
SISWA-SISWI sudah mulai menyibukkan diri dengan buku-buku. Ujian akhir semester akan segera mendatangi. Tak ketinggalan, Cakra dan teman-temannya. Seperti Cakra sekarang, dia asyik dengan catatan Matematikanya. Pulpen di tangan dimainkan seakan memikirkan angka-angka di depannya. Sesekali ia melihat buku cetaknya untuk memastikan apa yang ia kerjakan itu benar.
“Eh, Bro serius banget belajanya, nggak ke kantin lu?” Ryan teman sebangku Cakra melihat temannya sedari pagi tadi serius banget. “Lu nggak lagi sakit, kan, Bro? Pucat gitu.”
“Nggak. Masih kenyang, nih, tadi ada makan roti dikit.”
“Roti dikit bikin kenyang?”
“Ya, Ryan. Nanti kalau lapar aku ke kantin kok.”
Ryan berlalu meninggalkan Cakra. Dalam ruangan segiempat dengan ukuran 5x5 meter itu hanya ada beberapa orang saja karena kebanyakan memilih ke kantin dan ke perpustakaan. Cakra yang sedang asyik mengerjakan soal-soal Matematika berhenti sejenak. Tubuhnya terasa lelah tidak seperti biasanya, keringat dingin pun membasahi keningnya.
Sekitaran lima belas menit berlalu, Ryan serta beberapa teman lainnya mulai memasuki kelas. Bell menandakan pelajaran akan dimulai kembali hanya tinggal lima menit lagi.
“Ini.” Ryan memberikan roti dan sebotol air mineral pada Cakra. Lu perlu makan, Bro. Wajah lu, itu pucat banget. Mana berkeringat gitu lagi. Mendingan kita ke ruang UKS aja, yuk.”
“Gue nggak apa-apa. Cuma lelah aja ini. Hmm, makasih ya.” Cakra mengambil minuman tersebut dan meminumnya.
“Itu roti dimakan juga.”
“Iya.” Cakra lalu melahap roti isi selai kacang dengan lahapnya hingga habis dalam sekejap. “Gue kok, masih kenyang aja, ya.”
HUEEEK...! Darah segar keluar begitu saja dari mulut Cakra.
“Cak, Cakra! Lu kenapa gini? Woi, bantuin!” Ryan panik melihat baju putih Cakra penuh dengan darah yang juga mengenai bajunya.
Para teman yang lain pun panik dan membawa Cakra ke ruang UKS. Sebagian memanggil guru. Cakra terjatuh lemas. Wajahnya pucat dan berkeringat.
__ADS_1
“Kenapa Cakra, Ryan?” Ibu Nadia wali kelas mereka yang baru saja datang ke ruang UKS menanyakan tentang Cakra.
“Nggak tau, Bu. Dari tadi pagi Cakra memang nggak semangat gitu, tapi dia terus belajar. Bahkan, pas jam istirahat dia masih sibuk dengan soal-soal Matematika. Saya ajak ke kantin, dianya nggak mau. Katanya masih kenyang. Terus karena lihat wajahnya pucat saya belikan roti dan minuman, setelah makan roti itu jadi muntah darah gitu. Padahal, saya tadi juga makan roti yang sama, tapi biasa saja nggak kenapa-kenapa.”
“Maag kali, tuh, Bu. Cakra memang sering sakit perut udah beberapa hari ini.” Sang ketua kelas ikut bicara.
“Yaudah, Ryan tolong telpon orang tuanya Cakra, ya. Dan, yang lain boleh kembali lagi ke kelas. Kalian harus tetap belajar.”
Satu jam berlalu. Cakra kini telah berada di rumah sakit umum Jakarta untuk diperiksa. Keadaannya saat ini begitu lemas. Namun, dia masih sadar dan tahu sedang berada di mana. Setelah diperiksa oleh Dokter, Cakra dipersilahkan menunggu di ruang tunggu yang ditemani oleh sang Kakak. Sedangkan ibu dan ayahnya masih di ruangan Dokter.
“Apa anak Ibu sering mual dan muntah? Atau belakangan ini nafsu makannya berkurang?” Sang Dokter menanyakan keadaan Cakra pada ibunya.
“Ya, dia sekarang sudah jarang makan. Kalau mual atau muntah gitu saya nggak tahu. Cuma kadang-kadang dia sering memegang perut serta ulu hatinya. Seperti menahan rasa sakit.”
