Memanjakan Istri Cantik: Goda Pelan-Pelan, Tuan Muda Hamzah

Memanjakan Istri Cantik: Goda Pelan-Pelan, Tuan Muda Hamzah
Bab 15: Menerima Proyek


__ADS_3

Harus diakui biarpun kata-katanya terdengar sangat tidak sopan, bahkan sedikit mengejek, tapi apa yang dia katakan memang masuk akal.


Selain itu, orang tersebut terdengar seperti orang berkedudukan tinggi. Mungkin terbiasa mengendalikan orang sehingga nada bicaranya menjadi keras ketika Karen menolak.


Karen ragu sejenak sebelum menjawab, “Aku harap Anda bisa memberiku waktu untuk mempertimbangkannya. Aku akan segera memberikan Anda jawaban, oke?”


Orang itu sepertinya masih tidak puas, namun tidak bisa melakukan apa-apa. Akhirnya, dia hanya bisa membalas, “Tolong pertimbangkan baik-baik, Nona Adnan.”


Dengan sedikit kekhawatiran, Karen bertanya, “Tuan, kalau boleh tahu, siapa namamu?”


“Kamu tidak perlu memikirkan siapa namaku. Identitasku adalah sebuah rahasia. Kamu cukup menghubungiku dengan nomor ini. Jika kamu menerima proyekku, aku akan langsung mentransfer bayarannya.” Lalu menutup telepon setelah selesai berbicara.


Karen sedikit tercengang melihat panggilan yang ditutup. Identitasnya adalah sebuah rahasia? Tidak perlu memikirkan panggilan? Karen merasa pria tua ini sedikit kekanakan.


“Siapa yang kamu telepon?” Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari depan pintu, Karen terkejut. Melihat Gabriel yang entah kapan bersandar di pintu, Karen barulah menghela nafas lega.


“Bukan apa-apa, orang tidak penting.” Karen berkata, “Kenapa kamu datang ke kamarku? Ada apa?”


Gabriel tertegun lalu berdeham sebelum berkata, “Aku akan pergi ke perusahaan, tolong jaga bakpao kecil.”


“Hm.” Karen berdengung setuju. Ia menoleh dan melihat Gabriel masih berdiri di sana dengan kilat penuh harap di matanya.


Karen berpikir sejenak, memastikan tidak ada hal lain lagi, sebelum mencoba bertanya, “Apakah masih ada hal lain, Tuan Hamzah?”


Entah ilusi atau bukan, Karen merasa kilat di mata Gabriel lenyap seketika. Gabriel menunduk untuk menyembunyikan ekspresi di matanya, dan kembali seperti biasa ketika mengangkat kepalanya lagi.


“Tidak ada,” ucap Gabriel pelan.


Di sisi lain, Gavin melepaskan alat pengubah suara setelah menutup panggilan telepon, lalu memukul meja dengan marah. Ia sudah mengajukan syarat seperti itu, bisa-bisanya Karen masih tidak menerima proyek ini.

__ADS_1


Sebenarnya alasan suaranya menjadi keras bukan karena dia terbiasa memegang kendali, namun karena Gavin benar-benar marah.


Mengingat kembali kesan misterius saat dia berbicara tadi, Gavin merasa dirinya benar-benar seorang jenius - tidak tahu bahwa itu terdengar kekanakan bagi Karen.


Ketika Karen mencari bakpao kecil di bawah, kebetulan dia melihat Gabriel mengganti sepatu dan hendak keluar. Karen agak bingung. Selama tinggal di rumah Gabriel, ia biasanya melihat Gabriel memakai pakaian rumah dan sandal. Interaksi setiap hari membuat Karen merasa bahwa sebenarnya Gabriel tidak sulit untuk didekati seperti yang dirumorkan.


Tapi sekarang melihat Gabriel yang hendak keluar, melihat penampilannya yang berjas dan berdasi, kesadaran Karen perlahan kembali. Dia adalah Presdir Grup Hamzah, orang yang tidak bisa dijangkau.


Bakpao kecil langsung mendekat begitu melihat Karen turun dari lantai atas.


Gabriel yang tengah mengganti sepatu di dekat pintu, juga melihat ke arah Karen. Karen memalingkan wajah ketika tatapan mereka bertemu.


Gabriel menunduk dan menertawakan dirinya. Ketika hendak pergi, ia mendengar suara dari belakang.


“Bayi Kecil, ucapkan ‘sampai jumpa’ pada Papa.” Itu suara Karen.


Gabriel menoleh dengan heran dan melihat Karen berjongkok di lantai sambil memeluk bakpao kecil.


Karen tersenyum puas, kemudian berkata kepada Gabriel, “Hati-hati.”


