
Gabriel menyadari keanehan Karen sejak selesai makan. Jam segini biasanya dia duduk di ruang tamu, menemaninya dan bakpao kecil menonton TV, atau bermain poker bertiga, atau mengajar bakpao kecil membaca bahasa Inggris.
Tapi hari ini, selesai makan ia langsung naik ke lantai atas setelah meletakkan mangkuk dan piring ke mesin cuci piring. Sebelum mesin cuci piring berhenti, sosoknya sudah tidak terlihat.
Gabriel meninggalkan bakpao kecil di ruang tamu lantai satu dan ikut naik ke lantai dua.
Karen tengah berpikir keras dengan posisi telungkup di meja komputer. Ia bahkan tidak tahu bahwa Gabriel sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
Mengetuk pintu, Gabriel lalu masuk.
Begitu melihat Gabriel, Karen dengan panik menutup laptop dan segera berdiri. “Tuan Hamzah, kenapa kamu datang ke sini?” Selesai mengucapkannya, ia merasa sedikit tidak pantas. Ini adalah kediaman Hamzah, apa salahnya Gabriel datang ke kamar ini.
Tapi Gabriel tidak memperhatikan detail itu. “Apa kamu sedang mendesain?”
“Hm,” dengung Karen. “Agak pusing.”
“Sebenarnya desain vila tidak perlu terburu-buru, ada waktu selama enam bulan. Sekarang masih kurang dari satu bulan,” hibur Gabriel.
Karen sedikit merasa bersalah. Dalam kurun waktu yang disepakati bersama Gabriel, ia menerima proyek orang lain. Akhirnya Gabriel pula yang menghiburnya. Ia berkata dengan suara murung, “Hm, terima kasih, Tuan Hamzah.”
Mendengar kejanggalan dalam suara Karen, Gabriel berkata, “Tidak perlu sungkan, kita satu keluarga.”
“Hm?” Otak Karen tidak bisa berputar. “Satu keluarga?”
“Tinggal bersama bukan satu keluarga?” Gabriel bertanya balik.
“Ha, begitu.” Karen membalas seadanya dengan tidak nyaman. Wajahnya agak panas. Kata ‘tinggal bersama’ terdengar sedikit ambigu, namun kata-kata Gabriel juga tidak salah.
Gabriel mengawasi ekspresi Karen. Suasana hatinya baik ketika melihat rona merah di wajahnya.
“Karena hari ini tidak nyaman, maka istirahat lebih awal, Karen,” ujar Gabriel perhatian.
__ADS_1
Mengangguk, Karen telungkup di meja lagi, merasa sedih. Mengeluarkan ponsel, ia merasa seperti balon kempis kala melihat pesan itu.
Nona Adnan, kamu sudah pergi melihat rumah hari ini. Aku harap kamu bisa membuat sampel desain dalam tiga hari. Aku percaya dengan kemampuan Nona Adnan, tiga hari pasti cukup. Semoga kerja sama kita menyenangkan.
Karen agak menyesal telah menerima proyek ini. Sama-sama mendesain vila, Gabriel memberinya waktu selama setengah tahun, sedangkan lelaki tua itu hanya memberinya tiga hari.
Hanya satu dari permintaan desain yang termasuk mudah. Menambahkan elemen modern dalam kekunoan masih bisa didesain; tetapi dua lainnya - elegan dan kaya, serius namun tidak menekan - sangat sulit. Bisa menemukan inspirasi untuk ketiga poin itu sekalipun, sulit untuk menggabungkan ketiga permintaan itu dalam desain satu rumah.
Bakpao kecil melewati malam yang sulit karena tidak dipeluk Karen. Namun tidak sangka, Karen masih kembali ke kamar lebih awal pada malam kedua.
Bakpao kecil memeluk paha ayahnya dengan kasihan. Tanpa Tante Adnan, ia bahkan tidak memiliki tenaga untuk melawan ayah.
Gabriel memijat pelipis dengan tak berdaya, lalu berjongkok untuk menghadapi bakpao kecil. “Dengar, bakpao, Tante Adnan sedang sibuk akhir-akhir ini, tapi Papa tidak bisa membantunya menyelesaikan masalah tersebut. Jadi, kamu harus menurut, jangan merepotkan Tante Adnan.”
Meskipun kata-katanya terdengar khusyuk, tetapi bakpao kecil segera memahami intinya dan mengangguk kuat. “Tenang, Papa, bayi kecil akan membantu Tante Adnan menyelesaikan kesulitannya.”
Gabriel mengangguk puas lalu berpesan, “Satu lagi, cari tahu apa yang sedang Tante Adnan sibukkan.”
