wanita berkuku panjang yang menghukum Elang waktu itu sudah berdiri di samping kanan mereka. Dengan kelihaian mengagumkan, sanggup mencubit dua insan berbeda warna kulit ini dengan tangan kanan dan kiri sekaligus. Hebatnya tingkat sakitnya sama saja.
***
Ruangan kelas sebelas IPS-3 hening. Semua pandangan tertuju pada sosok guru Bahasa Inggris wanita berkacamata tebal dengan bingkai cokelat besar yang sibuk menerangkan rumus Active and Passive Voice. Umurnya hampir mencapai empat puluh, tapi belum juga menikah hingga sekarang. Mungkin itu yang menyebabkan emosinya sering tidak stabil. Bisa tiba-tiba marah tanpa alasan. Dan yang sering terkena sasaran amukannya adalah dua sahabat sebandel Elang dan Dika. Parahnya lagi, dia adalah guru piket yang tadi pagi mencubit mereka ketika upacara. Entah kenapa sepertinya Elang selalu berhasil memancing amukan si guru killer itu.
Dengan suara serak-serak beceknya yang menggelegar, tanpa memikirkan perasaan para murid yang melongo tanpa mengerti maksud dari yang disampaikannya. Sudah menjadi kebiasaannya sedari dulu untuk menerangkan dengan menggunakan Bahasa Inggris. Setiap saat pula penghapus kayu siap dilayangkan ke siapa saja yang asyik mengobrol atau tidak menjawab apa yang ditanyakannya.
“Sampean ngerti dia ngomong apa?” bisik Dika dengan pandangan tetap mengarah ke depan. Dia takut jika-jika peristiwa menyakitkan saat upacara tadi terulang kembali. Namun, untuk diam saja juga akan membuatnya mengantuk.
“Nggak. Ngomong apa, sih? Aku nggak pernah ngerti apa yang dia bilang dari tadi. Iyain aja, biar aman. Kau mau dicapit kepiting lagi?” Begitu pun Elang, meskipun bibirnya sibuk menjawab pertanyaan Dika, matanya tidak beralih dari guru berbadan gemuk itu.
“Ada ide nggak supaya kita keluar dari sini?”
“Sebenarnya ada. Tapi, aku malas berurusan dengan dia lagi. Tinggal satu les lagi ini. Tahan aja dulu. Nanti urusannya bisa panjang. Bawa-bawa orang tua pula.”
“Orang buandel kayak sampean ternyata mikirin orangtua juga. Salut, euy.”
“Harus, dong. Kita ini adalah murid nakal yang patuh pada orang tua. Bukan guru tua, ya. Beda.“
Dika berusaha menahan tawanya sekuat tenaga. Wajahnya merah padam. Perutnya tegang. Bibirnya bergerak-gerak, terbuka-mengatup, terbuka-mengatup lagi, dan ... Buk!
Melayang sudah si penghapus kayu ke atas meja mereka berdua. Meski sudah bertahun-tahun melancarkan aksi lempar melempar, sepertinya tidak pernah ada siswa yang terkena langsung lemparannya. Entah dia sengaja atau memang selalu salah sasaran.
Seketika tawa Dika berganti menjadi wajah tegang. Matanya melotot. Dia menyikut Elang, seakan-akan teman sebangkunya itu bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan mereka berdua. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh murid yang sudah telanjur dicap nakal dan selalu salah oleh guru killer itu? Pasrah dan menunduk adalah jalan terbaik menurut mereka saat ini. Seperti biasa, jika ada salah satu atau salah dua siswa tertangkap basah mengobrol, seisi kelas ikut memandangi mereka seakan mereka tidak pernah melakukan kesalahan yang sama. Padahal mereka hanya beruntung saja tidak pernah ketahuan.
“What are you talking about? Why a both of you always make the problems?” tanya Miss Rahayu percaya diri kata-katanya akan dimengerti oleh dua murid anti mainstream itu.
Elang yang tidak mengerti sama sekali memilih untuk mengangguk. Dalam sangkaannya, mengangguk adalah cara terbaik untuk dimaafkan. Mungkin saja mereka akan bebas hukuman. Meski pun persentasenya sedikit.
Mendengar jawaban Elang yang tidak nyambung sama sekali justru membuat Miss Rahayu semakin berang. Dengan suara yang lebih tinggi dari Hetty Koesendang, dia berteriak sambil menunjuk ke depan kelas. “Standing in front of the class!”
