Memanjakan Istri Cantik: Goda Pelan-Pelan, Tuan Muda Hamzah

Memanjakan Istri Cantik: Goda Pelan-Pelan, Tuan Muda Hamzah
Bab 17: Dia Marah


__ADS_3

Gabriel yang pulang ke rumah, melepaskan jas lalu menggantungnya di rak baju, tiba-tiba merasa rumah agak hening.


“Randy Hamzah?” Gabriel mencoba memanggil bakpao kecil. Karena tidak mendapat respon, dia mencoba untuk memanggil lagi. “Karen?”


Hanya suaranya yang tenggelam di vila yang besar. Gabriel agak panik dan langsung mengeluarkan ponsel untuk menelepon Karen, namun suara operator-lah yang dia dengar.


Ia buru-buru memakai kembali jas yang baru saja ia gantung sebelum membuka pintu untuk mencari di luar. Namun, begitu membuka pintu, dia mendapati dua sosok.


Tidak sangka Gabriel sudah pulang. Ketika pintu terbuka dari dalam, bakpao kecil terkejut dan bersembunyi di belakang Karen. Gerakan jari Karen yang hendak memasukkan kata sandi pun menggantung di udara.


Ekspresi panik Gabriel belum sempat disimpan, nafasnya pun sedikit kasar, suaranya serak namun tinggi. “Kenapa pulang semalam ini?”


Mendengar kemarahan dalam suara Gabriel, Karen segera menjelaskan. “Aku hanya membawa bakpao kecil pergi bermain, dan menunda sedikit waktu dalam perjalanan pulang.”


“Sudah hampir jam 9.” Gabriel menunduk untuk melihat arlojinya, kemudian tersenyum tidak jelas. “Dulu, waktu bakpao kecil pulang ke rumah tidak boleh lewat dari jam 7. Aku kerja lembur hari ini dan sengaja mengirim SMS untukmu.”


Karen mengeluarkan ponsel dan menemukan bahwa ponselnya sudah mati. Ia menggigit bibirnya dan berkata dengan malu, “Maaf, ponselku kehabisan baterai. Aku tidak melihatnya.”


Tanpa berbicara lagi, Gabriel berbalik dan masuk ke dalam rumah. Karen dan bakpao kecil segera menyusul. Gabriel langsung berjalan ke ruang kerja di lantai dua. Meskipun Gabriel tidak bertanya lebih lanjut, namun Karen masih bisa merasakan bahwa Gabriel sedang marah.


Karen agak tidak fokus ketika membuat makan malam. Sudah lama sejak ia pindah ke rumah Hamzah. Tidak peduli bagaimana pendapat orang luar tentang Gabriel, Gabriel selalu memperlakukannya dengan baik.


Namun, pria itu juga memiliki kelemahan sendiri. Mungkin dulu dia hanya seorang pengusaha berkuasa, tapi sekarang dia punya identitas lain, yaitu ayah.


“Tante Adnan, cepat singkirkan tanganmu!” Bakpao kecil berlari ke arah Karen lalu menariknya. Karen terhuyung, kemudian merasakan sakit di ujung jarinya. Awalnya sedang masak, tapi karena melamun, ia tidak sengaja mengeluarkan tangan dari panci.


Bakpao kecil bertanya dengan khawatir, melihat dia yang tidak fokus. “Tante Adnan, ada apa denganmu?”


“Tidak apa-apa.” Karen tersenyum. “Tante Adnan hanya sedikit lelah hari ini, ingin bermalas-malasan.” Selesai berbicara, dia segera meletakkan jarinya di bawah keran.

__ADS_1


Bakpao kecil mengernyit. Tetapi wajahnya yang tegang dengan penampilannya yang imut, dan bibirnya yang terbiasa cemberut, tidak menimbulkan efek jera bagi Karen. Karen tergelak.


“Tante Adnan.” Bakpao kecil marah hingga menghentakkan kaki karena ia ingin menakuti Karen, tapi malah ditertawakan.


“Sudah, bayi kecil. Kita akan segera makan.” Karen mengelus wajahnya, lalu memberikan mangkuk kecilnya kepada bakpao kecil.


Dari ruang tamu lantai satu, Karen melihat ke arah ruang kerja di lantai dua. Pintunya tertutup rapat, entah apa yang dilakukan orang di dalam.


Melihat Karen yang ingin berbicara namun menahan diri, bakpao kecil menawarkan diri. “Tante Adnan, bolehkah aku mengantar nasi untuk Papa?”


Karen segera bereaksi, bakpao kecil sedang menghilangkan kecanggungannya. Ia merasa terharu, sekaligus memuji kecerdasan bakpao kecil.


Mencari kotak makan baru di bawah lemari lalu mengisinya, ia kemudian memberikannya kepada bakpao kecil dan membiarkannya memegang dengan baik.


