Memanjakan Istri Cantik: Goda Pelan-Pelan, Tuan Muda Hamzah

Memanjakan Istri Cantik: Goda Pelan-Pelan, Tuan Muda Hamzah
Bab 4: Reputasimu Akan Hancur


__ADS_3

Ia mengerutkan alis kemudian berkata kepada supir, “Pak, tolong antar aku ke Grup Hamzah.”


Karena memikirkan cara untuk memperoleh pesanan ini, ia tidak memperhatikan ekspresi aneh supir.


Supir mengantar Karen ke Grup Hamzah. Ia berterima kasih kepada supir kemudian turun dari mobil.


Ia memasuki Grup Hamzah. Setelah mengetahui tujuan kedatangannya, resepsionis membawanya ke ruang tunggu di lantai 18.


Sudah ada beberapa desainer yang menunggu di sana.


Walaupun permintaan Grup Hamzah tinggi dan ada krisis, tetapi ada peluang yang berdampingan dengannya. Jika disukai Grup Hamzah, maka bisa berhasil dalam satu langkah. Oleh karena itu, ada begitu banyak orang yang datang untuk mencoba keberuntungan setiap harinya.


Ia duduk dan melihat sampel desain yang ia bawa. Ia tidak tahu seperti apa sampel desain yang Nina siapkan untuknya. Namun, sekarang ia hanya bisa berjuang untuk membuat orang yang berkuasa melihat ulang sampel yang ia bawa. Hanya bisa menganggap sampel yang salah sebagai kesalahan untuk meminimalisir kerugian.


Ia duduk di sana dan memejamkan mata, memikirkan penjelasan yang harus ia berikan agar dipercaya. Saat ini pintu ruang tunggu dibuka.”


“Cepat lihat, itu Nina! Dia saja datang, bukankah kita tidak memiliki kesempatan sama sekali kalau begitu?”


“Ya, dia memenangkan banyak penghargaan domestik selama beberapa tahun terakhir. Jika dia juga datang untuk melamar, kita benar-benar tidak punya kesempatan.”


Saat mendengar kata-kata itu, Karen membuka mata dan kebetulan melihat Nina masuk. Dia memakai sepatu hak setinggi belasan sentimeter dan mengenakan setelan yang dijahit pas, membuat tubuhnya semakin memesona.


Begitu masuk, tatapan Nina langsung mengunci Karen, kemudian menunjukkan senyum mengejek.


Karen sudah paham, dia datang untuk menonton dirinya. Ia menghirup nafas dalam-dalam sehingga mengendalikan keinginan untuk menampar wajahnya yang pernah dioperasi.


Namun, Nina tidak sesadar Karen. Dia berkata kepada seseorang yang duduk di sebelah Karen, “Nona, bolehkah kita bertukar tempat?”


Orang tersebut tersanjung dan segera memberi tempatnya untuk Nina.


Setelah berterima kasih, dia duduk di sebelah Karen.


Karen memutar bola matanya. Nina benar-benar menggunakan segala cara untuk membuatnya merasa jijik!

__ADS_1


“Kakakku yang baik, setelah mengetahui sampel desainmu sudah diserahkan, kamu begitu tidak sabar untuk datang mencobanya?” Begitu duduk, Nina berbicara dengan suara yang hanya terdengar oleh mereka berdua.


Karen tersenyum dingin lalu mendengus. “Jika aku tidak datang, bukankah menyia-nyiakan niat baikmu?”


Nina tertegun kemudian nada bicaranya terdengar senang. “Ya, aku harus berterima kasih kepada Kakak karena membuatku bisa menonton pertunjukkan bagus.”


Mendengar kata-kata Nina, suasana hati Karen seketika memburuk. Dari nada bicaranya, sampel desain yang dia serahkan pasti jelek!


Nina tersenyum melihat ekspresi tenang Karen yang dibuat-buat. Ia sengaja mencari orang untuk mengedit CV yang unik, semoga dia masih bisa mempertahankan ketenangan ini ketika masuk!


Memikirkan desas-desus tentang Presdir Grup Hamzah yang tidak dekat dengan perempuan, ia tersenyum semakin lebar. Untuk seorang desainer yang ingin menggoda Presdir Grup Hamzah, reputasi hancur hanyalah masalah waktu!