Suaranya yang nyaris mencapai dua oktaf, berhasil membuat Elang dan Dika refleks berlari keluar dari bangku dan berdiri di tempat yang ditunjuk Miss Rahayu. Meski tidak tahu artinya, teriakan itu mampu membuat mereka mengerti maksud dari wanita berambut keriting itu.
Elang dan Dika memandangi wajah-wajah sok lugu yang menatap mereka penuh kemenangan. Ingin rasanya Elang meninju wajah seisi kelas satu per satu saat itu juga. Apa daya, bunuh diri itu berdosa besar. Akhirnya, pasrah pada keadaan adalah cara terbaik untuk mengakhiri masalah.
***
Sepulang sekolah, Elang mengajak satu-satunya sahabatnya itu pergi ke bazar buku murah tak jauh dari sekolah mereka. Awalnya Dika ogah-ogahan. Tapi, begitu diiming-imingi bakalan dibelikan blangkon masa kini, akhirnya dia mau ikut meski sedikit terpaksa. Demi blangkon, deh.
Sehari-harinya, Blangkon batik tidak pernah lepas dari kepala Mahardika kecuali di dalam sekolah. Kenakalannya sebelas dua belas dengan Elang, tapi kalau urusan blangkon dia tidak mau meninggalkannya. Didikan kedua orangtuanya yang sangat menjunjung tinggi adat Jawa, membuatnya juga mencintai tutup kepala itu. Mau disodorkan topi sekeren apa pun, dia tidak akan mau menggantikan dengan blangkon kesayangannya. Hanya pergaulannya dengan Elang lah yang membuatnya sedikit terpengaruh untuk mengalami kebebasan yang sama dengan sahabatnya. Dia tahu betul, jika Elang adalah salah satu murid paling bandel di sekolah. Namun, Dika juga tahu persis jika Elang adalah sahabat yang setia dan rela berkorban untuk orang-orang terdekatnya. Tidak banyak yang bisa melakukan itu, bahkan juara umum di sekolah pun tidak menjamin akan bisa seloyal Elang dalam berteman. Sayangnya hanya dia yang mengerti tentang itu, akibatnya Elang tidak banyak memiliki teman. Semua menghindarinya karena takut akan terseret masalah juga. Setidaknya begitu anggapan mereka.
Dua teman karib itu, memilih berjalan kaki. Bukan untuk menghemat, sih. Cuma takut kurang kerjaan saja, jarak beberapa puluh meter dari sekolah saja harus naik angkot.
__ADS_1
“Lang, sampean itu mau nyari apa, sih? Novel di rumahmu sudah banyak gitu, kok, masih kurang juga,” sungut Dika sambil memakai blangkonnya.
“Sebenarnya yang aku kejar itu bukan novelnya, tapi penulisnya,” jelas Elang sambil terus berjalan.
“Ha? Sampean suka sama penulis? Cewek yang tiap hari sampean bikinin surat itu penulis? Bukannya kalian udah nggak ketemu dari kecil? Lah, kok, tau dia itu udah jadi penulis?”
Elang melirik sinis. “Bukan. Maksudku, selain bazar, ada lagi acara yang bikin aku itu tertarik. Ada juga diundang penulis dari Jakarta. Namanya, Esti Kinasih. Penulis teenlit best seller. Ngefans aku. Karyanya keren-keren. Walaupun dia penulis cewek, aku nggak merasa canggung gitu baca novelnya. Tetap enak dibaca.”
Dika hanya manggut-manggut. Sebenarnya dia tidak mengerti apa yang diceritakan sahabatnya itu. Tapi mengangguk adalah jalan terbaik agar mood Elang tetap bagus. Jadi, apa pun yang berhubungan dengan tulis menulis, Dika hanya ambil bagian sebagai pendengar dari pada penyemangat atau pemberi saran.
Sepuluh menit kemudian mereka sampai di sebuah gedung yang sudah dipadati pengunjung bazar. Saat mereka tiba, Esti Kinasih tengah sibuk menandatangani novel-novelnya yang dibeli pengunjung dari bazar. Tanpa pikir panjang, Elang segera mengeluarkan novel berjudul “Jingga dan Senja” dari dalam tas cokelat kumalnya dan segera bergabung di antrean meninggalkan Dika yang pelanga-pelongo menyaksikan begitu banyaknya manusia yang seliweran.
