Melukis Bola Matamu

Melukis Bola Matamu
THE POOR NAYA


__ADS_3

HARI masih sangat pagi. Matahari pun masih malu-malu. Mumpung hari minggu, Naya dan Cakra memutuskan untuk bersepeda bersama. Tidak jauh. Hanya seputaran komplek perumahan Naya saja.


“Gimana, Tuan Putri? Siap berangkat?” tanya Cakra riang, setelah dilihatnya Naya baru keluar dari gerbang rumahnya menggandeng sebuah sepeda berwarna merah muda.


“Siap!” seru Naya bersemangat. Dia segera menaiki sepedanya dan mulai melaju meninggalkan Cakra.


“Hei, kok, gue ditinggalin? Dasar, nih, cewek. Kita, kan, janjinya bersepeda santai, bukan ngebut.”


“Siapa yang ngebut? Ini udah paling santai tau,” sahut Naya ketika Cakra sudah berhasil menjajarinya.


“Yah, sok banget. Palingan juga sepuluh menit di awal doang.”


“Enak aja. Gue itu dulu waktu kecil sering bersepeda kayak gini bareng temen SD waktu masih tinggal di villa. Dia orangnya agak nakal. Lucu. Tapi sayang, itu udah lama banget. Gue juga nggak terlalu ingat wajahnya lagi.”


“Kayak gue, dong. Lucu.” Cakra melepas stang sepedanya dan meletakkan telunjuk ke kedua pipinya, lalu buru-buru menyeimbangkan badan lagi.


“Nggak usah bikin tingkah yang aneh-aneh, deh, kalau lagi bersepeda.”


“Kan, emang gue aneh dari sononya. Kalau gue nggak gini, lu nggak bakalan jatuh cinta. Lu, kan, cewek aneh juga. Jadi, kita serasi.”


“Maksa banget, sih. Males banget disama-samain sama lu.”


“Yeee, emang kenyataannya kayak gitu.”


“Darimana datangnya?”


“Dari hati kamu,” goda Cakra sambil memepet Naya.


“Eh, jauhan dikit. Ntar aku jatuh.” Naya menjauhkan sepedanya dari Cakra.


“Lu, sih, pake acara nggak mau ngaku segala. Udah kelihatan kali, kalau lu bahagia banget pagi ini.”


“Terus apa hubungannya sama aneh coba?”


“Ya aneh aja, biasanya lu itu paling susah ditebak, lagi seneng atau lagi pura-pura seneng. Aneh aja lihat lu sebahagia ini. Sekarang gue udah nemuin bedanya. Jadi, lu nggak bakalan bisa nutupin kesedihan lu lagi kayak yang udah-udah.”

__ADS_1


“Hahaha. Kita lihat aja nanti. Sepeka itukah lu dengan isi hati cewek?”


“Oh, iya, dong.”


“Sayang, kita balapan, yuk. Mumpung masih pagi. Hari minggu juga. Jadi belum banyak mobil yang lewat,” ajak Naya bersemangat.


“Nggak usah, deh. Bahaya. Ini jalanan umum. Walau sepi, bisa aja tiba-tiba kepergok mobil yang melintas.”


“Lu nggak asyik, ih. Bilang aja takut. Gue bosen, nih, kayak gini aja. Nggak ada tantangannya.”


“Nggak usah, ya. Ntar aja, deh. Lain waktu kita cari tempat yagng enak buat balapan.”


“Ah, gue maunya sekarang. Belum tentu juga kita bakalan punya kesempatan besok. Jadi, waktu yang sekarang dimanfaatin aja, yuk.”


“Maksud lu? Emang besok mau ke mana?”


“Ke sekolah. Emang ke mana lagi?”


“Jadi, kok, takut nggak ada kesempatan.”


“Ya, nggak apa-apa. Buat jaga-jaga aja. Gue cuma mau kita manfaatin waktu yang kita punya sekarang.”


“Oke. Sekali aja. Janji,” jawab Naya menyodorkan kelingkingnya yang langsung disambut oleh Cakra.


“Kita mulai dari sini, ya. Sampai ke taman yang ada ayunannya itu.” Cakra menunjuk ke sebuah taman beberapa kilometer dari tempat mereka. “Ayo, lu yang hitung.”


“Tunggu. Hadiahnya apa?”


“Maunya apa?”


“Kalau gue menang, lu harus ciptain sebuah lagu khusus buat gue. Kalau lu yang menang, gue bakalan bikin lukisan wajah lu lagi. Tapi spesial, deh, pokoknya.”


“Oke. Gue setuju. Bisa kita mulai?”


Naya mengangguk. Kini mereka sudah berada di posisi masing–masing. “Satu, dua, tiga!”

