
Di vila keluarga Hamzah, kedua ayah dan anak duduk di meja makan dan saling memandang tanpa bersuara.
Gabriel mendorong mangkuk nasi ke depan bakpao kecil. “Makan.”
Bakpao kecil tidak melihat mangkuk di depannya, melainkan menatap Gabriel dengan kesal. “Kamu curang!”
“Itu pekerjaan, bukan curang.” Gabriel menjawab tanpa merasakan tekanan batin.
Bakpao kecil memelototinya. Siapa yang percaya. Hari ini adalah hari istirahat ayahnya. Kakek-nenek menyuruhnya pergi bekerja sekalipun, dia tidak akan melakukannya. Mungkinkah ayahnya pergi bekerja pada hari ini? Memikirkannya saja bisa mengetahui betapa palsunya itu!
Dia menatap Gabriel dengan kesal dan bibir cemberut. Orang dewasa yang menyebalkan, bisa-bisanya melakukan pendekatan dengan pekerjaan, dan menemui Tante Adnan diam-diam! Jahat sekali!
“Kenapa? Tidak terima? Ambil alih Grup Hamzah kalau begitu. Dengan begitu, kamu bisa memanfaatkan pekerjaan.” Suara Gabriel terdengar tenang.
Bakpao kecil tidak bisa menahan diri untuk tidak memutar bola mata. “Usiaku baru berapa?”
“Bagus jika kamu mengerti. Jadi, seharusnya kamu tahu bahwa kamu tidak bisa memberikan apa yang Tante Adnan-mu inginkan,” didik Gabriel.
Bakpao kecil marah. “Kamu tunggu saja, aku akan mengalahkanmu setelah aku dewasa!”
Gabriel tersenyum. Ini adalah hal yang ia inginkan. Kebetulan ia bisa menyerahkan semua pekerjaan padanya, kemudian hidup bebas bersama wanita tersebut.
Lain di mulut, lain di hati. “Kalau begitu harus melihat apakah kamu memiliki kemampuan untuk itu.”
Bakpao kecil masih kurang mengerti jalan pikiran orang dewasa, jadi dia segera bersumpah, “Huh, kamu tunggu saja!”
“Kalau begitu kamu juga harus makan. Kamu selamanya tidak bisa tumbuh dewasa jika tidak makan,” tutur Gabriel datar.
Tanpa bicara, bakpao kecil mengambil sumpit dan menyodok nasi di mangkuk. Terlihat tidak ingin makan.
“Ingin pergi melihatnya?” tanya Gabriel.
__ADS_1
Bakpao kecil melihatnya sekilas, kemudian mengangguk dan menatap Gabriel dengan penuh harap.
Gabriel mengambil mangkuk di depan, lalu makan sesuap. “Kalau begitu kamu harus makan. Setelah kenyang baru punya tenaga.”
“....” Senyum menyanjung di wajah bakpao kecil menjadi kaku.
Huh, orang dewasa!
Di sisi lain, Karen kembali ke rumah sewaannya. Mengingat ia akan tinggal di rumah Gabriel untuk setengah tahun ke depan, ia berhenti menyewa rumah itu, kemudian membersihkan bahan makanan di kulkas.
Seharusnya bisa dihabiskan besok, jadi ia pun tenang.
Oleh karena itu, ia kembali ke kamar dulu untuk mengemas koper. Barang bawaannya memang tidak banyak sehingga kurang dari satu jam sudah selesai berkemas.
Karena sudah malam, dia membuat sedikit makanan, kemudian pergi mandi lalu tidur setelah makan.
Berbaring di kasur, ia merasa sedikit tidak nyata. Tidak sangka kesempatannya untuk bangkit datang secepat ini.
Karen keluar dari dapur, kemudian berderap ke pintu dengan bingung. Siapa yang datang jam segini?
Ia tidak mengingat jika ia mengenal seseorang selama setengah tahun pulang negeri.
Ia melihat luar melalui lubang intip pintu, namun tidak mendapati siapa pun.
“Guk!”
Suara dari bawah menarik perhatian Karen. Ia membuka pintu dan hanya melihat sosok kecil yang tengah menggendong seekor anjing Corgi, memakai tas yang gemuk sambil menatapnya.
Bakpao kecil kemarin!
Ia segera membiarkannya masuk, kemudian melihat belakangnya dengan bingung. “Kamu datang sendiri?”
__ADS_1
Bakpao kecil teringat kemarin ia masuk ke ruang kerja ayahnya secara diam-diam, lalu menemukan alamat Tante Adnan. Pagi ini dia datang terburu-buru, tentu saja sendiri.
Tapi agar Tante Adnan tidak khawatir, dia berkata, “Ayah yang mengantarku ke sini. Dia harus bekerja sehingga pergi dulu. Tante, bolehkan aku tinggal di sini?”
Berpikir bahwa selanjutnya ia akan berduaan dengan Tante Adnan, wajah bakpao kecil penuh dengan ekspresi bahagia.
Karen tidak memiliki urusan apa pun hari ini sehingga tidak menolak permintaan bakpao kecil. Dia tersenyum sambil berkata, “Tidak masalah. Apakah Ayahmu mengatakan kapan dia akan menjemputmu?”
Pintu diketuk lagi ketika kata-katanya baru terlontar.
Dia terheran-heran, kenapa rumah kecilnya didatangi banyak orang hari ini?
Tanpa melihat, dia langsung membuka pintu.
Begitu membuka pintu, sosok tinggi kemudian membayangnya. Aroma segar pun memenuhi penciumannya.
Dia mengangkat kepala dan bingung. “Pak Hamzah, bukankah kamu sudah pergi bekerja?”
Gabriel berkata dengan lancar, “Aku takut anakku merepotkanmu, jadi naik untuk melihatnya.”
Karen mengeluarkan sandal Gabriel. “Maaf, hanya ada ini di rumah.”
Itu adalah sandal Peppa si Babi. Dia memenangkannya dari undian di supermarket. Karena hampir tidak ada pria yang datang ke rumah, jadi tidak ada orang yang memiliki kesempatan untuk memakainya. Akhirnya kali ini terpakai.
Karen memperhatikan tatapan Gabriel pada sandal, lantas berkata, “Pak Hamzah, tenang, sandal ini tidak pernah dipakai siapa pun. Rumahku juga tidak pernah kedatangan pria, jadi sandal ini masih baru.”
Alis Gabriel terangkat ketika mendengar kata-kata Karen, yang menunjukkan bahwa suasana hatinya sangat bagus.
Namun, lain halnya dengan bakpao kecil yang berdiri di belakang Karen. Apa maksudnya rumah ini tidak pernah kedatangan pria? Apakah ia tidak termasuk pria?
Lupakan Tante Adnan yang mencemaskan. Yang paling menyebalkan adalah ayahnya! Kenapa dia mengikutinya datang ke sini?
__ADS_1