Melukis Bola Matamu

Melukis Bola Matamu
TRAUMA


__ADS_3

Setelah melewati masa koma selama lima hari, akhirnya Naya sadar. Tapi, belum boleh untuk keluar dari ruang ICU. Luka-luka luarnya tidak terlalu parah. Namun, tidak dengan bagian dalamnya. Terutama tulang panggul. Dokter mengharuskan Naya untuk istirahat total selama setahun.


Cakra berdiri di samping Naya dengan sedih. Dibelainya kepala berbalut rambut lurus yang lemas itu. “Nay, maafin gue, ya. Seharusnya gue nggak nurutin permintaan lu untuk kita balapan sepeda waktu itu. Kalau aja gue ngelarang, tentu lu akan baik-baik aja sekarang,”


Naya menggeleng lemah. Tetesen bening keluar dari sudut matanya. Mulutnya bergerak-gerak seperti hendak menyampaikan sesuatu. Namun, tidak terdengar apa pun.


“Udah, Nay. Lu nggak usah banyak bergerak dulu. Jangan dipaksain untuk ngomong. Yang penting sekarang, banyakin istirahat. Gue akan selalu ada jagain lu.”


Naya hanya menatap wajah kekasihnya lekat. Berharap Cakra mengerti apa yang ingin dikatakannya. Betapa ini bukanlah kesalahan Cakra. Dialah yang salah.


“Maaf, Mas. Biarkan Mbaknya istirahat dulu, ya. Jam besuk sudah habis.” Seorang perawat berhijab mengingatkannya.


Cakra mengangguk. “Gue keluar dulu ya, Nay. Lu istirahat. Jangan mikirin macem-macem.”


Kemudian Cakra berbalik hendak ke luar ketika tangan kirinya ditarik. Dia menoleh ke arah sang pemilik tangan itu. Wajah pucat yang penuh luka. Namun, bukan itu yang mencolok. Luka batinnyalah yang justru jelas terlihat dari sorot mata itu.


Naya menggeleng lemah. Mengisyaratkan agar Cakra jangan pergi.


“Gue harus pergi sekarang, Nay. Percaya sama gue. Cakra, Mama dan Papa kesayangan Abinaya Buntari selalu di sini. Kami nggak akan ninggalin lu apa pun yang terjadi.” Cakra mengecup dahi Naya lembut. Meski sekuat tenaga ditahan, tetesan air matanya jatuh juga membasahi pipi Naya. Dengan berat hati, dilepaskannya tangan Naya yang masih menggenggam jemarinya.


Cakra melepas pakaian steril, kemudian bergegas keluar dari ruang ICU.


“Bagaimana? Apa ada kemajuan?” tanya Pak Yudha sebaik Cakra keluar.


Lelaki itu menggeleng lemah. Masih seperti kemarin, Om. Cakra juga nggak tahu lagi harus bagaimana menghibur dia. Cakra nggak tahan lihat wajah sedihnya, Om. Pasti hatinya hancur.”


“Ya, sudah. Biarkan Naya menjalani proses pemulihannya dulu. Seperti kata dokter, dia membutuhkan waktu yang lama untuk bisa pulih.”


“Mama nggak bisa bayangkan, apa yang terjadi nanti jika Naya tahu bahwa dia tidak bisa berjalan lagi. Mama nggak kuat membayangkannya, Pa.” Bu Dian kembali terisak.


“Tenang, Ma. Papa yakin. Naya akan baik-baik saja. Dia anak yang kuat. Sama kayak kamu.” Pak Yudha mengecup kening istrinya, kemudian mengelus-elus pundak Bu Dian mencoba menenangkan. Meskipun hatinya remuk. Putri semata wayang yang sangat dia sayangi, harus mengalami kejadian setragis ini. Namun, dia tidak boleh lemah. Kedua bidadarinya membutuhkan kekuatan darinya.


***


Seminggu berselang, Naya sudah diizinkan pulang. Tetapi kecelakaan itu meninggalkan trauma mendalam bagi gadis itu. Ditambah dengan kenyataan bahwa dia tidak bisa berjalan lagi.