Sambil menunggu Elang, Dika duduk di sebuah kursi panjang kayu di sudut ruangan. Dia sama sekali tidak tertarik untuk melihat-lihat novel yang dipajang, apalagi membeli. Membaca novel bukanlah hobinya. Lebih baik dia disuruh memainkan gambang seharian daripada harus membaca selama satu jam.
“Boleh aku duduk di sini?” tanya seorang cewek berseragam SMA dengan poni cherybelle plus bando berhias pita warna pink.
Dika menoleh. Matanya membulat tidak percaya atas apa yang dilihatnya. Dalam pengamatannya, gadis ini seperti princess di film kartun animasi. Pipi bulatnya seakan menantang untuk dicubit. Wajahnya sedikit menampakkan aura Chinnese. Mata sipit itu melebar melihat mulut cowok di depannya membentuk sebuah gua lebar. Namun, seberapa kerasnya si cewek membuka matanya, tetap saja terlihat lebih kecil daripada mata Dika.
Cewek berkulit putih itu menggoyangkan telapak tangannya berulang kali di depan wajah Dika. Tak ada respons. Kemudian dilanjutkannya dengan menjentikkan jari ke arah mata yang tak berkedip itu.
“Eh, iya, iya. Silakan.” Dika tergagap kemudian segera membersihkan bangku dengan telapak tangannya dengan maksud agar cewek itu duduk dengan jarak sejengkal di sebelah kanannya.
Cewek itu menurut. “Terima kasih,” ucapnya dengan suara melengking ala wanita Tionghoa.
“Ah, iya. Nggak masalah. Santai saja,” jawab Dika salah tingkah.
“Oh, ya. Nama saya Fahrani,” ucapnya sembari mengulurkan tangan.
“Panggil aja Rani,” sahut cewek berlesung pipit itu lagi dan langsung menarik paksa tangannya.
“Kamu nggak beli buku?”
“Oh. Beli, dong. Tapi bentar lagi, deh. Masih ramai sekali. Kalau nanti, kan, bisa sekalian menghayati isi novelnya dulu sebelum dibeli. Aku itu tipe orang yang selektif dalam membeli buku. Mana yang berkualitas dan membuat hatiku tentram, baru, deh dibeli.”
Fahrani hanya mengangguk tidak yakin. Walau baru pertama kali berjumpa, dia sudah bisa menebak kalau sebenarnya cowok ini tidak tertarik sama sekali dengan novel.
“Woi, dari tadi dicariin. Ternyata di sini. Berduaan sama cewek lagi.” Tiba-tiba saja Elang sudah berdiri di depan mereka. Rambut ikalnya yang tidak teratur terlihat bertambah kusut dari pertama kali mereka tiba tadi. Sudah dapat ditebak jika selama mengantri, pasti berulang kali dia menggesek kepalanya dengan telapak tangan. Hal itu biasa dilakukannya jika sedang bosan.
“Sampean, sih, kelamaan.”
“Nggak lihat itu yang mengantri seberapa banyak?” Elang mengalihkan pandang ke cewek cantik yang sedari tadi tersipu menatapnya.
Menyadari wajah ingin tahu Elang, gadis itu mengulurkan tangannya. “Aku Fahrani. Kebetulan tadi capek dan lihat ada kursi di sini. Ini teman kamu, ya?”
Bukannya menjawab, Elang malah lebih tertarik pada novel yang dipegang gadis itu. “Kamu suka baca novelnya Esti Kinasih juga?”
Fahrani menunduk melihat novel “Fairish” yang ada dipangkuannya. Kemudian dia mengisyaratkan Elang untuk melihat tangan kanannya yang masih terulur.
“Oh, iya, maaf. Aku penggemar novel-novel dia, sih. Tapi belum punya yang Fairish jadinya salah fokus, deh,” Elang tersadar, kemudian membalas uluran tangan Fahrani. “Elang”
“Iya, nggak apa-apa. Aku juga suka, kok. Makanya aku bela-belain datang sendirian ke sini. Padahal Papa nggak bolehin aku ke mana-mana sendiri. Tapi, teman aku nggak ada yang hobi baca novel, sih. Jadi, aku pergi sendiri saja.”
