
Jelas-jelas pekerjaan, kenapa menjadi indah begitu diucapkan oleh Gabriel, seolah ia benar-benar akan tinggal bersamanya.
Karen tentu tahu bahwa Gabriel berkata demikian agar mudah, jika ia membantah justru ia terlihat besar kepala. Oleh karena itu, ia mengangguk sambil berkata, “Kalau begitu, tolong jaga aku lain kali, Tuan Hamzah.”
Gabriel mengerutkan alis. Meskipun terdengar sedikit lebih akrab dari ‘Pak Hamzah’, namun ‘Tuan Hamzah’ masih agak asing….
Bakpao kecil akhirnya menang dari ayahnya dalam hal ini, bagaimana mungkin ia tidak pamer?
Ia tersenyum manis pada Karen. “Tante, ada juga aku.”
Karen berkata dengan sopan, “Tentu, masih ada Bayi Kecil. Kamu harus menjaga Tante untuk beberapa waktu ke depan.”
Bakpao kecil mengangguk malu-malu, kemudian menjawab, “Hm, aku akan berusaha menjadi Bayi Kecil yang baik untuk Tante.”
Ia sengaja menekankan kata ‘bayi kecil’, lalu menatap Gabriel dengan puas.
Melihat waktu sudah hampir tiba, Karen meninggalkan kedua ayah dan anak itu, kemudian masuk ke dapur.
Di sini mereka bertiga tampak bahagia, di sisi lain Gavin tidak dalam suasana hati baik.
Ya Tuhan, bagaimana kakaknya melewati hari seperti ini selama bertahun-tahun? Dengan pekerjaan seperti ini, ia merasa ia akan rusak sebelum malam!
Tampaknya ia harus segera membuat kakaknya melihat kebusukan Karen, agar dia kembali bekerja!
Meskipun berpikir demikian, ia tetap menangani berkas satu per satu. Akhirnya jam makan siang tiba, ia hendak beristirahat ketika resepsionis mengatakan bahwa seseorang ingin menemuinya.
“Tidak, tidak.” Ia akan melawan siapa pun yang mengganggu jam istirahatnya yang berharga.
“Tuan Muda Kedua, tapi Nona Adna mengatakan bahwa dia ingin membicarakan Nona Karen denganmu.”
Karen? Bukankah itu wanita yang menggoda kakaknya? Ia langsung bersemangat, gerakan tangannya yang hendak menutup interkom berhenti, lalu berkata, “Biarkan dia masuk.”
__ADS_1
“Kamu Nina?” Gavin menelisik wanita yang masuk. Wajah yang jelas pernah dioperasi dan dandanan yang disengaja, membuatnya mengernyit pelan.
Harus diakui bahwa akting Karen sangat bagus. Setidaknya kesan pertama yang dia berikan, jauh lebih baik daripada Nina. Seandainya dia tidak memiliki maksud terselubung, ia pun tidak akan begitu menentang.
“Ya, Tuan Muda Kedua. Aku ke sini untuk membongkar kebusukan Karen.” Nina meremas dokumen di tangannya sambil tersenyum sopan.
Meskipun Gavin ingin membuat kakaknya melihat wajah Karen yang sesungguhnya, tetapi ia lebih menjaga harga diri kakaknya. Jadi, ia tidak langsung melihat dokumen yang Nina serahkan begitu menerimanya.
Ia menilai Nina sebelum berkata, “Jangan salah berpikir, Kakakku mengetahui wajah asli Karen. Dia hanya bosan sehingga ingin mencari hiburan. Apakah kamu mengerti? Tidakkah kamu merasa jika mempermainkan perasaan orang-orang yang berniat buruk adalah hal yang menarik?”
Mendengar itu, mata Nina berbinar dan seketika mengerti. Bagaimana mungkin Karen yang bertubuh lemah, bisa menarik Gabriel? Ia yang lebih berpeluang untuk disukai!
Ternyata hanya untuk hiburan. Suasana hatinya langsung membaik, bahkan senyum di wajahnya menjadi lebih tulus. Karen, aku tunggu hari di mana reputasimu hancur!
