
Selesai makan, Karen bersandar di kepala ranjang, memikirkan kemarahan Gabriel tadi. Dia biasanya bukan pemarah, apakah kali ini kelakuannya sudah melewati batasan?
Kalau begitu minta maaf saja. Bakpao kecil seharusnya sudah mencerahkan Gabriel. Karen berpikir sambil memakai sandal.
Bagaimanapun, ia tinggal di rumah Gabriel. Apalagi orang seperti Gabriel pasti terbiasa diminta maaf.
Keluar dari kamar, Karen memelankan langkahnya sebisa mungkin, berderap menuju ruang kerja Gabriel. Begitu mengangkat tangan untuk mengetuk pintu, ia mendengar suara pintu rumah di lantai satu tertutup.
Langkah Karen berhenti di tempat seketika. Tidak tahu harus maju atau mundur. Lengan yang terangkat, jatuh di kedua sisi tubuhnya.
Ia menertawakan diri. Sudah begitu malam, tidak mungkin bakpao kecil yang keluar. Pasti Gabriel. Awalnya mengira kemarahan Gabriel akan reda setelah menyuruh bakpao kecil mengantar makan untuknya. Kemudian, mungkin ada kesempatan untuk berbicara baik-baik.
Tapi Gabriel malah keluar. Jika dirinya tidak ada, dia tidak akan meninggalkan bakpao kecil sendiri di rumah. Karen berbalik, kembali ke kamarnya dengan kepala tertunduk.
Setelah menutup pintu, Karen bersandar di pintu. Mengingat kembali kepanikan Gabriel, nafas berat dan suara seraknya, ia akui ia tidak pernah melihat Gabriel yang seperti itu. Seingatnya, Gabriel selalu sopan dan suasana hatinya jarang tertulis di wajahnya.
Karen mengeluarkan koper yang ia bawa saat pindah ke sini.
Tampaknya bakpao kecil benar-benar sangat penting di hatinya. Dia pasti tidak akan membiarkannya tinggal, kan. Ia pernah mendengar tentang betapa tegasnya peraturan Gabriel. Dia juga tidak pernah memberi kesempatan kedua untuk orang lain. Kalau begitu, lebih baik ia mengemas barangnya. Setidaknya dengan begitu masih bisa meninggalkan kesan pengertian.
Sebuah suara terdengar dari lantai satu. Karen tiba-tiba panik. Pengedap suara kediaman Hamzah sangat bagus. Ia mengira bakpao kecil menjatuhkan sesuatu, sontak berteriak, “Bayi kecil, apa yang terjadi?”
Ia berteriak sambil meletakkan barang yang sedang ia bereskan. Karen yang agak cemas, langsung berdiri dan hendak keluar.
Pintu dibuka dari luar ketika tangannya baru menyentuh pegangan pintu. Karen tertegun melihat sosok tinggi di depan. Gabriel juga tidak menyangka akan berpaspasan dengan Karen begitu membuka pintu. Keduanya tertegun selama beberapa detik.
__ADS_1
Karen merasa suasana agak canggung, jadi menggaruk rahangnya. “Hm, bakpao kecil baik-baik saja, kan?” Selesai mengucapkan kalimat tersebut, Karen mengatai dirinya bodoh dalam hati. Jika bakpao kecil tidak baik-baik saja, Gabriel pasti pergi melihat bakpao kecil, mungkinkah datang ke sini?
Tapi perhatian Gabriel tidak di sini. Melihat tumpukan koper di belakang Karen, tatapan Gabriel menggelap. “Kamu mau pindah dari sini?”
Merasakan hawa dingin tanpa alasan, Karen menggigil dan memeluk lengannya tanpa sadar.
Melihat tangan yang memegang lengannya, Gabriel mencengkeram tangannya. Karen belum sadar, sudah dibawa ke pinggir ranjang untuk duduk oleh Gabriel. Ia baru melihat bahwa Gabriel memegang sebuah obat luka bakar.
Melihat Gabriel yang berjongkok di depannya sambil mempelajari obat luka bakar, Karen mencoba bertanya, “Kamu sudah tidak marah?”
Gabriel tidak menjawab, hanya mengoleskan salep ke ujung jari Karen dengan hati-hati. Dari sudut Karen hanya bisa melihat bayangan hidung mancung dan bulu mata tebal Gabriel di bawah cahaya. Ujung jari Karen gemetar ketika disentuh. Rasanya seperti tersentrum, dengan rasa dingin dari salep. Rasa sakit terbakar perlahan menghilang.
