
Hueeek...! darah segar kembali keluar dari mulut cowok beralis tebal ini.
“Cakra....” Bu Susi menangis di samping anak laki-lakinya sembari mengelap mulut Cakra.
“Mmm, Bu... sa-sa—“
Hueeek...!!!
Bu Susi dan suaminya tidak sanggup melihat keadaan anaknya saat ini. “Cakra jangan bicara lagi, ya, Nak. Ibu, Ayah, dan kakak-kakakmu sayang pada Cakra.”
“Sa-sakit, Bu. Ca-cak-ra nggak sang-gup lagi.” Air mata membahi pipinya.
“Yah,” Bu Susi menangis.
“Cakra harus kuat, ya, Nak. Sakitnya akan hilang, kok, sabar, ya, Nak,” Ayah Cakra menggenggam tangan anaknya kuat.
Dalam ruangan itu telah ada Pak Yudha dan semua keluarga Cakra. Dua kakaknya dan satu adiknya berdiri tepat di samping ranjang saat ini. Sang Dokter pun ikut berada di ruangan tersebut.
“Ma-maafin Cak-ra ya, Bu, Yah. Ma-maafin Cakra ya, Kak, Dik.”
“Cakra jangan bicara lagi!” Bu Susi memeluk anak laki-laki satu-satunya itu.
“Om Yudha, to-long sampaikan maaf dan makasih pada Naya. Cakra sayang sa-ma... Naya. Dan, maafkan Cakra yang tidak,”—Cakra menarik napasnya kuat—“bisa tepati janji sama Naya.”
“Ikutin Ayah, ya, Nak. Asyhadu an laa ilaha ilallah.”
“Asyha-du an laa... ilaha ilallah.”
“Wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.” Pak Nando menahan tangisnya.
“Wa asyhadu an-na Muhammadan... Rasulullah.” Cakra kini tidak merasakan sakitnya lagi. Dia telah me;epaskan jwanya dengan ikhlas.
“Innalillahi wa inna lillahi raji’un.” Sang Dokter dan beberapa orang di ruangan tersebut ikut mengucapkan.
Bu Susi memeluk anaknya yang diikuti oleh saudara-saudara Cakra yang lain. Suara tangisan memenuhi ruangan itu. Kini Cakra Wicaksana seorang laki-laki pelindung yang bijaksana sudah tiada. Hanya kenangan yang ia tinggalkan untuk orang-orang yang dicintainya.
***
“Nay, Naya Sayang.” Bu Dian berjalan cepat menuju arah Naya yang sedang bersama therapyst.
__ADS_1
“Iya, Ma. Kenapa? Ada apa?“
“Siap-siap kita akan ke rumah sakit sekarang.”
“Kita mau ke Jakarta, Ma? Ketemu Cakra?” begitu riangnya Naya mendengar mamanya mengajak ke rumah sakit.
Iya. Kita ajak Elang juga.“
“Kenapa Elang harus ikut juga? Kashan dia, Ma.
Bu Dian diam. Dia tdak tahu bagaimana caranya untuk emberitahu kalau Cakra sudah meninggal. “Ada seseorang yang mau mendonorkan matanya untuk Elang. Dan, karena pendonornya ada di Jakarta. Jadi, kamu juga bisa sekalian temenin Elang.”
“Jadi Elang bakalan bisa nglihat lagi?” Naya seakan tidak percaya.
***
Sesampainya di rumsh sakit, Elang segera dimasukkan ke ruang oprasi.
“Cakra di ruangan mana, Ma? Naya pengin ketemu Cakra dulu. Pasti oprasnya bakalan lama. Nant kta ke sini lagi.”
Pak Yudha dan Bu Dian berpandangan
***
“Masih banyak yang mau gue lakuin bareng lu, Cak. Makasih banyak lu udah mau donorn mata lu buat Elang. Tapi kenapa lu nggak pernah ceita apa-apa ke gue?”
“Nak, lebih baik kita pulang ya,” bujuk Bu Dian.
Naya mengaangguk. Hatinya hancur. Di sisi lain, dia juga tidak mau jika Elang mendapatinya tdak ada jika sadar nanti. Elang juga harus tahu semuanya.
***
Tidak terasa satu tahun berlalu, dan kali ini Elang sudah menjadi mahasiswa perguruan tinggi di Jakarta dengan jurusan sastra. Novel teenlit bergenre romance miliknya pun terjual banyak di gramedia dan toko buku lainnya. Aku dan Puisiku adalah judul dari novel Elang yang sangat diminati oleh kalangan muda. Dan, kini laki-laki ini sedang berada di sebuah galeri lukis. Ada beberapa orang pelukis terkenal ikut gabung dalam pameran lukisan di Jakarta Pusat ini, jadi banyak lukisan-lukisan yang tertata rapi di dinding yang ada.
Elang terkejut saat melihat lukisan wajahnya yang berjejer sepanjang dinding sebelah kanan galeri. “Ini?” dilihatnya lebih dekat sebuah lukisan wajahnya yang sedang menunduk dengan rambut ikal tidak beraturan. “Januari 2017? A.B?”
“Ini, kan, si penulis novel best seller Aku dan Puisiku?” suara gadis dengan tubuh sedikit kurus kembali mengagetkan Elang.
“Itu kan, penulis novel remaja yang sering dibicarakan belakangan ini.”
__ADS_1
“Penulis novel?”
“Iya.”
Elang hanya mendengar pembicaraan para gadis itu dengan menutupi muka dari samping dengan buku di tangannya.
“Punya novelnya? Boleh saya lihat?”
“Lihat aja, ya, Mbak.” Gadis itu membrikan novel dengan cover warna langit senja itu.
.
“Gue mau ngelihat lu saat ini, Elang,” ucap Naya.
Elang tersenyum mendengar ucapannya Naya.
“Sepertinya Allah telah mengabulkan doamu, Cantik.”
“Lu?” Naya kaget dan menahan napas saat Elang memeluknya erat.
Orang-orang di sekeliling mereka melihat adegan tersebut, tidak ketinggalan dua gadis yang membicarakan Elang tadi.
“Eh, Mas Elang? Mas, boleh minta foto bareng nggak?”
“Bentar, ya. Gue pinjem dulu.” Naya mengembalikan novel tersebut dan menarik tangan Elang membawanya berkeliling untuk melihat lukisan Naya yang lain.
“Wuih, cakep! Hmm, ini pasti Cakra. Ya, kan?” Elang menunjukkan lukisan wajah Cakra.
“Yap. Pacar gue, manis, kan? Sini, deh, lihat yang ini.” Naya menunjukkan sebuah lukisan seorang gadis yang sedang menyandarkan kepalanya pada bahu seorang laki-laki dengan ekspresi wajah bahagia dan ceria.
“Gue nggak mau ngelihat lu sedih lagi, Nay.”
“Nggak, kok, malah sekarang gue bahagia banget.”
“Beruntung Cakra bisa dapetin lu.”
Naya meletakkan kedua telapak tangannya pada kedua pipi Elang. “Kalau dilihat-lihat matanya Cakra manis juga, ya.”
Elang menampakkan deretan giginya dan merangkul leher Naya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
“Cakra di sana akan bahagia juga, kan, Lang? lihat kita berdua kayak gini?”
“Pasti.”