Setelah mengusir Nina, Gavin mengingat kembali apa yang ia lakukan untuk kakaknya. Ia sendiri bahkan nyaris menangis terharu. Di mana adik sebaik dirinya bisa ditemukan?
Di rumah sewaan Karen.
Sedangkan raut wajah Gabriel kurang baik. Dia menyentuh lambungnya, wajahnya agak pucat.
Karen menyadari keanehan Gabriel sehingga bertanya, “Tuan Hamzah, apakah lambungmu merasa tidak nyaman? Jangan-jangan makan siang terlalu pedas?”
Gabriel menggeleng kecil. “Bukan, ini karena aku terlalu sibuk bekerja dan makan tidak teratur. Tidak ada hubungannya dengan masakanmu.”
Melihat dia tampak tidak nyaman, Karen masuk ke kamar, mengambil dua butir obat maag lalu membawa segelas air untuk Gabriel. “Makanlah dua butir obat ini, mungkin akan membaik.”
Gabriel mengulurkan tangan untuk mengambil dua butir obat dari telapak tangannya.
Entah ilusi Karen atau bukan, ketika ujung jari Gabriel menyentuh telapak tangannya, dia sedikit mengaitnya. Gerakannya tidak besar, tetapi sangat jelas.
Namun, sebelum ia memastikan, pria itu sudah mengambil obat dan gelas dari tangannya, kemudian menenggak hingga habis.
__ADS_1
Karen merasa itu ilusinya. Ketika mengambil obat, tidak dapat dipungkiri akan terjadi kontak fisik. Ia yang telah berpikir terlalu banyak. Pria ini bisa mendapatkan wanita mana pun, bagaimana mungkin menyukainya?
Lauk sudah habis karena dibantu Gabriel dan putranya.
Jadi, ia lebih santai karena tidak perlu makan lauk sisa di malam hari.
Setelah makan obat maag, Gabriel merasa lebih baik. Dia berdiri.
Karen tengah bermain dengan bakpao kecil. Gerakannya menarik perhatian mereka berdua.
Karen mengira dia akan pergi bekerja, sedangkan bakpao kecil menatapnya penuh harap. Hanya saja kurang kalimat ‘cepat pergi, cepat pergi. Jangan ganggu dunia aku dan Tante Adnan’ di wajahnya.
Gabriel menyapu bakpao kecil dengan tatapan peringatan, kemudian melihat ke arah Karen. “Karen, aku lihat kamu sudah mengemas koper. Bagaimana jika aku sekalian membawamu ke vila? Urusan di sini sudah beres, kan?”
Karen mengangguk. “Sudah beres, sih, tapi apa kamu leluasa sekarang? Tidak perlu pergi bekerja?”
Gabriel tersenyum sambil berkata, “Gavin - orang yang kamu lihat kemarin, sudah waktunya dia belajar di perusahaan, jadi aku sangat santai selama ini.”
“Begitu rupanya. Kalau begitu aku akan merepotkan Tuan Hamzah.” Karen sedang berpikir untuk menanyakan waktu kepergiannya kepada Gabriel, supaya satpam mengizinkan. Bukankah lebih baik jika pergi bersama pemilik rumah sekarang?
Ia mengunci pintu rumah sewaan sambil menjinjing kopernya yang tidak banyak. Ia akan mencari waktu untuk mengirim kuncinya kepada pemilik rumah.
Ia hendak menuruni tangga, namun pria yang berdiri di sisinya dengan baik mengambil alih koper, lalu membawanya turun.
Karen tersenyum melihat pria yang melakukannya dengan terampil seolah sudah sering berlatih. Ia yakin Gabriel tidak pernah mengambil koper sendiri seumur hidupnya, tapi sekarang dia malah mengambil miliknya. Dia….
Saat ini pria itu menoleh lalu berkata padanya, “Tolong gandeng Bayi Kecil.”
Karen langsung paham. Ternyata agar ia bisa menjaga bakpao kecil. Ia menampar dirinya di kepala. Kenapa ia bisa begitu besar kepala? Apakah semua pria harus tertarik padanya!
Namun, bakpao kecil memahami semuanya. Tapi karena ayahnya memberi Tante Adnan kesempatan untuk menggandengnya, maka ia tidak akan membongkarnya.
__ADS_1