“Kita harus memeriksanya lebih lanjut.”
“Kita harus USG, untuk dapat mengetahui bagaimana keadaan lambungnya saat ini. Dan, kalau bisa anak Ibu harus diopname untuk beberapa hari.”
***
Hasil tes USG serta hasil dari pengambilan darah sudah keluar. Lambung Cakra sungguh buruk saat ini. Ada beberapa penyakit yang menjadi komplikasi. Bakteri yang terdapat di lambungnnya kini sudah berakibat fatal. Bahkan, Cakra harus secepatnya dioprasi. Kanker lambungnya sudah menjalar ke bagian yang lebih jauh. Sel-sel kanker di kerongkongan pun sudah mulai terlihat. Livernya juga mulai terkena.
Satu minggu Cakra diopname. Cowok penyuka musik ini harus terbaring di rumah sakit. Selama ini Cakra menyadari akan gejala-gejala yang ditimbulkan, tapi dia sering mengabaikan karena dia mengira itu hanya sakit maag biasa. Memang Cakra sering makan makanan cepat saji, juga suka makan yang asam serta pedas dan itu semua ternyata awal dari penyakit yang dideritanya.
“Dok, bagaimana anak saya? Hasil pemeriksaannya bagaimana?”
“Mari Bu Susi, ke ruangan saya.”
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama dari ruang inap Cakra menuju ruangan sang Dokter.
“Cakra lambungnya sudah tidak bisa diselamatkan lagi, Bu. Seluruh lapisan lambungnya sudah digerogoti oleh kanker. Dengan kata lain banyak terdapat kanker kecil yang menyebar luas ke kelenjar getah bening. Memang gejala kanker lambung itu tidak jauh beda dengan gejala maag biasa, maka dari itu mungkin selama ini Cakra selalu mengabaikannya.”
Ibu Susi tidak mampu menahan tangisannya. Dikepalkannya tangannya kuat. Berita itu sungguh membuatnya terpukul. Anak lelaki satu-satunya yang dimiliki harus mengidap penyakit yang mampu merenggut nyawanya. “A-apa yang harus saya lakukan, Dok? Bagaimana caranya agar anak saya dapat disembuhkan, Dok?”
“Kanker lambungnya sudah memasuki stadium empat. Kalau kita mengoperasinya, maka lambung dan getah bening harus diangkat. Kanker pada kerongkongannya pun harus disembuhkan. Perkembangan kanker ini lumanyan cepat. Sudah beberapa bagian organ tubuh vital pun diserangnya.”
“Apa tidak ada cara agar anak saya dapat disembuhkan? Mungkin dengan kemoterapi atau radioterapi?”
Untuk tahap stadium akhr seperti ini, yang ada itu semua akan menambah rasa sakit. Tapi, saya akan coba memberikan obat-obatan agar mencegah kanker itu untuk menggerogoti organ lainnya. Secepatnya kita juga harus melakukan kemoterapi.”
“Lakukan saja, Dok. Apa pun itu agar anak saya dapat bertahan hidup. Dia masih terlalu muda.”
“Saya akan melakukan yang terbaik.”
Ibu Susi meminta izin kembali ke ruangan Cakra. Kakinya bagaikan tidak ada tulang. Tidak mampu untuk berdiri tegak. Dengan bantuan suster beliau dibawa ke ruanganrawat inap. Bulir-bulir kecil yang sedari tadi ditahannya akhirnya membahasi pipi. Dilihatnya sang anak sedang terbaring lemas, dengan wajah pucat serta tubuh yang semakin kurus menambah kesedihan yang ada.
“Apa kata Dokter, Bu?” Kakak yang sedari tadi menemani Cakra juga ingin tahu akan kesehatan adiknya.
“Apa yang harus kita lakukan pada Cakra, Kak? Selama ini dia merasakan sakitnya sendiri tanpa pernah memberi tahu pada kita semua.”
“Cakra sakit apa, Bu?”
“Lambung. Kanker lambung stadium akhir.” Ibu Susi jatuh. Kakinya begitu lemas.
Ayah Cakra yang mendengar dari pintu masuk ruang nginap menatap sang istri tidak percaya. Sesekali ia pandangi anak laki-lakinya. “Kenapa harus kamu, Cakra? Kamu masih terlalu muda, Nak. Cita-citamu pun belum sempat kau raih.”
__ADS_1