Jari tangan kiri terlepas, lalu diletakkan di atas paha. Karen menunduk dan menggaruk telapak tangannya karena tidak tahu harus berbuat apa.
“Aku sudah tidak marah.” Gabriel berdiri dan melihat Karen, memperhatikan gerakan kecilnya.
Sudut bibir Gabriel terangkat mendengar kalimat tersebut. “Yang harus kamu perhatikan bukan tidak membiarkan bakpao kecil pulang terlalu malam, tapi mengisi baterai ponsel.”
Di luar dugaan Karen, ia tidak menyangka Gabriel akan berkata demikian. “Kalau begitu, berarti lain kali bakpao kecil pulang agak malam pun tidak apa-apa?” tanya Karen penuh harap.
Gabriel mengangguk kecil lalu menjelaskan. “Bakpao pernah mengalami kecelakaan kecil sebelumnya. Dia hanya bersamaku jika keluar di malam hari. Tapi karena dia tidak takut mengikutmu di malam hari, maka terserah pada dia.”
Karen menunduk dan menutupi telinganya yang agak panas. Mendengar kata-katanya seakan-akan mereka berdua adalah orang terdekat bakpao kecil. Seperti ayah dan ibu bakpao kecil.
“Apa kamu masih mau pindah dari sini?” Akhirnya Gabriel memperlihatkan ekor rubah yang telah lama disembunyikannya. “Kalau begitu kontrak yang kita tanda tangani….”
__ADS_1
“Tidak pindah, tidak pindah.” Karen menunduk, rona merah mulai muncul di wajahnya ketika mengingat dirinya sedang mengemas koper untuk pergi. Ia seketika merasa malu dan ingin menjelaskan, namun tidak tahu dari mana.
Gabriel pun berhenti dari topik tersebut. “Bakpao sedang menunggumu di ruang tamu untuk menonton TV.” Lalu berbalik dan pergi selesai berbicara.
Karen pun segera turun ke lantai bawah setelah mengembalikan barang ke tempat semula. Entah kenapa, ia merasa gembira seperti sesuatu yang hilang telah kembali.
Melihat Karen yang turun, bakpao kecil segera memanggil. “Tante Adnan, bayi kecil sudah menunggumu lama. Cepat ke sini, ada variety show kesukaanmu.”
Melihat bakpao kecil yang gembira, Karen pun mempercepat langkahnya, lalu duduk di sofa. Bakpao kecil masuk ke dalam dekapan Karen.
Gabriel mengerutkan alis begitu melihat bakpao kecil menempel pada Karen lagi. Dia mengusir bakpao kecil dengan tatapannya. Bakpao kecil tidak menggubrisnya dan meneruskan kelakuannya.
“Karen, berikan bakpao untukku sebentar.” Gabriel mengulurkan kedua tangannya pada Karen.
Bakpao kecil tampak takut dan mencengkeram baju Karen.
Karen tidak memperhatikan gerakan kecil bakpao kecil, langsung memberikan daging di tangannya kepada serigala. Melihat bakpao kecil mencengkeram tangannya, Karen tersenyum sambil berkata, “Ayo, jangan nakal.” Menghancurkan semua harapan bakpao kecil.
Bakpao kecil duduk di dalam pelukan Gabriel dengan pasrah. Gabriel teringat kata-kata bakpao kecil di ruang kerja tadi, sudut bibirnya terangkat.
Detik selanjutnya, bakpao kecil merasakan wajahnya dikecup oleh ayahnya.
Karen juga memperhatikan gerakan Gabriel, dan tiba-tiba teringat bahwa bakpao kecil ‘meminta ciuman’ darinya ketika di danau. Ia sepertinya mencium wajah bakpao kecil, di bagian yang sama. Ini seperti ‘ciuman secara tidak langsung’?
Wajah Karen memerah seketika. Gabriel seolah tidak melakukan apa pun, meletakkan satu tangan di sandaran sofa, dan memeluk bakpao kecil dengan tangan lain.
__ADS_1
Bakpao kecil menatap Gabriel lekat. Dia tahu bahwa rubah ini sengaja.
Gabriel terkekeh melihat tatapan bakpao kecil, lalu menarik tangannya dari sofa dan menyentuh bibirnya tanpa sadar.