Memanjakan Istri Cantik: Goda Pelan-Pelan, Tuan Muda Hamzah

Memanjakan Istri Cantik: Goda Pelan-Pelan, Tuan Muda Hamzah
Bab 16: Mewaspadai Saingan


__ADS_3

“Nona Adnan benar-benar orang cerdas. Karena kerja sama kita sudah disepakati, aku akan mengirim permintaan desainku setelahnya.” Suara lelaki tua itu terdengar sangat senang.


“Oke, aku tunggu kabar Anda kalau begitu,” setuju Karen.


Gavin tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa setelah menutup telepon dan melepaskan alat pengubah suara dan menyembunyikannya di laci. Sekarang, ia harus memikirkan cara untuk mempersulit Karen.


Ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi sebuah nomor.


“Halo, langkah pertama sudah berhasil. Selanjutnya harus memikirkan permintaan desain.” Rasa gembira dalam suara Gavin sudah tidak bisa disembunyikan lagi.


“Sudah kuduga bahwa Tuan Muda Kedua akan berhasil. Untuk permintaan desain, tunggulah SMS dariku.” Nina tersenyum. Ekspresinya tampak menyeramkan, terlebih lagi dipadukan dengan bibir merahnya. Karen, mari kita lihat bagaimana kamu akan bersikap sombong setelah ini.


Bakpao kecil memungut sebuah batu putih yang agak transparan, lalu berbalik dan berteriak, “Tante Adnan, lihat, apa batu ini bagus?”


Tidak menerima respon, bakpao kecil merasa agak heran. Ia mendekat lalu mengibaskan tangan di depan Karen.


Karen barulah kembali sadar lalu tersenyum melihat bakpao kecil yang tampak cemas. “Tante baik-baik saja, hanya sedang memikirkan hal lain.”


Ia tidak berbohong. Karen memang sedang memikirkan kerja sama anonim itu. Entah kenapa, Karen memiliki firasat buruk, namun tidak tahu apa yang salah.


Lelaki tua tersebut tidak terdengar seperti menipu dirinya, dan dia menyatakan akan membayar terlebih dulu. Tampaknya memang tidak ada yang salah dengan seorang lelaki tua yang begitu memercayainya.


Bakpao kecil melihat bahwa Karen tidak fokus, lantas mengambil sebuah ember kecil dan berkata kepada Karen, “Tante Adnan, lihat, ini adalah kecebong yang aku tangkap.”


Melihat jaring dan ember kecil di tangan bakpao kecil, Karen berujar dengan heran, “Dari mana kamu mendapat benda-benda ini?”


Meskipun Danau Temala tidak termasuk tempat wisata, namun lingkungannya tenang sehingga ada banyak orang bermain di sini. Jadi, ada kios yang menjual jaring dan ember di tepi danau.

__ADS_1


Bakpao kecil terkekeh dan berkata dengan pamer, “Dua kakak perempuan itu melihat Bayi Kecil imut sehingga memberikan ini semua untukku.”


Selesai mendengar kata-kata bakpao kecil, Karen terkekeh lalu berkata, “Kalau begitu, apa kamu berterima kasih kepada mereka?”


“Bayi Kecil tahu sopan santun, tentu saja berterima kasih.” Selesai berbicara, bakpao kecil mengamati ekspresi Karen, lalu cemberut setelah memastikan ekspresi Karen tenang. “Apa Tante Adnan tidak cemburu Bayi Kecil disukai oleh dua perempuan itu?”


Karen tertegun lalu segera bereaksi. Melihat ekspresi sedih bakpao kecil, Karen menahan tawanya sepenuh tenaga, berpura-pura serius dan berkata dengan sedih, “Bisa-bisanya Bayi Kecil yang begitu Tante Adnan sayangi dinyatakan rasa suka oleh gadis lain. Tante Adnan benar-benar sakit hati.”


Melihat ekspresi bakpao kecil akhirnya menghangat, Karen baru berkata, “Apakah Bayi Kecil merasa lebih senang?”


“Masih kurang.” Bakpao kecil mendatarkan wajahnya. “Harus Tante Adnan cium juga.”


Mencubit pipi bakpao kecil, Karen berkata, “Dasar Bayi Kecil, benar-benar banyak akal.” Kemudian mengecup pipi bakpao kecil begitu selesai berbicara.


Bakpao kecil langsung tersenyum gembira, menarik tangan Karen, lalu membisikkan sesuatu di telinganya. “Tante Adnan, sekarang kamu adalah milikku. Jika lain kali ada yang menindasmu, beritahu aku.”


