
ELANG sudah hampir sebulan lebih ini asyik dengan kesibukannya mengunjungi Fahrani. Tidak di rumah Fahrani saja, terkadang mereka janjian dan menghabiskan waktu di taman dengan membaca novel. Dan, tentunya hanya mereka berdua saja. Elang enggan membawa Dika. Namun, rasa bersalahnya pada sahabatnya itu terasa juga. Selama Elang dan Fahrani bertemu, Elang selalu berbohong pada Dika dan itu membuat cowok berhidung mancung ini menyesal.
Selama dengan Fahrani, Elang lupa dengan kebiasaannya mengantarkan surat cinta untuk teman kecilnya dulu. Entah karena sudah mampu ke lain hati atau bosan menunggu yang tidak pasti. Bayangkan saja. Selama ini dia hanya bisa mengirimkan selembar kertas dalam kurun waktu tiga kali dalam seminggu, berisikan puisi dan kata-kata rindu tanpa pernah tahu kertas itu terbuang atau disimpan untuk nantinya dibaca. Kalau dipikir-pikir, benar juga kata Biyung. Itu hanya membuang waktu saja.
Namun, jauh di lubuk hati cowok nakal itu, masih tersimpan rasa rindu yang mendalam. Dia ingin sekali melihat temannya dulu. Teman bermain sepeda dan juga teman yang selalu membuatnya tertawa. Tapi, Elang hari ini memutuskan menelpon Fahrani untuk membatalkan janjinya. Dia ingin ke villa untuk menyelipkan surat cintanya kembali. Rutinitas itu juga membuatnya rindu.
Dia baca berulang kali kata demi kata yang telah dirangkaikannya. Berharap tidak ada kesalahan sedikit pun. Dilipatnya kertas berwarna merah muda berbentuk hati itu, lalu ia masukkan ke amplop dengan warna yang sama. Kertas bergambar bunga itu kini ia selipkan dalam saku.
“Mau ke mana kamu, Le? Apa mau ketemu dengan teman barumu itu?”
“Nggak, Biyung. Elang cuma mau ke ... ”
“Ke villa?” potong Biyung. “Mau sampai kapan kamu seperti ini terus, Le? Biyung suka lihat kamu dengan teman barumu itu, siapa namanya? Fahrani?”
“Iya. Tapi apa salahnya kalau Elanf ke villa. Siapa thu Elang bisa ketemu lagi dengan dia.”
“Kalaulah, dia ada. Kalau ndak? Biyung bukannya melarang, tapi dari kamu SMP hingga sekarang SMA apa yang kamu dapatkan dari mengunjungi villa itu? Tidak ada. Mungkin juga gadis itu sudah melupakanmu.”
“Walaupun begitu, Elang tetap mau ke sana. Maafkan Elang, Biyung.”
“Terserah kamulah, Le. Ngeyel kalau dibilangin orang tua. Ramamu pun sudah tidak sanggup lagi melarangmu.”
Elang sadar apa yang dia lakukan selama ini hanya membuat dirinya sendiri sedih, tapi mau bagaimana lagi rindu itu sungguh mengganggunya.
Setelah berpamitan dengan biyungnya, Elang akhirnya pergi ke sebuah villa megah di atas bukit yang dikelilingi oleh pepohonan yang rindang. Di halaman villa tersebut banyak ditanami bunga aneka macam bentuk dan warna. Bunga kembang sepatu, mawar, anggrek, dan beberapa macam daun keladi memenuhi halaman tersebut. Di sudut kanan ada kolam ikan yang ditumbuhi bunga teratai.
Elang dengan semangatnya memasuki perkarangan villa dengan nuansa adat di Yogyakarta sana. Sebelum ia menuju ke jendela kamar gadis yang sangat ia rindui, ia memilih melihat ikan di kolam sudut kanan. Namun, tidak disangka. Gadis yang selama ini ia rindukan ada di sana. “Ah, Aya. Tapi... kamu kenapa?” gumam Elang.
