Melukis Bola Matamu

Melukis Bola Matamu
KAGUM


__ADS_3

Kali kedua kedatangannya ke rumah Fahrani, Elang menepati janjinya pada diri sendiri untuk tidak mengajak Si pengacau itu. Setelah petak umpet yang melelahkan dan penuh kehati-hatian, akhirnya cowok kurus itu berhasil lari juga dari Dika.


“Fuuh. Aman. Untung dia percaya kalau aku sakit perut. Tungguin, noh, seharian di depan toilet. Nggak bakalan ada aku di situ,” gumam Elang seorang diri sambil terkekeh. Kali ini dia sudah menyediakan topi cokelat bermotif dua garis lengkung di bagian kanan depan. Jam pulang sekolah seperti ini, matahari memang lagi ganas-ganasnya.


Sambil bersiul kecil, Elang berjalan riang menuju rumah Fahrani. Tidak seperti sebelumnya, kali ini Fahrani sudah menunggunya di depan gerbang. Senyum lebar dan mata sipitnya langsung dinampakkan begitu Elang datang. “Hai, Elang.”


“Hai juga, Rani. Kamu ngapain berdiri di sini? Kan, panas. Nanti kulitnya item, loh,” goda Elang sambil menunjuk wajah Fahrani.


“Nggak apa-apa. Bosen aja di dalam. Yuk, masuk,” Fahrani menggandeng Elang tanpa canggung. Sebenarnya cowok tinggi itu risi diperlakukan seperti ini, tetapi dia segan untuk meloloskan diri. Selama ini tidak pernah sekali pun dia disentuh atau pun menyentuh cewek. Apalagi digandeng. Satu-satunya cewek yang pernah dekat dengannya hanyalah sahabat kecilnya dulu. Itu juga mereka tidak pernah saling menyentuh. Namanya juga masih SD.


“Ah, iya. Ayo,” jawab Elang tergagap.


“Kamu mau minum apa?”


“Apa aja, deh.”


“Oke. Kalau gitu aku ambilin air dari bak mandi, ya. Campur sabun dikit.”


“Hah? Memangnya aku kain kotor? Tega banget.”


“Hahaha. Abisnya kamu bilangnya apa aja.”


“Yaudah. Minumannya terserah, yang penting dingin dan manis kayak kamu.”


“Emang aku dingin?”

__ADS_1


“Maksud aku manisnya, bukan dinginnya. Aku pulang, nih.”


“Iya iya. Gitu aja ngambek. Bentar, ya. Aku buatin,” Fahrani berjalan ke dapur dengan riang. Nyanyian kecilnya terdengar sampai ke tempat Elang menunggunya.


“Suaranya merdu juga. Ini cewek idaman lelaki banget. Masak iya, sih, dia nggak ada pacarnya?” Elang bertanya-tanya sendiri. Ada sedikit kekaguman dalam hatinya. Dia sendiri tidak tahu. Hanya sebatas kagum karena kebetulan mereka punya kesukaan yang sama atau memang dia mulai menyukainya. Yang jelas, sampai saat ini Elang belum berniat untuk menuliskan puisi selain kepada sahabat masa kecilnya itu. Belum ada yang bisa menggantikan posisi gadis mungil itu di dalam hatinya. Bagaimana dia sekarang, ya? Pasti cantik banget. Kecilnya aja manis, apalagi udah gede.


“Hei, ngelamunin apa, sih?” tanya Fahrani yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya.


“Nggak. Bukan apa-apa. Aku cuma mikir aja, lagi ngapain si Dika sekarang, ya? Aku tadi bohongin dia. Aku sms dia, bilang untuk nungguin aku di depan toilet karena aku sakit perut. Males aku kalau ada dia. Ngerecokin terus.”


“Oh, iya. Aku hampir lupa kalau dia nggak ada bareng kamu. Abisnya, kan, aku perlunya sama kamu.”


“Hahaha Iya. Dika itu satu-satunya sahabat baikku. Memang ke mana pun aku pergi, dia selalu ngekor. Walau anaknya terkadang norak dan nyebelin, tapi dia itu baik, kok.”


“Iya. Kelihatan kok, dari wajahnya. Dia itu anaknya lugu, kadang leluconnya malah garing, tapi dia nggak sadar dan malah tertawa sendiri.” Fahrani tertawa lagi.


“Tuh, kan? Bengong lagi?” Fahrani menepuk pundak Elang sebal.


“Eh, maaf. Oya, ini novel-novel kamu aku kembalikan. Ada yang lain nggak?” Elang mencoba untuk mengalihkan kekesalan Fahrani agar tidak berlanjut.


“Ada, dong. Tapi aku nggak bakalan ambil kalau kamu nggak bawa novel kamu. Kan, janjinya tukaran. Masak cuma pinjam, sih?”


“Siapa bilang aku nggak bawa? Sengaja, sih. Siapa tau kamu lupa, kan aku tinggal pergi, nggak usah tukaran,” jawab Elang sambil mengeluarkan beberapa koleksi novelnya dan menjajarkannya di atas meja.


“Jahat, ih!” Fahrani mencubit lengan Elang pelan.

__ADS_1


Itu minumannya boleh aku minum?” tunjuk Elang pada gelas bening berisi air berwarna merah menggoda itu utnuk menghilangkan rasa canggung.


“Oh, iya. Maaf. Aku sampai lupa,” Fahrani segera mengambil gelas itu dan menyodorkannya ke Elang.


“Makasih, ya,” jawab Elang sambil tersenyum sekilas. Kemudian dia menghabiskan minuman manis itu sekali tanggak.


Fahrani melongo. “Kamu haus? Mau aku bikinin lagi?”


“Nggak. Nggak usah. Udah cukup, kok. Iya. Seger banget soalnya. Oh, iya, ambilin, dong, novel kamu.”


“Bentar, dong. Nanti kamu langsung pulang. Nggak mau, ah. Bentar lagi aja.”


“Emang kenapa?”


“Aku sendirian di rumah ini. Bunda pergi. Nggak enak, kan, nggak ada temennya. Bosen.”


Elang menatap Fahrani takjub. Anak ini polos sekali, ya? Dengan santainya dia ngaku kalau nggak ada orang di rumah. Kalau aku ada niat macem-macem gimana? Untung aku lagi baik hari ini.


“Kamu kenapa ngelihatin aku?”


“Nggak. Nggak ada apa-apa. Aku heran aja, kamu itu wajahnya Chinesse banget. Tapi, aku lihat Bunda kamu nggak ada Cina-Cinanya.”


“Hahaha ... Iya. Aku nurun dari Ayah. Memang nggak ada miripnya sama Bunda. Semua orang juga bilang gitu. Ayah mualaf saat nikah sama Bunda.”


“Oh,” Elang manggut-manggut.“

__ADS_1


Pembicaraan mereka pun berlanjut tanpa jeda. Ada saja yang dibicarakan, mulai dari novel, tulis menulis hingga kejadian lucu yang pernah mereka alami. Elang tidak menyangka, gadis yang dari luar sepertinya pemalu itu, ternyata asyik juga jika diajak ngobrol. Orangnya gampang nyambung diajak ngobrolin apa saja. Selera humornya juga lumayan bagus. Sepertinya, persahabatan mereka akan berlanjut lagi setelah ini.


__ADS_2