
Elang tidak bisa fokus dengan tugas dari sekolahnya. Ada yang lebih rumit dari PR Bahasa Inggris dari Miss Rahayu kali ini; masalah siang tadi di villa. Pelukan mesra dari cowok tinggi dengan rambut belah samping itu pada gadis yang sangat dirindukannya sungguh mengganggu konsentrasi.
“Sampean ini mikirin apa, sih? Aku, loh, capek tanyain ini tugas dari tadi.” Dika geram melihat tingkah Elang yang hanya termenung saja.
“Ha, apa?” Elang tersentak dan menoleh ada sahabatnya dengan tatapan kenapa, sih?
“Sampean ini, ya, badannya ada di mana, pikirannya entah ke mana.”
“Apa? Kamu tadi nanya apa, Dik?”
“Ini PR-nya Miss Rahayu. Aku nggak ngerti blas e. Sepertinya kita harus minta bantuan bebebku Fahrani, deh.”
“Eh, mimpi kamu itu terlalu tinggi, Dik. Jatuh, sakit, loh. Beneran!”
“Habisnya sampean diam aja dari tadi, Lang. Sampean mikirin apa, sih?”
“Naya. Abinaya Buntari. Kamu tahu, kan, siapa itu?”
“Ya, ya, ya, teman SD sampean yang selalu sampean kirimkan surat cinta itu. Memang kenapa dengan dia?”
“Dia ada di sini. Di villa keluarganya.”
“Hah? Bagus, dong. Jadi, sampean nggak perlu lagi mengirimkan surat cinta sampean itu. Sekarang waktunya ngomong langsung. Jujurlah padanya akan isi hatimu, Kawan.”
“Idiiih, sejak kapan kamu pinter gitu, Dik?”
“Eh, asal sampean tahu, ya. Aku gini-gini, pinter loh, dalam urusan cinta.”
“Tapi, cinta kamu ke Fahrani cuma bisa dipendam saja, ya, Dik?” Elang ketawa kecil melihat sahabatnya menunduk.
“Entahlah. Kenapa aku jadi malu, ya, kalau ketemu sama Rani? Sepertinya Rani nggak menyukaiku. Dia malah sukanya sama sampean, Lang.” Mahardika ini cukup peka akan perasaan seseorang. Walau dia agak tidak nyambung kalau diajak bicara, tapi dia cukup bisa merasakan kalau Fahrani menyukai sahabatnya. bukan dia.
“Kenapa kamu bilang begitu?”
“Aku memang tidak sepandai sampean, tapi aku cukup tahu kalau Rani menyukai sampean. Apalagi kalian punya hobi yang sama.”
“Hmm, udahlah ngapain ngebahas Fahrani.” Elang menarik bukunya mendekat, berusaha mengalihkan pikirannya dari Naya. Tapi, tent saja tidak berhasil. Kenapa Aya duduk di kursi roda? Kenapa Aya tidak bisa melukis lagi? Apa jangan, jangan ... ? Hmm, aku harus mencari waktu yang tepat untuk bisa bertemu Abinaya. Aku ingin bicara dengannya berdua saja, batin Elang.
***
Hari Senin yang sibuk, Elang dan Dika pagi berangkat lebih awal ke sekolah. Mereka mendapatkan jatah sebagai pengibar bendera senin kali ini. Walaupun masih kantuk-kantuknya, Elang sudah siap berdiri di sudut kiri barisan, ia dapat bagian sebagai penderek bendera bersama Dika dan seorang gadis. Semalaman Elang tidak tidur karena memikirkan Naya, dan juga mengerjakan tugas dari Miss Rahayu. Untung saja, Elang cukup kuat untuk mengikuti upacara Senin ini. Terbukti upacara kali ini berjalan lancar seperti biasa.
__ADS_1
Para siswa di kelas XI-IPS-3 mulai riuh. Di jam terakhir dengan suasana tanpa guru memang selalu begitu. Ribut. Miss Rahayu tidak masuk mengajar dikarenakan ada acara keluarga. Digantikan oleh seorang guru piket yang hanya memberikan tugas latihan yang nantinya harus dikumpulkan sehabis jam pelajaran beserta dengan PR minggu lalu.
Sebagian peserta didik senang karena mereka punya banyak waktu untuk mengerjakan PR yang belum selesai. Untuk pertama kaliny Elang dan Dika kecewa. Meeka menyesal sudah menyelesaikan PR tersebut.
“Bingung aku sama latihan ini. Sampean ngerti ndak, Lang?” Dika membolak-balikan lembaran buku cetak Bahasa Inggris di depannya.
“Ngantuk aku.” Elang malah tidak nyambung.
“Hmm, sama. Bahkan, mimpi manis bersama bebeb Fahrani semalam masih terbayang jelas di benak ini.”
“Ya, mimpilah terus, Dik. Nanti, kalau Fahrani benar-benar aku miliki, jangan marah, ya.”
“Dalam mimpi pun aku senang, kok, Lang. Aku rela kalau itu buat sampean.”
“Sok ikhlas kamu Dik. Ah, hilang ngantukku.”
Lima belas menit lagi bell pulang akan dibunyikan. Dan, di saat waktu yang sebentar lagi itu dua sahabat ini mulai sibuk ke kanan, kirii, depan, belakang meminta contekan. Bunyi suara ponsel milik Elang menghentikan aktivitasnya sesaat. SMS dari Fahrani membuat Elang melirik arah Dika yang asyik mencatat hasil contekannya.