Elang berjalan menghampiri Naya, tapi langkahnya tertahan. Cowok ini tidak kuasa menahan rasa yang berkecamuk di hatinya saat ini. Senang bercampur terkejut berkolaborasi dengan debaran jaantungnya. Namun, untuk mendekati Naya sekarang, bukanlah ide yang tepat. Elang menyeret langkahnya pulang dengan enggan. Dia belum siap untuk sesuatu yang dinantinya bertahun-tahun.
***
Naya menunggu kehadiran kekasihnya. Dari semalam ia tidak bisa tidur hanya karena merindukan Cakra. Dan, hari ini adalah saat di mana mereka akan segera melepas rindu. Walau terkadang Cakra itu bisa jadi sangat menyebalkan, tapi rasa cintanya kepada cowok bergigi kelinci itu tidaklah tergoyahkan hanya karena sikap aneh Si Pria Lamban itu.
Kalau bukan Cakra yang membahagiakannya, terus siapa lagi? Bukankah, selama ini hanya dia yang selalu setia berada di sisinya. Bahkan, di saat dia sudah tidak seperti dulu lagi. Ya, Cakra memang sangat baik. Memang Bu Dian dan Pak Yudha selalu ada buat Naya, tapi Cakra adalah penyempurna kebahagiaannya di tengah keterbatasan yang kini menghampiri.
Sebuah pelukan hangat dari belakang membuat Naya sedikit terkejut. Dipeganggnya lengan kurus yang melingkari leher jenjangnya.
“Gue rindu banget sama lu, Nay,” bisik Cakra lirih tepat di telinga gadis berkulit puth itu. .
“Lu ke mana aja, sih? Kenapa nggak bilang sama gue kalau mau pergi. Handphoe juga nggak diaktifin. Ini, kan, udah masuk sekolah. Lu malah ke sini sekarang.” Naya menjambak rambut Cakra ke depan, hingga pria itu nyaris terjungkal.
__ADS_1
“Aduh aduh. Ampun, Nay. Kemarin gue buru-buru. Ditelpon nyokap. Aduh sakit, Any. Lepas, dong,” rintih Cakra mencoba melooskan diri.
Naya mengalah. Dia melepaskan jambakannya dan menarik tangan Cakra agar berdiri di hadapannya. “Lu nggak kangen gitu sama gue?” Naya menarik lengan Cakra untuk berdiri di hadapannya.
“Kangenlah, kalau nggak ngapain gue ke mari? Ada-ada aja pertanyaan lu.”
Di balik pohon besar, sesosok pria berkaus merah mendengarkan semua percakapan Naya dan Cakra dengan rasa cemburu yang membuncah. Namun, Elang sadar, da tidaklah sebanding dengan pria di hadapa Naya itu. Seujung kuku pun tidak.
“Cak, gue pengen banget ngelukis lagi. Kan gue baru sekali lukisin wajah lu.”
“Cieee, Ketagihan, nih, ye. Pengen nambah,” goda Cakra mencubit hidung Naya. “Iya, nanti juga bakalan bisa ngelukis lagi, kok.”
“Tapi ... ”
“Naya sayang ... Lu udah dengar ‘kan apa kata dokter kemarin? Kita cuma butuh waktu buat tangan kamu kembal normal lagi. Makanya lu juga harus seangat terapinya. Jangan gampang bosen. Lu mah orangnya bosenan. Gue jadi curga, lu bakalan bosen sama gue.”
“Butuh waktu berapa lama, Cak?”
“Nggak lama lagi, kok. Gue yakin. Percaya, deh, sama gue.”
“Syirik, dong, gue percaya sama lu.”
“Wah, senangnya. Tapi bukannya Abinaya Buntari ini sukanya ngelukis wajah laki-laki yang dia sendiri nggak tahu siapa itu, ya?” Sekali lagi Cakra menggoda kekashnya itu. Da senang. Sekarang Naya sudah lebih tenang.
