Memanjakan Istri Cantik: Goda Pelan-Pelan, Tuan Muda Hamzah

Memanjakan Istri Cantik: Goda Pelan-Pelan, Tuan Muda Hamzah
Bab 11: Ayah Licik


__ADS_3

Setelah memberi satu sendok makanan anjing untuk Corgi yang belum makan, Karen tiba-tiba teringat sebuah pertanyaan. Ia menoleh ke arah ayah dan anak yang duduk berjauhan di sofa.


“Siapa nama Corgi ini?” tanya Karen.


Gabriel melihat Corgi yang tengah makan. “Anjing Kecil.”


“Aku tahu dia anjing kecil, aku sedang menanyakan namanya.” Karen berjongkok di samping Corgi, lalu segera bereaksi, “Jangan-jangan namanya….”


“Ya, namanya ‘Anjing Kecil’.” Gabriel lanjut menonton TV, sama sekali tidak merasa ada yang salah dengan nama itu.


Karen membeku di tempat, lalu merasa kasihan untuk anjing kecil. “Bolehkah aku bertanya, siapa yang memberinya nama?”


“Bayi Kecil.” Bakpao kecil tiba-tiba berdiri di sofa. “Bukan Tuan Hamzah.”


Bakpao kecil sengaja menambahkan panggilan Karen untuk dirinya, sekalian mengejek ayahnya.


Karen menghela nafas dalam hati. Bakpao kecil terlihat seperti bakpao sehingga dipanggil ‘bakpao kecil’, Corgi adalah anjing sehingga dipanggil ‘Anjing Kecil’. Kedua ayah dan anak ini benar-benar seenaknya.


Gabriel melirik bakpao kecil yang berdiri di sofa, lalu berkata, “Tidak boleh berdiri di sofa, duduk baik-baik.”


Bakpao kecil cemberut. Dia melihat Karen yang berjalan ke sini, dengan tatapan meminta bantuan. Karen yang menerima bantuan, duduk di sofa dan menasihati, “Anak kecil suka bermain, tidak apa-apa berdiri sebentar.”


Gabriel enggan membantah Karen, hanya saja ia melirik bakpao kecil lagi.


Bakpao kecil tersenyum licik, masuk ke dalam dekapan Karen. “Papa tidak membiarkanku berdiri di sofa, kalau begitu aku duduk di dekapan Tante Adnan, oke?”


“Oke.” Hati Karen akan meleleh, melihat senyum manis bakpao kecil. Tentu tidak akan menolak.


Tapi dari sudut yang tidak terlihat oleh Karen, bakpao kecil tersenyum penuh kemenangan kepada Gabriel yang ekspresinya menggelap.


Ketika Karen menoleh lagi, keduanya kembali terlihat seperti ayah dan anak yang harmonis.

__ADS_1


“Hm… Tuan Hamzah, kapan pembantu kembali?” tanya Karen.


“Mungkin harus beberapa saat lagi. Mungkin satu bulan, mungkin juga setengah tahun,” ujar Gabriel tanpa mengubah ekspresinya.


Bakpao kecil mengejek ayahnya dalam hati. Ia jelas-jelas mengingat bahwa ayahnya mengusir pembantu tadi malam. Saat itu ia masih bingung, hari ini sudah mengerti. Tapi bakpao kecil segera mendalami peran.


“Apakah Tante Adnan tidak ingin memasak untuk kami berdua lagi setelah memasak sekali untuk kami?” Kemudian memasang ekspresi terluka. “Kalau begitu aku dan Ayah hanya bisa makan makanan sampah yang tidak sehat. Dulu aku selalu kelaparan setiap kali Bibi cuti. Aku pikir kali ini ada Tante Adnan, jadi tidak akan kelaparan lagi.”


Begitu melihat ekspresi kasihan bakpao kecil, hati Karen hampir meleleh. Dia segera berkata, “Bagaimana bisa? Tante Adnan hanya melihat sayur di kulkas sudah habis. Lain kali Tante Adnan memasak untukmu setiap kali, oke?”


“Kita buat janji kelingking kalau begitu.” Bakpao kecil mengangkat wajah kecil dengan kasihan. Ada air mata di matanya.


Karen tersenyum, lalu mengulurkan tangan untuk membuat janji kelingking dengan bakpao kecil.


“Kalau begitu, kita beli sayur di supermarket besok?” saran Gabriel mendadak.


Begitu kata-katanya terlontar, Karen tertegun sejenak. Ia tidak bisa membayangkan pemandangan Presdir Grup Hamzah menemaninya belanja sayur.


Akhirnya, Karen mengangguk, berkompromi.


Satu tangan bakpao kecil melingkari leher Karen, lalu mengacungkan jempol pada Gabriel. Gabriel pun mengangguk kecil pada bakpao kecil.


