Melukis Bola Matamu

Melukis Bola Matamu
DI UJUNG TANDUK


__ADS_3

PEMBICARAAN terakhir di telpon bersama Cakra menghadirkan pertanyaan baru di benak Naya. Gadis itu merasakan ada hal yang aneh. Tidak seperti biasanya. Suara Cakra terdengar sangat lemah dan tak bersemangat.Tapi, dia senang karena sedikit rasa rindunya terobati.


Kini bulan Januari telah berlalu. Cakra tidak pernah mengabari Naya lagi. Sewaktu di telpon, Naya selalu menanyakan kapan cowok itu mengunjunginya lagi. Berbagai tapi alasan diberikan oleh Cakra. Saat ini hati dan pikiran gadis itu mencoba untuk bersahabat dengan apa yang sedang ia rasakan.


Di waktu yang sama, Bu Dian dan Pak Yudha bingung bukan main memikirkan Naya dan Cakra. Kedua orang tua itu tidak tahu mau berkata apa kalau-kalau Naya anak mereka menanyakan Cakra. Seperti hari ini Naya terus saja berbicara tentang pacarnya itu pada Bu Dian. Ingin mengatakan semua, tapi tidak sampai hati. Lagipula tu adalah permintaan Cakra sendiri.


“Pa, baru juga seminggu semenjak telponan itu Naya terus bicarakan Cakra. Bagaimana hari-hari ke depannya nanti? Mama tidak mungkin berbohong terus pada Naya. Apa sebaiknya kita katakan saja pada Naya?”


“Belum waktunya untuk mengatakan semua itu pada Naya, Ma. Kita tunggu saja. Untuk sekarang lebih baik kita suruh Naya untuk fokus sama fisioterapinya dulu.”


Bu Dian mengiyakan perkataan suaminya dengan perasaan yang masih saja sendu. Entah sampai kapan mereka akan menyembunyikan tentang kesehatan Cakra dari anaknya. Padahal, Cakra selalu dapat membuat anaknya ceria.


***


Liburan ini sebenarnya Elang ingin memanfaatkan waktunya untuk menulis, dan sesekali keluar bersama Fahrani untuk membeli novel atau sekadar membaca novel di taman. Tapi, kecerobohannya waktu itu membut penyesalan seumur hidup dalam hatinya. Kini dia benar-benar tidak bisa melhat lagi. Cowok cuek itu tidak menyangka jika lem itu bsaa sangat mudah merusak penglihatannya.


Suatu sore Elang meminta Dika untuk mengantanya menemui Naya. Dia tidak bisa menunggu lagi. Dia harus mengungkapkan kerinduannya selama bertahun-tahun pada Naya sesgera mungkin.

__ADS_1


Saat itu, Naya sedang duduk menghadap luar jendela. Tatapan gadis itu menjurus ke depan.


Bu Dian mengantar Dika dan Elang untuk masuk ke kamar Naya. Sebelumnya mereka telah menceritakan semuanya. Wanita yang telah melahirkan Naya itu mengangguk dan berbalik keluar kamar untuk memberrikan ruang bagi mereka berdua.


“Kalan siapa?” Naya kaget. Tiba-tiba dua orang lelaki tidak dkenal berada d kamarnya. “Ma! Tolong Naya! Ada yang masuk kamar Naya!” Teriakannya terhent ketika menatap Elang. Matanya melotot. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan pria imajinasinya dulu sebelum berpacaran dengan Cakra.


***


Sel-sel kanker di lambung semakin menyebar. Lambungnya sudah tidak mampu menerima makanan lagi. Air pun sudah tidak dapat masuk dalam tubuh kurusnya. Wajahnya pucat dengan mata cekung. Bu Susi dan semua keluarganya sudah pasrah dengan keadaan Cakra saat ini. Mungkin, cowok itu hanya membutuhkan beberapa hari saja untuk merasakan napas yang ia hirup selama hidupnya, atau mungkin sudah tidak ada waktu lagi baginya. Dokter pun sudah berhenti memberikan obat-obatan untuk Cakra. Hanya tinggal selang infus saja.


Dalam keadaan yang begitu lemas, Cakra meminta kertas dan pulpen pada ibunya. Ada beberapa kalimat ia coba tuliskan dengan susah payah, dan ia katakan kalau tulisan itu tolong berikan pada Pak Yudha ayahnya Naya. Dan, dia pun mengatakan untuk menyampaikan kata “terima kasih dan maaf” kepada Naya. Cakra sangat bahagia dan senang dapat mengenal gadis itu, dan sangat bersyukur dapat menjadi kekasih Naya. Selama ini perasaannya terhadap Naya benar-benar terbalas. Cakra sangat bahagia dengan semua kenangan yang ia ciptakan dengan gadis mungil itu.


Bu Susi saat membaca kalimat demi kalimat yang dituliskan Cakra, ia langsung menghubungi Bu Dian.


Di hari yang sama Bu Dian menahan tangisnya saat membaca barisan kata demi kata yang ditulis Cakra.


“Sepertinya sudah saatnya Naya tahu, Ma.”

__ADS_1


“Tau apa, Pa? Kenapa dengan Cakra?” Tiba-tba Naya muncul dari pintu kamarnya memutarkan kursi rodanya.


“Naya Sayang.” Pak Yudha menghampiri anaknya dan menggenggam jemari imutnya. “Cakra dia tidak dapat lagi datang ke sini bukan karena Naya ada salah padanya, tapi karena memang Cakra tidak bisa untuk datang.”


“Sesibuk apa, sih, dia sampai lupain Naya?”


“Cakra tidak sibuk, dia juga nggak lupasama kamh. Bahkan, dia masih sangat mencintai kamu. Maafkan Papa dan Mama yang tidak memberitahukan Naya sebelumnya. Ini semua sebenarnya permintaan Cakra untuk tidak mengatakannya pada Naya.”


“Cakra kenapa, Pa, Ma? Cakra kenapa?” Naya sudah cukup lama menahan kesedihannya. Air mata itu jatuh bak derainya hujan.


“Cakra sakit. Dia selama ini dirawat di rumah sakit dan tidak bisa berbuat apa-apa.” Bu Dian memeluk erat anaknya. “Tadi ibunya Cakra telpon, dan keadaan Cakra semakin buruk.”


“Cakra sakit apa, Ma. Ke-kenapa Naya nggak dikasih tau? Ma, Naya... mau ketemu sama Cakra. Naya mau ke Jakarta, Ma.” Tangisannya semakin kuat.


“Kanker lambung yang sudah stadium akhir.” Pak Yudha masih mencoba untuk tegar.


“Pa! Naya, Pa! Nay, sadar Nak!” teriak Bu Dian panik melihat anaknya tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2