
Bakpao kecil tidak akan memberitahu Karen bahwa ia sudah berpikir untuk membereskan ruang tamu sejak tadi malam. Ia jelas ingin memeluk Tante Adnan dan tidur bersamanya. Akhirnya hanya bisa tidur bersama ayah dan rebutan selimut.
Tidak sangka mereka memiliki ikatan batin. Ayahnya juga berpikir demikian. Oleh karena itu, keduanya tidak berbicara kepada satu sama lain ketika bangun, dan mulai memindahkan barang dari kamar tamu.
Menunduk dengan lesu, mulai bertengkar. Semua salah ayah, ia kurang tidur.
Sepertinya melihat kelesuan bakpao kecil, Karen berkata dengan khawatir, “Ada apa denganmu, Bayi Kecil? Apakah tidak enak badan?”
Bakpao kecil menggeleng, namun tidak bisa menahan diri untuk tidak menguap. Karen seketika mengerti dan menasihati bakpao kecil untuk pergi tidur.
Pada saat ini Gabriel mengusulkan, “Bagaimana jika kita pergi ke supermarket sekarang?”
Dengan kelopak mata berat, bakpao kecil terpaksa mengangkat kepalanya, kemudian berkata dengan bersemangat kepada Karen, “Bayi Kecil juga ingin pergi bersama kalian.”
Karen merasa agak sulit. “Sekarang baru jam 8, supermarket seharusnya baru buka. Meskipun orangnya memang sedikit, tapi saat ini terlalu pagi.”
Begitu mendengar kata-kata Karen, Gabriel bertanya dengan bingung, “Orang di supermarket sangat sedikit sekarang?”
Setelah melihat Karen mengangguk yakin, Gabriel kemudian bersikap layaknya ayah yang baik, berkata kepada bakpao kecil, “Kamu begitu mengantuk, cepat pergi tidur. Kamu akan dipanggil ketika kita akan pergi ke supermarket.”
Setelah mengusir bakpao kecil, Gabriel bertanya lagi, “Kapan waktu supermarket paling ramai?”
“Sekitar jam 10 sampai jam 11,” ucap Karen sambil mengingat-ngingat.
“Kalau begitu kita berangkat jam 11.” Usai berbicara, Gabriel kembali ke ruang kerja untuk bekerja.
Karen tidak mengerti.
__ADS_1
Gabriel yang duduk di ruang kerja, sama sekali tidak bisa bekerja. Ia membuka memo di ponsel, mencatat barang yang ingin dibeli di ponsel. Jika pergi saat orang sedikit, siapa yang akan melihat ia dan Karen berbelanja bersama? Ia tidak akan pergi ketika sepi pengunjung.
Ditambah wajahnya yang terkenal, dan bakpao kecil yang meyakinkan. Kebanyakan orang akan menspekulasikan hubungan antara Karen dan dirinya. Beginilah pikiran Gabriel. Lebih bagus lagi jika difoto. Dengan begitu, banyak orang bisa tahu bahwa Karen adalah wanita yang ia taksir.
Karen yang kembali ke kamar, tidak tahu bahwa Gabriel berpikir begitu banyak. Ia sedang memikirkan desain vila Gabriel dengan sungguh-sungguh.
Hingga jam 10.30, Gabriel membangunkan bakpao kecil, lalu sekalian memerintahnya untuk memanggil Karen. Bakpao kecil mengeluh, kenapa ayah liciknya tidak memanggil Tante Adnan sendiri. Meskipun kesal, ia tetap berlari cepat ketika pergi mencari Karen.
“Tuan Hamzah, sepertinya tidak perlu membawa mobil, supermarket hanya tiga persimpangan dari rumah,” saran Karen.”
Sudut bibir Gabriel terangkat tanpa sadar ketika mendengar kata ‘rumah’, kemudian dia berdeham pelan, kembali normal.
“Kaki bakpao pendek, dia akan kelelahan jika berjalan ke supermarket.” Gabriel melempar tanggung jawab dengan ekspresi datar.
Bakpao kecil baru saja bangun, masih linglung dan menjadi sadar begitu mendengar kalimat tersebut. Ada apa ini, ayahnya memikirkan dirinya? Matahari terbit dari sebelah barat?