“Oh, oke! Gue akan melukis cowok lain dan lu jangan cemburu.” Naya manyun.
Seketika Cakra ketawa lepas mendengar ucapan Naya. Tiba-tiba terdengar suara sendawa berasal darinya.
“Itu kenyang atau apa, sih?” tanya Naya mengerutkan kening.
“Masuk angin kayaknya ini.”
“Belum makan, ya, Cak?”
“Udah, kok,” jawab Cakra sekuat mungkin menutupi getaran di suaranya. Dahi Cakra dipenuhi butiran peluh sebesar biji jagung. “Hmm, kita masuk ke rumah aja, yuk. Ada banyak yang mau aku omongin sama lu.”
“Yaudah. Ayo,”
Sebelum Naya dan Cakra memasuki rumah. Elang sudah terlebih dahulu meninggalkan halaman dan menjatuhkan begitu saja puisi yang dibawanya.
Naya, itu surat cinta terakhir dariku karena mulai besok aku nggak akan mengirimkannya lagi. Aku nggak tahu suratku selama ini bagaimana nassibnya. Entah kamu akan membacanya atau tidak. Yang pasti, kamu kini telah bahagia dengan cowok itu. Aku rindu padamu, Naya. Kuharap kamu masih mengenaliku. Cakra pun berlalu dengan perasaan yang tidak terjelaskan lagi.
__ADS_1
Di ruang kamar Naya, kini Cakra membaringkan kekasihnya di atas ranjang.
“Lu mau ngomong apa, sih?“ tagih Naya penasaran.
“Gimana, ya?” Cakra diam sejenak. “Tapi lu jangan marah dan sedih, ya.”
“Memangnya mau ngomongin apa? Serius banget?”
“Minggu depan mau ujian akhir semester. Gue nggak bisa ke sini setiap akhir pekan lagi. Lu tau, ‘kan? Jakarta dan Jogja itu nggak deket.”
“Gue mau ngomong sama Mama. Bawa gue ke tempat Mama!”
“Buat apa? Gue belum selesai bicara,”
“Gue mau Mama bawa gue pulang ke Jakarta aja. Gue nggak mau jauh dari lu, Cak. Gue nggak mau!”
“Lu lebih baik di sini, Nay. Nanti selesai ujian gue janji akan ke sini lagi. Jangan nyusahin Tante Dian, dong.” Cakra mengelus rambut hitam gadis yang sangat dicintainya itu. “Naya, lu tahu, kan, kalau gue sayang banget sama lu? Lu juga tahu, gue akan ngelakuin apa aja demi lu? Tapi, lu mau ,ya, janji satu hal ke gue?”
Dugaan Naya perihal keanehan pada diri Cakra semakin besar. Cakra sekarang sudah tidak seceria dulu. Ada apa dengan lu,Cak? Apa lu udah nyerah dengan keadaan gue yang kayak ini? Maafin gue yang udah nggak kayak dulu lagi. “Janji apa?”
“Gue pengin banget ngelihat Naya yang dulu. Naya yang cerewet dan nggak suka lihat gue yang lemot ini.”
“Apaan, sih? Gue malah suka banget lihat lu yang lemot itu.”
“Ya, karena lu suka banget ngerjain gue, ‘kan?”
“Abisnya nyenengin.”
Cakra memeluk tubuh mungil pacarnya dengan kuat. Ia tidak ingin kehilangan Naya.
“Gue sayang banget sama kamu, Cak. Gue nggak mau pisah dari lu.”
“Ya, nggaklah. Memangnya gue mau ke mana? Hei, gadis yang gue sayang itu cuma lu, loh, Nay. Nggak ada yang lain. Jadi, nggak perlu sedih begitu.”
“Janji?”
“Ya, gue janji. Hanya maut yang akan memisahkan kita.”
“Tuh, kan. Demen amat bahas mati.”
Cakra langsung mengecup kening Naya sebelum gadis cerewet itu mengeuarkan perkataan yang akan membuatnya semakin berat untuk pergi.
__ADS_1