“Oke.” Karen merasa terharu. “Jika Tante Adnan ditindas orang jahat, biar Bayi Kecil yang melindungiku.”


Karen tersenyum simpul. “Oke.”


Danau Temala adalah danau alami. Ada banyak ikan di sini, ada juga pedagang yang menyewa dan menjual alat pancing di sekitar.


Dulu Karen tidak pernah, juga tidak bisa memancing. Tetapi karena bakpao kecil mengusulkannya, maka ia setuju. Bakpao kecil juga tidak bisa memancing. Setelah menyewa alat pancing, mereka saling memandang, kemudian belajar dari seseorang yang tengah memancing di sekitar.


Karen juga merasakan IQ tinggi bakpao kecil. Keduanya tidak memiliki dasar, namun akhirnya bakpao kecil mendapat beberapa ekor ikan. Hanya saja karena usianya masih kecil, tenaganya kurang, jadi dia tidak kuat menarik ikan yang agak besar.


Melihat ember Karen, hanya ada dua ekor ikan kecil. Karen benar-benar curiga bahwa umpan bakpao kecil lebih enak dari umpannya.

__ADS_1


Akhirnya Karen membawa dua ekor ikan terbesar hasil tangkapan bakpao kecil, lalu meninggalkan ikan-ikan kecil di danau untuk tumbuh besar.


Mereka pulang naik bus dari pinggiran kota. Bakpao kecil tidak pernah naik bus sehingga sangat bersemangat sepanjang jalan. Karena terlalu lelah di perjalanan pulang, dia tertidur di pelukan Karen.


Hingga tiba di perkotaan, Karen baru membangunkan bakpao kecil. Bus pinggiran kota hanya bisa sampai di pusat kota, mereka harus naik taksi untuk pulang ke rumah. Bakpao kecil mengucek mata, dengan linglung menilai lokasi saat ini.


“Bakpao kecil,” panggil seorang wanita.


Karen dan bakpao kecil tertegun pada saat yang sama. Karen baru pindah ke kediaman Hamzah sehingga tidak mengenal saudara maupun temannya. Wanita itu berjongkok untuk menatap bakpao kecil.


Rambutnya sangat panjang dan ujungnya sedikit keriting, terlihat cerdas. Tidak seperti gelombang besar Nina yang seksi. Dagunya tajam dan hidungnya mancung. Karen melihat sekilas dan merasa bahwa dia seperti nona muda yang berpendidikan baik.


“Tante Sajan,” panggil bakpao kecil, menghindari Cora Sajan yang akan mencubit pipinya.


Saat ini Cora baru memperhatikan Karen yang berdiri di samping bakpao kecil. Cora berdiri dan ingin memperkenalkan diri, namun ia terpaku ketika melihat Karen.


Karen menyadari keanehan Cora. Meskipun agak bingung, namun tidak kehilangan kesopanan, ia menjelaskan, “Halo, aku Karen, seorang desainer interior. Saat ini sedang membantu Pak Hamzah mendesain vila.”


Mendengar penjelasan Karen, Cora barulah sadar dan berkata dengan gagap, “Ah, halo, uh… Nona Adnan, aku masih punya urusan mendesak.”


Melihat keanehan Cora, Karen menyahut, “Oke, Nona Sajan, sampai jumpa.”


Karena bakpao kecil memanggilnya ‘Tante Sajan’, maka tidak salah jika ia memanggil ‘Nona Sajan’, kan?


Cora memakai sepatu hak. Karena gugup, langkahnya agak tidak stabil. Karen melihatnya di belakang dan merasa sedikit khawatir.


Melihat dia terus memandang punggung Cora, bakpao kecil memperingatkan. “Tante Adnan, Bayi Kecil beritahu, kamu harus mewaspadai Cora itu.”

__ADS_1


“Namanya Cora?” Karen agak terkejut. Meskipun Cora tidak seterkenal Gabriel, tetapi masih cukup tenar. Dia adalah putri tunggal keluarga Sajan, dan karena itu juga, ada banyak pria yang ingin memperistrinya. Menikahi Cora sama dengan menikahi seluruh keluarga Sajan.


“Bukan ini poinnya.” Bakpao kecil menekankan. “Poinnya adalah dia itu sainganmu. Bayi Kecil bisa melihat bahwa dia punya niat terhadap Bayi Kecil dan Papa.”


__ADS_2