Naya kini menjadi lebih emosional. Dia sering menyalahkan dirinya sendiri atas kejadiaan yang menimpanya. Tak jarang dia menangis dan cenderung pemarah kepada siapa saja yang mengaajaknya berbicara. Kondisi ni tentu akan sangat menyulitkan Naya untuk bersossialisasi dengan teman-temannya kembal d sekolah. Proses belajar juga tidak akan berjalan baik, jika emosinya tidak terkendali seperti itu.


orang tua Naya memutuskan untuk mengistirahatkan putrinya ke villa mereka di Yogyakarta. Dengan harapan, udara sejuk pedesaan akan menenangkan perasaannya. Semoga bisa mengembalikan semangatnya juga.


Naya memutar kursi rodanya berkeliling memperhatikan kamar yang dulu ditempatinya ketika masih kecil. Tidak ada yang berubah. Masih sama seperti saat dia tinggalkan. Yang berbeda justru dia, kini tidak bisa berlari ke sana ke mari lagi sambil memainkan boneka barbie-nya. Sekarang Naya tak lebih dari seorang gadis lemah yang seharusnya sudah mati.


“Naya! Naya!” panggil mamanya dari pintu kamar. Naya menoleh.

__ADS_1


“Iya, Ma.”


“Ada Cakra itu di depan. Dia pasti kangen banget sama kamu.”


“Naya nggak mau ketemu dia, Ma,” jawab Naya membuang muka.


“Loh, kenapa? Dia udah jauh-jauh datang ke mari, loh. Sudah lama kalian nggak bertemu. Apa kamu nggak kangen sama dia?”


“Nggak seharusnya dia terus berada di sisi Naya, Ma. Dia pantas mendapatkan yang lebih baik. Dia masih bisa cari gadis lain yang sempurna.”


Bu Dian berjalan mendekati putrinya. “Kenapa kamu bisa ngomong seperti itu, Nay? Mama yakin, Cakra itu sangat mencintai kamu. Dia nggak akan meninggalkan kamu apa pun yang terjadi. Jadi, kamu nggak perlu berusaha menghindari dia, ya. Karena Mama yakin, dia nggak akan mau mengikuti kemauan kamu itu.”


“Mama nggak ngerti perasaan Naya. Naya malu, Ma. Naya sekarang cacat. Naya nggak bisa berjalan lagi, Cakra berhak mendapatkan yang lebih dari Naya.”


“Kenapa kamu selalu membahas tentang lebih baik dan sempurna? Kesempurnaan itu letaknya di sini, Sayang,” jawab Bu Dian memegang dadanya dengan telapak tangan kanan. “Setiap orang memiliki makna tersendiri tentang apa itu sempurna. Jika menurutmu sempurna itu sebatas bisa berjalan dan bisa mendengar dengan jelas, maka Cakra pasti mempunyai definisi sendiri mengenai kata sempurna. Kamu harus yakin itu.”


Naya mengangguk. Dia akhirnya menyerah. Sebenarnya hatinya pun rindu sekali pada Cakra. Namun, setiap melihat wajah Cakra, kenangan mereka saat masih berlarian bersama dan berjalan-jalan ke maana saja membuat hatinya sakit.


Bu Dian merasa anggukan Naya sudah cukup menjawab akan persetujuannya untuk bertemu Cakra. Didorongnya kursi roda itu ke luar kamar dan terus menuju ruang tamu, di mana kekasih Naya telah menunggu. Papa dan Mama Naya kemudian pergi memberikan waktu untuk mereka berdua.


Cakra buru-buru bangkit dari sofa ketika melihat Naya datang, “Apa kabar, Nay? Gue kangen banget sama lu.” Dia kemudian memeluk gadis pujaannya itu. Namun, gadis itu hanya diam. Tidak membalas pelukannya seperti biasa.


“Lu kenapa?”