Gabriel tertegun. Setelah bereaksi, bibirnya tersenyum. Gabriel berpikir bahwa ini adalah hal yang tidak pernah ia rasakan - rasa keluarga. Setelah mengambil alih perusahaan keluarga, ia sudah terbiasa hidup sendiri. Pergi pagi, pulang malam. Rumah hanyalah cangkang kosong untuk mengistirahatkan tubuh. Setelah menjemput bakpao kecil pulang pun, ia mempekerjakan pembantu. Kemudian bakpao kecil tumbuh sedikit lebih besar, akhirnya ada sedikit suhu di rumah. Tapi rasanya masih kurang sesuatu.


Gabriel kembali ke kantor. Karyawan perusahaan berdiskusi, entah ada apa dengan Presdir Hamzah hari ini, dia terlihat lebih ramah dari biasanya. Mendengar desas-desus itu, Gabriel pun akhirnya tahu apa yang kurang.


Benar-benar seperti yang Gavin katakan - Karen seperti membuatnya mabuk.


Bakpao kecil sepertinya sudah terbiasa ayah tidak ada di rumah, tapi lain halnya dengan Karen. Dia selalu merasa kosong ketika memikirkan desain di tangannya. Ingin mendesain, namun tidak bisa tenang.


Melihat Karen keluar dengan papan lukis di punggungnya dan tangan menenteng sesuatu, bakpao kecil tiba-tiba duduk dan berkata dengan waspada, “Tante Adnan, apa kamu berniat meninggalkan Bayi Kecil?”

__ADS_1


“Bagaimana mungkin? Hari ini Tante Adnan berencana untuk membawa Bayi Kecil pergi bersama.” Karen berjongkok lalu mengusap wajah gempal bakpao kecil.


“Karena Papa tidak ada di rumah, Tante Adnan akhirnya menemukan waktu untuk berduaan dengan Bayi Kecil?” Bakpao kecil menatap Karen dengan mata berbinar.


Karen tidak bisa menahan tawanya.


Kota besar selalu terlalu berisik. Di balik kemakmuran selalu ada kegelapan. Jadi, Karen selalu suka datang ke sini ketika tidak memiliki inspirasi mendesain. Seiring cuaca berubah dan waktu berjalan, warna danau akan memantulkan warna berbeda-beda. Dan warna alami selalu saling melengkapi.


“Tante Adnan, di mana ini?” tanya bakpao kecil bingung.


“Kita sekarang datang ke pinggiran kota. Danau ini bernama Danau Temala.” Karen menjelaskan kepada bakpao kecil.


Mengingat anjing kecil pernah jatuh ke air, Karen mengingatkan bakpao kecil. “Danau ini dalam sekali, lho. Kamu harus menjaga anjing kecil. Jika dia jatuh ke air lagi, Tante Adnan mungkin tidak bisa menyelamatkannya lagi.”


Bakpao kecil mengangguk gugup seraya menggendong anjing kecil.


Mungkin bakpao kecil tidak pernah datang ke tempat seperti ini. Gabriel biasanya sibuk bekerja. Bakpao kecil juga jarang meninggalkan rumah, jadi dia sangat gembira, telungkup di tepi danau untuk menangkap kecebong.


Karen mengeluarkan papan lukis, melukis sambil melamun. Kalau dipikir-pikir, berhasil menerima proyek Gabriel memang hal di luar dugaannya. Dia tidak tahu seperti apa sampel desain yang Nina serahkan, bisa-bisanya disukai Gabriel.


Di sekolah, bakat dan kemampuan desainnya termasuk luar biasa. Tapi permintaan dan standar Gabriel kurang jelas. Desain rumah Hamzah saat ini sudah sangat bagus, namun Gabriel masih tidak puas.


Karen memijat dahi dengan perasaan tertekan. Dia tiba-tiba teringat panggilan telepon anonim itu. Mungkin memperbanyak pengalaman desain akan membantu desain vila keluarga Hamzah.


Menghirup nafas dalam-dalam, Karen kemudian mengeluarkan ponsel dan menghubungi nomor itu.


“Halo?” Yang mengangkat telepon bukan lelaki tua itu, melainkan seorang lelaki muda. Suaranya agak mirip dengan Gavin.


“Halo, aku mencari seorang lelaki tua.” Karen tidak tahu bagaimana menggambarkannya, hanya bisa berkata demikian.

__ADS_1


Lalu terdengar suara grasak-grusuk dari ujung telepon, sebelum telepon diangkat. “Halo, Nona Adnan, kamu sudah mempertimbangkannya?” Ini pria tua kemarin.


“Ya, aku memilih untuk menerima proyek ini.”


__ADS_2