Ketika Karen hampir menjadi mayat karena desain, pintu kamarnya dibuka dari luar. Karen terperanjat dan segera duduk tegak.
Tapi mendapati sosok kecil masuk, bola mata hitamnya berputar lalu sosok kecil itu langsung mengunci Karen dengan tepat. “Tante Adnan, bayi kecil sangat merindukanmu.”
Menangkap bakpao kecil yang melempar diri, Karen bertanya, “Kenapa kamu datang ke sini?”
“Bayi kecil merindukanmu, Papa tidak mau menemaniku bermain.” Bakpao kecil memasang ekspresi sedih.
Karen terkekeh. Tidak ada kursi lebih di kamar, untungnya meja komputer cukup besar. Ia membiarkan bakpao kecil duduk di sana.
Melihat alis Karen berkerut, bakpao kecil mengulurkan tangan ke wajah Karen. Meskipun tidak tahu apa yang akan dia lakukan, Karen tetap mencondong ke depan. Bakpao kecil mengelus alis Karen dengan jempol, lalu tersenyum lebar. “Sudah, Tante Adnan, bayi kecil telah menyelamatkanmu dengan kepolosan anak. Lain kali kamu tidak memiliki kepusingan lagi.”
Karen tertegun kemudian tersenyum. “Oke, bayi kecil adalah penghibur Tante Adnan.”
__ADS_1
“Kalau begitu, apa Tante Adnan mau memberitahu penghibur ini tentang hal yang sedang dipusingkan?” tanya bakpao kecil menggunakan kesempatan.
Dasar anak cerdas. Karen tersenyum dalam hati lalu berpikir sejenak, merasa tidak ada salahnya memberitahu bakpao kecil. “Bayi kecil, apa kamu tahu bagaimana untuk terlihat elegan dan kaya?”
Bakpao kecil mencubit dagunya, berpikir sejenak layaknya orang dewasa. “Aku rasa anjing kecil adalah definisi elegan dan kaya.”
Meskipun sudah menduga bahwa bakpao kecil tidak akan memberi jawaban serius, Karen tetap tertawa.
Melihat Karen tertawa, bakpao kecil merasa malu dan segera menjelaskan. “Meskipun anjing kecil terlihat biasa-biasa saja, tetapi dia adalah Corgi murni. Orang yang tidak mengenalnya hanya bisa melihat bahwa dia adalah Corgi, hanya orang yang paham baru mengerti.”
Bakpao kecil terburu-buru menjelaskan, kecepatan bicaranya juga meningkat sebab takut Karen tidak memercayainya.
“Orang yang paham baru mengerti?” Karen mengulanginya tanpa sadar. Awalnya hanya ingin menggoda bakpao kecil, tetapi sesuatu melintas di benaknya setelah ia mengucapkannya.
Karen menepuk pahanya, kemudian mencatat kalimat tersebut di kertas bekas yang ada di samping.
Bakpao kecil tidak mengerti sehingga bertanya, “Tante Adnan, apa kamu sudah menyelesaikan masalah?”
Rintangan yang menghalangi pikirannya diselesaikan bakpao kecil dalam sekejap. Karen tidak bisa mengendalikan kegembiraannya. Berusaha menekan rasa semangatnya, Karen bertanya dengan penuh harap, “Kalau begitu, apa yang termasuk serius namun tidak menekan?”
Tatapan penuh harap Karen membuat bakpao kecil menelan saliva. Ia berpikir dengan cermat sebelum berkata, “Aku rasa serius namun tidak menekan itu seperti ruang kerja Papa.”
Setelah mendengar jawaban bakpao kecil, Karen merasa tercerahkan untuk pertama kali dalam hidupnya. Meskipun bakpao kecil yang memberi pendapat hanya seorang anak berusia 5 tahun.
“Bayi kecil, kamu benar-benar bintang keberuntunganku.” Karen tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium wajah bakpao kecil, lalu mengusap wajahnya sebelum berhenti. “Tapi bayi kecil, kamu harus berjanji padaku.”
Bakpao kecil membulatkan mata, menunggu Karen mengatakannya.
Karen mengulurkan ibu jari, lalu berkata kepada bakpao kecil, “Apa yang aku tanyakan padamu hari ini adalah rahasia kita berdua, tidak boleh memberitahu siapa pun, ya.”
Begitu mendengar itu adalah rahasia mereka berdua, bakpao kecil langsung bersemangat dan mengulurkan ibu jari.
__ADS_1
Keduanya berhasil melakukan janji kelingking. Saat ini bakpao kecil sepenuhnya melupakan misi yang ayah berikan padanya.