Elang duduk di samping kanan cewek itu bersemangat. “Oh. Jadi kamu suka juga. Udah berapa novel dia yang kamu punya?”
__ADS_1
“Semua aku udah punya, sih. Papa tahu kalau aku suka baca novelnya Mbak Esti, jadi aku dibeliin terus, deh. Kamu mau pinjam?” tawar gadis itu bersungguh-sungguh.
“Boleh?”
“Tentu saja. Aku senang sama cowok yang hobi baca,” ucap Rani tak lepas menatap Elang sambil menyodorkan novelnya.
Namun, sayangnya Elang tidak memperhatikan wajah penuh pengharapan itu, melainkan benda berbentuk segi empat di genggaman Fahrani. “Wah, gimana aku balas kebaikan kamu, ya? Kamu nggak takut novel kamu aku bawa lari?”
“Emang kamu punya niatan kayak gitu?” Fahrani mulai takut.
“Hahaha. Kamu itu ternyata polos banget, ya. Ya, nggaklah. Tapi, kejahatan itu bisa terjadi bukan hanya karena ada niatan si pelakunya, loh, melainkan juga karena ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!” Elang mengarahkan telunjuknya dengan wajah serius.
“Hahaha. Kamu lucu, deh.” Fahrani tertawa hingga matanya hanya menunjukkan segaris hitam.
“Eh, lebih lucu aku, loh,” sambar Dika yang merasa diabaikan dari tadi.
“Kamu bukan lucu, tapi lemot,” tegas Elang asal sambil membolak-balik novel di tangannya.
“Enak aja sampean ini kalau ngomong. Nggak pake perasaan,” sanggah Dika sambil berdiri dan membetulkan blangkonnya. Kemudian melihat tangan ke dada seakan menghakimi.
“Udah, udah. Kalian, kok, jadi berantem, sih,” sahut Rani masih terkekeh. “Gini aja, deh, Elang. Kita tukaran novel aja, yuk. Kamu pasti punya novel lain, kan, selain karya Mbak Esti? Soalnya aku udah koleksi semua karya dia.”
Elang mengangguk bersemangat. “Ada. Kamu tinggal pilih aja. Kapan kamu ada waktu, aku bisa datang ke rumah kamu, kok, bawa semua koleksi novelku. Terserah kamu mau pilih yang mana. Nanti kita bisa saling pinjam. Yah, pakai tenggat waktulah. Itu pun kalau kamu nggak keberatan.”
Fahrani menggeleng cepat. “Nggak. Sama sekali nggak. Kamu boleh datang kapan aja. Asal jangan bolos sekolah hanya karena mau ke rumahku.”
“Tenang, kami ini memang murid paling nakal di sekolah dan sering sekali kena hukum. Tapi untuk urusan bolos sekolah, kami nggak pernah. Eh, atau belum mungkin.”
Lagi-lagi Fahrani tertawa lepas. Belum ada setengah jam dia kenal dengan lelaki ini, tapi rasanya sudah mengenalnya selama bertahun-tahun. Elang memang tipe badboy, tapi sepertinya dia baik. “Kamu nggak minta nomor handphone-ku? Emang udah tau alamat rumahku di mana?”
“Eh, iya. Hampir lupa. Soalnya aku udah nggak sabar ingin baca ini,” jawab Elang sambil mengangkat novel di tangan kanannya. “Nomor kamu berapa? Biar aku missed call” Elang mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
“0812 6979 9068”
“Mmmh Oke.” Elang menekan tombol panggil dan menunggu hingga ponsel gadis itu berdering.
“Itu nomorku, ya.”
“Oke. Aku save, ya.”
“Iya. Eh, yuk. Kita bareng aja. Udah mau mulai bedah bukunya. Kamu nggak ada teman, kan?” tawar Elang menunjuk dengan ibu jarinya ke arah gerombolan orang yang sudah siap sedia menyaksikan acara bedah novel teenlit Esti Kinasih.
Fahrani mengangguk.
“Lang,” panggil Dika sambil menarik tangan sahabatnya.
“Apa?”
Dika menunjuk ponsel Elang kemudian menunjuk ke arahnya, mengisyaratkan agar cowok itu memberikan nomor handphone Rani juga padanya.
“Oh. Malas ah,” sahut Elang kemudian menjulurkan lidahnya diikuti oleh senyum malu-malu Fahrani.
“Wong edan!”
__ADS_1