“Tante Adnan, gendong.” Bakpao kecil juga tidak mau kalah. Karena ia tidak sepandai ayah licik dalam bertaktik, maka hanya bisa mengandalkan keunggulan usia. Gabriel baru ingin melarang ketika Karen menggendong bakpao dan menjelaskan kepada Gabriel, “Tidak apa-apa, bakpao kecil cukup ringan. Tidak melelahkan.”
Gabriel tersenyum tipis melihat mereka seperti sekeluarga, dan tidak melarang lagi.
Tapi ketika melihat orang-orang di area buah dan sayur, Gabriel menyesali keputusannya untuk datang siang. Karen mengambil keranjang sehingga sulit untuk bergerak di tempat sesesak itu.
Seseorang di belakang menabrak, Karen kehilangan keseimbangan dan terhuyung beberapa langkah ke depan menuju orang di depan. Lengannya tiba-tiba ditarik, sebuah tenaga menariknya dari belakang. Karen tidak menjaga keseimbangannya, hampir berputar satu lingkaran, kemudian pinggangnya ditahan dan ia berdiri stabil di depan Gabriel.
Karen seketika merasa canggung. Sekarang Gabriel mengangkat pergelangan tangannya sambil memeluk pinggangnya. Begitu mengangkat tatapannya, ia melihat wajah Gabriel yang sering muncul di majalah. Familiar, sekaligus asing. Tertegun, Karen pun sadar dan meronta dari tangan Gabriel.
Gabriel terkekeh lalu berkata, “Tampaknya supermarket adalah tempat yang cukup berbahaya.” Selesai berkata, ia menggenggam pergelangan tangannya. “Kalau begitu tidak takut lagi.”
__ADS_1
Karen berjalan sebentar sebelum bereaksi. Melihat pergelangan tangannya yang dicengkeram, ia sepertinya tidak menolak meskipun agak tidak pantas. Terlebih lagi dia hanya berniat baik, maka ia membiarkan Gabriel.
Hanya bakpao kecil yang merasa sedih. Melihat ayah licik menggandeng pergelangan tangan Tante Adnan secara terang-terangan, bakpao kecil pun menarik tangan Karen.
Di supermarket yang ramai, Karen tidak dapat melihat di mana rak berada sehingga membiarkan Gabriel menunjuk jalan. Dengan begitu, belanja mereka termasuk harmonis terlepas dari kecelakaan kecil di awal.
Saat check out, Gabriel mengantri di depan sambil memegang keranjang biru, Karen menggendong bakpao kecil dan mengikuti Gabriel.
Bakpao kecil tiba-tiba berkata, “Tante Adnan, benda apa itu?”
Melihat ke arah yang ditunjuk bakpao kecil, wajah Karen tiba-tiba memerah. Gabriel merasa aneh dan menoleh. Ada berbagai merk dan model ****** di rak.
Gabriel tertegun dan berpikir sejenak sebelum berkata, “Benda ini mirip balon, tapi bukan balon. Jika menggunakannya, maka tidak bisa melahirkan bayi.”
Tidak sangka Gabriel akan menjelaskannya dengan serius. Karen agak terkejut.
“Dengan kata lain, Ayah tidak menggunakannya saat itu, sehingga aku bisa lahir, benar?” tanya bakpao kecil lebih lanjut.
“Benar,” jawab Gabriel.
“Terima kasih Ayah tidak membunuhku.” Bakpao kecil tampak serius. “Aku berhutang nyawa padamu, lain kali aku akan membayarnya.”
Karen awalnya mengeluhkan cara didik Gabriel, tidak sangka bakpao kecil menyambung kalimat seperti itu. Ia langsung terkekeh. “Bayi Kecil, beritahu Tante, dari mana kamu mempelajari kata-kata itu?”
“Televisi. Aku melihat orang yang tidak mati dalam kesulitan, mengucapkan kata-kata itu kepada penyelamatnya.” Bakpao kecil mengerjapkan mata, jelas tidak mengetahui apa yang salah dari kata-katanya.
Karen masih tidak bisa menahan tawanya hingga pulang. Itu membuat bakpao kecil pusing.
__ADS_1
Melihat Karen tertawa begitu senang, Gabriel diam-diam memutuskan untuk tidak membatasi waktu bakpao kecil menonton TV lain kali.