Cakra kaget setengah mati. Naya memang bukanlah tipe cewek yang pandai bermanis-manis, tapi dia juga tidak pernah berkata seketus itu padanya. Ditatapnya mata bulat itu penuh selidik. Tidak ada sorot kebencian di sana. Binar cinta itu masih ada, meskipun samar. Yang terlihat jelas adalah sorot mata kecewa dan putus asa. Cowok itu mengerti, ini semua tidak mudah untuk gadis seusia Naya. Apalagi dia adalah tipe gadis yang tidak bisa diam. Tentu perubahan drastis ini sangatlah menyiksanya. “Maafin gue, Nay. Gue nggak bermaksud kayak gitu,” jawab Cakra bersungguh-sungguh. “Oh, ya. Gue bawain buku pelajaran di sekolah. Jadi, lu masih bisa belajar lewat gue. Nah, nanti suatu saat lu kembali sekolah, lu nggak akan tertinggal terlalu banyak pelajaran.”


“Apa gunanya gue belajar? Toh, gue udah nggak berdaya lagi. Gue udah nggak bisa apa-apa. Nggak ada gunanya, Cakra. Jadi, mending lo bawa pulang lagi aja buku-buku itu.”


“Naya, lu nggak boleh putus asa gitu, dong. Lu pasti bisa sembuh dan balik sekolah lagi. Gue aja yakin, masak lu sendiri nggak yakin, sih?”


“Please, Cakra. Gue nggak mau!” teriak Naya sembari memukul keras buku yang dipegang Cakra hingga jatuh ke lantai.


“Lu benar-benar udah berubah, ya, Nay. Lu bukan Naya yang gue kenal dulu lagi. Gue nyaris nggak kenal sama lu lagi.”


“Gue memang bukan Naya yang dulu, Cakra. Gue udah nggak bisa jalan lagi. Lumpuh. Kalau lu ingin Naya yang dulu, maaf dia udah pergi.”


“Kenapa, sih, lu berpikir gue ngelihat lu serendah itu? Kenapa, sih, selalu bahas fisik? Memangnya kenapa rupanya kalau lu udah nggak bisa jalan? Toh, masih ada hal yang patut lu syukuri, kan? Lu masih punya kesempatan hidup, Nay. Itu jauh lebih berharga daripada apa yang lu ratapi sekarang.” Cakra diam sebentar. “Oke. Kalau itu mau lu. Gue pergi. Kayaknya memang lu nggak butuh gue lagi.” Cakra memunguti buku-buku yang berserak. Bergegas dia keluar tanpa menoleh atau berkata apa-apa lagi.


Naya terdiam. Tidak pernah dia melihat Cakra semarah ini. Biasanya cowok itu selalu tertawa dan mencandainya jika ngambek. Tapi kali ini tidak. Sepertinya ada beban yang ingin dikeluarkannya dan meledak karena Naya tidak bersemangat seperti harapannya. Naya mengacak rambutnya dan menjerit frustasi. Dipukulinya kedua kaki yang tidak bisa berjalan itu berulang kali.


“Ada apa, Nay? Kalian bertengkar?” Bu Dian yang baru datang sambil membawa minuman, kaget mendengar jertan Naya dan rambutnya yang acak-acakan. Wanita empat puluh dua tahun itu pun meletakkan tatakan minuman di meja dan menghampiri putrinya.


Naya justru semakin kuat menangis. Tanpa diceritakan pun Bu Dian sudah tau, pasti tidak jauh dari pembicaraan yang mereka bicarakan di kamar tadi. Dia memeluk putri kesayangannya itu dengan penuh kelembutan. Naya merontak. BU Dian tidak peduli. Dia tetap memeluk anaknya semakin erat. Dia sangat mengerti, ini semua tidak mudah. Dia sendiri pun belum tentu sanggup menghadapinya. Namun, selalu berada di sisi Naya adalah satu-satunya cara untuk sedikit mengalihkan pikiran anaknya. Demi Naya dia rela untuk meninggalkan perkerjaannya sebagai seorang dosen. Apa saja akan ia lakukan asalkan putri semata wayangnya itu bisa kembali ceria. “Udahlah, Nay. Cakra pasti ngerti, kok. Mama yakin, dia pasti kembali. Dia nggak mungkin ninggalin kamu. Dia cuma mau memastikan, kamu akan tetap kembali semangat atau tidak? Maka itu, kamu harus buktikan, dong, kamu itu anak Mama yang kuat.”