Bakpao kecil bertanya lagi, “Hm, Tante Adnan, bolehkan aku makan bersama Papa?”


Karen tersenyum. “Tentu saja boleh.”


Ia memang panik ketika pulang ke rumah. Ia biasanya sibuk bekerja sehingga bakpao kecil hanya bisa dititipkan kepada pembantu. Ia juga pernah mengantar bakpao kecil ke taman kanak-kanak, namun pembantu yang menjemputnya.


Tapi suatu kali, putra pembantu mengalami kecelakaan dan pembantu itu sangat cemas. Ia sedang kerja lembur dan melempar ponsel ke samping ketika pembantu meneleponnya. Pembantu pergi tergesa-gesa setelah mengirim SMS untuknya.


Ia tidak tahu bahwa pembantu akan pergi mendadak. Pembantu juga tidak menyangka jika Gabriel tidak membaca pesannya.


Setelah kejadian itu, bakpao kecil tidak pernah pergi ke taman kanak-kanak lagi. Ia pun membiasakan diri untuk pulang sebelum pukul 7 malam.


Sejak itu, Gabriel selalu membawa ponselnya dan mengaktifkan mode dering ke volume terbesar.


Memijat alisnya pelan, Gabriel merasa pusing. Ia juga tahu bahwa seharusnya ia tidak memarahi Karen. Saat itu ia cemas dan tidak mengingat apa pun ketika melihat bakpao kecil. Untungnya, ia tidak kehilangan akal sehat dan bakpao kecil pun tidak terpengaruh.

__ADS_1


Saat ini pintu ruang kerja diketuk. Gabriel mengangkat alis dengan perasaan berharap, namun suaranya masih terdengar datar. “Masuk.”


Melihat sosok kecil yang masuk melalui ujung matanya, Gabriel meletakkan dokumen yang dia gunakan untuk berpura-pura. Tatapan mengusir di matanya sangat jelas.


Bakpao kecil terkekeh. “Begitu kecewa melihat yang masuk aku, bukan Tante Adnan?”


Mendengar candaan bakpao kecil, Gabriel menatapnya dengan penuh minat dan tersenyum. “Randy, apakah karena ada Tante Adnan yang mendukungmu, kamu sudah tidak takut aku melemparmu ke luar untuk beri makan anjing?”


Setelah mendengar itu, wajah bakpao kecil langsung menjadi datar.


Gabriel tersenyum puas melihatnya seperti itu. Bercanda. Jika tidak memberinya pelajaran, dia mungkin lupa siapa anak dan siapa ayah.


“Tante Adnan menyuruhku mengantar ini.” Bakpao kecil berjinjit, meletakkan kotak makan di meja kerja. Seperti takut jatuh, dia bahkan mengulurkan lengan untuk mendorongnya.


Gabriel jelas sangat menikmatinya. Dia bertanya, “Apa dia mengatakan hal lain?”


Bakpao kecil tidak menjawab. “Jari Tante Adnan terbakar ketika masak.” Selesai berbicara, ia takut Gabriel tidak tahu di mana bagiannya sehingga mengulurkan jari sendiri dan menunjuk bagian detailnya. “Di sini, tangan kiri.”


Sebenarnya maksud bakpao kecil sangat jelas. Gabriel juga tahu bahwa bakpao kecil ingin mereka berbaikan.


Melihat ayahnya diam saja, bakpao kecil memelototinya sambil cemberut. “Hari ini Tante Adnan menciumku, di sini.” Bakpao kecil menunjuk wajahnya. “Aku tidak akan membuat kesempatan untukmu seandainya bukan karena Tante Adnan tampak tidak bersemangat setelah kalian bertengkar. Aku dengan senang hati menikmati dunia berdua dengan Tante Adnan.”


Gabriel menatapnya tajam. Bakpao kecil pun langsung bungkam dan makan dalam diam.


Bakpao kecil yang makan, tidak mengucapkannya, namun matanya terus menilai ayahnya. Gabriel makan dua suap, kemudian meletakkan sumpit. “Aku akan keluar.”


“Papa, kamu tidak makan nasimu? Tante Adnan yang membuatnya.” Bakpao kecil memandang Gabriel.


Gabriel yang berdiri, makan dua suap lagi, kemudian menyisakan nasi yang tersisa untuk bakpao kecil. Ia menatap bakpao kecil, makna di matanya terlalu jelas. Kamu masih muda, orang berpengalaman tidak mudah dilawan.

__ADS_1


Bakpao kecil memandang ayah liciknya dengan sakit hati. Sayangnya, ia tidak bisa mengeluarkan air mata meskipun mengerjapkan mata. Dalam hati ia mengaum, dasar pria kejam.


__ADS_2