Melukis Bola Matamu

Melukis Bola Matamu
KEJAR AKU LAGI


__ADS_3

SUDAH hampir seminggu Naya dan Cakra memiliki aktivitas baru di halaman villa. Bak seorang guru dan murid, cowok jenaka itu mengajarkan mata pelajaran yang dilewatkan Naya di sekolah. Dengan caranya sendiri dia meringkaskan materi, kemudian membacakannya kepada kekasihnya, meskipun tak jarang Naya justru tertidur.


Seperti hari ini, Cakra memiliki cara jitu agar Naya tidak tertidur. Dia tidak lagi membacakan keseluruhan materi namun membacanya per kalimat yang harus dihapalkan Naya setelahnya.


Awalnya Naya menurut, tapi kelamaan dia merasa lelah dan semua ini terasa membosankan. “Apa memang harus kayak gini ya, Sayang?”


“Ya. Sejauh ini masih ini saja ide yang gue punya. Apa lu ada ide lain biar semuanya terasa lebih mudah?”


Naya menggeleng. “Gue males. Mulai besok gue nggak mau belajar lagi.”


“Kenapa? Apa cara gue ngajar terlalu cepet?” Cakra menatap lurus mata bulat itu.


“Bukan itu. Gue perlu beradaptasi dengan keadaan gue yang sekarang. Lu juga tahu, gue nggak segampang itu menghapal. Gue rasa ini juga nggak akan ada gunanya. Toh, gue nggsk akan pernah sekolah lagi.”


“Siapa bilang? Lu, kok, ngomongnya gitu? YA nggak mungkinlah lu nggak sekolah lagi. Lu harus tetep pinter biar orang lain nggak ... “ ucapan Cakra terhenti.


“Nggak apa? Nggak dihina oleh orang lain? Gadis lumpuh yang nggak punya masa depan memang nggak pantas untuk bermimpi. Bodo amat orang mau nganggap gimana!” teriak Naya dengan mata melotot.


“Naya, gue nggak ngomong gitu. Setiap orang itu punya kesempatan yang sama dalam hal meraih cita-cita. Tergantung individunya ingin terus berjuang menggapai mimpi itu atau nggak.”


“Tapi gue nggak bisa melukis lagi, Cakra. Tangan gue nggak tahan lag buat lama megang kuas. Jari gue sering mati rasa, Cak. Lu ngerti nggak, sih? Itu mimpi gue. Mimpi gue udah hancur. Gue nggak bisa melukis lagi dengan keadaan gue yang sekarang. Semua udah gelap. Nggak ada lagi lukisan. Hidup gue sekarang udah hampa. Nggak ada artinya lagi.” Naya menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis sejadi-jadinya.


Cakra segera memeluk Naya. Dibelainya rambut lurus itu dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


“Lu nggak perlu sedih. Lu nggak boleh gitu. Lu harus tetep ngeukis. Lu nggak boleh putus asa. Gue yakin, tangan lu bakalan terbasa lagi ngelukis, Nay. Lu cua butuh waktu. Dengan banyaknya lu istirahat, pasti bisa. Gue janji, secepatnya lu akan bisa melukis lagi. Percaya sama gue, Nay.”


Naya melepaskan tubuhnya dari Cakra dengan kasar. “Nggak mungkin, Cakra. Itu semua nggak mungkin. Lu nggak perlu janjiin apa-apa sama gue. Nggak ada lagi yang bisa gue lakukan. Dan lu? Lu bisa apa?”


***


“Ma, Cakra belum bangun? Kok aku nggak dengar suaranya? Biasanya dia, kan, sarapan bareng kita?” tanya Naya heran.


“Loh, memangnya dia nggak permisi sama kamu?” Bu Dian justru balik bertanya.


“Nggak, Ma. Memangnya ada apa? Dia ke mana?”


Bu Dian berpikir sejenak. Dia mengira Cakra telah permisi kepada Naya sebelum pergi, ternyata lelaki itu benar dengan ucapannya tadi pagi. “Oh, iya. Tadi dia udah balik ke Jakarta, pagi-pagi sekali. Ada yang mau dia urus.”


“Mungkin dia harus cepat-cepat pergi jadi nggak sempat permisi dulu sama kamu.”


“Cakra nggak pernah kayak gitu, Ma. Dia selalu mengutamakan Naya dari hal lain. Kalau pun ada sesuatu yang penting, dia selalu sempetin buat cerita atau paling nggak pamit dulu. Tuh, kan, Ma? Cakra sekarang itu aneh. Dia lebih banyak diamnya. Dia nggak seasyik lagi kayak dulu. Apa karena Naya udah nggak sempurna, jadi dia mau ninggalin Naya pelan-pelan?”


“Hush, kamu nggak boleh ngomong seperti itu. Cakra nggak mungkin setega itu sama kamu. Mama yakin, dia punya alasan yang kuat untuk ini. Kita tunggu aja kabar dari dia, ya.”


“Tapi, Ma ... “


“Udah, nggak usah mikir yang macem-macem. Kita doakan aja urusan Cakra bisa cepet selesai, jadi dia bisa datang ke sini lagi. Ayo, lanjutin lagi makannya. Macem-macem aja yang dipikirin.”

__ADS_1


Naya membuka mulutnya enggan. Perasaannya tidak enak. Seperti akan ada sesuatu yang memisahkannya dengan Cakra. Entah apa itu, tapi dia merasakannya. Ya Tuhan, Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Cakra. Semoga dia tidak berpikiran untuk meninggalkanku, batin Naya waswas.


Selesai sarapan Naya meminta untuk didudukkan di teras villa. Setidaknya udara segar pedesaan akan sedikit menentramkan hatinya.


Naya sekarang banyak diam. Dia kini sudah tidak terlalu sering marah-marah lagi. Hanya mengikuti apa yang dikatakan mamanya. Sekarang dia harus melakukan terapi jalan dengan suster yang datang ke villanya. Memang berat, tapi dia tidak bisa berdiam diri saja dengan duduk di kursi roda tanpa berbuat apa-apa.


Bulir-bulir hangat dari bola matanya terkadang jatuh begitu saja. Gadis yang dulunya penuh semangat dan ceria ini kini hanya bisa berdiam diri. Naya ingat pertemuannya dengan Caka pekan lalu di tempat ini. “Cak, masih ingat nggak waktu gue jalan cepat dan lu selalu tertinggal di belakang?”


“Iya, gue ingat. Kenapa? Waktu itu guekesel banget. Gue harus lari bar ada terus di sebelah lu. Cepet amat, sih, jalan lu? Keturunan kaki seribu, ya?”


“Sengaja. Cuma waktu jalan sama lu aja kali. Entah kenapa, rasanya asyik aja main kejar-kejaran gitu.”


“Dasar, Cewek jai!.” Cakra menjewer telinga kanan Naya pelan.


“Biarin! Tapi lu harus janji.”


“Janji apa?”


“Janji kalau lu nggak bakalan balas dendam. Gue harus tetap ada di depan lu. Lu doronggin kursi roda gue ke mana pun gue mau pergi. Gue nggak mau ada yang berubah dari kita.”


“Curang lu!” Cakra terkekeh dan mengacak rambut Naya gemas.


Ingatan tentang Cakra terus terlintas di benak Naya. Rambut tebalnya yang hitam menari-nari diembus angin. Aku rindu kamu, Cakra. Aku rindu kamu yang selalu mengejarku, batin Naya sedih.

__ADS_1


__ADS_2