Hanya Karen yang tidak tahu bahwa dirinya telah dijebak oleh kedua ayah dan anak itu.


Gabriel mengernyit, melihat bakpao kecil masih berada di dalam dekapan Karen. “Sudah begitu malam, waktunya tidur.” Lalu, sekalian melepaskan bakpao kecil yang menempel di tubuh Karen.”


Bakpao kecil cemberut. Ayahnya iri karena ia bisa memeluk Tante Adnan. Dia tidak bisa memeluk dan tidak membiarkannya memeluk. Huh, dasar orang dewasa.


Karen berkata dengan sedikit sulit, “Di mana aku tidur kalau begitu?”


“Tentu saja Tante Adnan harus tidur bersama Bayi Kecil.” Setelah Karen memanggilnya ‘bayi kecil’, ia dengan senang hati memanggil dirinya dengan sebutan itu. Terutama ketika ingin meminta sesuatu dari Karen. “Bayi Kecil akan takut di malam hari jika tidur sendiri.”

__ADS_1


Begitu kata-katanya terlontar, kerah belakangnya ditarik. Gabriel mengangkat bakpao kecil di tangannya. “Apa kasur kecilmu itu masih cukup?”


Sebelum Gabriel mengusulkan agar mereka tidur bersama untuk satu malam, Karen tertawa. “Hubungan kalian begitu baik, bagaimana jika Tuan Hamzah menerima Bayi Kecil untuk satu malam? Bayi Kecil, Tante Adnan meminjam kamarmu untuk satu malam, oke?”


Bakpao kecil bersumpah tidak akan membiarkan ayahnya mendapat keuntungan, sehingga mengangguk cepat. “Tenang, Tante Adnan, kamar Bayi Kecil harum, lho.”


Akhirnya, kedua ayah dan anak itu tidur di satu kasur dengan saling mengejek.


“Pa, bukannya Bayi Kecil mengejekmu. Kamu memenuhi dua kamar tamu, tapi akhirnya hanya bisa tidur bersamaku.” Bakpao kecil menertawakan Gabriel tanpa sungkan.


“Diam dan tidur.” Gabriel diam-diam merasa marah. Besok harus merapikan sebuah kamar tamu.


Yang mengejutkan Karen adalah, ketika ia bangun dan hendak membuat sarapan keesokan paginya, Gabriel dan bakpao kecil sudah duduk di meja makan dan menunggunya untuk sarapan.


Karen segera membasuh diri kemudian duduk di meja makan. Sarapannya tidak termasuk mewah - susu kedelai, bakpao, telur, dan acar yang biasanya bisa dibeli di kios sarapan pinggir jalan. Karen agak terkejut. Gabriel tidak terlihat seperti orang yang biasanya makan makanan seperti ini. Tapi sarapan bersama seperti ini, seolah menghapus perbedaan antara karyawan dan presdir. Memberinya ilusi bahwa Gabriel tidak sesulit dijangkau seperti yang dirumorkan.


Bakpao kecil mengambil susu kedelai sambil memelototi ayahnya. Dulu ketika mempekerjakan pembantu, ayahnya sering memecat pembantu karena sarapan yang dibuat kurang tawar, tidak bergizi, dan terlalu sedikit macam. Dulu, katanya sarapan paling penting, pemilih, sarapan pun harus mencari masalah. Sekarang demi menyanjung Tante Adnan, dia berubah menjadi waras. Bakpao kecil meludah dalam hati. Benar-benar licik.


“Apa kalian bangun sepagi ini biasanya?” tanya Karen asal.


“Tidak, tapi kita akan belanja bersama hari ini,” jawab Gabriel.


Karen minum seteguk susu kedelai dan hampir tersedak, ia berdeham. Menerima dua lembar tisu dari Gabriel, ia segera menyeka bibirnya. “Terima kasih.” Tapi dalam hati membatin, hanya pergi membeli sayur pun harus bangun pagi.


Bakpao kecil seperti bisa membaca pikiran. Dia berkata, “Bukan hanya untuk keliling supermarket, lho. Kami membereskan kamar tamu pagi-pagi. Lain kali Tante Adnan tidak perlu tidur di kamar Bayi Kecil lagi.” Bayi Kecil pun tidak perlu merebut selimut dengan ayah licik lagi.


Karen agak terharu, dan berkata, “Sebenarnya kalian tidak perlu membereskan kamar untukku sepagi ini.”


“Sama-sama. Bayi Kecil yang membangunkan Papa pagi-pagi untuk membereskan kamar Tante Adnan, lho.” Bakpao kecil berinisiatif untuk memberitahu.


“Terima kasih, Bayi Kecil.” Karen tersenyum sambil berkata, “Terima kasih juga, Tuan Hamzah.”

__ADS_1


Gabriel berdeham lalu berkata, “Bukan apa-apa, hanya sekalian.”


__ADS_2