Ketika dia berpikir, seseorang datang memanggil mereka. Orang pertama yang dipanggil adalah Karen.


Karen berdiri dan berusaha tenang, kemudian memeriksa barang bawaannya sebelum pergi bersama sekretaris.


Pada saat yang sama, di kantor Presdir.


Setelah diberitahu supir bahwa Karen datang ke Grup Hamzah, dia meninggalkan bakpao kecil kemudian langsung kembali ke Grup Hamzah.


Dia duduk di kursi kerja dan tersenyum tipis melihat sampel desain di laptop. Tidak sangka begitu kebetulan. Tampaknya mereka benar-benar serasi.


Mata Gabriel menatap CV Karen dan senyumnya perlahan menjadi jahat.


Pintu kantor diketuk saat ini. Dia berdeham lalu berkata dengan berwibawa. “Masuk.”


Di luar, Karen hanya merasa suara tersebut sangat familiar, seperti baru mendengarnya beberapa saat yang lalu. Kemudian dia dibawa ke dalam kantor.


Dia sangat berhati-hati setelah memasuki kantor. Setelah pria itu menyuruh orang yang membawanya datang untuk pergi, dia barulah mengangkat kepala dan melihat ke arah suara pria itu berasal.


Sudut bibirnya kemudian berkedut. Bukankah ini ayah bakpao kecil!


Jangan-jangan dia Presdir Grup Hamzah?

__ADS_1


Gabriel pun menunjukkan ekspresi terkejut. “Kebetulan sekali.”


“Ya, benar-benar kebetulan. Kamu Gabriel?” Karen lupa menggunakan kata-kata sopan karena bersemangat.


Namun, Gabriel terhibur karena namanya disebut langsung oleh wanita itu. Ekspresinya tampak gembira. “Sepertinya aku lupa memberitahumu.”


“Tidak, tidak, tidak. Aku yang salah, bisa-bisanya tidak mengenalimu,” ucap Karen malu, menyentuh belakang kepalanya.


Semua penduduk Indonesia pasti mengenal Gabriel, kan. Tapi dia baru pulang selama setengah tahun dan sama sekali tidak punya waktu untuk memperhatikan hal lain karena ulah Nina. Jadi, dia tidak mengenalnya di waktu pertama.


Tapi, Karen menghela nafas lega karena Gabriel adalah orang yang ia kenal. Dengan begitu, ia bisa menyerahkan sampel desainnya yang sebenarnya. Bagaimanapun, mereka termasuk kenal.


“Hm, Pak Hamzah, sampel desainku….”


“Aku sudah melihat sampel desainmu, sangat bagus. Ada juga permintaan khususmu. Jika kamu bersikeras, aku bisa menyetujuinya.”


Keduanya membuka mulut bersamaan. Tapi suara tenang Gabriel memotong kata-kata Karen.


Karen mengerjapkan mata barulah yakin dirinya tidak salah dengar. Sampel desain yang dikirim Nina bisa-bisanya bagus menurut Gabriel? Tapi yang lebih ia perhatikan adalah, permintaan khusus? Permintaan khusus apa? Ia merasakan firasat buruk.


Ia ragu sejenak sebelum mencoba bertanya, “Pak Hamzah, sebenarnya sampel desain itu salah. Maukah kamu melihat sampel desainku yang baru?”


“Salah? Kalau begitu kamu akan mengirim sampel desain itu kepada siapa?” Tatapan Gabriel langsung menjadi dingin seperti es.


Karen merasa gelisah karena tatapannya. Apa yang sebenarnya Nina sialan kirimkan kepada Gabriel?!


Ia menarik sudut bibirnya. “Tidak berniat mengirimnya kepada siapa pun. Hanya… hanya iseng-iseng, tidak sangka rekan salah ambil dan mengirimnya. Maaf, Pak Hamzah.”


Ekspresi Gabriel barulah membaik, namun kekecewaannya tidak bisa ditutupi.


Karen penasaran, apa yang Nina lakukan? Bisa-bisanya membuat Gabriel menunjukkan begitu banyak ekspresi….


Logikanya, Nina tidak akan membiarkannya baik-baik saja….

__ADS_1


__ADS_2