__ADS_1


Mereka pun memacu sepedanya secepat mungkin. Begitu bersemangatnya, Naya langsung bisa mendahului Cakra. Tanpa menoleh ke arah lain lagi. Hanya fokus ke arah depan. Sepertinya dia memang benar-benar menginginkan lagu itu.


Cakra pun sengaja tidak mengejar. Dia memilih untuk memacu sepedanya santai saja. “Okey, gue bakalan siapin lagu paling romantis untuk lu, Nay.”


Brakkk!!! Tiba-tiba sebuah mobil berkecepatan tinggi menabrak sepeda Naya dari arah samping. Mereka lupa memperhitungkan, jika ada simpang empat sebelum mencapai taman. Tentu saja ini sangat berakibat fatal.


Naya terlempar ke udara, sebelum terempas ke aspal dengan keras hingga terguling beberapa kali. Karena hanya bersepeda di seputaran lokasi dekat rumah Naya, maka mereka tidak mengenakan helm bersepeda dan pelindung lutut. Maka, tubuh gadis itu tidak memiliki pelindung sama sekali.


“Naya!!!” teriak Cakra segera memacu sepedanya secepat mungkin ke arah gadis malang itu.


Sialnya, mobil yang menabrak Naya itu masih bisa meloloskan diri dan segera menghilang dari pandangan sebelum Cakra sempat melihat plat nomornya.


“Nay, bangun Nay. Lu bisa dengar gue, Nay? Naya!” Cakra menepuk-nepuk pipi Naya panik. Gadis itu sudah tidak sadarkan diri. Darah segar mengucur dari kepala Naya yang terantuk aspal. Tidak hanya itu, kedua telinganya juga mengeluarkan darah.


Dengan tangan yang gemetar dan berlumuran darah Naya, Cakra mencari telepon genggamnya dan menelpon rumah sakit.


***


“Maafin Cakra, Om, Tante. Cakra nggak bisa jagain Naya. Kejadian cepet banget. Bahkan Cakra masih ingat teriakan Naya dan kecelakaan itu. Cakra nggak mampu mencegah Naya, padahal ini terjadi di depan mata Cakra sendiri,” ucap Cakra berlutut di depan papa dan mama Naya yang tengah duduk di kursi tunggu, depan ruangan ICU.


“Apa? Maaf? Apa kata maaf kamu bisa mengembalikan keadaan anak saya?” teriak Mama Naya tepat di wajah kekasih putrinya itu.


“Ma,” tegur Papa Naya sambil merangkul istrinya. “Ini semua cobaan. Papa yakin Cakra juga nggak mau ini terjadi pada Naya. Tapi mau bagaimana lagi?”


“Dia yang sudah mengajak anak kita untuk melalak pagi-pagi. Papa bilang ini cobaan? Papa nggak ngerti, sih. Dia putri kita satu-satunya, Pa. Mama yang melahirkannya dengan pertaruhan nyawa. Dan, sekarang, anak kita sekarat gara-gara dia.”


“Papa tau Mama shock. Tapi kita juga nggak boleh menyalahkan Cakra. Dia nggak salah apa-apa. Naya juga biasanya bersepeda sendiri keliling komplek. Mungkin pagi ini kejadiannya berbeda dari biasanya, karena Tuhan ingin menguji kita, Ma.”


Bu Dian menangis histeris dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.


“Udah, ya, Ma. Yang terpenting sekarang, kita berdoa saja, semoga Naya kuat dan segera sadar dari komanya.” Pak Yudha menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Membiarkan seluruh emosi pendampingnya itu tumpah bersama derasnya air mata yang mengalir.


Sekarang dia berpaling ke Cakra yang masih berlutut dan menunduk. Tubuhnya bertumpu pada kedua tangan yang dia topangkan ke lantai rumah sakit. “Sudahlah, Cakra. Ini bukan salah kamu. Sebaiknya kamu pulang saja dulu. Kamu pasti lelah. Biar Om dan Tante yang jagain Naya. Jangan lupa. Besok kamu harus tetap sekolah.”


Cakra mendongak. “Cakra nggak bisa, Om. Cakra harus di sini. Cakra nggak akan bisa tenang sebelum Naya sadar.”

__ADS_1


“Memangnya apa yang bisa kamu lakukan di sini? Apa keberadaanmu di sini lantas membuat Naya langsung sadar? Pulanglah, Nak. Kamu bisa datang lagi besok. Om janji, setelah Naya sadar, Om pasti langsung kabarin kamu.”


Akhirnya Cakra mengalah. Semua yang dikatakan Pak Yudha benar. Memang tidak ada yang bisa dilakukannya lagi sekarang. “Baiklah, Om.”


__ADS_2