
Karen melihat dekorasi langit-langit yang mewah ketika bangun lagi. Semuanya kemewahan bergaya Eropa. Sebagai desainer interior, dia langsung menganalisis perpaduan warna dan apakah ada ruang yang bisa diperbaiki.
Kedua, dia baru teringat bahwa dia sepertinya melompat ke sungai untuk menyelamatkan anjing seorang anak kecil, kemudian tenggelam karena tersedak.
Dia menoleh, bakpao kecil - yang menggendong seekor anjing kecil - yang tengah menatapnya, masuk ke dalam pandangannya.
Dia tersenyum kepada bakpao kecil. “Lihat, Tante tidak membohongimu, kan. Sudah membantumu menyelamatkan si anjing kecil.”
Ketika dia menyebut si anjing kecil, anjing Corgi di dekapan bakpao menggoyangkan bokong kecilnya, kemudian menggonggong pada Karen.
Mata Karen melengkung, merasa pengorbanannya tidak sia-sia. Dia melihat ke arah bakpao kecil. “Kamu yang mencari orang untuk menyelamatkanku?”
Dia melihat tempat di mana dia berada tidak seperti rumah sakit, justru seperti vila besar.
Bakpao kecil mengangguk, mendengar pertanyaan Karen.
“Wanita, apakah kamu tidak menggunakan otak dalam melakukan sesuatu?”
Sudut bibir Karen berkedut, kemudian dia menemukan bahwa suara tersebut bukan milik anak kecil. Dia mengangkat kepala dan mendapati sesosok tinggi di belakang bakpao kecil. Karena semua perhatiannya tertarik oleh bakpao kecil, dia tidak menyadari orang sebesar itu.
Pria tersebut sangat tinggi, bayangan dari tubuhnya - yang hampir 190 cm - menutupi bakpao kecil. Wajah tampannya mengeluarkan aura menghina. Seluruh ekspresinya berkata: jangan berpikir untuk mendapat keuntungan sedikit pun dari sini!
Ketika melihat dekorasi tempat ini, Karen sudah tahu bahwa status bakpao kecil pasti tidak biasa. Sekarang, ayah bakpao kecil ini pasti mengira bahwa dia ingin memeras, kan?
Dia berkata kepada pria itu, “Maaf, saat itu aku melihat anak ini akan menceburkan diri ke sungai untuk menyelamatkan anjing kecil, dan tidak bisa berpura-pura tidak melihatnya sehingga hanya bisa melakukannya sendiri.”
Pria itu melihat Karen sekilas kemudian mengibaskan tangan dengan curiga sambil berkata, “Pergilah kalau kamu baik-baik saja. Di depan ada mobil yang akan mengantarmu pergi.”
Pria tersebut keluar. Melihat Gabriel yang hendak berjalan ke sini, dia segera menghentikannya dan berkata, “Kak, kamu jangan masuk. Wanita yang ingin memeras itu sudah aku takut-takuti, dia akan segera pergi.”
“Hm?” Gabriel menyapu Gavin Hamzah - adiknya - dengan tatapan gelap.
__ADS_1
“Aku membantumu menyelesaikan masalah rumit. Apa kamu tidak melihatnya saat itu? Wanita itu jelas-jelas bisa naik ke daratan sendiri, tapi begitu melihatmu, dia langsung berpura-pura tenggelam. Dia pasti menginginkan harta keluarga kita!” analisis Gavin dengan serius.
Gabriel menghirup nafas dalam-dalam sehingga menahan dorongan untuk menamparnya. “Kamu sudah boleh pergi.”
Sudut bibir Gavin terangkat. Lihat, setelah dia melakukan hal sebaik ini, nada bicara kakaknya terhadap dia menjadi lebih bersahabat. Dia mengangguk senang, lalu keluar dari vila dengan serius.
Gabriel memijat keningnya. Melihat adiknya yang tidak kompeten, dia merasa tidak berdaya.
Dia merapikan pakaiannya, lalu hendak mengetuk pintu ketika pintu terbuka dari dalam.
Karen berjalan keluar, sedangkan gerakan mengetuk tangan Gabriel tidak berhenti sehingga langsung mengetuk dada Karen.
Persendian pria itu sangat keras dan sangat terasa. Wajah Karen langsung merona malu.
Apakah pria ini preman!