__ADS_1


Naya hanya diam. Isak tangisnya seakan dia anggap cukup untuk menggambarkan apa yang dia rasakan kini.


***


Malam harinya, Cakra kembali ke villa keluarga Naya dengan lesu. Wajahnya pucat. Langkahnya tertatih. “Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikumussalam.” Bu Dian terkejut melihat keadaan Cakra yang begitu berantakan. “Ya Allah kamu kenapa? Mari masuk masuk.” Bu Dian menggamit lengan pacar anaknya itu.


“Cakra, maafin gue,” ucap Naya dari jauh. Dengan cepat dijalankannya kursi roda mendekati kekasihnya itu. “Gue nggak bermaksud berpikiran macam-macam tentang lu, Gue cuma ngerasa kalau hidup gue yang sekarang ini, kok, berat banget.”


Cakra berjongkok di depan Naya. ”Lu masih inget nggak percakapan kita waktu itu? Lu bilang gue ini adalah sumber kekuatan lu. Terus, kenapa sekarang lu malah nyerah? Padahal gue selalu ada di sisi lu.”


Naya tersenyum dan mengangguk. “Gue nggak akan nyerah lagi. Asalkan gue masih bisa ngelihat lu.”


Cakra mencium dahi Naya lama sekali. Beberapa menit berlalu, mereka masih bertahan pada posisinya. Tidak ada tanda-tanda sedikit pun cowok itu akan melepaskan bibirnya dari dahi Naya.


“Apa kita mau kayak gini terus sampai pagi?” tanya Naya yang mulai sedikit canggung.


Perlahan Cakra melepaskan kecupannya. “Gue nggak ingin waktu ini cepat berlalu, Nay. Gue nggak mau membuang kesempatan yang gue punya untuk bareng lu.”


Dahi Naya berkerut. “Lu ngomong seakan-akan gue masih koma di rumah sakit, gue udah nggak apa-apa, Cakra. Mungkin semester depan gue udah bisa sekolah lagi. Meski pakai kursi roda.”


Cakra membelai kepala Naya penuh sayang. Ditatapnya wajah manis itu sendu.


“Lu dari mana, sih? Kok kayaknya berantakan banget? Baju lu juga kotor?” tanya Naya yang baru sadar akan keadaan kekasihnya yang seperti baru pulang dari kebun.”


“Nggak. Gue nggak apa-apa, kok. Ini kotor karena tadi gue senderan ngasal di pohon. Abisnya lu nggak mau gue peluk. Frustrasi, dong, gue,” jawab Cakra asal dengan tawa yang dipaksakan.


“Yaudah, kamu mandi sana. Nanti, Tante siapkan bajunya Om yang kemarin udah sempat dibawa. Abis itu kita makan malam, ya. Kami tunggu, loh, di meja makan,” pinta Bu Dian memegang pundak Cakra.


“Iya, Tante. Cakra mandi dulu, ya.” Remaja enam belas tahun itu kemudian bergegas mengindahkan permintaan Bu Dian.


“Ma, Ngerasa ada yang aneh nggak dengan Cakra?” tanya Naya mengerutkan kening, setelah Cakra sudah tidak ada si ruangan itu.


“Aneh gimana?” tanya Bu Dian tidak mengerti. “Kayaknya nggak ada yang aneh, deh. Mama lihat dia biasa saja.”


“Nggak tau, Ma. Cuma Naya ngerasa, kok, ada yang aneh sama dia, ya? Nggak seceria biasanya. Wajahnya juga kayak nyembunyiin sesuatu.”


“Itu perasaan kamu aja, Nay. Namanya juga kalian baru saja bertengkar. Mungkin dia masih sedikit kesel sama kamu. Maklum, dong, Sayang. Besok juga dia pasti biasa lagi.”


“Cakra bukan jenis orang yang kayak gitu, Ma. Justru kalau kesel, dia itu nggak pinter nyembunyiin kekesalannya. Apa ini perasaan Naya aja, ya? Mama beneran nggak lihat ada yang beda dari dia?”


“Nggak ada, Sayang. Kamu tenang aja, ya,” hibur Bu Dian sambil membenamkan kepala Naya ke dadanya.

__ADS_1


__ADS_2