Aku di depan pagar sekolahmu. Aku tunggu, ya. Ada yang mau aku omongin Isi pesan itu sedikit mengganggu pikiran Elang. Dia hanya membalas, “Iya” lalu mencoba untuk fokus kembali pada tugas latihannya.
Lima belas menit pun berlalu dengan cepat. Bel pulang berbunyi cukup nyaring di seluruh ruangan sekolah. Elang dan Dika cepat-cepat meninggalkan kelas setelah mengumpulkan buku tugasnya. Dika sudah tahu kalau Fahrani menunggu di luar pagar, dan dia cukup semangat untuk menghampiri “bebeb”nya itu.
“Maaf lama nunggunya, ya.” Elang melihat Fahrani berdiri sendirian dengan buku-buku di tangannya.
“Baik, Ran,” jawab Dika gerogi
“Ada perlu apa, Rani? Kok, sampai datang ke sekolahku?”
“Pengin ngomongin sesuatu sama kamu, Lang.”
“Ngomongin apa?”
“Tapi, jangan di sini. Gimana kalau sekalian kamu antar aku pulang?”
“Kalau di sini aja nggak bisa, ya?” Elang menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. Masalah antar pulang biar Dika yang anterin gimana? Boleh?”
“Kamu kenapa? Kamu nggak mau antar aku pulang?”
“Bukan begitu. Cuma ... hmm, ya udah, aku antar kamu pulang bareng Dika juga.”
“Sebenarnya aku ingin bicara dengan kamu saja, Lang. Hanya berdua denganmu.”
__ADS_1
Dika cukup mengerti apa yang hendak Fahrani utarakan pada sahabatnya itu. “Sampean sajalah yang antarkan Rani, Lang. Aku pun ada urusan juga ini di rumah.”
“Okelah kalau begitu.” Elang kurang semangat. Dia yakin, Dika hanya mencari alasan.
Perjalanan dari sekolah Elang ke rumahnya Fahrani tidak seberapa jauh. Mereka hanya perlu naik angkutan umum sekali yang hanya sekitar dua setengah kilometer langsung sampai, dari tempat berhenti angkutan mereka hanya perlu jalan sekitar lima menit saja.
“Sudah sampai kita, Ran.” Elang memberikan buku-buku yang dipegangnya pada Rani.
“Aku harus pulang, Ran. Jadi, katakan saja apa yang mau kamu bilang.”
“Nggak mau masuk dulu?”
“Nggak usah, deh, ya. Aku nggak bisa lama-lama, Biyung menunggu di rumah. Sebaiknya bilang aja sekarang.”
“Hmm, aku ... aku ... ” Fahrani gelisah dan menggoyang-goyangkan kedua kakinya gugup. Wajahnya merah padam.
“Kamu, kenapa?”
“Aku ... “ Rani mengembuskan napas berat “Aku suka sama kamu. Aku cinta sama kamu, Lang. Dari semenjak pertama kali kita kenal.”
Elang tidak kaget dengan apa yang baru saja didengarnya. Hanya saja, dia diam dan memandangi gadis bermata sipit di depannya.
“Kamu mau, kan, jadi pacarku?” tangan kanan Rani meraih tangan kiri Elang, dan itu membuat cowok itu risi. Namun, dia tidak tega untuk melepaskan.
“Aku nggak mau jadi musuh untuk sahabatku sendiri, Ran.”
“Maksud kamu?”
“Dika mencintai kamu. Aku nggak mau ngecewain dia. Aku nggak mau persahabatan kami hancur hanya karena seorang gadis saja.” Akhirnya Elang melepaskan genggaman Rani perlahan. “Kamu tahu nggak, Ran? Dika itu selalu bahas kamu. Dia sangat mencintaimu. Aku nggak mau jadi pagar makan tanaman, Ran.”
“Tapi, kamu pun suka sama aku, kan, Lang? Kenapa, sih, harus mikirin orang lain kalau nyatanya kamu sendiri pun punya perasaan yang sama.”
“Kalau aku nggak ada rasa apa-apa sama kamu gimana? Rani, selama ini aku sangat bahagia ketemu kamu. Setiap yang kita obrolin pun semuanya asyik. Aku suka semua itu. Tapi, bukan berarti aku harus suka sama kamu. Tolong ngertiin aku, Ran. Aku harus pulang.”
“Aku tetap mau jadi pacarmu, Lang.” Rani dengan wajah sendunya melihat ke bawah, mungkin dia tidak ingin cowok yang dia sukai melihat raut sedihnya. Namun, Elang menyadarinya. Sebenarnya Elang tidak sampai hati.
“Bukankah menjadi sahabat lebih baik, Ran? Aku mau kamu tetap jadi sahabatku. Rani, maaf aku harus pulang sekarang. Jangan terlalu dipikirin. Aku bakalan ada buat kamu. Aku janji.” Elang mengelus kepala Fahrani sebentar.
Fahrani tersenyum kecut. Hatinya hancur. “Iya. Kamu hati-hati, ya.”
“Iya, makasih. Aku pulang dulu, ya, Ran. Salam buat Bunda.”
__ADS_1
Fahrani menatap punggung Elang yang mengabur. Air mata yang sejak tadi sekuat tenaga ditahan, mendesak keluar. Ini pertama kalinya dia jatuh cinta sekaligus patah hati.