Gabriel juga menyadari kesalahannya. Dia berdeham lalu menarik kembali tangannya. Wajahnya kaku, seolah tidak menyadari kecanggungan sebelumnya. “Orang yang tadi berbicara sembarangan adalah adikku, jangan memasukkannya ke dalam hati.”
Karen tertegun sejenak sebelum bereaksi. Tampaknya pria ini ingin mengetuk pintu dan kebetulan ia membukanya sehingga terjadilah adegan ini.
Tapi pria di depannya tampak lebih dewasa. Wajah tampannya memiliki rasa matang, tatapannya dalam, membuat orang tenggelam begitu melihatnya.
Karen berusaha mengabaikan perasaan tadi. Dia menggeleng dan berkata, “Kekhawatiran adikmu tidak salah. Aku membantu hanya karena tidak bisa melihat anak kecil terjun sendiri, tidak berpikir untuk meminta imbalan apa pun.”
Begitu dia selesai berbicara, bakpao kecil menjulurkan kepalanya dari kamar. Karen yang melihatnya, merasa hatinya meleleh. Jika anaknya masih hidup, seharusnya sudah sebesar ini, kan.
Kesedihan melintas di matanya. Dia mengulurkan tangan untuk mengelus kepala bakpao kecil, tersenyum sambil berkata, “Selain itu, aku merasa bahwa aku dan anak ini berjodoh. Aku menyukainya begitu melihatnya.”
Senyumnya menular. Gabriel pun tersenyum tipis lalu berkata, “Bagaimanapun, kamu membantu anakku. Balasan tetap harus ada.”
Karen berpikir, kenapa perbedaan kedua saudara ini begitu besar? Kesan yang pria tampan ini berikan jauh lebih baik!
__ADS_1
Dia berpikir sebelum berkata, “Kamu benar-benar ingin membalasku?”
Gabriel mengangguk, tatapannya menggelap sedikit.
Karen mengelus kepala bakpao kecil, tersenyum sambil berkata, “Sebelumnya aku sudah mengatakan bahwa aku dan anak ini berjodoh. Kalau tidak berjanjilah padaku, biarkan aku datang bermain bersamanya jika ada kesempatan lain kali.”
Gabriel tidak menyangka Karen akan mengajukan permintaan seperti itu, kemudian dia teringat bahwa sepertinya dia belum mengungkit identitas Karen. Alisnya bertaut, tatapannya jatuh pada bakpao kecil.
Bakpao kecil melihat Gabriel sekilas dengan penuh kemenangan, kemudian memeluk paha Karen dan berkata dengan lembut, “Tante, aku antar ke depan.”
Karen merasa hatinya sudah meleleh. Dia berkata, “Oke.”
Bakpao kecil mengantar Karen ke dalam mobil. Setelah berpamitan dengan Karen, dia kembali ke vila.
Dia melihat pria yang duduk di kursi utama dan langsung berkata, “Dia milikku!”
Gabriel tersenyum sambil berkata, “Ya, dia akan menjadi ibumu.” Ketika menyelamatkan wanita itu dari sungai, ia - yang tidak memiliki perasaan terhadap lawan jenis selama bertahun-tahun - bisa-bisanya merasa berdebar. Jadi pada detik itu, ia bertekad untuk mendapatkan wanita tersebut.
Bakpao kecil memelototinya lalu berkata dengan kesal, “Bukan ibu, tapi milikku!”
Gabriel menatap bakpao kecil. “Milikmu? Sepertinya aku harus menunjukkan padanya surat-surat cintamu yang sebelumnya dikembalikan.”
Tubuh bakpao kecil menegang. Itu karena dulu ia masih kecil sehingga tidak mengerti, sekarang dia hanya menyukai tante seorang!
Tapi, dia memelototi Gabriel, sebagai pria dewasa yang mengancam anak kecil, apa kamu tidak kenal rasa malu!
Karen sama sekali tidak tahu bahwa ayah dan anak keluarga Hamzah telah memperebutkannya. Dia tengah bertelepon dengan Jack sekarang.
“Apa katamu, Kak Daniel? Sampel desainku sudah diserahkan? Tapi aku tidak pergi ke perusahaan.” Firasat buruk membanjiri hati Karen.
“Bagaimana mungkin? Nina yang membantumu membawanya ke sini. Apakah kamu lupa?” tanya Jack.
__ADS_1
Nina!
Hati Karen mencelos. Seharusnya ia tahu, bagaimana mungkin wanita itu membiarkannya mendapat kesempatan untuk bangkit?